
Ivan serius mendengarkan cerita Roni tentang semua prosesi yang telah dilakukan hingga 40 hari kematian Abbas. Ia menerima kartu debit dari Roni yang telah menyelesaikan semua urusan berkaitan dengan pembiayaan.
“Apa kamu tidak menggunakan kartu ini? Ku lihat tidak ada notif penggunaan kartu selama ini di tanganmu.” Rentetan pertanyaan Ivan langsung masuk ke telinga Roni begitu ia duduk di hadapan bosnya.
“Kelihatannya ada donatur yang memberikan sumbangan pada pihak keluarga almarhum Abbas. Setiap saya datang ke sana, saya melihat ada mobil yang menyuplai segala keperluan selama acara berlangsung. Tapi saya tidak tau siapa mereka. Mungkin keluarga kaya tempat ibunya bekerja,” ujar Roni serius.
Ivan termenung mendengarkan perkataan Roni. Ia merasa bersalah dengan almarhum Abbas. Sampai saat ini pun ia belum sempat bertemu dengan ibu dan istri almarhum Abbas untuk memohon maaf, karena kepergian Abbas karena kesalahannya.
“Aku akan membiayai semua pendidikan anak almarhum Abbas hingga selesai,” ujar Ivan pelan sambil menyimpan kartu debitnya ke dalam dompet dan menyimpan kembali di saku celana, “Nanti kau urus dan buka tabungan jika istrinya kelak melahirkan.”
“Maksudnya?” Roni jadi heran mendengar perkataan Ivan.
“Ku rasa tunangannya dalam keadaan hamil saat kepergian Abbas. Buktinya ia ngotot ingin dinikahi Abbas kan?”
Roni termenung mendengarkan ucapan Ivan. Ia tak mampu untuk menyangkalnya karena menurut pengamatannya tunangan Abbas memang kelihatan berisi. Tapi apa benar dia hamil?
“Kau tidak yakin dengan yang ku katakan?” Ivan menatap Roni yang terdiam, “Kau tidak bisa menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja. Menurutmu Abbas dan tunangannya nggak pernah gituan? Aku yakin keduanya melakukan pernikahan itu karena sudah tau bahwa perempuan itu dalam keadaan hamil.”
“Dari mana bos bisa menyimpulkan seperti itu?” akhirnya keluar juga pertanyaan pamungkas Roni yang cukup mengganggu pikirannya.
Ia yang juga masih awam dengan dunia percintaan merasa penasaran dari mana Ivan bisa menyimpulkan seperti itu.
“Perkiraanku perempuan itu hamil 4 bulanan. Badannya tampak berisi kalo untuk ukuran gadis normal,” Ivan berkata dengan santai saat membayangkan melihat calon istri Abbas yang datang dalam keadaan shock melihat tunangannya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Abbas kehilangan nyawa.
Roni tak ingin mengomentari lagi. Ia yakin perkataan Ivan benar, karena ia tau, Ivan sudah banyak bergaul dengan wanita mana pun, sehingga mudah untuk menilai mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Pikiran Roni berkata lain. Jika janda Abbas mau menerimanya, ia siap menjadi ayah sambung. Dan ia tidak mempermasalahkan status Khaira jika memang cinta hadir di antara mereka.
Ivan memandang Roni yang tampak melamun sambil tersenyum tipis, “Jangan bilang kau tertarik dengan janda Abbas.”
Roni tersentak mendengar ucapan Ivan yang langsung menohok. Ia langsung menggelengkan kepala dengan cepat, khawatir Ivan mengetahui kebenaran yang berusaha ia sembunyikan.
“Halu anda ketinggian bos,” jawab Roni cepat sambil mengalihkan wajah dari Ivan yang memandangnya dengan tajam. Ia tau, setiap prasangka Ivan selalu benar, karena ia sudah hafal dengan sikap dan perilaku Ivan selama menjadi asistennya.
“Syukurlah firasatku salah,” senyum remeh Ivan tampak di wajahnya. “Sekarang kita ke Restoran Grill & Meat. Ada klien perhiasan berlian yang ingin menggunakan advertising kita.”
“Siap.” Roni langsung bangkit dengan cepat, menghindari tatapan Ivan yang masih memandangnya penuh kecurigaan.
