Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 168 S2 (Tuhan Tolong Hapuskan Air Mataku)


__ADS_3

Ivan tersenyum bahagia sambil meletakkan ponsel di atas meja. Perasaannya lega sekarang. Bagaimana ia tidak berbahagia, barusan calon iparnya memberitahukan bahwa mereka menginginkan Ivan datang bersama orang tuanya untuk membicarakan tentang lamaran pada Khaira di rumah oma Marisa besok malam.


“Calon ipar?” monolog Ivan sambil tersenyum tipis.


Tanpa sadar ia memutar-mutar kursi kerjanya sambil memejamkan mata. Tinggal selangkah lagi ia akan memiliki cintanya dan mereka akan bersatu dalam ikatan pernikahan. Apalagi mengingat kebersamaan mereka tadi malam, walau berjarak tapi sangat dekat.  Melihat perlakuan Hasya dan Valdo terhadap Khaira membuat Ivan merasa tenang


Tadi malam ia membatalkan niat untuk pulang ke rumah mamanya, karena sudah terlalu larut. Ia khawatir mengganggu istirahat orang rumah. Akhirnya  Ivan ke kantor dan menginap di ruang kerjanya yang memiliki kamar khusus  tempatnya beristirahat jika didera kelelahan atau sekedar mengeluarkan keringat bersama seseorang di masa lalu.


Ivan tersenyum  sinis  mengingat Sandra yang datang ke apartemennya bermaksud untuk merayunya. Ia tidak bisa membiarkan Sandra bersikap semaunya. Mulai sekarang ia harus membuat batasan terhadap Sandra. Kalau dibiarkan, kelakuan Sandra akan semakin menjadi. Ia tau, Sandra adalah tipe perempuan nekad yang akan melakukan apa pun untuk meraih keinginannya. Dan itu tidak baik bagi kehidupan rumah tangga yang akan ia jalani kelak.


Ivan tersenyum membayangkan ia akan segera berumah tangga dengan seorang yang bukan perempuan biasa tapi berwujud bidadari sempurna yang kini sedang mengandung buah hatinya.


“Tumben wajah bos cerah seperti awal musim semi,” celetukan Roni yang datang berbarengan Hari membuat senyum langsung sirna di wajah Ivan, “Lu juga wajahnya cerah amat kalah ama musim semi sebelah ….”


“Dasar pegawai nggak ada akhlak,” Ivan langsung melempar Roni dengan pulpen yang tergeletak tak berdosa di atas meja.


Hari tertawa melihat kelakuan konyol Roni yang dengan santainya langsung duduk di hadapan Ivan tanpa menunggu instruksinya. Ia masih berdiri menunggu perintah. Ia tau kedekatan Roni dan Ivan terkadang membuat keduanya melupakan bahwa posisi mereka sangat berbeda.  Sedangkan ia sendiri masih belum memahami karakter Ivan. Yang ia tau, bosnya kaku dan datar tidak berperasaan. Titahnya tak bisa ditolak.


“Ngapain masih berdiri?” Kini Ivan melotot padanya yang cengengesan melihat gaya bossy Roni yang menirukan gaya Ivan saat memerintahnya, “Apa masih kurang upetinya tadi malam?”


Hari tau Ivan menyindirnya. Tapi ia tak terlalu memikirkannya. Lumayan juga udah lama tidak merasakan selimut malam.


Dengan cepat Hari duduk di samping Roni menunggu tugas selanjutnya yang akan diberikan Ivan pada mereka berdua.


“Besok malam pihak Rara memintaku datang bersama mama. Siapkan bingkisan yang bisa dibawa ke sana. Kalian berdua juga ikut.” Ivan meletakkan black card di atas meja.


Roni dan Hari langsung berpandangan dan menganggukkan kepala dengan cepat. Perkataan Ivan adalah titah raja yang harus segera dilaksanakan.


“Kami permisi bos.”


Ivan mengenggukkan kepala dengan wajah cerah. Penantiannya akan segera berakhir. Ia membelai wajah Khaira yang menjadi wallpaper di ponsel dengan perasaan hangat.


Roni dan Hari berpandangan melihat tingkah bosnya  seperti orang yang baru pertama kali  jatuh cinta. Dengan wajah cengengesan keduanya meninggalkan ruangan Ivan.


