Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 299 S2 (Mampir Ke Kantor)


__ADS_3

“Wah, sore-sore keramas …. “  teguran halus Ira terasa menyentil telinga Khaira begitu keduanya tiba untuk menjemput si kembar.


Suasana hening di sore yang mendung itu. Keduanya mengikuti langkah Ira yang berjalan menuju ruang keluarga. Tampak Embun dan Fajar sedang menikmati acara televisi. Ternyata Ariq sudah ada di rumah.


“Kehujanan di proyek Mbak,” Ivan menjawab santai langsung memangku Embun dan Fajar yang sedang santai menonton tv.


Ariq duduk santai menemani keduanya dengan tatapan mata yang fokus melihat layar televisi  yang menayangkan kehidupan Fauna.


“Tumben udah pulang mas?” Khaira langsung bertanya dan  duduk di samping Ariq.


“Sekali-kali pengen juga meliburkan diri seperti suamimu,” Ariq berkata sambil tersenyum tipis.


“Beda kali mas. Saya ini seorang pengangguran …. “ Ivan merendah sambil mencium kepala Fajar.


“Ayah, atu mau itu …. “ Embun menunjuk Kelinci imut yang sedang memakan wortel di layar lebar itu.


“Besok kita beli ya,” Ivan menjawab sambil mencium pipinya dengan gemas, “Mas pengen apa?”


“Mas mau itu …. “ Fajar menunjuk kucing Persia yang sangat menggemaskan.


“Mas, gak usah terlalu manjain mereka,” Khaira berkata pelan dengan lirik mata kesal mendengar ucapan suaminya.


“Gak pa-pa sayang, itu hanya masalah sepele,” Ivan mengedipkan sebelah matanya.


Ariq tersenyum tipis mendengar perselisihan adik dan iparnya. Ia pun sebagai seorang ayah sedapat mungkin selalu menuruti dan memberikan yang terbaik apa pun yang diinginkan putranya Fadhil.


“Kalau hanya Kelinci dan Kucing gak pa-pa to De. Itu juga sarana edukasi buat si kembar,” Ariq menyetujui Ivan.


“Tapi mas…. “ Khaira tak senang karena Ariq sependapat dengan suaminya.


“Tu kan, mas Ariq aja gak keberatan,” Ivan tersenyum senang mendengar ucapan iparnya, “Rencananya besok kami akan bawa si kembar jalan-jalan Mas …. “


“Baguslah,” Ariq menganggukkan kepala, “Jangan lupa, hari Senin ini kita positif berangkat Umroh mas udah mendapat informasi dari biro perjalanannya.”


“Alhamdulillah,” Ivan bersyukur.


“Aku belum mengajukan izin pada pihak pondok,” Khaira berkata dengan lesu sambil memandang wajah suaminya.


“Mas akan menelpon ustadz Hanan. Jangan terlalu mengkhawatirkan masalah ini,” ujar Ivan. Ia membelai pundak istrinya berusaha memberikan ketenangan.


“Kami mungkin akan mampir ke tempat Junior begitu selesai umroh,” ujar Ariq langsung meraih Fajar yang berpindah duduk di karpet memainkan mobil remote.


“Rencananya pengen bulan madu kedua Mas,” Ivan tersenyum memandang wajah Khaira yang langsung membulat matanya mendengar suaminya yang berbicara tanpa disaring.


“Aku gak mau ninggalin Fajar dan Embun,” Khaira langsung memotong ucapan suaminya, “Dan bagiku bulan madu bukanlah hal penting.”


Ivan hanya diam melihat Khaira yang memandangnya dengan kesal.


“Kenapa gak liburan aja?” Ira menengahi ketegangan yang terjadi sambil membawa dua gelas kopi dan secangkir teh hangat  beserta camilannya.


“Benar. Liburan lebih masuk akal.” Ivan menganggukkan kepala. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, “Saya ingin menghabiskan waktu bersama si kembar terlepas dari segala kesibukan apa pun.”


“Tinggal kamu atur jadwal mau kemana dan berapa lama?”  Ariq menambahkan usulan istrinya, “Luar negeri atau dalam negeri?”

__ADS_1


“Mas, gak sekalian ke Turki?” Ira langsung menyela percakapan suaminya, “Aku ingin ke Cappadocia naik balon udara menikmati pemandangan dari atas.”


Khaira tersenyum mendengar perkataan kakak iparnya. Ia jadi merasa tertarik merasakan sensasi naik balon udara di langit Cappadocia menikmati keindahan alam karunia Yang Kuasa.


“Apa itu gak pengaruh bagi kandungan mama?” Ariq mengusap kepala istrinya dengan penuh kelembutan.


“Insya Allah akan baik-baik saja. Boleh ya mas?” pinta Ira penuh harap.


Ariq tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menyetujui keinginan sang istri, apalagi selama ini mereka jarang liburan ke luar negeri paling terdekat ke Bali dan Raja Ampat Papua.


