Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 50


__ADS_3

Saat Hani turun untuk menyiapkan sarapan pagi, ia melihat meja sudah dipenuhi hidangan. Dewi telah mempersiapkan semuanya seperti  yang ia katakan semalam. Hani merasa tidak nyaman.


“Nak Hani duduk saja, biar ibu siapkan semua.” Ia tersenyum puas dengan hasil pekerjaannya.


Faiq baru keluar dari kamar, tetapi sudah menggunakan seragam kantor. Ia pun terkejut melihat begitu banyak hidangan yang tersedia, dari nasi goreng hingga mie goreng terhidang lengkap dengan roti bakar.


“Ibu tidak perlu menyiapkan sebanyak ini.” Faiq memandang Dewi sambil mengedarkan pandangannya karena tidak melihat Hesti berada di sana.


“Hesti badannya tidak enak. Ia ingin sarapan di kamar saja.” ujar Dewi, ia merasa senang karena Faiq mulai memperhatikan putrinya.


“Mulai hari ini perawat yang mengurusnya akan datang. Saya sudah memintanya dengan dr. Ivan.” Ujar Faiq.


“Maafkan ibu, nak Faiq. Hesti dan ibu sudah sepakat tidak memerlukan perawat untuk melayani Hesti.”


“Tapi saya kasian, sama ibu kalau harus repot mengurus Hesti.” Faiq merasa heran karena Dewi menolak niat baiknya.


“Tidak apa-apa, nak.” Dewi berusaha membujuk Faiq, “Apa besok nak Faiq bisa mengantarnya untuk kontrol ke dokter?”


“Maafkan saya, bu. Satu minggu ke depan jadwal saya  padat di kantor. Biar  mang Udin yang akan mengantar ibu dan Hesti kontrol.”


“Baiklah, nak.” Dewi tersenyum kecut, karena keinginannya untuk diantar sang menantu belum kesampaian.


Hani masih menemani si kembar dan Hasya bermain di taman belakang. Biasanya di hari Sabtu begini Faiq akan pulang lebih awal dan menemani anak-anak bermain. Tetapi sampai jam 5 sore Faiq belum hadir di antara mereka.


Merasa kelamaan menunggu di taman, Hani segera meminta Lina untuk membawa si kembar mandi, karena hari sudah sore.


Saat  hendak melangkah menuju kamar mereka di lantai atas ia mendengar obrolan hangat disertai suara tawa. Hani  merasa heran, ia menajamkan pendengarannya, ternyata Faiq bersama Hesti dan Dewi sedang berbincang dengan akrab.


“Jadi bagaimana rencana nak Faiq dan Hesti ke depannya?” suara Dewi begitu bahagia melihat Faiq yang kini  mulai peduli terhadap Hesti.


“Mas sudah pulang?” Hani menghampiri Faiq dan menyalami tangannya. “Anak-anak sudah menunggu dari tadi. Ku pikir mas masih di kantor…”


Melihat kehadiran Hani yang mengganggu obrolan mereka membuat Dewi dan Hesti kesal. Keduanya memandang Hani dengan mata nyalang.


“Maafkan mas sayang. Rasanya udah lama juga nggak ngobrol sama Hesti, mas jadi rindu suasana kantor tempat mas bekerja dulu.”


Hani mengerutkan jidatnya, baru kali ini Faiq mengakrabkan diri dengan Hesti dan ibunya. Perasaan Hani mulai tidak nyaman. Tapi ia berusaha membuang prasangka negatif. Ia tersenyum menanggapi perkataan Faiq.


“Hari sudah sore, sebentar lagi udah Magrib. Mas nggak mandi dulu?” ia mengambil tas kerja Faiq yang tergeletak di atas meja.


“Barusan juga mas mau mandi. Saya permisi, bu, Hesti…” Faiq tersenyum meninggalkan mereka sambil berjalan berdampingan dengan Hani.


Hani mulai merasakan perubahan pada sikap Faiq. Ia yang selama ini menyempatkan bermain bersama si kembar dan Hasya mulai tidak ada waktu dan selalu ada alasan lain yang selalu melibatkan Hesti dan Dewi.


“Papa, main yok…” Ali sudah membawa bola di tangannya, saat Faiq sedang duduk santai di pagi Minggu itu sambil  membaca email di ponselnya.


“Papa capek. Mas Ariq main dengan mas Ali saja ya…” ia masih memegang ponselnya.


“Papa janji pagi ini, kemaren nggak sempat karena menemani tante Hesti berobat.” Ali berusaha menagih janji Faiq.


“Papa kalian itu capek, masak nggak ngerti.” Ketus Dewi sambil membawakan secangkir kopi kepada Faiq.

