Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 269 S2 (Tak Bisa Menjauh)


__ADS_3

Khaira melihat satu paper bag berisi sarapan plus sudah tersedia di meja. Ia yakin Danu yang telah membawa semuanya. Rasa lapar dan haus sudah menyerang sejak terbangun. Tapi ia merasa tidak nyaman, karena semua kepunyaan Ivan.


Ia membuka paper bag yang dibawa Fatih. Senyum terbit di wajahnya melihat beberapa roti isi serta biskuit dan minuman dingin. Tak ketinggalan mainan baru buat si kembar juga tersedia.


Dengan cepat Khaira memakan roti yang ada dan langsung meminum air mineral dari kantong yang sama. Ia tidak ingin bergantung kepada orang yang sudah tidak memiliki ikatan apa pun dengannya. Walau pun ada si kembar diantara mereka, tapi  itu tak berarti apa pun bagi Khaira. Perasaannya telah  hilang, hatinya telah hambar akan rasa yang pernah ada.


Dan ia tak berharap untuk bertemu kembali dengan Ivan. Tapi takdir berkata lain.  Tiga tahun ia telah melewati semuanya untuk menghapus segala luka yang pernah ada, dan menata hati untuk masa depan yang lebih cerah baginya dan si kembar.


Pertemuan kembali dengan Ivan,  membuka kembali luka lama yang  telah susah payah ia obati. Tapi kehidupan terus berjalan. Ia tidak akan terpengaruh, karena semua telah berubah.  Tidak ada penyesalan tidak ada air mata, dan Khaira sudah meyakinkan diri akan mampu  menjalani semua.


Setelah rasa lapar dan dahaganya hilang, Khaira kembali mengemasi paper bag dan mengeluarkan mainan buat si kembar. Ia merasa lega karena perutnya sudah berisi untuk memulai aktivitas hari ini.  Ia tidak ingin terlihat lemah di mata siapa pun.


Ketukan di pintu menghentikan kegiatan Khaira. Ia melihat pegawai rumah sakit yang membawakan sarapan pagi buat pasien.


“Terima kasih,” ujar Khaira ketika sarapan pagi telah tertata di meja.


“Permisi Bu .... “ pegawai itu pamit sambil menganggukan kepala pada Khaira yang kembali membereskan paper bag yang sempat ia bongkar.


Ia hanya mengeluarkan mainan robot serta barbie yang akan ia berikan langsung pada Fajar dan Embun.


“Ayah .... “ suara Embun terdengar perlahan di telinga Khaira.


Ia bergegas menghampiri putrinya yang kini mulai membuka mata.


“Bunda di sini sayang ....” dengan cepat Khaira meraih  Embun yang sudah mulai merengek karena tidak melihat siapa pun.


Embun tidak menolak ketika Khaira menggendongnya. Badannya lemah tidak bertenaga. Matanya masih terasa berat, hingga ia kembali memejamkan mata dengan rengekan kecil di bibir mungilnya.


Khaira merasa bahwa suhu tubuh Embun masih tinggi. Ia sedih karena si kembar harus berada dalam kondisi memprihatinkan.  Pagi ini dokter baru akan mengambil sampel darah.


Aroma wangi segar menguar pada saat Ivan yang baru selesai mandi berjalan menghampirinya.


“Embun terbangun?” kini Ivan berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


Khaira hanya mengangguk. Ia mengalihkan pandangan pada Fajar yang juga mulai membuka mata.


“Bunda .... “ rengekan Fajar mulai terdengar karena tidak melihat siapa pun di dekatnya.


“Ayo, sama ayah,” dengan cepat Ivan menghampiri Fajar dan langsung menggendongnya. Ia bersyukur Fajar tidak menolak.


“Ayah ... hauss .... “ Fajar menunjuk botol susu yang sudah disiapkan Khaira sepuluh menit yang lalu.


