Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 89


__ADS_3

Keributan kecil terjadi di ruang inap Hani. Antara  Marisa dan Linda terjadi pertengkaran kecil yang tidak ada titik temu. Keduanya sama-sama ingin membawa Hani pulang. Kebetulan saat itu Hani sedang kontrol di ruangan dr. Thomas bersama Faiq.


“Lin, Tama dan Rara sudah tidak ada hubungan apapun. Tidak pantas rasanya kalau kamu membawanya bersamamu. Rara adalah menantuku sekarang…” Marisa menolak keinginan Linda.


“Bagaimana aku tidak punya hak. Hani adalah ibu dari cucu-cucuku. Dan dia berhak ikut kami pulang ke rumah apalagi anak-anaknya ada bersamaku.” Linda bersikeras dengan keinginannya.


“Apa kamu lupa, Rara telah menikah dengan anakku, dan ia masih istri sah Faiq.” Marisa tidak mau kalah.


“Bukankah Hani tidak mengenal suaminya. Ingatan terakhir yang ia miliki sedang proses perceraian dengan Tama. Kami sudah sepakat akan menemui Hani dan mengatakan kalau Tama membatalkan gugatan cerainya.”


Faiq yang mendengarkan dari luar pertengkaran kecil antara dua perempuan parobaya itu tinggal menggeleng-gelengkan kepala.


“Assalamu’alaikum…”


“Wa’alaikumussalam.” Kompak keduanya menjawab.


“Ibu nggak setuju kalau Hani tinggal bersama Tama. Dia harus pulang bersama kita.” Marisa mengharapkan Faiq bersikap tegas. Karena ia ingin bersama cucu-cucunya yang sangat menggemaskan.


“Hani tidak mengenal kalian, bagaimana ia akan hidup bersama orang asing…” Linda tetap keukeuh dengan keinginannya.


“Tante, Rara adalah istri saya. Di mana suami disitulah istrinya berada. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun membawa Rara pergi meninggalkanku. Tama adalah mantan suaminya, dan saya adalah suaminya. Saya tidak akan pernah melepas Rara apapun yang terjadi.”


Linda menatap Faiq dengan raut tak senang. Ia bersikukuh akan membawa Hani pulang bersamanya. Ia akan menebus kesalahan masa lalu yang pernah ia lakukan. Dengan kondisi Hani yang mengalami amnesia Linda berpikir akan mudah untuk mengambil hati Hani kembali.


Adi masuk ke dalam ruangan dan melihat ketegangan yang terjadi antara mamanya dan Marisa serta Faiq.


“Apa yang terjadi?”


“Mama ingin membawa Hani pulang ke rumah. Dia lebih aman bersama kita dari pada orang asing.”


“Itu tidak akan terjadi. Saya tidak akan mengizinkan bang Tama membawa Rara pulang. Bagaimana tante bisa mengatakan kalau kami orang asing. Rara adalah istriku.”


“Kita akan menunggu Hani. Apapun keputusannya akan kita hormati.” Adi berusaha berkata dengan bijak, karena ia pun memang tidak berhak untuk menahan  Hani yang kini telah menikah dengan Faiq.


“Setiap istri harus mengikuti suaminya kemanapun terlepas dari kasus yang menimpa Rara. Kalian tidak berhak memberikan pilihan padanya, karena Rara istriku dan dia tanggung jawabku.” Faiq berkata dengan tegas.


Setelah beberapa saat kemudian, Faiq kembali menjemput Hani yang sudah selesai kontrol pasca sesar dengan   dr. Eva.

__ADS_1


Saat Faiq dan Hani berjalan keluar dari ruangan dr. Eva di lorong rumah sakit mereka berpapasan dengan dr. Thomas.


“Tuan Al Fareza …” dr. Thomas menahan langkah Faiq, “Bagaimana perkembangan nyonya setelah konsultasi dengan dr. Valerie?”


“Sayang, tunggu mas sebentar.” Ujar Faiq berbisik pada Hani, “Duduklah di sini. Mas akan berbicara dengan dr. Thomas.”


Hani menganggukkan kepala. Ia duduk di kursi tunggu di depan ruang praktek dr. Thomas membiarkan Faiq dan dr. Thomas yang kelihatan serius berbicara.


“Bagaimana perkembangan nyonya Hani, setelah konsultasi dengan dr. Valerie?”


“Saya lebih nyaman konsultasi dengan anda.” Jawab Faiq cepat, “Seperti saran anda kemaren, doa adalah senjata paling ampuh untuk semua permasalahan. Dan saya pastikan tidak akan melanjutkan sama dr. Valerie.”


“Biasanya pasien yang saya rekom ke dr. Valerie akan merasa puas…” dr. Thomas menatap Faiq dengan jidat berkerut.


“Mungkin cocok bagi pasien lain. Tapi saya tidak akan meneruskan sesuatu yang membuat istri saya merasa tidak nyaman.” Jawab Faiq dengan tegas, “Kenyamanan istri adalah prioritas saya sekarang.”


