
Ivan terpaku di ruang praktek dr. Riska Sirait, Sp, Og yang memeriksa keadaan istrinya. Sudah yang ketiga kalinya ia berada di ruangan ini. Ia menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
“Tuan Ivan, seharusnya anda tau kondisi fisik nyonya,” dr. Riska memandang lelaki gagah di depannya dengan prihatin, “Memang kalau diihat secara normal nyonya Rara sehat, tetapi rahimnya lemah. Ini yang ketiga kalinya nyonya mengalami abortus dan karena janinnya masih terlalu kecil dan lemah, akhirnya tak bisa bertahan akibat benturan yang terjadi di dalam rahim.”
Ivan diam tak berani berkomentar. Ia menyadari kesalahannya terlalu bersemangat setiap kali berhubungan dengan istrinya.
“Dengan kondisi nyonya yang sudah ketiga kalinya, saya rasa sulit bagi nyonya hamil lagi ....”
Perkataan dr. Riska masih terngiang di telinga Ivan hingga ia melangkahkan kaki menuju paviliun tempat Khaira di rawat.
Begitu memasuki ruangan, wajah perang Hasya sudah menyambutnya membuat Ivan tak bisa berkelit. Ia mendekati bed tempat Khaira berbaring. Sementara 4 panglima sudah memasang wajah datar melihatnya memasuki ruangan, kecuali Valdo yang tetap tenang tak terprovokasi atas kemarahan sang istri.
“Kamu itu ya ... mbak kan sudah bilang, jangan berhubungan sebelum ade melewati tri mester pertama,” Hasya berkata dengan penuh emosi.
“Mbak .... “ Khaira mencoba menahan amarah Hasya.
Ia tidak tega melihat Ivan dimarahi Hasya di depan saudara serta iparnya. Ini menjelang tahun ketiga pernikahannya, dan sampai saat ini Yang Kuasa belum mempercayai mereka untuk memiliki keturunan.
“Kalian lelaki tau enaknya saja,” ucapan Hasya yang berapi-api turut menyindir saudara laki-lakinya yang lain, “Jadi perempuan itu nggak enak. Masih lajang ditanya kapan menikah. Sudah menikah ditanya kapan punya anak ....”
“Mbak .... “ Khaira masih mencoba menghentikan kultum ustadzah Hasya yang kalau sudah emosi tidak akan berhenti sebelum puas mengeluarkan unek-unek di hatinya.
Ivan mengedipkan mata pada istrinya, melarang Khaira menghentikan omelan Hasya. Ia menggenggam jemari istrinya berbagi kehangatan dan berusaha menguatkan sang istri yang sedang bersedih karena tidak bisa mempertahankan kehamilan untuk yang ketiga kalinya. Ivan sadar, ini sepenuhnya bukan kesalahan Khaira.
“Kamu kan sudah tau kondisi ade. Sudah dua kali ade keguguran. Harusnya saat tau ade hamil, ku bawa pulang ke rumah saja hingga melahirkan. Pengen punya anak, tapi tidak bisa menahan ....”
“Yang .... “ Valdo langsung memotong percakapan istrinya, ia khawatir bahasa planet akan masuk dalam ceramah istrinya.
Terus terang sebagai lelaki ia pun tidak bisa menahan gairah jika sudah naik ke kepala. Untung saja fisik serta janin yang berada di rahim istrinya tipe ‘strong’ sanggup menghadapi goncangan dan hentakan angin put*** beliung yang datang dari berbagai arah.
“Maafkan aku ikut mencampuri urusan rumah tangga kalian ... “ Ariq pun mulai berkomentar.
Ia memandang Ivan yang terdiam tak berkutik seperti pesakitan yang sedang menghadapi putusan dewan hakim di meja persidangan. Ia pun merasa kasihan melihat Ivan.
Siapa sih yang tidak ingin mempunyai anak sebagai penguat ikatan suami istri, walau pun kenyataannya jaman sekarang kehadiran anak terkadang tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangga yang terlanjur tercerai berai akibat tidak mampu menghadapi ujian dan cobaan dalam mengayuh bahtera rumah tangga.
