Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 158 S2 (Rencana Pergi)


__ADS_3

Ariq terkejut melihat Khaira mengunjunginya sepagi itu di perusahaan. Untung saja sedang tidak ada rapat, jadi ia bisa menemani Khaira dan mengobrol lama dengannya. Ia merasa heran, baru kali ini Khaira datang menemuinya ke kantor.


Setelah memintan Mawar sekretarisnya menyiapkan minuman dan snack untuk Khaira keduanya langsung terlibat percakapan serius.


“Jadi apa yang dikatakan Hasya benar, kamu ingin melanjutkan pendidikan ke Amerika?” Ariq menatap Khaira dengan lekat.


Khaira menganggukkan kepala dengan pelan. Ia tidak sanggup untuk memandang wajah Ariq.  Rasanya terlalu berat untuk membohongi saudaranya. Tapi dengan terpaksa ia harus melakukan itu.


“Kenapa tidak di Inggris saja bersama Junior dan Afifah. Mas lebih yakin kalau kamu ada temannya di sana.”


Khaira terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa. Apa yang dikatakan Ariq memang banyak benarnya. Tampaknya ia harus menyusun rencana baru. Ia harus lebih banyak melihat info tentang pendidikan luar yang kemungkinan ia jadikan rekomendasi dalam menguatkan alasan kepergiannya ke Amerika.


“Kamu ikut Junior dan Afifah untuk survey dulu. Anggap aja kamu liburan. Selama ini kamu kan tidak pernah bepergian untuk liburan,” Ariq memberinya solusi sementara, “Jika dirimu sudah yakin untuk memulai kuliah, silakan menetap. Mas nggak masalah jika kamu tetap ingin melanjutkan ke Amerika.”


“Mungkin keberangkatan pertama aku bisa bersama mereka,”  Khaira tidak ingin membuat alasan terlalu banyak. Ia sadar, sekali berbohong seribu alasan harus sudah siap untuk mendukung kebohongan selanjutnya.


“Nanti malam mas akan berkunjung ke rumah oma, membahas keberangkatan kalian,” ujar Ariq setelah terdiam beberapa saat. Ia sebenarnya keberatan melepaskan Khaira sendirian di negara orang, tapi Khaira juga perlu melihat dunia luar. Ia akan mengompromikan masalah ini dengan saudaranya yang lain.


“Aku pulang dulu mas, mau mampir juga ke gerai.” Akhirnya Khaira pamitan pada Ariq. Ia mulai menjalankan rencana lain, dan ingin menghubungi Anwar untuk membantunya menguatkan saudaranya agar memberikan izin padanya ke Amerika.


Saat Khaira mulai mengendarai mobilnya, tampak sebuah mobil hitam mengikutinya. Tapi Khaira tidak berprasangka, dengan santai ia mengendarai mobil sejuta umatnya meninggalkan perusahaan Ariq  menuju gerai miliknya.


Perasaan Khaira tidak nyaman  saat ia mulai memasuki mall di mana gerai Kara Jewellery berada. Dengan cepat ia melangkah. Begitu sampai di dalam gerai, ia segera menemui Andini untuk menggantikannya sementara di ruang kerja. Ia mengingatkan kalau ada orang yang mencarinya dia sedang ke luar.


Khaira memasuki ruangan kecil yang biasa digunakan karyawannya untuk salat. Ia sudah berpesan pada Susi dan Novi untuk menyembunyikan keberadaannya. Karena tadi malam susah tidur, begitu Khaira meletakkan kepalanya matanya langsung terasa berat. Akhirnya tak berapa lama ia terlelap.


Ternyata feeling Khaira sangat tepat. Begitu ia memasuki ruang kecil di dalam gerai, tak lama kemudian Ivan tiba di sana dan langsung berhadapan dengan Novi dan Susi. Keduanya terpana melihat sosok tampan dengan postur menjulang berada di hadapan mereka.


Sebelumnya Di kantor Ivan, Hari  yang kebetulan melewati perusahaan Ariq, melihat mobil Khaira keluar dari perusahaan besar itu. Dengan penuh suka cita ia langsung mengikutinya. Begitu Khaira tiba di gerai, ia langsung menghubungi Ivan dan menceritakan hasil investigasinya selama mengikuti Khaira. Hingga akhirnya dengan cepat Ivan mengakhiri rapat terbatas dengan beberapa manajer bagian untuk menemui sang pemilik hati.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” dengan cepat  Novi menyapa Ivan yang masih melayangkan pandangannya mengamati seisi gerai permata.


