Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 141 S2 (Biarkan Aku Jatuh Cinta)


__ADS_3

Ivan dengan malas mengikuti langkah Arya dan Melinda yang bergandengan tangan memasuki kafe. Roni menatap wajah bosnya dengan heran. Biasanya Ivan bersemangat datang ke kafe Abbas, tumben kali ini wajahnya kelihatan tegang.


Tapi saat melihat Rani dan Gita mengangguk hormat, Ivan kembali memasang wajah datarnya. Roni tersenyum ramah pada keduanya. Ia kini mulai memperhatikan pegawai yang bernama Gita, yang menurutnya semakin dipandang semakin manis.


Tidak menunggu lama, berbagai menu selera nusantara sudah terhidang menggugah selera yang memandangnya.


Arya dan Melinda tampak sukacita menghadapi menu yang disajikan di atas meja. Keduanya segera menikmati hidangan dengan penuh semangat.


“Terima kasih tuan Ivan, saya sangat suka menu tradisional di sini. Ingat dengan masakan mama di kampung,” Melinda berkata dengan serius, “Saat mas Arya menceritakan tentang tempat ini saya langsung tertarik. Dan pasti akan merekomendasikan tempat ini pada rekan saya yang lain.”


Ivan tersenyum hambar. Tatapannya berkali-kali beralih ke arah luar ruangan. Roni turut menikmati hidangan dengan suka cita. Sudah lama juga dia tidak mampir ke kafe ini. Dan kedatangannya kali ini telah membuatnya lebih bersemangat.


“Bos tidak makan?” Roni bertanya dengan pelan, karena melihat Ivan hanya menghisap rokoknya tanpa menyentuh hidangan yang tersedia di hadapannya.


“Aku kurang berselera makan akhir-akhir ini,” desisnya pelan.


“Makanan di sini enak bos. Rugi kalau tidak menghabiskannya.” Roni berkata dengan serius. Matanya melirik cumi asam manis dan udang goreng tepung yang masih utuh di hadapan Ivan.


Tatapan Ivan berhenti pada satu titik. Jantungnya berdebar cepat. Matanya terkunci pada sosok perempuan yang menggendong bayi sambil bercanda dengan dua orang perempuan parobaya.


Ia menekan dadanya. Apa ia mengalami gangguan kesehatan? Kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan. Dengan cepat Ivan meraih air putih di hadapannya dan meminumnya segera berusaha menetralkan debaran jantungnya. Tapi perbuatannya tidak mengurangi debaran itu.


“Sepulangnya dari sini kita mampir ke praktek Rendi.” Ivan berkata dengan pelan, tapi matanya tidak beralih pada sosok di depannya yang telah duduk dengan santai bersama rombongannya.


“Siapa yang sakit bos?” Roni memandang Ivan dengan raut penuh tanya.


Ia mengenal Rendi sepupu Ivan yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung. Tempat prakteknya tidak begitu jauh dari kantor  Ivan.


“Ku rasa jantungku mulai bermasalah.” Ivan menekan dadanya yang masih berdetak cepat ketika pandangannya melihat sosok itu tersenyum.


Khaira yang datang dengan membawa Babby A, oma Marisa dan bu Ila tidak menyadari  tatapan tajam yang memandangnya dari balik ruangan VIP.  Sambil menggendong Babby A yang bobotnya kini semakin bertambah Khaira wara-wiri memberi instruksi pada Rani dan Budi untuk mempersiapkan segala sesuatu berkenaan dengan makanan pembuka dan penutup yang akan dihidangkan.


Hari ini ia sengaja membawa oma dan mertuanya untuk merayakan ulang tahun oma ke 81 tahun. Rencananya semua saudara dan sanak iparnya akan menyusul. Khaira sengaja mengajak ke kafe ini agar suasana kekeluargaan lebih terasa. Ia sudah mengingatkan pada Ari cs, bahwa kafe restoran mereka akan beroperasi hanya  sampai jam satu siang, sisanya ia bersama keluarga besar akan berkumpul dan makan siang bersama.


Sementara itu Arya dan tunangannya sudah selesai menikmati makan siang mereka dengan wajah puas. Roni pun menyudahi makan siangnya begitu melihat kedua pasangan sudah berbenah hendak meninggalkan ruangan.


“Tuan Ivan, saya dan tunangan saya akan segera kembali ke kantor. Terima kasih atas jamuan makan siang ini.” Arya menjabat tangan Ivan begitu bangkit dari kursi.


Ivan menganggukkan kepala pelan, hingga kedua pasangan itu berlalu dari hadapannya.  Pikirannya masih tidak sinkron.  Keinginannya untuk mendekat sangat kuat. Ia ingin melihat raut itu dari dekat. Sudah tiga minggu ia berusaha mengenyahkan  wajah ayu bermata sendu itu, tapi bayangan itu tak mau lepas dari ingatan.


