
Hari ini suasana di pondok pesantren benar-benar ramai, karena kedatangan tim dokter dari Puskesmas yang berada satu wilayah dengan lokasi pondok. Santriwan dan santriwati diliburkan dari segala aktivitas pembelajaran karena akan diadakan pemeriksaan dari tim kesehatan Puskesmas yang dipimpin oleh dokternya.
Karena tidak ada kegiatan pembelajaran Khaira lebih santai dan tidak terburu-buru di pagi itu. Setelah si kembar mandi, ia langsung mendandani keduanya untuk diajak jalan-jalan di mini market yang letaknya lumayan dekat dari kawasan pondok.
Mobil lawas kepunyaan almarhum Abbas tetap menjadi alat transportasi utama yang digunakan Khaira dalam mendukung mobilitasnya bersama dengan art di rumah.
Setelah keduanya rapih dan wangi. Khaira segera berkemas untuk melihat aktivitas yang terjadi di pondok. Beberapa mobil serta ambulans dari Puskesmas sudah terparkir rapi di halaman rumah ustadz Hanan yang sangat luas.
“Dede, jangan lari-lari!” Khaira berusaha menahan si mungil yang sangat aktif dibanding saudaranya yang tampak tenang berjalan sambil menenteng mobil mainannya.
“Biar saya yang kejar Dede Bu .... “ Nuri segera berjalan cepat menyusul Embun yang sudah berlari dengan riang.
“Mas mau main sama Bu de?” tawar Mila pada Fajar yang tidak mau melepaskan tangannya dari genggaman sang bunda.
“Tama Bunda aja,” jawabnya santai.
“Ibu boleh kembali ke rumah. Fajar biar ikut saya,” Khaira berbicara dengan lembut pada Mila, “Kalau dia mengantuk, nanti akan diantar kembali ke rumah.”
“Terima kasih Bu .... “ Mila mengangguk dengan hormat, “Saya kembali ke rumah. Assalamu’laikum ....”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” Khaira menjawab dengan sopan.
Ia dan Nuri adalah janda yang telah ditinggal suaminya meninggal dunia. Mereka telah memiliki cucu dari anaknya yang berjumlah sama. Keduanya sangat bahagia ketika Rheina menawarkan pekerjaan untuk mengasuh si kembar.
Apalagi sikap majikan mereka yang sangat baik, membuatnya dan Nuri merasa betah. Selama hampir tiga tahun bekerja bersama nyonya muda, mereka tidak pernah kekurangan bahkan gaji yang diberikan dapat mereka sisihkan untuk anak dan cucu mereka di kampung.
Saat berjalan sambil menggandeng tangan Fajar, Khaira melihat sesosok tegap sedang menelpon di tempat terbuka di samping ruang klinik kesehatan pondok. Ia merasa mengenal sosok tersebut walau pun waktu telah lama berlalu.
“Anwar .... “ dengan sopan Khaira menyapa lelaki yang kini telah menyudahi pembicaraannya.
Anwar terkejut mendengar suaranya dipanggil. Spontan ia berbalik menghadapi orang yang memanggil namanya. Ia mengerutkan kening berusaha mengingat. Seorang perempuan berkacamata dengan menggunakan cadar berdiri dengan santai di hadapannya sambil menggandeng bocah lelaki yang imut dan tampan.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Anwar merasa penasaran dengan perempuan yang tetap dengan posisinya.
“Apa kamu sudah melupakan sahabatmu ini?” Khaira tak bisa menahan senyum dibalik cadarnya.
“Rara?” Anwar terpana mengetahui perempuan yang berdiri di hadapannya adalah orang yang pernah ia idamkan menjadi ratu dalam kehidupannya di masa depan.
Akhirnya tawa renyah Khaira terdengar begitu Anwar langsung menyebut namanya. Ia merasa senang karena Anwar selalu mengingat persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun yang lalu.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” Khaira menatap Anwar dengan serius, “Dan sudah berapa putramu?”
__ADS_1
Anwar langsung tersenyum mendengar pertanyaan Khaira yang spontan. Sebelum menjawab pertanyaan Khaira ia memandang sekelilingnya berusaha mencari tempat untuk mengobrol yang lebih nyaman.
