
Perawat baru saja keluar membawa sample darah si kembar. Khaira menyiapkan sarapan untuk keduanya. Ia merasa lega, walaupun dalam keadaan sakit tidak mempengaruhi nafsu makan keduanya.
Ia merasa kesal dengan sikap Ivan yang terus menempel padanya dengan alasan Embun yang ingin mendekat pada bundanya. Tapi karena ia harus menyuapi si kembar, terpaksa Khaira membiarkan posisi Ivan yang kini duduk di bed Fajar sambil memangku Embun di sebelah kanan dan Fajar di paha kirinya dengan dirinya berdiri tepat di hadapan ketiganya.
“Ayah maam …. “ Embun mengarahkan sendok pada mulut Ivan yang tetap tak mengalihkan pandangan pada Khaira yang sedingin es.
“Ini buat mas dan ade saja ya, ayah sudah sarapan,” ujar Ivan pelan.
Hatinya merasa hangat akan perhatian dari putri kecilnya. Posisinya yang berdekatan dengan Khaira membuat jantungnya berlari tak terkendali. Tapi yang ditatap tetap dingin.
“Sarapannya dihabiskan ya sayang,” Khaira memandang Fajar yang sudah asyik memainkan robot barunya.
“Buat ayah saja,” dengan cepat Ivan meraih sendok di tangan Khaira dan mengarahkan ke mulutnya.
Tindakan Ivan membuat Khaira mendelik tak senang. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menghindar Ivan menghabiskan suapan terakhir dari sendok yang ia pegang, dengan tangannya berada dalam genggaman Ivan.
“Terima kasih Bunda,” senyum kepuasan terbit di wajah Ivan, karena berhasil mengganggu Khaira.
Khaira melotot memandang Ivan sambil menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Ivan.
Ketukan di pintu kamar membuat Ivan melepaskan genggamannya. Ia tak peduli, setiap ada kesempatan ia akan menggunakan dengan sebaik-baiknya. Waktunya lebih banyak untuk memulai semuanya, apalagi dengan kondisi si kembar di rumah sakit.
Ia akan selalu ada di sisi Khaira walaupun dengan segala penolakan yang selalu ditampakkan saat ia mendekat.
“Sayang mimi kenapa sampai bobo di rumah sakit?” suara Hasya sudah bergema begitu memasuki ruangan SVIP tersebut.
Senyum yang sejak awal terukir di wajahnya langsung sirna melihat keberadaan Ivan yang sedang memangku si kembar di salah satu bed, sedangkan Khaira masih berdiri memberikan minuman pada si kembar. Ia jadi jengah melihat Ivan.
“Assalamu’alaikum …. “ Valdo masuk sambil membawa paper bag yang berisikan makan siang yang dipesan dari restoran terkenal.
“Wa’alaikumussalam,” keduanya menjawab kompak.
Setelah meletakkan bawaannya di atas meja, Valdo mendekati si kembar yang masih berada dalam pangkuan Ivan.
“Gimana kabar kesayangan Pipi, hm …. ?” Valdo membelai kepala keduanya.
“Suhunya belum turun mas,” Ivan menjawab dengan cepat.
Pandangannya beralih pada Hasya yang kini berdiri tepat di depannya. Ia dapat melihat raut permusuhan tergambar jelas di wajah mantan kakak iparnya itu.
“Pagi mbak,” Ivan menyapa Hasya dengan ramah.
Jangankan menjawab, Hasya langsung melengos tak peduli. Ia berjalan mendekati Khaira yang sedang membersihkan tempat makan si kembar.
“Ngapain Expander di sini?” samar-samar suaranya terdengar Ivan dan Valdo yang masih menemani si kembar.
“Jangan ambil hati perkataan istriku,” ujar Valdo menatap Ivan dengan perasaan tidak nyaman.
“Aku paham mas,” Ivan menjawab dengan cepat, “Semua memang kesalahan terbesarku.”
Valdo mengalihkan tatapan pada Embun dan Fajar yang kini memegang botol susu di tangan masing-masing.
“Apa diagnosis dokter atas penyakit si kembar?” Valdo merasa prihatin kedua ponakannya yang biasa lincah kini tampak lemah tak berdaya dengan wajah memerah.
“Dengan suhu tubuh si kembar yang diatas 390 C dan trombositnya yang rendah, dokter mengatakan kemungkinan DBD. Tapi masih perlu dilakukan observasi. Sebelum mas dan mbak kemari, barusan perawat mengambil sampel darah si kembar.”
