Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 31


__ADS_3

Di  sebuah klub terkenal di Jakarta jam baru menunjukkan pukul 21 malam. Gilang, Andrew beserta Adi duduk santai di ruang VVIP. Beberapa minuman beralkohol sudah terhidang di meja di temani para pelayan yang berpakaian sangat minim dan menggoda iman.


Adi yang jarang bersinggungan dengan dunia malam, hanya duduk melihat interaksi Andrew dan Gilang yang bercengkrama dengan dua orang wanita penghibur yang sudah dihubungi Gilang sejak awal. Demi menghormati kliennya Adi berusaha tetap bertahan di tempat itu.


“Tuan mau minum?” salah satu  perempuan mengalihkan pandangan pada Adi yang masih mendengarkan percakapan Andrew dengan serius.


“Maaf, saya  tidak biasa  minuman beralkohol.” Tolak Adi datar.


Gilang yang sejak awal sudah minum beberapa gelas wiski, tampak mulai berbicara ngawur. Melihat tingkahnya Andrew tertawa kecil.


“Lihatlah temanmu ini, baru berapa seloki udah teler. Gimana mau main-main?” tangan Andrew mulai mengelus paha perempuan yang duduk bermanja di sampingnya.


Melihat pemandangan itu, Adi jadi gerah sendiri. Ia melirik Gilang yang mulai hilang kesadaran.


“Tama…”  Ia memandang Adi dengan sorot mata merah.


“Kalau udah nggak kuat, kita pulang sekarang. Aku akan minta Johan mengantarmu pulang.” Adi merasa kasihan melihat kondisi Gilang. Ia sudah tidak mempedulikan kelakuan Andrew dan dua wanita penghibur yang saling memuaskan diri.


“Ini baru pukul 9. Malam masih panjang.” Gilang kembali meneguk wiski yang sudah terhidang di hadapannya.


Adi hanya meminum air mineral yang telah disediakan pelayan. Kepalanya agak pusing dengan aroma alkohol serta asap rokok yang memenuhi ruangan. Rasanya ia ingin segera keluar dari ruangan yang membuatnya pengap. Tapi hal itu tak mungkin ia lakukan, karena malam ini adalah malam terakhir Andrew di Indonesia, besok dia akan kembali ke Belanda. Jadi walau bagaimanapun ia harus menemani kliennya hingga waktu berakhir.


Adi heran melihat Gilang yang tidak bersemangat seperti di awal mereka memasuki klub. Kalau Andrew jangan ditanya lagi. Pemandangan di dalam klub sangat memanjakan matanya.


“Kamu nggak ingin mencoba minuman ini?” Gilang mengulurkan gelasnya pada Adi yang langsung dibalasnya dengan gelengan. “Aku tau, pikiranmu juga tidak baik-baik saja.”


Adi mengerutkan kening mendengar ucapan Gilang, “Aku baik-baik saja.”


“Ha ha ha…” Gilang tertawa hambar. “Aku tau, nasibmu lebih miris dariku.”


Adi menatap Gilang dengan kening berkerut. “Bagaimana kau mengetahui nasibku lebih miris darimu. Aku dan Helen baik-baik saja.”

__ADS_1


“Aku tau, jauh di hati kecilmu kau ingin kembali pada mantan istri dan anak-anakmu. Di usia kita ini, tinggal mencari ketenangan dari sebuah rumah tangga.”


“Jika boleh jujur, memang itu yang ingin ku lakukan. Tapi semuanya sudah tak mungkin. Ia akan segera menikah dengan tunangannya.” Adi berkata dengan nada getir.


“Aku kasian padamu. Selama ini kau telah hidup dalam kebohongan. Dan kau tidak tau kebohongan yang dilakukan orang terdekatmu.”


“Apa yang kau katakan?”


Gilang menatap Adi dengan sorot sendu, “Aku minta maaf padamu. Kesalahanku sangat besar padamu.”


“Hei, kalian kelihatan serius. Ada masalah?” Andrew heran melihat kedua rekannya saling bertatapan serius.


“Aku pernah melakukan kesalahan pada seorang gadis di masa lalu…” nada Gilang terdengar sendu.


