Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 110


__ADS_3

Faiq menunggu dr. Arif Prakoso dan asistennya yang sedang  mengontrol keadaan Hani. Dengan perasaan gugup ia berdiri di samping asisten dokter yang dengan telaten membuka perban di mata istrinya. Tangannya tidak melepas genggaman dari tangan Hani.


Hani membuka matanya dengan pelan. Yang pertama ia lihat suaminya yang memandangnya dengan lembut. Tatapannya beralih pada seorang lelaki muda yang berpakaian serba putih yang tersenyum padanya.


Faiq terpaku melihat sorot tajam dari tatapan Hani yang terasa menusuk jantungnya. Tiada lagi tatapan lembut nan teduh milik Hani, kini sorot tajam Adi lah yang terpancar di mata bening itu. Sang pemilik mata telah menyatu dengan pemilik hatinya.


“Bagaimana perasaan anda, nyonya?” dr. Arief bertanya dengan penuh perhatian.


“Alhamdulillah. Terima kasih dokter. Saya merasa bahagia karena bisa melihat kembali. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada orang yang telah menyumbangkan matanya pada saya. Jika diperkenankan saya ingin bertemu dengannya.”  Ujar  Hani tulus.


Faiq tercekat. Bagaimana ia harus menceritakan semuanya pada Hani, jika Adi lah orang yang sangat berjasa atas penglihatan yang kini kembali pada istrinya.


Dr. Arief  menanggapi perkataan Hani dengan anggukan dan senyum ramahnya. Ia segera berpamitan karena masih ada pasien yang menunggunya.


Faiq segera merengkuh Hani ke dalam pelukan, dan memberikan kecupan singkat di keningnya.


“Besok kita akan kembali ke rumah. Bukankah kamu pengen lihat Junior? Sebentar lagi suster akan membawanya kemari,”  ujar Faiq pelan sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.


Senyum tipis muncul di bibir Hani. Ia menganggukkan kepala dengan pelan. Perasaannya membuncah bahagia, karena kegelapan yang ia rasakan telah hilang berganti kesempurnaan penglihatan yang kini ia peroleh. Dan Hani sangat bersyukur kepada Yang Kuasa atas penglihatannya yang kembali pulih.


Faiq menggendong bayinya di sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam jemari Hani dengan erat, saat ketiganya memasuki rumah. Ia telah menghubungi Hanif dan Wulan untuk mempersiapkan acara kepulangan mereka.


Acara penyambutan telah dipersiapkan Marisa beserta kerabat lainnya. Seluruh keluarga besar Marisa dan Darmawan berkumpul, karena Faiq menginginkan sekalian acara aqiqahan untuk anak bungsunya. Ia yakin ke depannya mereka akan semakin sibuk, apa lagi ia sudah mendapat bocoran dari Hanif, bahwa Hani akan dipersiapkan untuk mengelola perusahaan milik Adi yang telah dialihnamakan anak-anak mereka.


Perasaan Hani sangat bahagia melihat kelima anaknya tumbuh dengan sehat. Ia memeluk satu demi satu putra-putrinya yang menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Kehadiran Mawar dan Fandi, Gigi  serta Fery membuat Hani senang.


“Bagaimana kabarmu?” Gigi memandangnya dengan lekat.


Hani tersenyum lega, “Aku bahagia di tengah-tengah keluarga besar  serta sahabat yang selalu mendukungku. Terima kasih atas kedatangan kalian.”


Gigi memeluk Hani dengan perasaan gundah. Ia sudah mengetahui kabar kepergian Adi dari Fery, dan itu membuatnya sedih. Tapi ia tak berani membicarakan hal itu, karena sebelum kedatangan mereka Marisa telah meminta semua untuk menutup pembicaraan tentang Adi.

__ADS_1


Tatapan Hani terpaku melihat bocah perempuan yang berada dalam pangkuan Fery. Ia tersenyum melihat keimutan sang bocah.


“Wah, aku terlewatkan sesuatu ini ….” Hani berkata pelan sambil mendekati Fery yang asyik berbincang dengan Hanif dan Fandi.


“Benar!” seru Gigi, “Maafkan aku lupa memberitahu kelahiran Syalsa padamu. Sekarang usianya sama dengan Fatih dan Khaira,” ujar Gigi dengan perasaan bahagia.


Mereka tertawa bersama ketika Syalsa mulai bermain dan berlari kecil bersama Khaira yang diikuti Ariq dan Ali.


“Tidak apa-apa. Aku turut bahagia atas kelahiran Syalsa.” Hani tersenyum tulus, “Nama lengkapnya siapa kok jadi mirip dedek?”


“Farras Syalsa Feryna.” Jawab Gigi sambil tersenyum.


Tiba-tiba Ariq berjalan menghampiri Hani dan duduk di sampingnya. Hani mengerutkan jidatnya melihat kelakuan putra sulungnya yang tampak tidak bersemangat.


“Bunda, mengapa ayah tidak pernah datang kemari?”  tanya Ariq pelan.


