Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 164 S2 (Pengakuan Khaira)


__ADS_3

Ivan terpaku di meja kerjanya menghadap laptop membuka foto-foto keluarga yang berhasil didapat  Yoga dengan meretas pengamanan milik Ariq. Perlu waktu lebih lama saat Yoga berusaha meretas pengamanan tingkat tinggi yang dibuat tim IT Ariq dalam melindungi privasi keluarga besar mereka. Senyum terbit di wajahnya saat melihat foto Khaira saat masih bayi hingga ia dewasa, serta foto pertunangannya dan Abbas yang masih tersimpan utuh di galeri foto keluarga yang dimiliki Ariq.


Lebam  dan kebiruan masih menghias wajah tampannya. Sudah dua hari ia menunggu kabar dari Ariq.  Ia tetap meminta Hari memantau pergerakan Khaira. Tanpa sepengetahuan Ariq dan saudaranya yang lain, Ivan dan Hari mengikuti mereka ke bandara dan mengamati dari kejauhan saat keberangkatan Ariq dan Fatih hingga kedatangan mereka kembali bersama rombongan menggunakan pesawat jet pribadi.


Hari yang saat itu berada di ruang tunggu kantor Ariq terkejut saat  melihat Ivan keluar dari ruangan di papah sosok lelaki muda yang mirip Rara. Rasa ingin tertawa sekaligus prihatin melihat wajah bosnya yang memar dan bengkak dengan darah yang masih mengalir di sudut bibir membuat Hari segera menghampiri bosnya. Untung saja masih jam kerja, jadi tidak banyak yang melihat kejadian itu.


Tanpa banyak bertanya Hari mengikuti instruksi Ivan untuk menyusul ke bandara melihat keberangkatan Ariq. Selama beberapa jam menunggu, Hari disibukkan Ivan agar segera menghubungi  Rendi dan memintanya datang membawa peralatan kesehatan untuk mengobati luka di area wajahnya.


“Kamu habis dihajar suami orang ya?” Rendi geleng-gelang kepala begitu memasuki mobil Ivan yang masih terparkir di ruang VIP bandara Halim, “Menyusahkan saja.”


“Terserah apa katamu,” Ivan malas menanggapi perkataan Rendi.


Matanya tetap tertuju pada beberapa jet pribadi yang mulai mendarat beberapa saat kemudian. Tapi ia belum melihat Ariq dan sosok yang ia tunggu kedatangannya.


“Lain kali kalau mau cari pasangan yang jomblo, biar nggak bonyok kayak gini,” ujar Rendi sambil mengemasi alat-alat kesehatan yang ia bawa.


Rasanya Rendi ingin menertawakan keadaan Ivan, tapi ia takut dengan karma, sekarang ia menertawakan, mungkin yang ia terima besok lebih dari keadaan putra majikannyan itu. Kalau bukan Ivan yang memanggil, ia tidak akan meninggalkan rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, dia adalah dokter keluarga yang sudah mengabdi sejak orang tua Ivan masih hidup, karena Hartanto-lah yang telah membiayai sekolahnya hingga selesai dan menyandang profesi sebagai dokter.


Hingga tiga jam kemudian matanya bersinar cerah saat melihat rombongan yang ia tunggu sudah mendarat. Ia melihat Ariq yang menggandeng Khaira yang tampak lemas dan pucat dari kejauhan. Ingin rasanya Ivan berlari dan menggendong sosok perempuan masa depan yang sedang mengandung anaknya, agar tidak terjadi sesuatu apa pun pada keduanya. Tapi ia mash harus menunggu, dan ia yakin Ariq pasti menepati janji.


Roni memasuki ruangan Ivan dan melihat wajah bosnya yang kebiruan dan memar hampir di seluruh wajah. Baru hari ini ia melihat Ivan masuk kantor. Dua hari yang lalu Ivan meminta Hari yang mengantarkan semua laporan yang harus ditandatangani langsung ke apartemennya.


Roni merasa heran, tidak biasanya bos mereka malas ke kantor kecuali ada perjalanan bisnis ke luar kota atau ke luar negeri. Ia hanya menggelengkan kepala saat mendengar cerita Hari bahwa bosnya sedang terganggu kesehatan sehingga tidak datang ke kantor dan bekerja dari rumah saja. Rasanya ia ingin tertawa mendengar alasan Hari.


“Emang bos sakit apa?” jiwa kepo Roni membuatnya mengikuti langkah Hari yang membereskan laporan yang sudah ia pilah bersama Gisel  untuk dibawa Hari ke apartemen Ivan.


“Bos sakit hati,” Hari menjawab asal.


“Ha, siapa yang telah menyakiti bos?” Roni tak percaya begitu saja mendengar jawaban Hari, “Selama bertahun-tahun kerja dengan bos Ivan baru kali ini aku mendengarnya sakit. Apa menular?”


Hari geleng-geleng kepala melihat tingkah Roni. Pantas saja Ivan tidak pernah melibatkan Roni dalam masalah asmaranya. Roni terlalu naif, nggak bisa diajak bersenang-senang. Memang jebolan pondok orangnya, dan masih kurang pengalaman urusan perempuan.