“Kayaknya mas Ariq dan mbak Ira yang bulan madu kedua …. “ Khaira berkata sambil tersenyum melihat pemandangan menyejukkan di depan matanya.


Siang itu, sebelum membawa Fajar dan Embun ke mall megah untuk memenuhi janjinya pada keduanya, Ivan mampir ke kantor untuk menandatangi beberapa berkas perpanjangan kontrak periklanan dengan beberapa perusahaan.


Resepsionis yang rata-rata orang baru terkejut melihat bos pujaan mereka menggandeng dua batita yang imut dan lucu serta seorang perempuan bercadar yang berjalan di sampingnya.


“Assalamu’alaikum …. “ Ivan terlebih dahulu menyapa pegawainya yang masih terpaku dengan kedatangannya yang sudah hampir lima bulan tidak datang ke kantor, hanya Danu yang wara-wiri membawa berkas dengan wajah dingin.


“Wa’alaikumussalam,” Ratih dan Dea dengan cepat menjawab salam bosnya.


“Selamat pagi Pak, Bu …. “ Ratih menyapa keduanya dengan cepat.


“Pagi juga mbak Ratih, mbak Dea …. “ Khaira menjawab sapaan keduanya dengan ramah dengan menyebut nama keduanya berdasarkan name tag yang tertera di seragam yang mereka kenakan.


Ratih dan Dea saling memandang. Keduanya bekerja sekitar dua tahun belakangan. Yang mereka tau, bos mereka seorang duda. Seperti pegawai perempuan yang lain, mereka pun mengidolakan sang pemilik perusahaan sang duren sawit (duda keren sarang duit). Syukur-syukur mereka bisa diterima bekerja, apalagi bisa menjadi nyonya bos tentu hal yang paling membahagiakan.


Tetapi keinginan mereka langsung pudar, begitu melihat perempuan cantik, modis dan berpenamilan seksi yang selalu datang bersama putranya setiap jam makan siang. Bukan hanya sekali dua kali mereka melihatnya berkunjung, tapi hampir saban hari.


Tingkah dan perilakunya sudah seperti nyonya besar dengan memandang rendah pegawai yang bekerja pada perusahaan periklanan milik bos mereka. Setiap ia datang tidak pernah sekalipun menyapa para pegawai yang sudah memasang wajah ramah.


Tetapi yang ini ….


“Perkenalkan istri saya nyonya Aisya Alexander, Fajar Alexander dan Embun Putri Alexander anak-anak saya …. “ dengan wajah ramah Ivan memperkenalkan Khaira.


Khaira terkejut mendengar ucapan suaminya. Ia memandang wajah Ivan yang tersenyum sambil merangkul pinggangnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


“Permisi mbak,” Khaira berkata pelan, saat Ivan tanpa melepaskan rangkulan membawanya melangkah memasuki ruangan kantor yang lebih luas.


“Wah, gak nyangka ya Bos sudah menikah kembali dengan bonus anak kembar,” Dea tak bisa menahan apa yang ada di hatinya.


“Apa istrinya janda?” Ratih mulai berimajinasi sendiri, “Wajar sih bos tertarik. Pakaiannya sopan, suaranya lembut, walaupun gak kelihatan tapi ku yakin orangnya cantik.”


“Iya sih …” Dea membenarkan perkataan Ratih, “Dari pada perempuan yang kemaren. Bergaya, sombong lagi. Kelakuannya mengalahi nyonya besar.”


“Di mana bos kenalan dengan janda beranak dua itu ya? Bisa jadi bos simpatik dengan anaknya yang kembar itu. Bos kan suka sama anak-anak.”


Keduanya masih asyik membicarakan tentang kehadiran Ivan yang datang memperkenalkan istri dan anak-anaknya.


“Pagi-pagi sudah membuat dosa,” Danu datang membuat keduanya langsung terdiam, “Apa tidak ada kerjaan yang lebih penting dari pada ghibah?”


“Selamat pagi pak Danu,” akhirnya Ratih mulai menyapa asisten bosnya.


“Hm!” Danu menatap keduanya tajam langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan.

__ADS_1


Begitu memasuki ruang administrasi ia terkejut melihat bosnya tidak datang sendiri tapi lengkap dengan pendamping serta Fajar dan Embun yang kini mulai berjalan melihat-lihat suasana kantor.


Danu menghampiri Khaira yang sedang berbicara dengan Voni sekretarisnya. Keduanya kelihatan akrab dan berbincang dengan santai.


Melihat kedatangan asistennya Ivan langsung menghampiri Danu.


“Von, titip Fajar dan Embun. Ada yang ingin saya bicarakan sama ibu,” tanpa menghiraukan pandangan beberapa staf yang ada di dalam ruangan administrasi Ivan langsung menggandeng Khaira memasuki ruang kerjanya.


“Maaf ya Dek …. “ Khaira berkata pada Voni dengan perasaan tak nyaman.


Ia merasa senang dengan sekretaris Danu yang ramah dan sangat berhati-hati dalam berbicara dengan laki-laki.