Ivan membalikkan kursi dan melanjutkan lamunannya. Rasanya sudah tak sabar ia ingin menemui Khaira. Mengetahui Khaira mengandung anaknya membuat perasaannya semakin kuat. Ia melupakan satu hal, belum membicarakan hal ini pada mamanya. Padahal besok malam akan ada pertemuan keluarga kedua belah pihak.


Kening Ivan berkerut saat memasuki halaman rumah, banyak mobil terparkir dengan rapi di halaman yang cukup luas itu. Sore ini ia memang  sudah berencana untuk mengunjungi mamanya. Begitu memasuki pekarangan, ia melihat  banyak anak-anak kecil bermain dengan riang. Ia jadi ingat chat mamanya yang memintanya datang karena ada arisan keluarga.


“Wah, calon pengantinnya baru datang,” suara Indah mamanya Afifah menghentikan langkah Ivan.


Ia tersenyum menatap tante Indah yang kini menyalaminya. Ivan yakin bahwa tante Indah mengetahui kabar ini dari Afifah, karena Afifah adalah istri Junior adiknya Khaira.


“Dasar anak durhaka,” Larasati muncul di hadapan keduanya sambil memukul pundak Ivan dengan kesal, “Udah mau lamaran tapi tidak bilang sama mamanya. Apa kamu pengen dikutuk jadi Malin Kundang.”


Ivan tersenyum langsung merangkul mamanya dan mencium pipinya membuat kekesalan Laras hilang seketika.


“Maafkan Malin Kundang ini, Ma. Sekarang si Malin datang mengharap mama melamarkan putri impian Malin,” Ivan menatap Laras dengan penuh harap sambil menyatukan kedua tangannya di dada.


Melihat kelakuan Ivan membuat Indah, Laras serta Hartini tak bisa menahan senyumnya. Akhirnya Ivan dikerubuti keluarga besarnya yang kebetulan berkumpul karena acara arisan keluarga di rumah Larasati. Sudah lama juga mereka tidak bertemu dan mengobrol penuh kekeluargaan. Arisan keluarga ini memang diadakan satu bulan sekali sebagai ajang silaturahmi.


“Hebat kau Van. Padahal Denis udah sesumbar akan mengadakan perayaan di tiga kota besar kalau bisa menyunting cucunya tante Marisa,” tante Hartini mamanya Denis mengacungkan dua jempolnya ke arah Ivan.


“Tak kusangka kamu bisa menaklukkan putri almarhum mas Faiq yang sangat tertutup itu.” Om Sadewo menepuk pundaknya, “Sekarang Fahri yang patah hati.”


Ivan tersenyum tipis mendengar perkataan om Sadewo. Ia mengetahui cerita Denis kalau Fahri juga sedang proses untuk mendekati Khaira, tapi apa daya dia-lah pemenangnya. Kalau saja tidak terjadi peristiwa di malam kelam itu, ia pun masih melajang sampai sekarang.


Larasati menatap Ivan dengan lekat. Dalam hati ia sangat bersyukur bahwa keinginannya menjodohkan anaknya dengan putri Hani tercapai. Tapi mengingat saat malam itu Khaira mengatakan bahwa dia sudah menikah membuat Larasati jadi bingung.


Sebelum kedatangan Ivan, sepupu-sepupunya pada sibuk menanyakan persiapan untuk melamar cucu pengusaha berlian nomor 1 di Jakarta itu. Laras jadi bingung, karena Ivan belum pernah membicarakan masalah itu padanya.


Ia pun teringat perkataan Ivan bahwa bukan hanya menantu tapi ia juga akan segera dianugerahi seorang cucu. Sebuah tanda tanya besar menggantung di kepalanya. Laras bertekad akan menghubungi Ivan secepatnya untuk mengonfirmasi kebenaran berita yang dibawa saudaranya yang lain. Dan ia merasa lega saat Ivan pulang ke rumah sore ini.


Ketika semua saudaranya telah kembali karena arisan telah selesai, keadaan rumah pun mulai sepi, tinggal para art yang berbenah dan membereskan semua.  Dengan  cepat Laras menarik Ivan menuju ruang kerja yang selama ini selalu digunakan almarhum suaminya.


Ivan merasa heran dengan kelakuan mamanya yang seperti seorang intel hendak menginterogasi seorang tersangka. Tapi ia tetap mengikuti langkah mamanya.

__ADS_1


“Cepat ceritakan yang sebenarnya masalah mantu dan cucu yang pernah kamu katakan pada mama,” Laras menatapnya dengan tajam, “Apa dia perempuan yang sama?”