Sementara itu di kediaman bu Ila, Khaira masih membenahi barang-barang peninggalan almarhum Abbas. Ia akan kembali ke rumah Marisa dan membawa bu Ila bersamanya. Ia tidak tega membiarkan mertuanya sendirian di rumah kecil itu. Walau bagaimanapun sekarang mereka adalah keluarga, sudah kewajibannya merawat dan mengurus mertuanya yang hanya tinggal sendirian.
Khaira membuka lemari kecil tempat Abbas menyimpan dokumen dan surat-surat berharga miliknya. Matanya menangkap sebuah album foto yang tampak sudah usang. Khaira mengambilnya dan membersihkan debu yang ada di atasnya.
Sambil duduk di atas pembaringan ia mulai membuka album lama tersebut. Mata Khaira berkaca-kaca saat foto dirinya memenuhi album milik Abbas. Ia sendiri tidak pernah tau kapan Abbas mengambil foto dirinya saat awal mulai kuliah di UI.
Foto-foto saat mereka OSPEK juga memenuhi satu halaman album. Tulisan tangan Abbas menggunakan spidol menandai setiap gambar dirinya hingga Khaira lupa kapan fotonya diambil Abbas.
5 Mei …. Pertama melihat wajah ayu bermata sendu di mushola kampus.
Fotonya sedang duduk di teras mushola menunggu antrian mengambil wudhu di hari pertama ia menjejakkan kaki di kampus.
31 Juni …. Bidadari berwajah sendu yang telah mencuri hatiku.
Fotonya saat pertama mendaftar untuk mengikuti seleksi anggota BEM kampus dengan wajah dipenuhi keringat saat antri sambil membawa formulir. Hari itulah dimana pertama kalinya ia berbicara dengan Abbas yang juga mendaftar untuk menjadi anggota BEM di kampus. Khaira saat itu memang belum mengenal siapa pun. Ia susah untuk akrab dengan orang lain.
Pola Pengasuhan Faiq yang tidak memberikan kebebasan berteman kecuali dalam lingkungan keluarga sendiri membuat Khaira terkesan tertutup. Sifat asli almarhum bundanya menurun pada Khaira, apalagi dengan perlindungan dari saudara lelakinya yang lain membuat Khaira jarang berinteraksi dengan dunia luar.
12 Juli ... Bidadari turun dari Ferrari. Dapatkah aku menggapai hatinya?
__ADS_1
Jemari Khaira bergetar saat mengusap foto Abbas yang berdampingan dengan fotonya yang saat itu diantar mas Ali ke kampus menggunakan mobil sport miliknya. Saat itu Khaira pulang menginap di rumah mas Ali karena ada acara keluarga di sana.
Kembali Khaira membuka lembaran album yang mulai usang dimakan usia. Matanya berkaca-kaca saat melihat fotonya berdua dengan Abbas di ruang senat ketika makan siang bersama beberapa teman pengurus BEM.
Sejak saat itu komunikasi keduanya berjalan semakin lancar. Karakter Abbas yang mirip almarhum papanya membuat Khaira merasa nyaman. Ia senang saat bersama Abbas, apalagi mereka satu fakultas membuat keduanya semakin akrab.
Hingga pada saat Abbas mengungkapkan perasaannya di suatu sore, sehabis keduanya melaksanakan salat Ashar. Sore yang teduh dengan keheningan akibat hujan yang telah menyirami bumi membuat suasana begitu tenteram dan nyaman.
“Ra, ada yang ingin ku sampaikan padamu,” ujar Abbas ketika keduanya duduk santai di perpustakaan mushola kampus.
“Apa a….?” Khaira menghentikan membaca buku meletakkan di pangkuannya dan menatap Abbas dengan lekat.
Abbas memandang wajah ayu di depannya yang telah mencuri seluruh hatinya. Kedekatan mereka selama satu tahunan di dua semester telah meyakinkan hatinya untuk segera berlabuh di tempat yang tepat.
“Aku berusaha menghindari perasaan ini. Tapi makin aku berusaha, makin kuat rasa yang mengikat,” Abbas tak mengalihkan tatapannya dari wajah Khaira yang menatapnya dengan kening berkerut.
“Aa pengen ngomong apa sih, kok seperti bermain teka-teki. To the point aja, aku mah akan denger apa pun yang aa sampaikan.”