“Untuk kali ini aku membenarkan perkataan Sasya. Jika Rara masih diberi kepercayaan untuk hamil lagi, dengan izin atau tanpa izin darimu kami akan membawanya pergi sementara dari rumahmu,” Ariq berkata dengan tegas.
Ivan terkejut mendengar perkataan saudara ipar tertuanya. Mengingat ucapan dr. Riska yang mengatakan Khaira sulit hamil lagi membuatnya ingin membantah. Ia tidak sanggup jika berjauhan dengan sang istri. Ia sudah terbiasa dilayani dan diperlakukan seperti seorang raja selama kehidupan berumah tangga yang ia lalui bersama Khaira.
__ADS_1
“Mas .... “ Khaira merasa tidak nyaman mendengar perkataan Ariq.
Ia menatap wajah Ivan yang juga menatapnya dengan mata memerah menahan kesedihan karena kehilangan calon sang buah hati yang baru mulai tumbuh di rahimnya.
“Anak itu adalah rejeki dari Allah. Semuanya sudah diatur. Allah akan memberi bagi siapa saja yang dikehendakinya. Allah-pun akan memandulkan bagi pasangan yang tidak ia berikan rejeki berupa anak .... “ Valdo berkata dengan tenang, “Semuanya sudah tertulis di al-Quran ....”
“Memang benar!” Hasya menyambung cepat, “Tapi Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika dia sendiri tidak berusaha.”
Ruangan kembali hening. Ivan menggenggam jemari istrinya berusaha menyalurkan kehangatan. Ia tidak ingin istrinya terlalu terpukul atas kehilangan janinnya yang ketiga kali. Kali ini ia harus kuat dan memberikan keyakinan pada iparnya yang menyalahkan dirinya yang tidak mampu menahan gair** yang terlalu besar saat bersama sang istri.
“Aku sangat berterima kasih atas perhatian mbak dan mas yang ikut merasakan kesedihan kami,” Ivan akhirnya mulai angkat bicara, “Aku percaya anak adalah rejeki dari Yang Kuasa.”
“Makanya kamu itu harus sadar diri .... “ Hasya menegang lagi mendengar ucapan Ivan.
“Yang .... “ Valdo mengusap punggung Hasya yang kini duduk di sofa bersamanya dan Ariq.
Ali, Fatih, serta Junior yang kebetulan liburan semester juga mengunjungi saudaranya yang kini tergolek lemah di rumah sakit akibat pendarahan, hanya mendengarkan pembicaraan mereka di sofa panjang paviliun tempat Khaira menginap.
“Walau pun Rara tidak punya anak, saya tetap mencintainya dan bersama sampai akhir,” tegas Ivan.
“Apa kamu bisa menjamin bakal setia sampai tua?” kejar Hasya cepat.
“Ada anakpun tak menjamin pernikahan akan berjalan utuh. Tapi aku berjanji tidak hanya pada Rara, tetapi pada almarhum Abbas,” Ivan menatap Khaira dengan lekat, “Aku akan menjaga Rara, kecuali maut yang memisahkan.”
Mendengar perkataan suaminya tak ayal air mata Khaira menetes. Ia dapat melihat kesungguhan yang terpancar di sorot mata suaminya.
Melihat Khaira yang meneteskan air mata Ivan langsung memeluknya dengan erat. Ia tak sanggup membiarkan istrinya menangis. Ia sudah berjanji pada diri sendiri, tidak akan ada air mata kesedihan lagi yang menetes di pipi istrinya kecuali air mata kebahagiaan.
“Yang .... “ Valdo mencegah istrinya untuk mengganggu pasangan yang saling menguatkan di hadapan mereka.
Ariq menggelengkan kepala memandang Hasya yang masih kesal dengan Ivan yang selalu menurutkan naf**nya tanpa memikirkan keadaan kandungan sang istri.
“Baiklah,” Ariq memberi tanda pada saudara serta iparnya untuk segera keluar dari ruangan dan membiarkan mereka, “Kami permisi pulang.”