“Gak pa-pa Bu,” Voni tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Khaira tidak bisa menolak keinginan sang suami. Selama pernikahan mereka, ia memang belum pernah mengunjungi perusahaan milik suaminya. Ia hanya mengenal staf inti yang biasa diundang suaminya datang ke rumah. Ia tidak ingin mencampuri urusan sang suami, karena waktunya pun banyak tersita dengan bisnis keluarga yang masih ia jalankan.


Voni merasa senang atas kepercayaan yang diberikan sang pemilik perusahaan, apalagi nyonya bos yang begitu ramah padanya. Selama ini ia sudah yakin bahwa perempuan yang suka datang bersama bocah lelaki dan wara-wiri  di dalam ruangan si bos lah calon nyonya besar.


Ia dapat melihat wajah pemujaan dari perempuan yang ia ketahui bernama Laura pada si bos dan berbicara dengan penuh kemanjaan saat berjalan berdampingan. Ia jadi malu sendiri melihat kelakuan perempuan yang berpenampilan modis dengan pakaian kerja press body.


Mereka yang telah mengabdi lama pada perusahan periklanan Ivan tau bahwa  ia telah berpisah dengan istri tercintanya. Tapi tidak ada yang satu orang pun yang berani membicarakannya di ruang kerja karena Danu selalu menegur mereka yang bergosif.


Sembilan bulan Ivan meninggalkan perusahaan, Teguh dan Danu-lah yang mengelola segala yang berhubungan dengan kontrak serta pengelolaan selama kepergiannya. Walau pun terkadang turun naik dalam untung dan rugi, tapi kondisi perusahaan periklanannya tetap stabil.


Setelah satu tahun berjalan, Ivan mulai kembali menjalankan perusahaan yang tinggal satu-satunya yang ia miliki setelah yang lain ia lelang untuk keperluan pengobatan Bryan yang memerlukan biaya yang sangat besar.


“Te, ini boyeh?” Fajar melihat stabillo warna-warni yang berada diatas meja kerjanya yang tersusun rapi.


“Atu mau yang itu …. “ Embun menunjuk klip warna-warni yang di tempel di papan pengumuman di samping meja kerja Voni.


“Duduk di sini aja ya. Tante ambilkan semuanya,” dengan sabar Voni meladeni kedua bocah yang sangat menggemaskan di matanya.


“Anak’e sopo Von, tumben ada bocah di kantor kita?” pertanyaan Teguh menghentikan aktivitas Voni yang kini sibuk melayani si kembar yang sudah ia siapkan kursi untuk keduanya melanjutkan aktivitas.


“Anaknya bos Pak,” ujar Voni, “Bos ada di ruangan bersama nyonya.”


Mata Teguh membulat. Ia tidak pernah mengetahui kehidupan pribadi Ivan selama tiga tahun belakangan ini. Ia terlalu fokus memegang amanah perusahaan dan menjauhi gosip miring yang berseliweran tentang si bos dan perempuan modis penyegar mata yang selalu datang mengunjungi bos mereka.


Teguh penasaran mendengar perkataan Voni. Ia langsung merapat  ke meja kerja Voni untuk memandang kedua bocah imut yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Tatapannya mengarah pada bocah tampan  yang duduk mewarnai, sedangkan bocah cantik yang jilbab mininya sudah tergantung di sandaran kursi sedang asyik menyusun klip warna-warni di atas meja kerja Voni.


Ia tertegun, wajah kedua bocah serupa tapi tak sama. Ia memandang lekat bocah perempuan yang memang sangat mirip dengan Ivan. Hidung mancung dengan bibir merah dan mata tajam saat ia mencoba mengambil salah satu klip yang sudah tersusun seperti rel.


“Ih, Om jangan ganggu dede …. “ suara kenes Embun membuat Teguh tertawa.


“Emang copyan si bos,” Teguh mengusap kepala Embun dengan lembut.


“Emang Bapak mengenal istri pak Ivan?” Voni bertanya karena penasaran,  ia juga baru jalan tiga tahun bekerja menjadi sekretaris.


“Kenal dong,” jawabnya santai.


Ia mengusap kepala Fajar membuat Fajar menatapnya dengan bingung karena tidak pernah mengenal lelaki dewasa yang memperlakukannya dengan baik. Teguh tersenyum mengingat wajah istri bosnya yang tercetak dan sama persis dengan bocah lelaki yang menggambar di hadapannya.


“Keduanya mewarisi kecantikan dan ketampanan kedua orang tuanya,” ujar Teguh pelan.

__ADS_1


Ia ikut bergabung bersama Voni dan si kembar menemani keduanya yang sangat antusias dengan semua kegiatan yang mereka lakukan.


***Maaf  readerku tersayang lama up\, karena masalah teknis. Tapi Otor usahain tetap Up untuk liburan plus-plusnya ya. Jangan lupa vote\, like\, komentarnya selalu ditunggu agar otor semangat. Sayang untuk raderku semua ....***


__ADS_2