“Bos, kita pulang sekarang?” Roni merasa heran melihat Ivan yang masih terpaku dengan pemikirannya yang bergejolak.


Melihat Roni yang berjalan tanpa menunggu dirinya, akhirnya Ivan  bangkit dari kursinya. Ia berdiri tidak jauh di belakang Roni yang menyapa Khaira yang masih santai membawa Babby A yang mulai rewwl.


“Selamat siang, mbak Rara,” sapa Roni sopan. Ia berdiri tepat di belakang Khaira.


Khaira membalik badannya. Ia tersenyum ramah melihat  kehadiran Roni. Babby A yang anteng dalam gendongan tampak terkekeh-kekeh melihat Roni yang mencoba mengajaknya berbicara.


“Selamat siang om Roni.”  Khaira menggenggam tangan montok dengan menirukan suara bayi saat menyapa Roni.


Siapa nama dede bayi ini?”  Roni jadi gemes melihat bayi montok yang tertawa lebar.


“Panggil aja Babby A om Roni ….”  Khaira menjawab dengan mimik lucu membuat senyum Roni mengembang.


Ia telah membuang jauh-jauh perasaan yang sempat singgah di hatinya. Ia menghormati keputusan perempuan muda di depannya. Kekagumannya akan tetap bertahan selamanya tanpa harus melibatkan perasaan lain di dalamnya.


Khaira menghentikan perkataannya melihat wajah datar yang kini memandangnya tanpa berkedip. Ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala pada sosok yang kini berdiri tegak di belakang Roni.


Roni menatap Khaira bingung, dan langsung menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat Ivan yang berdiri di belakangnya dengan tatapan lurus memandang Khaira dan bayi yang berada dalam gendongannya.


“Bidadarinya Abbas dan bayinya.” Roni berbisik pada Ivan yang mulai mendekati Khaira dan bayinya.


Dada Ivan berdetak makin kuat saat tatapan matanya bersirobak dengan Khaira.  Ia merasa kesal saat Khaira segera mengalihkan pandangan. Tangannya terulur menyentuh kepala bayi yang menatapnya dengan muka imut. Perasaan Ivan tergetar.


“Selamat siang tuan …. “ Khaira kembali menatap Ivan sekilas dan berusaha menyapanya dengan sopan.

__ADS_1


“Tuan Ivan.” Roni menjawab dengan cepat, karena melihat Ivan yang tidak menghiraukan perkataan Khaira.


“Eh, anak papa. Sini sayang …. “ Valdo yang fokus memandang Babby A yang masih berceloteh dengan bahasa planetnya tak mempedulikan tatapan kekesalan  Ivan.  Dengan santai Valdo merangkul bahu adik iparnya.


Ia tidak melihat situasi. Begitu diberitahu Hasya bahwa mereka akan berkumpul di kafe restoran peninggalan almarhum Abbas, dari rumah sakit ia langsung ke tempat tujuan. Sudah seharian juga ia tidak melihat Babby A. Valdo tidak bisa jauh dari bayi mungilnya itu.


“Maafkan saya, kami permisi dulu …. “ Khaira tak bisa menahan langkah Valdo yang sudah tidak sabaran karena sudah merasa lapar. Ia jadi mengikuti langkah Valdo yang masih dengan santai meletakkan tangan di bahunya.


“Mas lepasin tangannya, ihh!” Khaira menepis jemari Valdo yang langsung terlepas.


“Maaf.” Valdo tersenyum tipis.


Pandangan Valdo bertabrakan dengan Ivan yang memandangnya tajam dari kejauhan  dengan raut kekesalan.


“Siapa laki-laki itu?” Valdo merasa  penasaran dengan sosok yang kini menghilang di balik pintu kafe.


“Nggak kenal juga,” jawab Khaira santai sambil melepaskan gendongan pada Babby A karena Valdo langsung meraih bayi mungilnya.


“Wah, bunda sudah punya penggemar nih. Pantesan nggak mau sama om Denis, yang ini lebih muda dan keren.” Valdo  menatap Khaira dengan senyum khasnya.


“Mas nggak usah ngarang deh,” Khaira cemberut.


“Kalau iya mas setuju aja. Mbak mu pasti seneng kalau tau ….”


Suapan kerupuk di mulutnya membuat Valdo menghentikan  godaan pada adik iparnya itu. Akhirnya pembicaraan yang tidak berfaedah tersebut berakhir begitu rombongan Ariq, Ali, serta Fatih datang bersama keluarga masing-masing membuat suasana siang itu begitu ramai dan menyenangkan bagi Marisa.