Ivan segera meraih botol dan mengulurkan pada Fajar yang langsung mengarahkan pada mulutnya. Tatapannya beralih pada Khaira yang kini naik ke tempat tidur dan mulai menyandarkan tubuhnya ditumpukan bantal yang telah ia susun.


Khaira merasakan kepenatan luar biasa. Menggendong Embun bukan perkara ringan. Si kembar sangat sehat dan tubuh keduanya berisi. Selama ini mereka tidak pernah mengalami sakit hingga malam tadi dilarikan ke rumah sakit dan harus menginap  seperti saat ini.


Zikir tak putus-putus ia lantunkan di dalam hati agar si kembar segera diangkat penyakitnya hingga mereka bisa kembali ke rumah dan melanjutkan acara liburan yang telah direncanakan.


Keheningan terjadi lagi. Ivan hanya bisa menatap Khaira dalam diam. Ia dapat melihat cairan bening mengalir di pipir tirus itu. Dengan cepat Khaira menghapusnya sambil menghela nafas pelan. Setelah Embun tertidur kembali, ia turun dari tempat tidur dengan perlahan khawatir Embun terganggu.


Ia menatap Fajar yang masih menghabiskan susu dalam gendongan Ivan. Tanpa berkata apa pun Khaira melewatinya. Badannya sudah merasa gerah. Khaira membuka lemari dan mengambil pakaian untuknya.


Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Khaira melangkah menuju kamar mandi. Ia ingin segera membasahi seluruh tubuhnya yang sudah merasa gerah dan tidak nyaman.


Sarapan  tersusun dengan rapi. Ivan telah selesai menata menu nasi goreng dan nasi uduk yang ada dengan lebih menarik. Ia berharap Khaira mau menikmati sarapan pagi bersamanya.


Aroma segar dan wangi menyeruak hingga sampai ke indera penciuman Ivan. Ia memandang sang bidadari yang sangat ia rindukan kehadirannya. Penampilan Khaira yang hanya menggunakan gamis motip vertikal dan jilbab senada  membuat Ivan tak bisa mengalihkan pandangan. Baginya selalu mempesona.


Kali ini ia akan berbicara dari hati ke hati. Paling tidak Khaira tidak menutup komunikasi yang terjadi antara mereka berdua. Ia tidak tahan didiamkan. Walau pun mereka satu atap, bahkan dalam ruangan yang sama tapi Khaira menganggapnya tidak ada.


“Sebelum si kembar bangun, sarapanlah  dulu. Semua telah ku siapkan,“  Ivan memandangnya dengan penuh perhatian.


Khaira memandang sekilas dan menganggukkan kepala. Tangannya meraba dahi Embun terasa panasnya masih tinggi. Ia melirik jam di pergelangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit.


“Ra, aku tidak ingin kamu sakit. Perlu tubuh yang sehat untuk menjaga si kembar,” kembali Ivan  meminta Khaira untuk sarapan bersamanya.


“Aku tidak lapar,” Khaira menjawab tanpa memandang  Ivan.

__ADS_1


Ia akan membersihkan si kembar, mengganti pakaian serta mengganti pampers yang sudah dipakai keduanya semalaman. Ia ingin saat perawat dan dokter yang melakukan room visit si kembar sudah dalam keadaan bersih dan wangi.


Tanpa mempedulikan Ivan yang  mengamati semua perbuatannya Khaira mempersiapkan semua seorang diri. Ia mengeluarkan tissue basah dari dalam tas, kemudian menyiapkan 2 kantong kresek untuk tempat pampers bekas pakai serta pakaian kotor si kembar.


Ia mulai membuka pakaian Embun secara perlahan, mengelapnya menggunakan tissue basah, kemudian menggunakan handuk kering agar putrinya merasa nyaman. Khaira segera menyapukan minyak telon agar Embun selalu merasa hangat. Tak lupa ia mengoleskan lotion bayi untuk menjaga kelembutan kulit putri kecilnya.