__ADS_1


“Sudahlah, bu. Nggak apa-apa.” Faiq tersenyum pada Dewi, “Kenapa ibu mesti repot membuatkan kopi.”


“Ibu kasian sama Hani. Si dede kelihatan rewel hari ini.”


“Ibu sangat membantu kami selama di sini. Saya sangat berterima kasih.”


“Kita ini keluarga, nak Faiq. Ibu senang membantu kalian.”


Ariq dan Ali merasa sedih melihat Faiq yang kini sudah tidak mempedulikan mereka lagi. Hari-harinya sepulang kerja selalu dihabiskan mengobrol dengan Hesti dan Dewi. Mereka kelihatan semakin akrab.


Hani mengelus dadanya yang terasa sakit. Sikap   Faiq mulai berubah tidak sehangat dulu. Ia tidak pernah lagi meluangkan waktu bersama ketiga buah hatinya.


“Papa, dede mahu gendong dadi buyung…” dengan manja Hasya duduk di pangkuan Faiq.


“Maafkan papa, sayang. Lain kali saja ya..” Faiq meletakkan Hasya di sampingnya.


Senyum Dewi dan Hesti terbit bersamaan melihat perlakuan Faiq pada putra-putri Hani. Faiq kembali membaca emailnya. Tangannya meraih kopi yang tersaji di atas meja.


Hasya yang memutar-mutar bonekanya di samping Faiq tak sengaja menyentuh gelas kopi, sehingga kopi tumpah membasahi berkas yang berada tepat di atas meja.


“Astaga, Sasya apa yang kamu lakukan?” suara  Faiq terdengar keras membuat si kecil terkejut dan menangis ketakutan.


“Dedek…” Hani yang masih mengobrol di telpon dengan Hanif terkejut mendengar suara Faiq yang keras.


“Rara, kenapa kau biarkan Sasya bermain di sini. Lihat apa yang terjadi, laporan bulanan perusahaan tertumpah kopi.”  Faiq memandang Hani dengan kesal.


“Astagfirullahaladjim, mas. Dedek tidak sengaja…”


“Harusnya jangan kau biarkan dia berkeliaran, menyusahkan saja.”


“Sudahlah nak Faiq, Namanya juga anak-anak.” Dewi berusaha menghiburnya.


Faiq menghela nafas sesaat. Bayangan wajah sendu Hani yang berurai air mata mengganggu perasaannya. Tapi ia tidak bisa menahan emosinya. Laporan yang ia periksa akan digunakan untuk rapat dengan pemegang saham besok.


“Mas, sudahlah. Besok kan bisa di print out lagi.” Hesti berkata dengan lembut sambil menyentuh jarinya.


Faiq terdiam tidak menanggapi. Hatinya tidak tega telah berkata kasar pada Hani  dan membuatnya bersedih, tapi terasa ada sesuatu yang memberatkan langkahnya untuk menemui Hani di kamar. Seharian ia menghabiskan waktu di ruang kerja, dan meminta Handoko mengantarkan laporan baru agar ia bisa memeriksanya malam ini.


Pada saat makan malam pun, Hani tetap melayani Faiq. Walaupun hatinya masih sakit mengingat perlakuan Faiq, tapi Hani tetap berusaha menjadi istri yang baik.


“Biarkan ibu saja yang menyiapkan. Aku tak ingin anak-anak berulah di meja makan.” Kata-kata Faiq kembali menusuk perasaan Hani.


Hanya gara-gara masakan Dewi tidak dimakan si kembar saat sarapan, membuat Faiq kembali terpancing emosi.


Hani menggigit bibirnya menahan agar air matanya tidak tumpah. Ia memandang Ariq dan Ali yang kini menatapnya dengan raut tak mengerti.


“Mas Ariq dan mas Ali nggak boleh pilih-pilih makanan ya. Kita harus bersyukur nenek sudah menyiapkan untuk kita…” Hani berkata lirih.


“Baik, bunda.” Keduanya menjawab kompak.


Tatapan Faiq melihat Hani yang menundukkan wajah tidak memandang wajahnya. Ia sadar kata-katanya kasar. Tapi entahlah… Faiq bingung dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Hani tetap melayani Faiq seperti biasa, walau sikap Faiq sudah tidak sehangat dulu. Sebagai istri ia sadar harus bersikap lebih sabar dalam menghadapi suaminya. Ia tau, kondisi perusahaan juga dalam keadaan kurang baik.


Hani sengaja pulang lebih awal dari restoran. Ia merasakan tubuhnya dalam keadaan kurang fit dan lebih mudah lelah.  Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan dengan lunglai memasuki rumah.


“Kalian berdua itu hanya anak tiri Faiq. Dan kalian bukan cucuku, jadi berhentilah bersikap manja.” Ujar Dewi ketus.