Suasana di dalam mobil terasa horor. Roni tidak tau apa yang menyebabkan wajah Ivan terlihat kaku penuh kemarahan. Padahal saat  di kafe, wajahnya datar dan kaku seperti biasa.


“Jadi kita mampir ke tempat Rendi bos?” Roni berusaha mengingatkan Ivan ketika  keheningan masih terjadi dan Ivan menatap ke jalanan dengan menghembuskan nafas dengan wajah memerah.


“Nggak perlu,” tukasnya kesal.


Roni geleng-geleng kepala menghadapi sikap bosnya. Apa yang terjadi dengan suasana hati bosnya yang sekarang sering berubah-ubah.


Sementara itu Ivan merasa kesal dalam hatinya saat melihat seorang lelaki dewasa yang merangkul Khaira dan membawanya berlalu dari hadapannya.


Ivan teringat saat lima hari yang lalu ia membawa Arya untuk pertama kalinya ke kafe Abbas, dia juga melihat lelaki muda yang berperawakan santun seperti Abbas juga menatap jandanya Abbas dengan penuh makna.


“Dasar perempuan munafik,” batin Ivan kesal menahan emosi. Ia yakin janda Abbas tidaklah sepolos wajahnya, “Ternyata banyak lelaki yang berada di sekelilingnya. Kasihan Abbas, begitu mudah dilupakan.”


Tiba-tiba Ivan merutuk dirinya sendiri, kenapa harus memikirkan orang yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Dan kenapa dengan mudahnya perempuan bermata sendu itu membolak-balik dan merusak suasana hatinya. Ia menggeleng-gelengkan kepala membayangkan racun janda Abbas yang telah menyebar di darahnya.


Kekesalan Ivan yang sempat berkurang karena ia mulai mencoba berpikir dengan logika akal sehatnya dibuat kacau lagi oleh ulah Roni yang menyetel lagu, membuat perasaan Ivan kembali  kacau.


Mata ini indah melihatmu


Rasa ini rasakan cintamu


Jiwa ini getarkan jiwamu


Jantung ini detakkan jantungmu


Dan biarkan aku padamu


Menyimpan sejuta harapan


Aku padamu


Rasa ini tulus padamu


Takkan berhenti


Sampai nanti ku mati


Biarkan aku jatuh cinta

__ADS_1


Pesona ku pada pandangan


Saat kita jumpa


Biarkan aku kan mencoba


Tak perduli kau berkata


Tuk mau atau tidak


Mata ini indah melihatmu


Rasa ini rasakan cintamu


Jiwa ini getarkan jiwamu


Jantung ini detakkan jantungmu


Biarkan aku jatuh cinta


Pesona ku pada pandangan


Saat kita jumpa


Biarkan aku kan mencoba (coba)


Tak perduli kau berkata


Tuk mau atau tidak


Biarkan aku jatuh cinta (cinta)


Pesona ku pada pandangan


Saat kita jumpa


Biarkan aku kan mencoba (coba)


Tak perduli kau berkata


Tuk mau atau tidak


Biarkan aku jatuh cinta


Pesona ku pada pandangan


Saat kita jumpa


Biarkan aku kan mencoba


Tak perduli kau berkata


Tuk mau atau tidak


Mata ini indah melihatmu


Rasa ini rasakan cintamu


 


Alunan lagu yang bergema membuat Ivan kembali terhanyut dalam pesona wajah ayu dengan senyum yang telah mengalihkan dunianya. Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Roni membawa mereka kembali ke perusahaan.


Begitu sampai di ruangannya, Ivan langsung menghempaskan diri di kursi kebesarannya. Akal sehatnya kembali bekerja. Ia merenungkan tentang perasaannya dalam sebulan kebelakang. Semenjak pertemuan ke sekian kali dengan perempuan yang baru ia ketahui adalah janda almarhum Abbas membuat ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.


Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Oh tidak! Tidak mungkin ia jatuh cinta!  Jangan sampai ia jatuh cinta pada janda Abbas.  Ia harus menolak perasaan ini.

__ADS_1


“Aku tidak akan pergi ke kafe Abbas lagi. Racun perempuan itu sangat kuat. Jangan sampai aku terpengaruh dan jatuh cinta padanya. Masih banyak perempuan yang lebih baik. Dia hanya perempuan biasa.” Ivan mulai meyakinkan diri untuk melupakan sosok ayu bermata sendu itu dari dalam pikirannya.


Dukung terus ya, mumpung author lagi semangat. Kritik, saran, like dan vote. Akhuu padhamuuu .... reader tercinta ....


__ADS_2