Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 311 S2 (Rencana Syukuran Pernikahan)


__ADS_3

Ivan menggenggam jemari Khaira dengan mesra. Tangan kirinya menggendong Embun, sedangkan Fajar dengan posisi santai berjalan di samping sang bunda. Keempatnya berjalan menuju kediaman ustadz Hanan.


Ini untuk pertama kalinya mereka berkunjung setelah kembali dari perjalanan umroh plus mereka. Ivan ingin bertukar pikiran dengan ustadz Hanan dan memberitahukan hubungan antara ia dan Khaira sehingga tidak terjadi kesalahpahaman diantara para penghuni pondok.


“Assalamu’alaikum .... “ Ivan dan Khaira saling melempar senyum ketika keduanya bersamaan memberi salam.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh .... “ ustadz Hanan muncul di hadapan mereka dengan wajah penuh keakraban, “Eh, yang baru pulang umroh  sudah pada kembali ke mari ....”


“Alhamdulillah Ustadz,” Ivan tersenyum sambil menyambut tangan ustadz Hanan untuk bersalaman.


“Abi, dedek bawa ole-ole buat abi tama umi .... “ Embun memberikan paper bag yang telah dipersiapkan bundanya dari rumah.


“Eh, ada dede dan mas .... “ ustadzah Fatimah merasa senang melihat kehadiran mereka, “Umi udah kangen sama kalian .... “


Fajar dan Embun segera mendekat dan salim pada ustadz Hanan dan istrinya. Ustadzah Fatimah mencium keduanya dengan perasaan rindu yang sudah teramat besar. Kehadiran mereka telah membuat kehidupannya lebih berwarna. Apalagi ia bersama keduanya semenjak awal kehadiran mereka di dunia ini.


“Bagaimana perjalanannya?”  ustadz Hanan menepuk pundak Ivan dengan hangat.


“Luar biasa,” Ivan tersenyum lebar.


Khaira dan si kembar mengikuti langkah ustadzah Fatimah menuju ke belakang membiarkan suami mereka melanjutkan pembicaraan mereka.


“Aku melihat wajahmu begitu segar,” ustadz Hanan berkata dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.


“Alhamdulillah Allah memberikanku kesempatan kedua untuk berkumpul bersama dengan keluarga kecil yang sangat aku dambakan,” Ivan berkata dengan sungguh-sungguh, “Rasanya sedetikpun aku tak ingin jauh dari mereka.”


“Walaupun harus dibayar mahal dengan kepergian tante ....” ujar ustadz Hanan pelan.


“Aku tidak akan menyia-nyiakan kepergian mama. Aku berjanji dan kamu saksinya, aku akan berusaha seumur hidup untuk membahagiakan mereka.”


“Semoga janji dan keinginanmu dikabulkan Allah. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin .... “ ustadz Hanan mengaminkan semua ucapan Ivan.


Keduanya masih terlibat percakapan serius masalah pekerjaan.  Ivan pun sempat menanyakan bangunan baru yang berdiri berseberangan menuju depan gapura ponpes al-Ijtihad asuhan ustadz Hanan.


Secara gamblang ustadz Hanan menceritakan bahwa  ada rencana pembangunan perumahan islami yang akan dibuat sebanyak seratus unit yang akan menyasar kaum menengah ke atas. Apalagi zaman sekarang semakin banyak kaum muda-mudi yang hijrah dan menginginkan memiliki hunian yang islami dengan fasilitas yang lebih modern.


Ivan mendengarkan penjelasan ustadz Hanan dengan antusias. Ia belum mengomentari semua perkataan ustadz Hanan tetapi cukup tertarik dengan prospek masa depan yang diceritakannya.


“Aku dan Berli telah sepakat bekerja sama untuk mengelola semuanya. Ku harap kamu mau bergabung sebagai investor di proyek ini,” ustadz Hanan berkata dengan serius ketika mengakhiri ceritanya.


“Cukup menarik,” Ivan manggut-manggut mengomentari ucapan ustadz Hanan.