Khaira segera  membuka bedak bayi, dengan pelan ia menyapukan bedak ke kulit halus dan lembut Embun. Pakaian yang sudah ia letakkan di bed, langsung ia kenakan pada Embun yang masih terlelap. Perlahan ia mematikan jalannya selang infus untuk memudahkan memasukkan pakaian Embun. Senyum lega terlukis di bibir Khaira saat putrinya sudah cantik dan wangi. Ciuman lembut ia daratkan di kening Embun  Ia membereskan semua yang ada di atas bed Embun untuk bergerak ke bed Fajar. Semua perbuatan Khaira tak lepas dari pengawasannya.


Perasaan sedih hadir di hati Ivan menyaksikan semua yang dilakukan Khaira. Ia teringat dengan almarhum Bryan. Perlakuan Khaira terhadap si kembar sangat bertolak belakang dengan Claudia memperlakukan  almarhum putranya.


Teringat cerita Edward tentang  pengasuhan Bryan. Sejak dilahirkan telah diasuh ibu Claudia di pedesaan. Tak pernah merasakan sentuhan dan kasih sayang seorang ibu. Bahkan saat Bryan bersama mereka, Khaira telah menunjukkan sikap keibuannya yang membuat Bryan merasa nyaman. Hingga di akhir hayatnya Bryan mengungkapkan perasaan bahwa ia menyayangi Khaira.


Bagaimana ia bisa menyangsikan istrinya sendiri, dan lebih mempercayai perempuan yang pernah hadir di masa lalunya, hanya karena perempuan masa lalu memberinya seorang anak membuat ia melupakan segala kebaikan dan kebersamaan yang telah mereka jalani selama ini. Mata Ivan berkabut menahan air mata yang ingin tumpah  mengingat semua yang telah terjadi.


Khaira selesai membersihkan si kembar. Ia merasa lega. Saat ia membereskan semua perlengkapan si kembar, tiba-tiba kedua tangan kokoh memeluk erat pinggangnya.


“Tolong maafkan aku. Jangan diamkan aku seperti ini …. “ Ivan sudah tidak mampu menahan perasaannya.


Khaira terkesiap dengan perlakuan Ivan. Ia tidak menyangka Ivan nekat memeluknya. Ia berusaha melepaskan tangan Ivan.


“Aku mohon jaga sikapmu Tuan,” Khaira berkata dengan tegas, “Jangan membuatku lebih membenci anda.”


“Biarkan seperti ini,  sebentar saja …. ” Ivan berkata dengan penuh harap.


“Diantara kita tidak ada hubungan apa pun. Aku menghormati anda karena anda ayahnya si kembar. Jadi ku mohon, jangan berbuat melewati batas,” suara Khaira tajam penuh penekanan.


Dengan terpaksa Ivan melepaskan tubuh ramping yang sejenak ia rasakan kehangatannya menyebar mengaliri seluruh nadinya hingga ke jantung dan direspon otaknya dengan cepat. Rasa sedih tapi berselimut kebahagiaan hadir seketika, saat ia memeluk perempuan yang saat ini dan seterusnya tetap bertahta di dalam hatinya. Keharuman aroma parfum lembut masih terasa melekat di indera penciumannya, membuat Ivan merasa mendapat energi baru.


“Ayah …. “ pelan mata Embun terbuka dengan suaranya yang masih lemah.


“Ayah di sini sayang …. “ dengan cepat Ivan meraih putri cantiknya yang  sudah segar dan wangi.


Tatapan matanya tak bergeming dari  Khaira yang kini telah selesai menyimpan semua perlengkapan si kembar di tempat semula.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memasuki kehidupan kita,” monolog Ivan dalam hati.


Ia akan selalu berada di sisi Khaira dan si kembar walau apapun yang terjadi.  Dengan  cara apa pun Khaira menolak kehadirannya, si kembar adalah senjata ampuh yang membuat Khaira tak akan bisa menjauh.  Ia yakin selangkah demi selangkah kebahagiaan itu akan segera datang. Doa dan ikhtiar akan semakin ia kuatkan agar Yang Kuasa memberikan jalan terbaik untuk kembali bersama.


__ADS_2