Hani langsung mengedarkan pandangannya berusaha mencari sosok yang ditanyakan Ariq. Ia sendiri juga heran, biasanya Faiq selalu mengundang Adi dan Linda setiap ada acara di rumah.


Gigi dan Fery saling berpandangan sambil menahan nafas. Keduanya menatap Ariq dengan perasaan sedih, hingga akhirnya Faiq memangkas keheningan yang terjadi.


Hani memandang Ariq lekat, “Mungkin ayah dan eyang sedang ada keperluan. Kapan-kapan kita berkunjung ke sana ya ….”


“Baik bunda.” Ariq menganggukkan kepala menyetujui ucapan Hani.


Faiq mengusap bahu Hani dengan lembut, “Ibu sudah mempersiapkan pakaian untukmu di kamar kita. Segeralah berkemas, sebentar lagi tamu akan datang.”


“Baiklah mas.”  Hani menjawab dengan singkat.


Ia memandang bayi lelakinya yang berada dalam gendongan Faiq. Hani mendaratkan ciuman di pipi cubby bayi montok itu. Jemarinya membelai rambut hitam lebat bayi mungilnya.


Kebahagiaan terpancar di wajah Faiq dan Hani selama acara berlangsung. Mereka berbaur dengan para tamu yang datang. Semua tamu undangan yang hadir merasa puas dengan jamuan tuan rumah ditambah souvenir yang diberikan sangat beragam, tidak hanya mug cantik tetapi juga sajadah elegan yang dikemas dalam tas cantik.

__ADS_1


Hani mengerutkan kening saat mendengar Darmawan menyebutkan nama lengkap junior yang kini berada dalam pangkuannya.


“Tama Adnan Fareza  yang artinya perhiasan yang menenangkan hati dan berpikiran luas. Semoga cucu kami menjadi perhiasan bagi kedua orang tuanya, bisa menenangkan hati dimanapun ia berada dan berpikiran luas dalam menyikapi segala sesuatu.” Ujar Darmawan dengan bangga sambil mencium pipi cubby cucu laki-lakinya yang mulai berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya.


Saat Marisa ingin mengambilnya dari gendongan Darmawan, junior tampak tertawa senang. Bibirnya yang merah selalu terbuka dan tertawa membuat siapa pun gemes melihatnya.


Acara syukuran aqiqahan berjalan dengan lancar. Tepat jam 5 sore, tamu undangan mulai meninggalkan rumah, kini tinggal keluarga inti saja yang tersisa. Gigi dan Fery pun telah pamit setengah jam yang lalu.


Darmawan dan Marisa duduk bersama Faiq, Hanif serta Hani di ruang keluarga. Wulan tampak kelelahan karena sedang hamil tua. Lina dan Sari masih membantu beres-beres di belakang.


“Mbak, kemaren saya sempat berbicara dengan bu Linda.” Hanif mulai membuka percakapan.


Faiq mulai memasang telinganya khawatir Hanif membicarakan Adi. Matanya tajam memandang Hanif  dengan isyarat yang dapat ditangkap Hanif.


“Apa yang kalian diskusikan?” sela Darmawan cepat.


“Bu Linda meminta mbak Hani mulai membantu mengelola perusahaan.” Jawab Hanif cepat, “Sebagai orang tua pewaris, setidak-tidaknya mbak Hani harus memahami bisnis yang bakal dijalani anak-anak di masa yang akan datang.”


Hani terdiam. Ia jadi bingung karena belum memahami arah pembicaraan. Ia menatap Faiq yang berdiam diri di sampingnya.


“Ayah nggak masalah kalau memang kamu menginginkannya. Itu juga bagus untuk menambah wawasanmu.” Darmawan menatap Hani sambil menganggukkan kepala.


“Ibu setuju dengan perkataan ayah.” Marisa menimpali, “Kamu masih muda, masalah anak-anak bisa kita tanggulangi bersama. Tetapi untuk perusahaan, memang susah mencari orang yang bisa kita percayai.”


“Aku nggak masalah kalau Hani ingin terjun langsung mengelola perusahaan, yang penting ia tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak.” Ujar Faiq datar.


Sebenarnya ia menginginkan Hani tinggal di rumah saja. Tapi mau bagaimana lagi, toh Adi sudah tidak ada. Dan ia harus melepaskan istrinya untuk mengelola perusahaan milik mantan suaminya yang kini telah berpindah kepemilikan untuk anak-anaknya.


“Aku tidak paham dengan pembicaraan ini.” Hani memandang Hanif dengan jidat mengerut, “Perusahaan siapa yang harus dikelola?”


“Sebaiknya pembicaraan ini kita tunda sampai besok. Rara harus istirahat sekarang.” Faiq bangkit dari kursi dan menggandeng tangan Hani dan membawanya berlalu dari hadapan kedua orangtuanya serta Hanif yang masih melanjutkan perbincangan mereka.

__ADS_1


 


 


__ADS_2