“Nggak enak ya ngobrol sambil berdiri gini? Apa tidak mengganggu aktivitasmu?” Khaira melihat ke ruang klinik yang masih tampak ramai dengan para santri yang masih mengantri untuk diperiksa.
“Kami ada 10 orang dalam tim ini. Aku hanya mengontrol kinerja pegawai yang lain,” Anwar berusaha menenangkan Khaira yang merasa tidak nyaman karena mengganggu aktivitas mereka selama di pondok.
“Baiklah pak Dokter,” Khaira tersenyum mendengar perkataan Anwar, “Kita ngobrolnya di situ saja.”
Khaira mengajak Anwar berjalan ke sebuah gazebo yang kebetulan ada Embun dan bu Nuri yang sedang ngadem di bawahnya. Ia melihat antusias putri kecilnya yang asyik mencoret di buku gambar yang selalu dibawanya kemana pun.
“Bu, kenalkan ini teman saya sewaktu kuliah,” Khaira langsung memperkenalkan Anwar begitu mereka sudah berada di tempat yang sama.
Anwar mengangguk sambil menyunggingkan senyum pada pengasuh si kembar yang kini mulai menarik perhatiannya.
“Ibu boleh kembali. Jika saya memerlukan ibu, nanti saya hubungi,” Khaira memberi isyarat pada Nuri yang langsung dipahaminya.
Nuri pun langsung pamit meninggalkan mereka berempat di gazebo yang lumayan luas dan teduh itu. Embun masih anteng dengan aktivitasnya dan Fajar pun mulai memainkan mobil di lantai keramik samping adiknya.
“Sampai sekarang aku masih mencari pendamping yang cocok untukku .... “ Anwar menatap Khaira lekat.
“Kriteriamu terlalu tinggi,” Khaira tersenyum mendengar ucapan Anwar, “Bukankah banyak perempuan di lingkungan kerjamu? Mereka cantik dan tentu higienis.”
Anwar tersenyum mendengar sindiran Khaira. Ia sejak dulu memang sangat memperhatikan kebersihan dan anti kotor.
“Astaghfirullahaladjim .... “ Khaira melotot tak senang mendengar ucapan spontan Anwar.
“Nggaklah, mungkin Allah masih menyiapkan yang terbaik untukku,” melihat reaksi Khaira membuat senyum Anwar semakin lebar, “Mana mungkin aku jadi pebinor dalam kehidupan rumah tangga temanku.”
“Syukurlah kamu masih berpikiran waras,” akhirnya Khaira merasa lega mendengar jawaban Anwar, “Bagaimana kamu bisa berada di kawasan ini? Lantas cita-citamu mendirikan rumah sakit jantung apa sudah terealisasi?”
Serentetan pertanyaan Khaira membuat Anwar kembali tersenyum, “Untuk rumah sakit jantung aku belum menemukan lokasi ideal. Sementara ini aku mendapat amanah menjadi kepala puskesmas di wilayah ini. Dan itu sudah berlangsung dua tahun.”
“Semoga keinginanmu segera terealisasi,” Khaira berkata dengan tulus, “Dan ku harap jodohmu dipercepat.”
“Bagaimana kabar Ivan?” Anwar tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya dengan kehidupan rumah tangga Khaira.
Khaira terdiam. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Anwar. Ia merasa ini hal yang tidak ingin ia bicarakan dengan siapa pun kecuali saudaranya. Tapi ia juga tak mungkin menutupinya dari Anwar. Ia jadi bingung harus menjawab apa.
Anwar menatap Khaira lekat. Di balik cadar Khaira ia melihat mata bening itu mulai berubah sendu. Ia yakin telah terjadi sesuatu dalam kehidupan rumah tangga sahabatnya.
“Ku mohon, jangan pernah menyebut namanya dihadapanku,” suara Khaira tercekat saat mengucapkan itu.
__ADS_1
“Astaga Rara, apa yang terjadi?” Anwar tak bisa menyembunyikan rasa ingin taunya.
Khaira terdiam berusaha menetralisir rasa sedih yang saat ini masih mengganggu di relung hatinya terdalam. Rasanya tak pantas ia membicarakan semua masa lalu yang telah terjadi. Sekarang saatnya ia menata masa depannya bersama si kembar.