“Kasian kesayangan Pipi .... “ Valdo membelai kepala Embun dan Fajar bergantian, “Sudah berapa lama si kembar demam tinggi?”
“Barusan tadi malam. Siangnya mereka masih bermain .... “ ujar Ivan pelan. Ia teringat saat Embun menangis tidak mau pulang dan masih ingin bermain bersamanya.
__ADS_1
“Kalau begitu sekarang masih fase awal,” ujar Valdo menatap si kembar prihatin. Ia memandang Embun dan Fajar yang tidak bersemangat di dalam pangkuan Ivan, “Jika si kembar positif DBD maka kita harus ekstra menjaga, karena mereka akan melewati fase kritis itu akan berlangsung selama 2 sampai 7 hari ....”
Ivan tidak sanggup mendengar perkataan Valdo, rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya membuatnya beristighfar di dalam hati dan berdoa agar Allah segera mengangkat penyakit kedua buah hatinya.
Rasa penasaran tiba-tiba hadir di benak Valdo melihat betapa dekat dan akrabnya Ivan dan si kembar. Padahal selama ini mereka tidak pernah bertemu. Lalu kapan Ivan mengetahui tentang si kembar?
“Si kembar begitu lengket padamu …. “ Valdo langsung mengungkapkan ganjalan di hatinya, “Kapan kamu menyadari bahwa si kembar anak-anakmu?”
“Aku mengetahuinya enam bulan yang lalu,” ujar Ivan pelan.
Ia memandang Khaira dan Hasya yang masih berbincang di wastafel. Keduanya tampak serius berbincang, dengan tatapan Hasya yang memandangnya dengan sinis.
“Maksudmu?” Valdo penasaran dengan jawaban Ivan.
Keduanya berbicara pelan, khawatir Khaira dan Hasya mendengar pembicaraan mereka. Ivan kembali meluahkan segenap rasa yang tersisa di dadanya pada Valdo. Ia tau, hanya Valdo yang menjadi tempat curhat terbaik di dalam keluarga Khaira.
“Aku turut berduka atas kepergian Bryan,” Valdo turut menyampaikan bela sungkawa atas kematian Bryan, “Walaupun sudah dua tahun berselang, tapi tetap saja terasa ia masih ada.”
“Seharusnya aku tidak melibatkan diri sejauh itu dalam pengasuhan Bryan,” Ivan berkata menahan segenap emosi di dada, “Aku menyesal telah meninggalkan Rara.”
Ia memang telah mendengar berita kematian Bryan dari Hasya yang telah diceritakan Ariq dua tahun yang lalu. Mereka bersepakat untuk merahasiakan hal itu pada Khaira. Biarkan Khaira hidup tenang tanpa ada kisah masa lalu yang harus membayanginya.
“Sudahlah, semua telah berlalu. Sekarang saat menata masa depan,” Valdo melihat kesedihan yang tergambar jelas di sorot mata Ivan, “Apalagi ada si kembar. Sekarang tanggung jawabmu tentu lebih besar.”
Ivan mencium puncak kepala Embun dan Fajar bergantian dengan penuh rasa sayang. Keduanya kini sudah mulai menguap.
“Ade sudah pengen bobo sekarang?” dengan lembut Ivan memandang Embun yang mulai bersandar di lengan kokohnya.
“Bobo ayah .... “ Fajar yang menjawab.
Senyum Valdo terukir di bibirnya melihat Ivan yang kesusahan dengan si kembar yang berada dalam pangkuannya.
“Sini Ade dengan Pipi .... “ Valdo meraih Embun perlahan.
Si kembar kini sudah terlelap di tempatnya masing-masing. Valdo dan Ivan masih berbincang di bed.
“Bagaimana hubungan mu dengan Rara, apa sudah ada perkembangan?” Valdo semakin penasaran karena Khaira bersikap biasa saja.
“Memang masih perlu waktu mas. Sementara ini aku hanya boleh mengunjungi si kembar,” Ivan berkata dengan sedih, “Tapi dengan musibah ini, keduanya tidak bisa jauh dariku khususnya Embun. Aku pun tidak tega membiarkan Rara mengurus si kembar sendirian. Aku akan menjaga dan mengurus keduanya sampai pulih kembali. Semoga dibalik hikmah sakitnya si kembar, bisa memperbaiki hubunganku dan Rara.”
“Ngga pa-pa, jalani aja dulu dengan ikhlas,” Valdo berusaha menghiburnya, “Yang penting luruskan niatmu. Aku yakin, Rara tidak akan mengorbankan kebahagiaan si kembar. Sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Apa masih bersabar menunggu Rara membuka hati, atau kamu bisa menghormati keputusannya dengan hidup berdampingan sebagai orang tua si kembar walau pun tak harus bersama.”
