Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 128 S2 (Kecelakaan)


__ADS_3

Roni terdiam melihat bosnya mengamuk menghancurkan semua di dalam ruangan kerjanya. Ia tidak tau apa yang menyebabkan bosnya berbuat seperti itu. Ia hanya mengamati Ivan yang menghempaskan laptop di meja kerja serta menendang meja kerja hingga berbalik.


Setelah beberapa saat Ivan menghentikan perbuatannya dan duduk tertunduk sambil memegang kepala dengan kedua tangannya. Perasaannya benar-benar kecewa. Sebagai pemilik New Star Corp pamornya dikalahkan seorang asisten merangkap supir pribadi. Ia tidak terima Sandra menyelingkuhi dirinya hanya dengan seorang supir.


Satu jam kemudian Ivan mulai kelihatan tenang. Ia bangkit dari kursi dan berdiri dekat jendela sambil memandang kejauhan. Otaknya bekerja cepat. Ivan memandang ke samping melihat Roni yang mulai membersihkan segala kekacauan yang baru saja ia buat.


“Batalkan semua acara nanti malam,” ujar Ivan dengan berkacak pinggang menghadapi Roni yang masih mendirikan meja kerja bersama OB.


Roni menatap Ivan dengan raut penuh tanya. Baru saja kemaren ia meminta beberapa pegawai untuk meminjam yacht  milik Ardi teman main golf  Ivan  yang memiliki usaha real estate. Acara  sudah dirancang se-spesial mungkin menjelang lamaran yang akan dilakukan Ivan nanti malam


“Mengapa dibatalkan, bos?” Roni bertanya langsung  melihat Ivan yang kini mengalihkan tatapan ke luar jendela.


“Mulai sekarang, jauhkan Sandra dariku. Aku sudah tidak menginginkan dia lagi.” Ivan berkata datar tanpa menjawab pertanyaan Roni.


“Baiklah.” Roni menjawab dengan cepat. Ia segera berlalu dari ruangan Ivan untuk menghubungi Gugun sebagai koordinator lapangan untuk mempersiapkan acara nanti malam.


Tanpa sepengetahuan Ivan, sebenarnya Roni sudah mencurigai ada sesuatu yang lain diantara Sandra dan Bobby. Ia pernah memergoki keduanya berciuman di ruang ganti saat Bobby menemani Sandra pemotretan di studio milik Ivan sekitar 4 bulan yang lalu. Tapi Roni tidak ingin menceritakan kecurigaannya pada Ivan, karena ia tau Ivan bukanlah seseorang yang mudah mendengar laporan tanpa mengetahui bahkan menyelidikinya sendiri


Sebenarnya Roni juga tidak terlalu suka sama kekasih bosnya yang sangat manja dan merasa ekslusif sendiri, karena merasa terkenal dengan bayaran paling mahal, apalagi berpredikat sebagai kekasih pemiliki New Star Corp., membuat Sandra menjadi sombong dan angkuh.


Mendengar Ivan membatalkan acara lamaran nanti malam bahkan ucapannya untuk menutup akses Sandra mendekatinya membuat Roni merasa senang. Ia berharap Ivan mendapatkan kekasih seorang perempuan yang benar-benar tulus tanpa memandang harta serta kemewahan yang dimiliki bosnya itu.


Sepeninggal Roni dari ruangannya, Ivan masih memandang kejauhan. Ia masih tak habis pikir atas perbuatan Sandra. Tidak ada yang kurang dari dirinya.  Jika  ia seorang player, maka dengan mudah perempuan mana pun akan rela menemani bahkan menghangatkan ranjangnya di setiap malam. Tapi dia bukanlah lelaki seperti itu, yang dengan mudahnya berganti perempuan setiap malam. Ia termasuk tipe setia dalam berhubungan dengan perempuan.


Melihat perbuatan  Sandra membuat Ivan berpikir 1000 kali untuk memulai komitmen dalam sebuah hubungan yang lebih serius. Sekarang ia jadi enggan untuk berdekatan dengan perempuan. Ia yakin semua perempuan sama, hanya menginginkan harta dan fasilitas mewah darinya.

__ADS_1


Sementara itu  Khaira masih asyik menjalani body treatment menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari. Hasya sengaja mendatangkan para tenaga kerja berpengalaman dan kompeten dari salon ternama referensi Rheina untuk merawat adik kesayangannya agar bisa tampil maksimal dalam pernikahan dan resepsinya nanti.


Hasya sengaja memilih perawatan selama 5 hari. Ia sudah tau kalau Khaira paling malas pergi ke salon untuk perawatan. Jadi ia memaksa Khaira untuk melakukan perawatan di rumah dengan mendatangkan terapis dari salon yang telah dihubunginya.


Khaira yang ditemani Marisa asyik bercerita seputar persiapan pernikahan hingga resepsi yang akan mereka persiapkan nanti. Ia juga tertarik mendengar  kisah Marisa tentang kehidupan rumah tangga almarhum kedua orang tuanya.


Mata Khaira berkaca-kaca mendengar kisah hidup kedua orang tuanya. Khaira tau bahwa papanya sangat mencintai bundanya walaupun berbagai masalah menguji pernikahan mereka, tapi waktu telah membuktikan bahwa cinta mereka bersama sampai akhir.