Ivan mengangguk sambil membayangkan wajah ayu yang semakin membuatnya terhanyut ke dalam pusaran cinta yang sangat dalam membuatnya susah untuk bernafas secara sempurna.


“Rara putri almarhum mas Faiq dan mbak Hani.”  Laras berusaha meyakinkan perasaannya.


“Benar ma. Dia kini sedang mengandung cucu mama.”


“Astaga Ivan, bagaimana kamu tega melakukan hal itu padanya!” Laras memandang putra semata wayangnya dengan penuh kekecewaan, “Mama tidak pernah mengajarkan perbuatan tercela seperti itu padamu nakk!” Laras mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


“Maafkan aku Ma. Aku Khilaf,” Perasaan menyesal kini kembali hadir di sanubari Ivan, “Mungkin ini memang takdirku untuk bersamanya. Rara terlalu menyintai suaminya yang telah meninggal.”


Tatapan Ivan menerawang jauh saat mengatakan itu. Terbayang wajah Abbas yang selalu ada saat ia bercerita keluh kesahnya, dan selalu memberikan solusi terbaik untuk  setiap permasalahan yang ia hadapi walau pun terkadang ia tak menghiraukan apa pun yang dikatakan Abbas.


“Jadi dia janda?” Laras terus mencecarnya.


Akhirnya Ivan menceritakan semua yang terjadi dalam hubungan mereka. Mulai dari pertemuan dengan Abbas, persahabatan yang terjadi antara keduanya hingga ia menodai Rara di malam kelam istimewa itu tak terlewatkan satu pun.


Laras mendengarkan dengan sepenuh hati saat Ivan menumpahkan segala perasaan gundah serta kesedihan yang ia alami dan perasaan cintanya yang begitu besar terhadap Khaira dan janin yang kini ada di kandungannya.


Laras langsung memeluk Ivan yang kini tampak tak bersemangat mengingat kesalahan yang ia perbuat terhadap almarhum Abbas. Senyum terbit di wajahnya begitu mendengar keseluruhan cerita Ivan.


“Ini bukan semata-mata kesalahanmu. Semua memang takdir. Dan mama sangat bersyukur atas kejadian ini. Mama memang mengharapkan punya menantu seperti Rara. Sekarang jangan bersedih, mama sangat mendukung keputusanmu.”


Ivan menatap wajah mamanya yang kini sumringah tidak ada lagi sinar kemarahan dan kekesalan yang tergambar di wajah cantik yang semakin me’nua’ tersebut.


“Mulai sekarang kamu harus memperbaiki diri. Mungkin Rara belum bisa menerimamu, sehingga berniat pergi. Tapi yakinlah dengan do’a semua menjadi mungkin. Allah Maha membolak-balik hati. Yang harus kamu lakukan sekarang tingkatkan amal dan ibadahmu. Perbaiki diri dan banyaklah mengingat Allah. Allah akan menerima tobat hamba-Nya yang benar-benar menyesali diri.”


Perkataan mamanya serasa oase di padang gersang, mengalirkan ketenangan di sudut hati Ivan yang selama ini kering kerontang jauh dari sentuhan rohani.


“Terima kasih ma, karena memahami apa yang ku rasakan.”


“Sudah sewajarnya sebagai orang tua mengingatkan anaknya, begitupun sebaliknya.”


Ivan meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Ia benar-benar merasakan ketenangan dan kedamaian setelah menceritakan semua pada mamanya, perempuan satu-satunya yang paling mengerti dan tau siapa dirinya.


Sementara itu Khaira sudah kembali ke rumah oma Marisa. Malam ini semua saudara-saudara beserta sanak iparnya dan paman Hanif akan berkumpul di rumah oma untuk membicarakan masalah yang kini ia hadapi. Ia tidak mengetahui bahwa Ivan sudah datang melamarnya pada Ariq dan saudara yang lain.


Selesai makan malam masing-masing pasangan duduk bersama di ruang keluarga. Khaira merasa senang melihat semua saudaranya berkumpul sehingga rumah oma terasa ramai dan meriah.


Ariq mulai membuka suara begitu suasana mulai tenang. Ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Malam ini semua harus selesai, dan diambil keputusan secepatnya.


“De, bagaimana perasaanmu sekarang?” Ariq bertanya dengan hati-hati.