Sedangkan Susi masih terpaku karena terpesona dengan sosok menjulang di hadapannya hingga ia tidak tau apa yang harus diucapkan.


“Silakan masuk tuan,” Novi segera mengantarkan Ivan ke ruang kerja Khaira.


Ia mengetuk pintu ruangan dan langsung membukanya buat Ivan, dan mempersilakannya masuk.

__ADS_1


Jantung Ivan berdetak cepat. Sejak pertemuan di resepsi Junior dan mengetahui bahwa Khaira sedang mengandung buah hatinya membuat tekadnya kuat untuk segera menikahi Khaira.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” sebuah suara ramah menyapanya begitu Ivan mulai memasuki ruangan yang cukup luas tersebut.


Spontan Ivan memandang arah suara, rasa kecewa tak bisa ia sembunyikan karena bukan orang  yang ia harapkan.


“Aku ingin  bertemu Rara,” jawab Ivan singkat.


Matanya langsung tertuju pada figura yang terletak di atas meja kerja Khaira.  Ia meraihnya dan memandang datar foto yang berisikan dua sejoli di suatu senja yang indah. Ivan kembali meletakkan figura tersebut di tempatnya.


Pandangannya kembali melihat bufet panjang yang memajang foto-foto kebersamaan Abbas dan Khaira. Ia menggelengkan kepala melihat semua foto Abbas yang tak pernah ia lihat di medsos. Ruang kerja ini seolah tempat pemujaan bagi sosok Abbas yang telah pergi.


Ivan berdiri di depan figura yang sama dengan status terakhir yang diupload Abbas, dua buah tangan sejajar dengan cincin belah rotan. Senyum tipis terukir di bibir Ivan. Kini ia menyadari bahwa Khaira memang mencintai sahabatnya itu.


Cinta mereka begitu sederhana tanpa melibatkan harta dan tahta di dalamnya. Dari foto-foto yang ada, dapat Ivan lihat bahwa cinta keduanya penuh dengan ketulusan. Abbas seorang lelaki sederhana tetapi mampu membuat Khaira putri kesayangan dan pemilik gerai berlian nomor 1 di negeri ini begitu mencintainya.


Ivan teringat percakapan terakhir kali saat Abbas memintanya mencari perempuan yang mencintainya dengan tulus tanpa memandang siapa dirinya, dan bagaimana Abbas menceritakan perempuan yang ia pilih dan perasaan saling mencintai yang mengikat keduanya.


Mengingat apa yang telah ia lakukan pada Khaira, tiba-tiba rasa cemburu terbersit di lubuk hati Ivan. Ia marah, karena perempuan yang ia cintai mencintai laki-laki lain walau pun ia sadari sosok yang dicintai adalah sahabatnya sendiri.


Cinta ….


Andini menatap Ivan yang masih berdiri mengamati satu demi satu foto yang tertata dengan rapi. Ia merasa kagum dengan sosok tampan menjulang yang berada satu ruangan dengannya. Rasa penasaran timbul di benaknya mengingat sosok itu ingin bertemu dengan sang pemilik gerai.


“Ada yang harus ku bicarakan pada Rara. Aku akan menunggunya,” tanpa menunggu jawaban Andini dengan santai Ivan menghempaskan tubuhnya di kursi sofa.


Ia langsung mengirim chat ke Roni untuk membatalkan rapat siang ini dengan staf advertising yang akan membahas laporan bulanan. Setelah menyelesaikan aktivitasnya, Ivan segera menyimpan ponsel di saku jasnya.


“Maafkan saya tuan,  mbak Rara tidak berada di sini,” jawab Andini cepat.


Ivan menatap Andini dengan gusar, bagaimana perempuan ini bisa membohonginya? Apakah Rara memang tidak ingin bertemu dengannya?


“Ada hal lain yang ingin tuan sampaikan? Jika bertemu mbak Rara akan saya sampaikan.” Andini merasa khawatir melihat sorot kemarahan di wajah Ivan mendengar bahwa yang ia inginkan tidak berada di tempat.