“Aku tau Mas,” Ivan kembali mengarahkan pandangan pada Khaira yang kebetulan juga menatapnya, “Tapi aku sudah memantapkan hatiku, sampai kapanpun aku akan menunggu Rara membuka hatinya kembali.”
“Aku akan mendukung semua niat baikmu,” ujar Valdo sambil menepuk pundaknya.
Ivan mengarahkan pandangan pada Khaira saat mengatakan hal itu pada Valdo. Sorot itu masih dingin tanpa perasaan. Tiada senyum saat pandangan mereka bertemu. Dengan cepat Khaira memalingkan muka. Ia malas memandang Ivan yang memandangnya penuh harap, disaat perasaannya sudah tawar.
“Benci aku melihat tampang si Xpander itu,” Hasya berkata pelan saat keduanya duduk di sofa sambil membuka bawaan Valdo yang berisi menu makan siang yang sengaja ia beli di dua restoran yang berbeda, “Kalau nggak mikir mas Valdo, aku hanya beliin kita saja, biar dia puasa.”
Khaira tersenyum mendengar perkataan Hasya yang masih mendendam dengan Ivan. Ia pun malas untuk menceritakan keberadaan Ivan sejak awal bersama dirinya dan si kembar. Ia hanya ingin fokus dengan keduanya tanpa memikirkan yang lain.
“Anggap aja ngga ada,” ujar Khaira santai.
“Gimana nggak ada, sosoknya ... wanginya ... dan tatapannya padamu itu lho, rasa pengen ku congkel matanya,” Hasya kesal sendiri melihat kelakuan Ivan yang dianggapnya tak memiliki rasa malu, “Dasar manusia batu.”
Mau tak mau senyum mengulas di bibir Khaira mendengar ucapan Hasya yang selalu mengungkapkan apa pun yang ada di hatinya. Seperti dirinya dulu yang menyebut Ivan lelaki batu yang tidak mau mengalah, selalu mengedepankan ego, dan merasa paling benar.
“Biar aja Mbak,” Khaira menjawab dengan tenang, “Aku telah berdamai dengan perasaanku. Semua ku lakukan hanya untuk kebahagiaan si kembar khususnya Embun yang tidak bisa jauh dari ayahnya.”
__ADS_1
“Jadi sejak kapan Xpander itu tau dia memiliki anak denganmu?” rasa penasaran dengan kehadiran Ivan dan kedekatannya dengan si kembar membuat Hasya tak bisa menahan rasa ingin taunya.
Kesibukan di rumah sakit dan mengurus rumah tangga serta kedua buah hatinya membuat Hasya jarang berkomunikasi dengan Ariq sehingga ia terkejut saat dini hari Fatih menelponnya setelah dihubungi pak Totok yang mengatakan kondisi si kembar yang mengalami panas tinggi.
“Aku nggak mau tau tentang itu. Males,” Khaira menggelengkan kepala enggan untuk membicarakan tentang Ivan, “Sekarang aku hanya menata masa depan untuk kami bertiga. Dengan keberadaan ayahnya si kembar terpaksa aku harus mengubah rencana dalam pengasuhan si kembar.”
“Maksudmu?” Hasya terus mencecar Khaira. Ia ingin tau bagaimana Khaira melibatkan Ivan dalam kehidupan mereka, “Apa benar kamu menerima dia kembali? Dan membesarkan si kembar bersama?”
“Tentu saja tidak,” Khaira menjawab cepat, “Kami telah memutuskan bersama mas Ariq saat tadi pagi datang kemari.”
“Lantas?” Hasya tak sabar mendengar jawaban Khaira yang terlalu singkat tidak menghilangkan rasa ingin tau yang membuncah di kepalanya.
“Aku akan memberikan jadwal pada ayahnya si kembar untuk datang berkunjung dan menghabiskan waktu bersama anak-anak.”
“Apa kamu yakin? Pesonanya itu nggak pudar lho Dek .... “ Hasya berbisik pelan takut kedengaran suaminya dan Ivan yang masih terlibat percakapan serius, “Dengan kumis dan brewoknya membuatnya makin matang dan mempesona.”
“Astaga mbak Sasya .... “ Khaira mencubit lengan Hasya yang mencuri pandang ke arah Ivan. Sedikitpun perkataan Hasya tidak mempengaruhinya, “Rasa itu telah sirna. Hati dan pikiranku hanya fokus untuk si kembar.”
