
Edward merasa tertarik mendengar pengakuan Ivan tentang seorang perempuan yang telah membuat sahabatnya itu jatuh cinta.
“Apa kamu ingin mengakhiri masa lajangmu?” Edward langsung menodongnya dengan pertanyaan yang tak pernah ia bayangkan.
“Entahlah,” Ivan berkata dengan pikiran kalut.
Bagaimana ia akan mengakhiri masa lajang, calon saja ia tidak punya. Sedangkan perempuan yang telah memporak-porandakan hatinya telah terikat dengan seorang lelaki yang sampai saat ini tidak ia ketahui asal usulnya.
“Hei Alex, jangan terlalu serius. Sampai sekarang aku betah melajang. Aku belum siap terikat komitmen. Aku masih suka bersenang-senang.”
Ivan memandang Edward dengan senyum misterius, “Kita beda misi. Mama menuntutku untuk segera berumah tangga. Usiaku hampir 33 tahun. Aku juga mulai memikirkan untuk mencari pasangan.”
“Aku telah memiliki kekasih yang masih terikat pernikahan. Kita enjoy bersama. Suaminya berusia lebih tua darinya. Dan ia memperoleh kepuasan itu dariku.” Edward tertawa penuh kepuasan saat menceritakan kisah asmaranya.
Ivan menggelengkan kepala mendengar cerita Edward. Ia sudah hafal track record temannya itu, tidak akan puas hanya dengan seorang wanita.
“Kamu ingat dengan Claudia?” Edward tiba-tiba memandang Ivan dengan raut serius, “Sekarang dia telah menikah dengan pengusaha real estate, dan tinggal di Paris bersama suaminya.”
Ivan tersenyum tipis. Bagaimana ia bisa melupakan gadis tercantik di kampusnya itu. Perempuan itu lah yang pertama kali mengajarkannya tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, hingga ia terlibat dalam pergaulan bebas selama mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam.
“Kamu masih terobsesi dengannya?” Edward menatapnya penuh selidik.
“Tidaklah. Masa itu telah lama berlalu.” Ivan melirik jam di pergelangan tangannya.
“Apa kamu kemari karena menghadiri undangan Paris Fashion Week besok malam?” akhirnya Edward mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Ya.” Ivan mengangguk cepat, “Peter Edmond salah satu klien yang cukup penting buatku. Dialah yang memberi undangan itu.”
“Benar. Perusahaannya juga yang menyeponsori Paris Fashion Week tersebut. Lelaki itu banyak diminati di sini. Ia tipe lelaki setia.”
“Kamu mengenalnya?” Ivan jadi penasaran.
“Dia sempat bertunangan dengan sepupuku. Tapi nasib percintaannya tragis, empat bulan yang lalu sepupuku Charlot meninggal karena kanker otak. Dia jadi patah hati,” Edward berkata dengan raut sedih, “Kami sempat prihatin dengan kehidupannya. Tapi kelihatan sekarang dia sudah pulih kembali,” Edward kembali tersenyum.
Ivan melirik jam di pergelangan tangannya. Ia masih penasaran dengan Khaira yang berada di gedung yang sama dengannya.
“Kebetulan aku akan menghadiri resepsi sepupuku di ballrom atas,” Edward mengetahui bahwa Ivan kelihatan gelisah, “Kamu mau ikut bersamaku, mungkin ketemu seseorang yang bisa menemanimu melewatkan malam ini.”
“Aku sangat menghargai undanganmu. Tapi aku mesti bersiap. Nggak mungkinlah penampilan seperti ini.” Ivan yang seharian belum mandi dan berganti pakaian merasa tidak nyaman dengan keadaannya.
“Baiklah. Setengah jam ke depan ku tunggu di lobby.”
Setengah jam kemudian, kedua lelaki lajang itu sudah berada di ballroom yang tampak megah dengan dekorasi pernikahan yang sangat memanjakan mata.