Ivan menarik nafas panjang. Ia harus menahan emosinya. Bisa saja Khaira tidak ingin menemuinya karena sikapnya yang selalu memaksakan keinginannya sendiri. Seperti kata Edward dia harus menyusun strategi untuk menjinakkan kucing liar menjadi kucing imut dan manis.


Akhirnya senyum terbit di wajah Ivan mengingat pembicaraan dengan Edward. Sahabatnya yang satu itu memang bisa diandalkan di segala situasi. Untuk menaklukkan perempuan dia memang harus belajar dari Edward.

__ADS_1


“Baiklah,” Ivan berkata pelan, “Sampaikan salamku untuk Rara.”


Ivan mengalah untuk kali ini, dan ia tidak akan memaksa Khaira. Ia akan memberikan waktu pada Khaira untuk menerima dirinya. Ia akan belajar dari sosok almarhum Abbas bagaimana membuat Khaira jatuh cinta padanya.


Andini menghirup aroma maskulin yang melewatinya saat Ivan bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan dan keluar dari gerai Kara Jewellery.


Sontak begitu Ivan sudah jauh dari pandangan, ketiganya langsung berkumpul dan membicarakan sosok tampan yang datang untuk mencari sang pemilik gerai.


Ivan menatap ponsel yang wallpapernya adalah wajah Khaira yang sempat ia ambil saat melihat-lihat foto yang tersusun di ruangan Khaira. Ia tersenyum melihat wajah polos Khaira yang menunggu antrian di mushola kampus.


Ia menggeleng-gelengkan kepala mengingat saat ia begitu angkuhnya menolak dan meremehkan perempuan yang kini telah menguasai segenap jiwa dan raganya. Bidadari surganya Abbas kini telah ia targetkan menjadi ratu di hidup serta masa depannya.


“Bos, ada info terbaru yang harus bos tau,” Hari tiba-tiba datang tergesa-gesa dan duduk dengan cepat di hadapannya.


Ivan merasa heran melihat wajah Hari yang tampak tegang dengan nafas memburu. Ia meminta Gisel membawakan Hari minuman, saat sekretarisnya itu kebetulan mengantarkan laporan yang harus ia tandatangani.


Gisel merasa heran melihat ruangan yang terasa horor karena kedua wajah di hadapannya tampak tegang. Ia tidak berani menunggu lebih lama di ruangan itu, hasratnya pada sang bos perlahan memudar melihat kemarahan yang diperlihatkan Ivan sehari-hari jika kerjaan mereka tidak beres, apalagi kalau berhubungan dengan Hari.


“Info apa yang kau dapat?” begitu Gisel keluar dari ruangan Ivan langsung mengejar Hari.


“Nona Rara ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri minggu depan,” Hari menjawab dengan cepat.


“What?” Ivan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, “Dari mana kamu mendapat info ini?”


“Adik saya Reni satu angkatan dengan Afifah iparnya nona Rara. Mereka membicarakan ini dua hari yang lalu.”


“Kamu ingin melarikan diri dengan membawa anakku?” Ivan mengguman merasakan kekesalan atas berita yang ia terima barusan.


“Apa yang bos katakan?” Hari menatap Ivan dengan heran.


Ivan terkejut, ia khawatir Hari mendengar apa yang ia katakan. Ia tidak ingin seorang pun tau, kalau perempuan yang ia inginkan telah mengandung anaknya.


“Terima kasih atas infonya. Aku hargai kerja kerasmu,” Ivan menepuk bahu Hari, “Sekarang pergilah.”


Hari mengerutkan kening mendengar jawaban Ivan yang lebih tenang. Biasanya Ivan akan emosi setiap mendengar laporannya terkait perempuan incaran sang bos.


Begitu Hari keluar dari ruangannya, Ivan kembali memandang ponselnya menatap wajah di wallpaper dengan lekat.

__ADS_1


“Kau ingin pergi dariku bahkan membawa anakku. Tak akan kubiarkan itu terjadi. Aku akan melindungi milikku.” Ivan tersenyum misterius sambil membelai wajah ayu di wallpaper itu dengan lembut, “Aku akan memberikan semua milikku bahkan hidupku. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, sehingga tidak ada nama lain selain nama Alexander Ivandra yang akan bertahta di hatimu.”


Jangan lupa dukung terus ya. Kritik, saran yang banyak, like dan vote. Sayang untuk semua .....


__ADS_2