Perkataan Khaira pada Hasya tertangkap pendengaran Ivan. Senyum tipis terbalut kesedihan berusaha ia tampilkan pada Valdo yang masih mengajaknya berbicara, sementara telinganya sejak tadi berusaha menguping apa yang dibicarakan keduanya.
“Makan yok, udah siang juga. Mumpung belum masuk waktu Zuhur,” Valdo melirik jam di pergelangan tangannya setelah beberapa saat mereka berdiam diri, karena topik pembicaraan mereka telah dikupas tuntas.
Hasya memasang muka kecut, ketika Ivan dan Valdo mendekati mereka. Tapi tetap saja ia menyiapkan empat piring yang sudah tersedia di dalam paper bag yang mereka bawa.
“Yang, jangan gitu dong,” Valdo berbisik pada Hasya yang wajahnya tidak enak dipandang dan dengan gaya kasarnya saat meletakkan piring di hadapan Ivan yang berseberangan meja dengannya.
“Mbak .... “ Khaira mengambil botol mineral dari tangan Hanya dan meletakkannya di hadapan Ivan. Ia yakin jika tak diambil maka botol air mineral itu akan terhempas di hadapan Ivan yang tak berkutik atas sikap emosional mbak Hasya yang tampak nyata.
Keempatnya makan dalam diam, hanya sesekali terdengar pecakapan Ivan dan Valdo yang membicarakan pekerjaan masing-masing tanpa melibatkan si kembar dan Khaira maupun keluarga mereka.
Selera makan Ivan kali ini benar-benar meningkat. Berada di dekat orang yang ia cintai membuatnya memiliki selera makan yang bagus. Tanpa malu ia menghabiskan cumi asam manis, ayam rica-rica, rendang serta lalapan yang masih tersisa beberapa potong. Hasya sampai melongo melihat Ivan membersihkan menu yang ada.
“Seperti kuli bangunan,” Hasya berkata dengan sinis tak peduli dengan kedipan mata Valdo yang tertuju padanya.
“Aku sudah lama tidak merasakan kebersamaan seperti ini,” dengan santai Ivan menjawab sindiran Hasya.
Ia tak peduli dengan ucapan pedas Hasya, karena selama kebersamaan yang pernah terjadi Hasya dan Valdo yang paling mengerti rumah tangganya dan Khaira.
Setelah makan siang bersama selesai, Hasya dan Khaira membereskan sisa-sisa box makanan yang ludes tak bersisa. Semua telah rapi seperti sedia kala.
“Mana pakaian yang perlu ku bawa pulang?” Hasya melihat beberapa paper bag yang berisikan kantong kresek di samping lemari.
Khaira segera mengambil pakaiannya dan si kembar yang telah dimasukkan dalam satu tempat dan mengulurkannya pada Khaira.
“Apa perlu mbak mengirim bu Narti untuk membantumu mengurus si kembar di sini?” Hasya menatap Khaira dengan serius.
“Tidak perlu,” Ivan menjawab dengan cepat, “Aku bisa menangani si kembar bersama Rara.”
Khaira menatap Ivan dengan kesal karena telah memutuskan sendiri. Padahal ia baru ingin meminta hal itu pada Hasya. Ia khawatir sikap Ivan akan melampaui batas seperti kemarin.
“Biarkan saja Yang .... Ku lihat Ivan mampu mengatasi semua,” Valdo menyetujui ucapan Ivan. Ia berharap Hasya menuruti perkataan Ivan.
“Baiklah,” ucapan Hasya datar.
Ia mendekati Khaira dan memeluknya dengan erat. Ia tau, Khaira akan mampu menjalani semua. Dari pengamatannya ia yakin, Ivan tulus dengan semua perlakuan dan perhatian yang ia berikan pada si kembar. Tapi sakit hati dan kekecewaan mendalam terhadap kelakuan Ivan pada Khaira masih terasa di hatinya.
Khaira mengantar keduanya hingga ke pintu. Setelah itu ia kembali mendekati bed si kembar. Ivan sudah berganti baju koko dan bersiap untuk ke mushola rumah sakit.
“Aku akan salat Zuhur di mushola, assalamu’alaikum .... “ Ivan berkata pelan sambil menatapnya lekat.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam,” Khaira menjawab singkat tanpa memandang wajahnya.
Dalam doa disujud terakhirnya Ivan memohon kesembuhan bagi si kembar. Tak lupa ia meminta agar Allah bisa mengembalikan semua perasaan yang pernah Khaira miliki untuknya.