__ADS_1
Tatapan Ivan mulai bergerilya mencari sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Ivan tidak mengenal tamu yang berdatangan, karena dia sendiri tidak mengenal sepasang mempelai pengantin.
“Hei, lo berada di sini juga?” sebuah suara bariton menghentikan tatapan Ivan yang masih mengitari aula ballroom megah itu.
“Denis,” Ivan tertegun melihat sepupunya berada di ruangan yang sama dengannya, “Kapan datang?”
“Kemaren. Masih ada kerjaan sedikit, sebelum fokus mengerjakan rumah sakit seperti yang ku ceritakan kemaren,” jawab Denis santai, “Lo mengenal kedua pengantin?”
“Aku diundang Edward,” ujar Ivan tenang, tapi matanya terus mencari sesuatu di tengah keramaian. Seperti mencari sebuah jarum di tengah tumpukan jerami, “Lo sendiri?”
“Benigno adik rekanku saat di Jepang. Dia menikahi perempuan keturunan WNI juga,” Denis berusaha menjelaskan.
Dari kejauhan mata Ivan langsung terpaku pada satu titik. Ia melihat Khaira tidak sendiri, tetapi bersama beberapa orang lelaki yang sedang berbincang hangat, diselingi senyuman yang tampak jelas dari arah ia berdiri.
Khaira merasa senang saat bertemu Anwar di tempat yang sama. Ia kini merasa lebih santai. Sejak tadi ia mendampingi Ariq yang bertemu rekan bisnisnya yang juga menjadi tamu pada resepsi pernikahan Agnes.
“Mas, kenalkan teman aku dan a Abbas saat masih di UI,” Khaira memperkenalkan Anwar pada Ariq dan Ali yang juga berbincang dengan rekan bisnisnya.
“Boleh tuh,” Rheina berbisik pada Ali, “Penampilannya mirip Abbas, tapi yang ini kelihatan lebih berkelas.”
Ali tak bisa menahan senyum mendengar perkataan istrinya. Ia tau, bahwa penilaian Rheina tidak pernah salah dalam melihat seseorang dari penampilan luarnya.
Ariq mendengar bisik-bisik antara adiknya dan iparnya. Ia tersenyum hangat menyambut uluran tangan Anwar. Jika memang Khaira merasa cocok ia tidak masalah.
Ia tidak ingin melepaskan pandangan dari sosok Khaira walau sekejap. Ia melihat malam ini Khaira tampak berbeda dan memandangnya di tengah kemeriahan pesta, seperti memandang berlian diantara butiran pasir. Bagaimana tidak, hanya Khaira dan saudaranya yang berpenampilan tertutup sedangkan yang lain menggunakan gaun kekurangan bahan yang membuat panas mata memandang.
“Pergilah,” Rheina mendorongnya ke arah Anwar yang tersenyum mendengar ucapannya yang senada dengan yang dilafalkan Anwar dalam doa’nya.
“Moga aja, sepulangnya dari sini ade segera naik ke pelaminan.” Rheina menatapnya dengan puas melihat Khaira yang mengikuti langkah Anwar.
Mata Khaira membulat mendengar ucapan iparnya, “Apaan si mbak.”
“Aamiin,” dengan cepat Anwar mengaminkan ucapan Rheina.
Ariq dan Ali tinggal geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rheina. Mereka merasa lega, karena Khaira segera membaur dan tidak menolak ajakan Anwar untuk mendekati pasangan yang sedang berbincang dengan rekan-rekan mereka yang lain.
Konsep pernikahan internasional yang diusung Agnes dan Beno membuat keduanya berbaur dengan seluruh tamu undangan, sehingga susah untuk didekati, karena saking banyaknya tamu yang hadir untuk mengucapkan selamat serta bersalaman pada mereka.