Ingatan Khaira tentang bunda tidak sekuat ingatan tentang papanya.  Bundanya meninggal saat ia kelas 5 SD, dan papanya meninggal ketika Khaira tamat SMP. Kecintaan pada sosok papanya membuat ia mengidolakan almarhum papa yang begitu menyayangi dan menjaganya sejak kecil. Tidak boleh ada suara tangisnya, semua akan dimarahi almarhum papa karena suka mengganggu Khaira kecil yang cengeng dan suka menangis.


“Oma harap kamu berbahagia setelah pernikahanmu ….” ujar Marisa sambil memandang Khaira yang sedang memakai masker wajah dibantu oleh asisten yang telah disewa Hasya.


“Insya Allah oma. Aku ingin seperti almarhum bunda dan papa yang selalu setia dan bersama hingga akhir.” Khaira berkata pelan sambil mengingat raut almarhum papa yang begitu ia kagumi.


Khaira tersenyum mendengar ucapan Marisa. Ia menggenggam tangan omanya, “Oma harus kuat dan tetap sehat biar bisa menggendong cicit oma nanti.”


Marisa menatap cucu perempuan satu-satunya dengan lekat. Wajah ayu Khaira yang mewarisi kecantikan dan mata sendu bundanya serta lesung pipit warisan Faiq menyempurnakan kecantikan alaminya sehingga siapa pun tidak akan bosan memandang wajahnya.


“Begitu kalian menikah, jangan menunda memiliki momongan lagi. Oma akan menunggu janjimu memberikan oma cucu yang cantik dan tampan,” cetusnya seketika.


“Lho kok langsung dua sih. Satu-satu dong omaa …. “ Khaira mencebik mendengar permintaan Marisa yang menurutnya mustahil.


“Sodaramu yang lain masing-masing satu. Harapan oma hanya padamu. Semoga begitu hamil langsung dikasi dua. Oma berharap, setelah menikah nanti kamu dan Abbas tetap di rumah ini menemani oma,” Marisa berkata dengan penuh harap, “Oma ingat saat kamu dan Fatih baru dilahirkan, rumah ini terasa dipenuhi kebahagiaan. Kehadiran kalian berdua tidak hanya anugerah bagi orangtuamu tapi oma dan opa merasa bahagia luar biasa. Kami sangat menyenangi anak kecil. Hanya kamu harapan oma yang bisa meramaikan anak-anakmu di rumah ini.”


Khaira tercenung mendengar curahan hari Marisa. Ia sadar dengan ucapan Marisa. Saudaranya yang lain telah memiliki keluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Sedangkan Fatih memilih tinggal bersama istrinya yang hanya memiliki ayah yang sudah sepuh dan dirawat oleh suster di rumah mewah mereka.

__ADS_1


“Junior tak lama lagi akan melanjutkan S2 di Inggris. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan oma sendirian di rumah ini. Oma akan berbicara dengan Abbas setelah pernikahan kalian.”  Marisa berkata dengan penuh harap. Ia tidak ingin ditinggalkan cucu kesayangannya untuk memulai hidup baru di tempat lain, “Bu Illa juga akan oma minta tinggal di sini bersama kita. Kalian tidak akan pergi kemana-mana lagi.”


Khaira mengangguk mendengarkan ucapan omanya. Alasan Marisa cukup masuk akal. Ia tidak ingin kesepian dan hidup sendiri di hari tuanya. Khaira akan mendiskusikan ini dengan Abbas jika pernikahan telah terlaksana tiga hari ke depan. Ia yakin Abbas akan menuruti keinginan oma, karena ia juga sangat menyayangi oma Marisa.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ivan berusaha menghubungi Abbas, tapi sudah satu jam tidak ada jawaban. Ia ingin memberitahu Abbas untuk membatalkan keinginannya yang meminta Abbas mengambil moge miliknya yang sudah lama menganggur di garasi rumah mamanya untuk diantar ke apartemen miliknya.


“Ron, coba kamu hubungi ponsel Abbas. Dari tadi nomornya berada di luar jangkauan.” Ivan berkata dengan cemas.


“Memangnya kenapa harus menghubungi Abbas?” Roni menatap Ivan yang berdiri dengan tegang memandang ponsel di tangannya.


“Aku ingin dia membatalkan mengambil moge di rumah mama,” ujar Ivan terus mencoba menghubungi nomor Abbas.


“Apa bos ingin keliling kota menggunakan moge?” Roni mendadak kepo mendengar bosnya yang tiba-tiba menyebut moge yang sudah setahunan tidak pernah disentuhnya.


“Kamu nggak perlu tau. Ini urusanku. Cepat hubungi dia!” Ivan melemparkan ponselnya ke Roni. Untung cepat tertangkap, kalau tidak ponsel mahal itu akan hancur berderai.


Begitu ponsel berada di tangan Roni, tiba-tiba panggilan terhubung dari nomor yang tidak dikenal.


“Bos, panggilan masuk nomor asing.” Roni mengembalikan ponsel pada Ivan yang menatapnya dengan kening berkerut.


“Hallo, selamat siang. Betul saya sendiri. Apa …? Bagaimana keadaannya?” wajah Ivan tegang mendengar ucapan dari orang yang menghubunginya, “Baiklah. Saya akan datang secepatnya!”


“Bos, apa yang terjadi?” Roni bertanya dengan cepat melihat wajah Ivan yang kelihatan penuh kekhawatiran.


“Abbas mengalami kecelakaan.”

__ADS_1


__ADS_2