“Kita bukan hidup di masalalu.  Tatap masa depanmu, bro.” Andrew menepuk pundak Gilang yang nampak galau.


Adi hanya diam mendengarkan ceracauan Gilang. Ia tidak menanggapi serius, karena ia pikir itu tak ada hubungan dengan dirinya.


“”Omonganmu jadi ngelantur…” Adi tetap tidak menanggapi omongan Gilang. Ia mulai menghubungi Johan untuk menjemput mereka.


“Tama, apa kau tidak ingin ditemani salah satu wanita ini?” Andrew menawarkan  wanita yang berada di sampingnya. “Gilang udah teler…”


Adi menggelengkan kepala, “Melihat Gilang seperti ini sudah membuatku pusing.”


“Ha ha ha…” Andrew menyeringai melihat Gilang yang terus menuang wiski ke dalam seloki dan meminumnya.


“Ada satu hal yang kau tidak tau…” Gilang menatap Adi dengan pandangan nanar. Ia merasa berdosa terhadap Adi, karena menyembunyikan hubungan masalalunya dengan Helen.


“Sebelum ke pindahanku ke Australia, aku pernah menghamili pacarku di SMA…” Gilang kembali meneguk wiski di gelas yang telah diisi perempuan pelayan ruangan VVIP itu.


“Itukan sudah lama. Kenapa harus kamu ingat? Saatnya move on, bro…” Andrew turut menimpali omongan keduanya.

__ADS_1


“Aku merasa Tuhan telah menghukum atas dosa masa laluku, sehingga saat ini aku ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan…” Gilang mengeluh lirih sambil memijit dahinya yang terasa sakit.


Adi memandang prihatin mendengar curahan hati Gilang. Ia tidak menyangka Gilang bisa bersikap mellow seperti ini. “Kejadiannya sudah terjadi dua puluh tahun lewat. Kenapa masih terus kau ingat?”


“Kau tau, Tama. Aku iri padamu. Anak-anakmu sangat tampan dan cantik. Kamu sangat beruntung, Tuhan menganugerahkan keturunan yang sempurna.”


Adi tercenung mendengar ucapan Gilang. Bayangan ketiga buah hatinya kembali berkelebat di kepalanya.


“Kamu seharusnya bersyukur. Tapi kau memang bodoh. Bidadarimu akan segera melabuhkan hatinya di tempat lain. Semoga kau tidak menyesal...”


“Omonganmu semakin ngelantur. Ayo kita pulang. Johan sudah menunggu di depan.” Adi berusaha menghentikan ocehan Gilang. Ia segera bangkit dan meletakkan lengan Gilang di bahunya.


“Aku ingin berkata jujur padamu.” Gilang berusaha menahan tangan Adi yang ingin membantunya berdiri.


Andrew menghentikan aksi keduanya. “Kalian ingin pulang sekarang. Baiklah, tidak masalah. Aku akan langsung ke hotel. Terima kasih atas kerjasama ini.” Andrew mengulurkan tangan ke arah Adi yang langsung disambutnya sambil tersenyum.


“Terima Andrew. Aku menghargai jalinan kerja sama ini. Sampai ketemu di lain waktu.”


“Tak masalah.” Andrew segera berlalu bersama kedua wanita penghibur yang masih setia menemaninya.


Gilang masih terpaku, pandangannya kosong. Rasanya ia tak sanggup untuk membohongi Adi lebih lama. “Aku akan menceritakan sesuatu padamu.”


“Sudahlah, aku percaya padamu. Hubungan kita bukankah selama ini baik-baik saja.” Adi tidak mengindahkan omongan Gilang. “Aku dan Johan akan mengantarkanmu pulang. Berikan alamatmu sekarang.”


“Aku dan Helen pernah dekat…”


“Deg.” Adi menghentikan langkahnya mendengar apa yang barusan diucapkan Gilang.


Alkohol yang diminum Gilang telah melebihi ambang  batas. Pandangannya semakin buram. Ia kini sudah tak merasakan apa-apa lagi. Dengan susah payah Johan dan Adi mengantarkan Gilang pulang ke apartemen.


 

__ADS_1


 


__ADS_2