Abbas menghela nafas pelan. Ia harus mengungkapkan perasaannya terhadap Khaira. Ia harus siap dengan resiko penolakan. Tapi Abbas tak peduli, jika jawaban yang diberikan Khaira tidak sesuai dengan ekspektasinya, ia akan berjiwa besar. Toh cinta tak dapat dipaksakan. Masalah hati adalah perkara sensitif. Ia sadar perbedaan status antara dirinya dan Khaira akan menjadi penghalang hubungan mereka, tapi salahkah jika hatinya telah terikat pada satu nama yang membuatnya optimis dalam menjalani samudera kehidupan yang begitu kejam.
“Aku telah menyukaimu sejak awal pertemuan kita di hari pertama.”
Khaira terdiam. Perasaannya jadi berdebar. Inikah rasanya ditembak seperti yang ia lihat di youtube atau roman-roman picisan yang sering ia baca? Ia berusaha menetralisir detak jantungnya yang seperti dipacu dengan cepat.
“Aku gak bisa memaksakan perasaan kamu. Yang pasti aku gak bisa menyimpan terlalu lama rasa ini. Aku nyaman saat bersamamu. Aku ingin kamu tau, bahwa perasaan ini benar adanya. Bukan rasa sesaat. Kebersamaan kita selama satu tahun membuatku yakin untuk mengungkapkan padamu bahwa aku sangat menyukaimu.”
Mata Khaira membulat mendengar pengakuan Abbas yang sangat di luar dugaannya. Ia tidak menyangka Abbas akan mengakuinya secepat itu.
Tatapannya keduanya saling mengunci satu sama lain. Abbas memandang wajah Khaira yang mulai bersemburat merah membuatnya tak bisa memalingkan wajah dari pemandangan indah di depannya mengagumi ciptaan Allah dalam wujud perempuan muda di depannya.
Khaira menundukkan kepalanya. Ia ingin mengakui bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Abbas, tapi ia merasa malu.
“Kamu boleh menggelengkan kepala jika tidak memiliki perasaan yang sama pa …. “ belum selesai Abbas berkata ….
Khaira dengan cepat menggangguk tidak ingin berlama-lama menahan perasaan di dadanya yang membuncah kesenangan atas pengakuan Abbas.
Melihat anggukan Khaira membuat wajah Abbas yang tegang langsung mencair dengan senyum terkembang di wajah tampannya. Ingin rasanya ia meraih tangan putih mulus dan menggenggam jemari lentik yang terletak di atas pangkuan Khaira. Tapi ia tau, mereka bukan muhrim. Dan Abbas sangat memahami hal itu.
Ketukan di pintu kamar peninggalan Abbas menghentikan lamunan Khaira dalam kenangannya bersama Abbas. Ia segera memasukkan album ke dalam tas yang sudah dipenuhi barang-barang pribadi milik Abbas yang akan ia bawa pulang ke rumah Marisa.
“Nak, tuan Fatih sudah datang menjemput,” suara bu Ila membuat Khaira bangkit dari peraduan. Ia segera membuka pintu kamar dan membawa tas yang sudah dipenuhi deokumen dan barang pribadi milik Abbas.
“Saya sudah siap, bu.”
Akhirnya Khaira dan bu Ila memasuki mobil van yang dikemudikan Fatih untuk membawa kembarannya dan mertuanya kembali ke rumah Marisa.
Kesedihan kembali menggerogoti Khaira saat lagu yang diputar di tape mobil menyenandungkan lagu yang tepat mewakili perasaannya.
Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
__ADS_1
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Berkali-kali Khaira menyeka air mata mendengar alunan lagu yang dinyanyikan BCL dengan penuh perasaan. Setiap kata menyentuh sanubarinya terdalam.
Fatih melirik Khaira yang duduk di sampingnya. Ia pun turut terhanyut dengan lirik yang benar-benar menyentuh hati. Setelah beberapa saat lagu berakhir Fatih mulai bersuara.
“Ku harap setelah hari ini tidak ada lagi kesedihan. Kamu harus kuat. Kita semua berduka atas kepergian Abbas. Tapi Allah lebih tau apa yang terbaik bagi umatnya.”
Suasana kembali hening hingga mobil van yang dikemudikan Fatih membawa Khaira dan mertuanya memasuki kompleks perumahan mewah, hingga berhenti tepat di depan rumah Marisa.
__ADS_1