“Percayalah padaku. Sejak dari dulu kita selalu bersama melewati permasalahan yang ada. Jangan pernah menganggapku orang lain,” Anwar menatapnya dengan lekat.
“Kami telah berpisah .... “ nada suara Khaira terdengar getir.
Anwar terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Khaira. Kini tatapannya beralih pada si kembar yang mulai merasakan kantuk dan akhirnya berbaring dengan memegang botol susu di tangannya masing-masing.
Tanpa diminta Anwar akhirnya Khaira menceritakan semua permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Ivan tanpa mengurangi atau pun melebihkan dari semua yang telah ia jalani selama tiga tahun terakhir.
“Astaghfirullahaladjim .... “ Anwar tak bisa menghentikan istighfarnya begitu Khaira menceritakan semuanya, “Apa kamu sadar bahwa yang dilakukan saudaramu telah melecehkan lembaga pernikahan?”
“Aku turut menyesalinya bahkan hingga saat ini,” tandas Khaira begitu mendengar komentar pedas Anwar, “Aku hanya melindungi anak-anakku.”
“Memang perbuatan Ivan salah. Tapi tidak sewajarnya saudaramu melakukan itu,” Anwar menggeleng-gelengkan kepala tak percaya mendengar kelanjutan kisah Khaira.
“Tidak ada lagi hubungan antara aku dan dia. Jadi jangan pernah menyebutnya di hadapanku.”
“Apa kamu menyesali semuanya?” Ivan kembali menatap Khaira lekat. Pandangannya mulai beralih pada si kembar yang kini mulai terlelap karena suasana yang sangat tenang dan adem.
“Kecuali si kembar. Mereka anugerah terbaik yang diberikan Allah padaku, terlepas siapa ayahnya aku tidak mempermasalahkan itu. Mereka milikku,” Khaira membelai pipi cubby Embun yang mulai melepaskan botol susu dari mulutnya.
“Bagaimana jika suatu saat Ivan mengetahui bahwa dia memiliki keturunan darimu?” Anwar masih tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar.
“Aku tidak yakin dengan hal itu. Ia telah memiliki Bryan dan mulai menata kehidupan mereka sendiri. Atau, mungkin saja mereka telah menambah momongan baru ... aku tidak ingin memikirkannya. Cukup bahagiaku bersama anak-anakku .... “
“Apa kamu tidak mengetahui keberadaan Ivan sekarang? Atau kalian belum pernah bertemu sama sekali?” Anwar masih penasaran dengan kehidupan Khaira selepas dari Ivan.
Khaira menggelengkan kepala dengan cepat. Mereka sepakat tidak akan pernah membahas atau pun menyebut nama Ivan dalam setiap pembicaraan keluarga.
“Kita tidak bisa melawan takdir .... “ Anwar menghela nafas turut merasakan prahara yang pernah melanda perempuan yang telah mencuri hatinya bahkan hingga saat ini, “Aku hanya berdoa untuk kebahagiaan kalian. Atau .... “
Khaira mengerutkan kening mendengar perkataan Anwar yang menggantung. Matanya tak berkedip memandang Anwar.
“Aku bisa menjadi ayah sambung bagi si kembar ....” senyum Anwar langsung mengembang saat kalimat itu dengan lancar keluar dari bibirnya.
“Kamu adalah orang terakhir yang akan ku pilih jika tidak ada lelaki lain di bumi ini,” Khaira membalas perkataan Anwar sambil mencibir dengan senyum tipisnya.
Anwar langsung tergelak mendengar ucapan Khaira. Status antara mereka tidak akan pernah berubah sampai kapan pun dan Anwar tau diri akan hal tersebut.
__ADS_1
“Tidak masalah kan kalau aku akan sering berkunjung kemari. Anak-anakku sangat menggemaskan,” Anwar membelai kepala Fajar dan Embun bergantian dengan berbagai perasaan yang berkecamuk.
Sepasang mata tajam mengamati interaksi keduanya tanpa mengedipkan mata. Keduanya tidak menyadari sudah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya rombongan Anwar telah menyelesaikan tugasnya.