“Apa yang ibu lakukan pada anakku?” Hani tidak terima Dewi menghina kedua putranya.


“Anakkmu itu telah menjatuhkan ponselku hingga pecah. Kau pikir ponsel ini murah. Nak Faiq baru saja membelikannya kemaren.” Dewi berkata dengan gusar.


“Saya akan menggantinya, bu.” Jawab Hani cepat.


“Tentu saja kau mudah menggantinya, karena kamu itu janda kaya.” Dewi mulai tidak terkontrol bicaranya, “Kenapa kamu harus merampas kekasih Hesti. Banyak lelaki lain, bahkan suamimu masih mau menerimamu…”


“Tolong jaga ucapan ibu…” Hani berusaha menahan emosinya mendengar perkataan Dewi.


“Apa yang terjadi, bu?” Faiq yang baru pulang dari kantor terkejut melihat ketegangan yang terjadi.


“Ponsel yang baru nak Faiq hadiahkan pada ibu, hancur karena kecerobohan anaknya.” Dewi mengadu dengan penuh drama.


“Ra, bukankah aku sudah memperingatkan, jangan biarkan anak-anak bermain di dalam rumah.” Faiq merasa kesal, karena sudah seharian di kantor begitu pulang ke rumah bukan ketenangan yang ia dapatkan.


“Maafkan aku, mas. Ponsel ibu akan ku ganti.”


“Tidak perlu. Malam ini aku dan ibu serta Hesti akan pergi bersama.” Ujar Faiq datar. “Hesti memerlukan beberapa pakaian baru untuk bekerja minggu depan.”


Hani menatap Faiq dengan sedih.  Ia merasa hubungan mereka semakin jauh, sementara perlakuan Faiq terhadap Hesti dan Dewi makin hangat.


Saat Faiq sudah berangkat ke kantor. Hani masih menyiapkan Hasya untuk ia bawa ke restoran. Karena ia mendengar pengaduan Lina bahwa  Hesti sering berbuat kasar pada Hasya, tetapi Hani tak punya bukti untuk melawannya.


“Bu, hadiah ulang tahunku dari mas Faiq bagus ya.” Hesti mengelus-elus jam tangan baru yang melingkari pergelangan tangannya. “Teman dari kantor pasti iri dengan hadiah ini.”


Pagi itu hanya mereka bertiga yang tersisa di ruang makan. Hani berusaha tidak menghiraukan perkataan mereka.


“Nak Faiq memang sangat perhatian. Dan makan malam di restoran mewah itu menyenangkan. Ibu sangat bangga, karena ditengah kesibukannya, nak Faiq masih sempat membawa kita merayakan ulang tahunmu di restoran itu.”


Hani merasa sedih mendengar omongan mereka berdua. Ia tak menyangka Faiq begitu memperhatikan Hesti, hingga membelikan hadiah yang sangat mewah di hari ulang tahunnya. Melihat modelnya Hani tau, bahwa jam tangan yang dibelikan Faiq harganya di atas 10 juta.


“Wah selamat ya mbak Hesti. Semoga umurnya makin berkah.” Hani turut mendoakan yang terbaik buat Hesti.


“Kamu harus siap, tak lama lagi Faiq akan melegalkan pernikahannya dengan Hesti.” Ujar Dewi  santai memandang Hani yang masih menyuapi Hasya.


“Apa maksud ibu? Bukankah mereka akan segera bercerai jika mbak Hesti  sudah normal kembali?”


“Mereka tidak akan bercerai, ku jamin itu. Kamu kan bisa lihat, segala keperluan Hesti selalu diberikan nak Faiq, karena ia peduli. Dan tak lama lagi Hesti akan segera mempunyai anak  dari Faiq. Lihat saja nanti.”


Mata Hani berkaca-kaca mendengar perkataan Dewi. Melihat perlakuan Faiq terhadap Hesti yang semakin dekat, perkataan Dewi memang masuk akal.


“Mungkin saja kamu nggak bisa memberikan keturunan pada Faiq. Kalian sudah 3 bulan menikah, tapi kamu belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.” Dewi memandangnya dengan sorot meremehkan, “Apalagi kamu hanya seorang janda. Yang namanya lelaki, jika sudah merasakan seorang perawan, rasanya akan beda. Dan nak Faiq tidak mendapatkan itu di dirimu…”


Perasaan Hani teramat sakit mendengar omongan Dewi. Ia mempercepat langkahnya. Tak ingin terlihat menyedihkan di depan perempuan tua itu. Ia harus kuat menjalani semua ujian ini. Ia tidak akan mengalah untuk keutuhan rumah tangganya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2