__ADS_1


“Jika kamu bersedia, aku tidak akan menghubungi Andreas teman lamaku yang bergerak di bidang real estate di kota. Dia sangat tertarik ketika Berli sedang mencari investor untuk pembangunan hunian islami ini.”


“Aku akan membicarakan semuanya dengan Rara. Sekarang semua milikku telah pindah nama untuk si kembar. Aku sudah tak berpunya sekarang,” Ivan berkata dengan santai.


“Bagaimana kalau kamu dianugerahi momongan lagi, jika hartamu tak bersisa?” ustadz Hanan bertanya dengan nada bergurau.


“Aku akan bekerja dengan giat jika Yang Kuasa memberikan karunianya lagi,” Ivan menjawab dengan serius.


“Jadi bagaimana? Kamu tertarik?” ustadz Hanan masih berharap Ivan turut bergabung dengannya dalam proyek besar perumahan muslim.


“Prospek dan profitnya cukup menjanjikan. Tapi aku tetap akan mendiskusikan bersama bundanya anak-anak,” kini Ivan berkata lebih serius.


“Di dalam lingkungannya nanti akan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan juga masjid besar. Kita juga akan menggandeng satu bank syariah yang akan menjadi patner dalam masalah pembayarannya.”


“Aku akan memberikan jawaban secepatnya begitu bundanya si kembar memberikan keputusannya.”


“Semoga kabar yang menyenangkan,” ustadz Hanan berkata dengan penuh harap.


“Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius denganmu,” Ivan akhirnya menyadari niatnya datang untuk menemui ustadz Hanan.


Ustadz Hanan menatap Ivan dengan serius. Ia menajamkan pendengarannya untuk memastikan apa yang akan dikatakan Ivan padanya.


“Warga pondok banyak yang belum mengetahui pernikahanku dengan Rara. Aku tidak ingin warga berpikiran negatif tentang kami. Aku dan Rara berkeinginan untuk mengadakan syukuran pernikahan kami. Menurutmu kapan waktu yang tepat untuk melaksanakannya?”


“Apa kamu memerlukan EO untuk acara ini?”


“Ha?” sontak Ivan tertawa kecil mendengar pertanyaan ustadz Hanan, “Tak perlu menggunakan jasa EO lah. Hanya syukuran kecil-kecilan yang mengundang warga pondok dan yang berada di sekitar kita. Aku dan Rara juga ingin berbagi  pada warga sekitar sini. Tapi ku kira jika tenda bisa kita gunakan.”


“Baiklah,” ustadz Hanan berkata sambil manggut-manggut, “Ku rasa hari Kamis malam kita bisa mengundang warga pondok untuk datang. Lusa tenda kepunyaan pondok bisa dimanfaatkan. Ibu-ibu sini pasti akan senang membantu.”


“Alhamdulillah,” Ivan merasa lega mendengar ucapan ustadz Hanan.


“Ayah ...dede  mau bobok .... “ Embun muncul dari belakang sambil mengucek matanya yang mulai memerah diikuti Fajar, bundanya serta ustadzah Fatimah.


“Wah, princess  ayah sudah mengantuk.” Ivan segera meraih Embun dalam gendongannya. Ia memandang istrinya dengan lekat, “Kita pulang sekarang?”


Khaira tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Akhirnya mereka berempat meninggalkan kediaman ustadz Hanan dengan perasaan lega karena apa yang telah mereka rencanakan mendapatkan tanggapan positif dari sahabatnya itu. Ivan menggendong Embun yang sudah terlelap, sedangkan tangan kanannya menggenggam jemari istrinya dengan mesra dengan Fajar yang berjalan di depan mereka sambil bersenandung lagu anak-anak.


Jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Ivan merasakan kebahagiaan luar biasa. Setelah berdiskusi dengan Khaira seharian tadi, istrinya mengizinkan untuk bergabung bersama CV yang akan dibangun ustadz Hanan bersama Berli.

__ADS_1


Awalnya Khaira tidak menyetujui jika namanya yang didaftarkan Ivan sebagai owner dari usaha yang akan berdiri dan didaftarkan sebagai badan usaha rekanan ustadz Hanan dan Berli. Setelah mendengarkan keseluruhan cerita Ivan, apalagi ini usaha baru yang melibatkan ustadz Hanan yang telah membantunya sejak awal, akhirnya Khaira menyetujui untuk bergabung.


Jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Tak terasa keasyikan mengobrol bersama para sesepuh pondok di masjid setelah melaksanakan salat Isya Ivan melirik jam di pergelangan tangannya.


“Wah, sudah pukul 8 .... “ ustadz Hanan berkata pelan sambil memandang jam dinding yang berada di dekat mimbar masjid.


“Saya pamit Ustadz .... “ ujar Ivan segera berdiri perlahan dan mulai menyalami para kyai serta sesepuh yang juga mulai berkemas untuk kembali ke rumah masing-masing.


Tiba di dalam rumah ia melihat suasana sepi. Tiada terdengar suara si kembar yang biasanya masih berceloteh ria. Perlahan ia menuju kamar utama yang kini ia tempati bersama Khaira. Saat membuka pintu kamar tidak ada sosok istrinya di dalam.


Ivan yakin Khaira berada di kamar si kembar.  Ia keluar dari kamarnya dan perlahan menuju kamar si kembar yang berdampingan dengan kamar mereka. Ia langsung mengetuk pintu kamar.


“Ada apa Pak?” bu Nuri membuka pintu dan terkejut melihat Ivan yang berdiri di hadapannya.


“Apa ibu ada di dalam?” Ivan merasa tidak nyaman untuk melihat ke dalam kamar si kembar.


“Oh ...” bu Nuri paham bahwa Ivan mencari keberadaan istrinya, “Tadi ibu bilang mau ke sebelah membereskan sisa pakaian si kembar di sana.”


“Terima kasih Bu,” Ivan buru-buru pamit mengetahui bahwa Khaira berada di rumah samping.


Dengan cepat ia menuju kediaman Khaira dan melihat Dipo penjaga rumah dan pak Toto yang sedang bermain kartu di teras rumah.


“Assalamu’alaikum .... “ Ivan mengucapkan salam pada keduanya.


“Wa’alaikumussalam, selamat malam Pak Ivan?” keduanya serempak menjawab.


“Apa bundanya si kembar ada di dalam?” tanpa basa-basi Ivan menatap keduanya.


“Benar Pak. Sudah hampir satu jam ibu di dalam,” Dipo menjelaskan.


“Terima kasih pak Toto, Dipo,” Ivan tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan cepat.


Ia dan Khaira sudah sepakat menyumbangkan rumah kediaman Khaira menjadi rumah singgah bagi tamu-tamu yang berkunjung di pondok, karena Khaira dan anak-anaknya akan bersama menempati rumah miliknya.


Pak Toto dan Dipo tetap bekerja bersamanya sebagai satpam dan supir pribadi yang akan membantu mobilitas keluarga kecilnya. Tentu saja dengan peningkatan finansial yang akan diberikan pada keduanya yang selama ini telah mendampingi Khaira dan si kembar.


Ivan berjalan memasuki rumah yang tidak dikunci. Senyum tipis menghiasi wajahnya melihat kondisi di dalam rumah yang tampak sederhana. Rak kecil berisi susunan buku tersusun dengan rapi.


Ia memang belum pernah menginjakkan kaki ke dalam rumah milik Khaira. Dua hari ini ia disibukkan dengan meeting bersama Danu. Banyak berkas yang harus ia tanda tangani setelah liburan panjang yang mereka jalani.


Setelah puas melihat penataan ruang tamu sederhana di rumah yang akan segera berpindah kepemilikan, tatapan Ivan beralih pada tiga buah kamar yang berada di hadapannya. Ia berjalan mendekati dan mengamati  dua kamar yang berdampingan satu sama lain. Ia yakin kamar yang berada di hadapannya saat ini adalah kamar Khaira sedangkan disampingnya adalah kamar  si kembar.

__ADS_1


***Hallo fans setia Ivan dan Rara\, ketemu lagi. Sekarang mudahan author diperlancar dalam melanjutkan kisah keluarga kecil mereka. Salam sayang untuk reader ku semua .... ***


__ADS_2