“Baiklah tuan Al Fareza, semua adalah keputusan anda.”


“Terima kasih atas pengertian anda dr. Thomas.” Faiq menjabat tangan dr. Thomas dengan erat, “Jika ada hal lain, saya pasti akan menghubungi anda.”


“Terima kasih atas kepercayaan yang anda berikan pada saya.” Dr. Thomas tersenyum sambil menganggukkan kepala begitu Faiq pamit keluar dari ruangannya.


“Assalamu’alaikum…” Faiq memberi salam begitu memasuki ruangan.


“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Semua yang berada di dalam ruangan menjawab dengan kompak.


Hani terpaku melihat mantan mertua dan mantan suaminya berada di dalam ruangan bersama dengan seorang perempuan parobaya yang tidak ia kenal.


“Sayang,  kenalkan ibu mas.”  Faiq membawa Hani mendekati ibunya.


Marisa langsung memeluk Hani, “Ibu sangat bersyukur kamu sudah sehat kembali.”


Hani merasa kehangatan mengisi relung hatinya mendapat sambutan yang membuat ia merasakan kembali kehadiran seorang ibu.


“Nak Hani…” Linda menatapnya sambil menyunggingkan senyum ramah.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Adi turut menyapanya.

__ADS_1


Hani menatap Linda dan Adi dengan perasaan bingung. Ia tidak pernah membayangkan sikap Linda dan Adi berubah lebih familiar padanya.


“Sayang, kita akan segera kembali ke rumah. Bukankah kamu sudah merindukan Ariq dan Ali?” Faiq menyadari kebingungan yang dirasakan istrinya.


Ia tidak ingin Linda dan Adi mengambil kesempatan untuk membuat Hani bersimpati pada mereka. Sedapat mungkin ia akan menjauhkan Hani dari kehidupan masa lalunya, kecuali anak-anak mereka.


“Benar, nak. Kita akan pulang. Sebentar lagi ayah akan menjemput kita.” Marisa mengusap bahunya dengan lembut untuk menenangkan menantunya.


Marisa menyadari kegelisahan Faiq dan ia akan membantu Faiq sebisanya demi kebahagiaan anaknya ia akan berjuang sekuat tenaga.


“Maafkan aku tante, bang Tama. Ku harap tidak ada yang membuat Rara bingung. Karena hari ini kami akan kembali ke rumah. Dan kami tidak menerima tamu pada hari ini.” Dengan lugas Faiq mengatakan hal itu di hadapan semuanya.


Linda menelan salivanya dengan sedih. Hilang harapannya untuk membawa cucu-cucu dan mantan menantunya pulang ke rumah. Kini ia harus bersabar dan mengikuti jadwal yang akan diberikan Faiq jika ingin bertemu dengan ketiga cucunya.


Tatapan Adi mengarah pada Hani dan Marisa yang disibukkan dengan si kembar. Keduanya menggendong bayi Hani dengan perasaan bahagia.


Faiq menghampiri Marisa dan Hani. Tangannya bergayut di bahu Hani. Ia tak mempedulikan pandangan Adi yang menatapnya dengan nanar.


“Wah, putra papa sudah bangun ya?” dengan gemasnya Faiq mencium bayi yang sudah mulai tersenyum dan mengenal orang sekelilingnya.


Linda menghampiri ketiganya. Ia merasa senang melihat bayi-bayi imut menggemaskan yang berada di dalam gendongan Hani dan Marisa.


“Cucu-cucumu cantik dan tampan.” Puji Linda tulus pada Marisa.


Marisa tersenyum dengan raut bangga, “Cucu-cucumu juga sama, Lin. Aku sangat bersyukur di usia sekarang kita sudah memiliki cucu untuk meramaikan kesunyian kita dan jadi hiburan kita.”


“Apakah si kembar dan Sasya sudah berada di rumah?” Faiq menatap Adi yang hanya terpaku menyaksikan pemandangan di depannya.


“Tadi pagi sebelum mampir kemari, kami sudah mengantarnya.” Linda menjawab dengan cepat.


“Sayang, biar mas menggendongnya. Kamu nggak usah bawa apa-apa. Bekas sesarmu belum pulih.” Ujar Faiq seraya mengulurkan tangan untuk mengambil putranya yang tampak anteng dalam gendongan Hani.


“Apa mas sudah bisa menggendongnya?” Hani memandang wajah suaminya dengan perasaan khawatir.


“Tenanglah sayang.” Faiq memandangnya lekat, “Saat kamu tidur, dan mereka terbangun tengah malam, mas sudah tau cara menggendong mereka. Jadi kamu nggak usah khawatir.”


“Baiklah.” Jawab Hani pelan.

__ADS_1


Ia membiarkan Faiq menggendong putra, walaupun masih kaku tapi kekhawatiran Hani ternyata tidak beralasan, buktinya Faiq sudah lebih santai dan kelihatan nyaman mendekap putra di dadanya.


__ADS_2