Ivan melepaskan pelukannya dan menatap iparnya yang berjalan menghampiri mereka berdua.
“Terima kasih atas kedatangan kalian. Aku sangat menghargai itu.”
“Ku harap kamu memegang kata-katamu,” Ali berkata tajam saat bersalaman dengan Ivan.
__ADS_1
Khaira merasa terharu atas perhatian yang diberikan saudara-saudaranya. Dan ia merasa bersyukur mereka selalu menguatkan disaat dirinya berada dalam kondisi terburuk.
Hasya memeluknya lama sambil menepuk bahunya pelan, “Yang sabar ya , de. Semua adalah ujian Allah. Jika kamu kuat insya Allah akan mendapatkan yang terbaik.”
“Terima kasih mbak,” Khaira menghapus air matanya begitu Hasya melepaskan pelukannya.
Hasya kembali menatap Ivan tajam, “Ingat aku selalu memantau kalian.”
“Yang .... “ Valdo segera menarik tangan Hasya untuk keluar dari paviliun perawatan Khaira sambil melemparkan senyum pada Ivan dan Khaira.
Ivan duduk kembali mendampingi istrinya yang kini terpaku sambil meraba perutnya yang sudah kosong. Ia pun sangat berduka atas kehilangan kali ini. Tapi ia tidak sanggup menceritakan apa yang dikatakan dr. Riska tentang kondisi kandungan Khaira.
Khaira menatap suaminya berusaha menahan kesedihan di hatinya. Ia harus kuat dan mengungkapkan semua isi hatinya sekarang, apa lagi ia tau, mertuanya dan Ivan sangat menginginkan cucu di usia Ivan yang hampir 37 tahun.
“Sayang .... “ Ivan duduk di tepi bed sambil menatap lekat istrinya, “Kamu harus percaya padaku.”
Tatapan Khaira beralih pada Ivan, “Aku percaya padamu, mas. Aku pasrah menerima semua ujian ini.”
Air mata Khaira tiba-tiba mengalir mengingat apa yang ia simpan di dalam hatinya. Dengan air mata berlinang ia menatap Ivan lekat.
“Aku tau, dengan kondisiku yang sudah tiga kali mengalami keguguran akan sulit mendapat keturunan.”
“Sayang .... apa yang kau katakan?” Ivan terkejut mendengar ucapan Khaira.
“Jika suatu saat mas menemukan perempuan yang lebih baik dariku, menikahlah.”
“Kenapa kamu berbicara seperti itu?”
“Aku sadar, aku bukan perempuan sempurna. Mas dan mama sudah sangat menginginkan cucu. Aku akan merelakan mas untuk menikahi perempuan yang bisa membimbing mas menjadi lebih baik dan memberikan keturunan yang saleh, shaleha ....”
Air mata Khaira mengalir semakin deras, “Seperti ucapan oma, kapan pun mas menemukan perempuan itu, kembalikan saja aku pada keluargaku. Aku ikhlas ....”
Ivan menggelengkan kepala tak percaya mendengar ucapan istrinya. Ia menyeka air mata yang mengalir di pipi istrinya dan kembali memeluk Khaira membelai kepalanya dengan mesra, “Kita akan berjuang bersama sampai akhir. Apa pun yang terjadi jangan pernah untuk melepas tanganku.”
Khaira tersentuh mendengar perkataan suaminya. Ia berdo’a dalam hati semoga apa yang mereka ucapkan diijabah Yang Kuasa, dan ia siap jika takdir kelak berkata lain. Manusia hanya bisa berencana, Allah-lah Maha penentu segalanya.
***Author sudah janji bukan pihak ketiga yang jadi ujian pernikahan. Itu tidak akan lama kok. Terus terang author juga nggak mau ujian yang berlarut-larut. Malu juga sih sama misua\, depan leptop lama eh\, pas keluar mata udah bengkak akibat ngetik sambil nangis. Hu hu hu ... tadi aja udah mulai mewek. Dukung terus ya. Happy ending udah pasti\, hanya prosesnya pasti ada nangis Bombay gitchu. Ha ha ha ... sayang readerku semua .... ***
__ADS_1