Perasaan Ivan berdetak cepat, saat melihat Khaira berjalan mendekat ke arah mereka. Ia kini berdampingan dengan Edward yang sedang asyik berbincang dengan pasangan pengantin yang kelihatan santai karena sebagian besar tamu mulai menikmati hidangan yang tersedia.
“Hei, tak ku sangka kalian datang berdua.” Agnes langsung memeluk Khaira dengan erat begitu sosok ramping itu berdiri di hadapannya.
Edward takjub melihat sosok yang dipeluk sepupunya. Ia melihat mata Ivan yang tak berkedip dan kelihatan tegang di sampingnya.
__ADS_1
“Bidadari turun dari surga….” Edward berkata pelan di telinga Ivan yang masih terpaku melihat sosok yang berdiri tidak jauh darinya.
Beno memeluk Anwar dengan perasaan bahagia, “Ku harap kalian berdua segera menemukan jodoh masing-masing.”
“Bukan seperti itu!” tukas Agnes cepat, “Ku harap kalian berdua segera menyusul kami di pelaminan.”
Anwar tersenyum mendengar ucapan sobatnya itu. Ia memandang Khaira dengan lekat, yang dibalas Khaira dengan senyum tipisnya.
“Nih, kenalin sepupu gue.” Agnes mengacungkan jempolnya pada Edward yang terus memandang Ivan dengan penasaran.
Edward sudah mengulurkan tangannya, tapi Khaira langsung menyatukan tangannya ke dada sambil tersenyum lembut dan menganggukkan kepala pada Edward. Dengan cepat Anwar menyambut uluran tangan Edward sambil tersenyum hangat.
“Mereka berdua teman gue saat kuliah di Indonesia,” Agnes menjelaskan pada Edward yang manggut-manggut.
Khaira memandang Ivan sambil mengerutkan jidatnya. Ia merasa heran, karena selalu bertemu dengan sosok yang ia nilai sangat dingin, sombong dan angkuh, di manapun ia melangkah.
“Dunia memang tidak selebar daun kelor,” suara Denis yang mengejutkan mereka yang masih mendengar perkataan Agnes, “Kita bertemu di tempat dan waktu yang berbeda nona Khaira.”
Ia tak mempercayai penglihatannya ketika melihat sosok Khaira bersama lelaki muda datang menghampiri pengantin.
Denis datang bersama Arthur saudara laki-laki Beno yang merupakan rekanan Denis saat di Jepang.
“Kalian saling mengenal?” Arthur memandang Denis tak percaya.
Khaira menganggukkan kepala tanpa bersuara. Ia mulai merasa tak nyaman berada di antara laki-laki yang tidak ia kenali satu pun.
Sikap Khaira tak lepas dari pandangan Ivan. Hatinya merasa panas, mendengar Khaira mengenal Denis yang terkenal playboy di kalangan semua pengusaha.
“Wah, semakin menarik.” Batinnya kesal, “Tak ku sangka bidadari Abbas mengenal Denis.”
Edward melihat Ivan yang terdiam kaku hingga Khaira dan Anwar jauh dari pandangan mereka. Ia mulai menyadari sesuatu.
“Apa perempuan itu yang memmbuatmu bertingkah seperti orang bodoh?” Edward langsung mencecarnya dengan pertanyaan yang membuat Ivan terdiam.
“Apa maksudmu?” Ivan jadi kesal dengan pertanyaan Edward yang menyudutkannya.
“Lihat dua gadis yang menatapmu penuh gairah.” Edward menunjuk dengan lirikan matanya melihat dua gadis yang tersenyum-senyum memandang ia dan Ivan tanpa berkedip.
“Aku tidak tertarik,” potong Ivan cepat.
Matanya terus mengikuti bayangan Khaira yang kini kembali bergabung dengan lelaki yang ia lihat saat awal memasuki ballroom hotel.
__ADS_1
Dukung terus ya. Biar author semangat update dunia Khaira dan Ivan. Sayang reader semua ....