“Alhamdulillah, berkat dukungan mas serta keluarga besar aku lebih tenang sekarang.”


“Mungkin bagimu ini terlalu cepat. Tapi pikirkan janin yang kamu kandung. Lama-kelamaan kandunganmu akan semakin besar …. “ Ariq menghela nafas sejenak.


Khaira tercenung mendengar perkataan Ariq. Ia membelai perutnya yang masih rata. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Kamu harus segera menikah. Tidak baik kita menunda-nunda masalah ini. Janinmu perlu pengakuan seorang ayah.”


Khaira menunduk berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Bayi yang ia kandung tidak bersalah, tapi apakah ia siap untuk menikah dengan lelaki yang telah merenggut kehormatannya?


“Seminggu yang lalu Ivan sudah datang melamarmu pada kami semua,” Ariq menatap wajah Khaira yang kini tampak sendu dengan mata berkabut, “Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Ivan telah mengakui semuanya dan akan bertanggung jawab atas semua perlakuannya padamu.”


Dada Khaira terasa sesak. Ia menekan dadanya yang berdenyut nyeri. Bibirnya terkunci lidahnya terasa kelu untuk menjawab perkataan Ariq. Inikah makna mimpinya beberapa hari yang lalu. Abbas telah merelakan dan menyerahkannya pada seorang lelaki. Dan lelaki itu adalah Ivan.  Alexander Ivandra, Khaira Althafunnisa, inisial yang tertera pada undangan yang ia lihat AI, KA.


“Besok malam Ivan dan keluarga besarnya akan datang melamarmu,” Kalimat pamungkas Ariq menutup rapat keluarga malam itu.


Khaira tak mampu berkata-kata. Ia merasa sedih dan terluka. Sosok Abbas akan segera tergantikan dalam hidupnya. Siapa pun tidak akan mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Khaira menepuk dadanya dengan kuat, berusaha menghilangkan rasa sesak yang membelenggu hatinya. Ia merasa sulit untuk bernafas.


Dengan menahan sesak dan pedih di hatinya, Khaira berjalan menuruni tangga. Ia ingin berbicara dengan bu Ila dan mohon ampunan serta maaf yang tulus kepada mertuanya, karena sebagai menantu ia tidak bisa menjaga diri hingga hamil dari lelaki yang bukan suaminya.


Di tangga terakhir Khaira berhenti. Air matanya kembali menetes menganak sungai, kakinya tidak sanggup melangkah lagi. Mendengar alunan lagu lawas yang diputar art yang sedang beberes di ruang makan membuat jiwanya melayang, berusaha mencari bayangan Abbas untuk menghilangkan kesedihan yang ada. Rasanya ia ingin menyusul almarhum, tapi takdir berkata lain.

__ADS_1


Khaira duduk di tangga dengan memeluk lutut. Air mata berjatuhan dengan deras di pipinya. Ia tidak menyadari bahwa bu Ila berdiri di depan pintu juga menangis melihat keadaan menantunya yang tampak berduka.


Lihatlah airmataku


Ya Tuhan Yang Maha Pengasih


Bercerita tentang duka


Dan kehancuran


Setiap tetes mengandung arti


Dari derita yang menekan


Telah lama daku mencoba


Namun tak mampu jua


Tuhan tolong hapuskan airmataku


Tiada satu dapat melakukannya


Dari derita ini


Dari dalamnya dosa


Hanya Engkau yang kuasa


Menghapuskan setiap tetes airmata


Menghapuskan setiap tetes airmata


Lihatlah airmataku


Berderai penuh kesedihan


Telah lama daku mencoba


Namun tak mampu jua


Tuhan tolong hapuskan airmataku


Tiada satu dapat melakukannya


Dari derita ini


Dari dalamnya dosa


Hanya Engkau yang kuasa


Menghapuskan setiap tetes airmata


Menghapuskan setiap tetes airmata


Tuhan tolong hapuskan airmataku


Tiada satu dapat melakukannya


Dari derita ini


Dari dalamnya dosa


Hanya Engkau yang kuasa


Menghapuskan setiap tetes airmata

__ADS_1


Menghapuskan setiap tetes airmata


***Cinta dan sayang untuk reader yang tetap menunggu dunia Khaira dan Ivan ya .... Hu hu hu .... Author menangis. Sedih banget ..... (Semoga tiada air mata lagi ya. Dan semoga author nggak khilaf naruh bawang di part selanjutnya.) ***


__ADS_2