“Tunggu saja kabar selanjutnya. Tak lama lagi kita akan mengurus pernikahan bos. Persiapkan dirimu untuk tiba di hari bersejarahnya bos,” Hari berlalu dengan cepat, tidak ingin dijejali dengan pertanyaan Roni yang membuatnya pusing. Ia harus secepatnya melarikan diri dari pertanyaan tidak bermutu Roni.


Roni berhenti mengikuti langkah Hari yang semakin menjauh. Ia mulai bertanya-tanya sejak kapan Ivan mulai dekat lagi dengan seorang perempuan. Yang ia lihat, semenjak berpisah dengan Sandra, sudah tidak terdengar lagi kedekatan Ivan dengan siapa pun.  Ia menggelengkan kepala tak percaya mendengar kalimat terakhir Hari yang mengatakan bahwa bos mereka akan segera menikah.

__ADS_1


Kini ia berdiri di hadapan Ivan yang duduk dengan serius menghadapi laptopnya. Ivan tidak menyadari kehadiran Roni karena fokus memandang foto-foto masa kecil Khaira yang sangat menggemaskan. Ia merasa puas dengan pekerjaan Yoga, karena telah menemukan apa yang ia cari. Ia  benar-benar terkejut menyadari betapa ia telah meremehkan kehidupan Khaira sejak awal.


Senyum terbit di wajah Ivan  melihat foto Khaira saat tubuhnya masih berisi, sehingga  ia pernah berprasangka bahwa Abbas telah menghamili tunangannya saat terjadinya pernikahan kilat antara mereka. Ternyata di galeri keluarga yang dimiliki Ariq banyak foto selfi Khaira dengan berbagai pose bersama Fatih kembarannya. Dan kini Ivan menyadari bahwa Khaira memang memiliki kecantikan alami dengan mata beningnya yang membuat siapa pun akan terhanyut saat memandangnya.


“Maafkan aku Bas, karena telah mengambil sesuatu yang bukan milikku. Tapi aku berjanji akan membuat Rara bahagia,” Ivan berikrar dalam hati.


“Serius sekali bos,” sapaan Roni membuat Ivan dengan cepat menutup laptopnya.


Ia belum siap untuk mengatakan pada Roni bahwa ia telah jatuh cinta dan akan segera menyunting Rara. Ia tidak tau bagaimana tanggapan Roni saat mengetahui bahwa secepatnya ia akan menikahi janda Abbas, perempuan yang telah ia remehkan sejak awal bahkan kini telah mengandung anaknya.


Kini Roni dapat melihat wajah bosnya dengan jelas. Ia terkejut melihat wajah Ivan yang biasanya bersih, mulus kini terlihat lebam kebiru-biruan. Ia menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sudah hampir 10 tahun ia mengikuti Ivan baru kali ini ia melihat pemandangan berbeda wajah tampan Ivan.


“Apa bos akan segera menikah?” Roni langsung menanyakan hal yang di luar dugaan Ivan.


“Apa lagi yang dikatakan Hari?” Ivan malah membalikkan pertanyaan Roni,


Ia ingin melihat reaksi Roni saat mengetahui kebenaran yang terjadi antara ia dan janda almarhum Abbas, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakui semuanya. Dan ia siap menghadapi kecaman serta apa pun yang akan dikatakan Roni.


“Bos sudah menemukan pengganti Sandra ternyata,” terdengar nada ejekan dalam ucapan Roni, “Ku kira tidak ada perempuan yang sempurna selain Kassandra Wiguna. Aku jadi penasaran perempuan seperti apa yang bisa menaklukkan Ceo New Star Corp?”


Ivan dapat melihat cibiran dari perkataan Roni. Asistennya yang satu ini memang tak segan berkata seenaknya padanya. Tapi Ivan tak pernah tersinggung, karena ia sudah mengetahui sifat Roni yang selalu mengingatkan kebaikan padanya, seperti juga almarhum Abbas. Keduanya adalah sahabat surga bagi Ivan.


Khaira sadar, tak mungkin selamanya ia menyimpan rahasia itu sendiri. Dan ia yakin Hasya-lah orang yang paling tepat untuk  berbagi cerita yang akan selalu ia ingat seumur hidupnya.


Hasya sudah memasang telinga sejak awal begitu Khaira mengajaknya ke taman belakang karena ingin menceritakan sesuatu padanya. Ia memandang wajah Khaira yang tampak murung walaupun masih terlihat senyum tipisnya saat mengajak Babby A berkomunikasi.


Karena melihat Khaira yang belum ada tanda-tanda memulai pembicaraan, akhirnya Hasya menjadi tidak sabar. Ia mengambil Babby A dari pangkuan Khaira dan meminta Diah sang babby sitter membawa Babby A untuk segera ditidurkan.


“Mbak penasaran, sejak kapan kamu mengenal Ivan?” Hasya langsung bertanya begitu tinggal mereka berdua di taman yang tampak teduh di sore yang tenang itu, “Karena dari cerita mas Ariq dia temannya almarhum …. “


Khaira menghela nafas sesaat. Ia ingat cerita Abbas saat menerima tawaran pekerjaan begitu ayahnya meninggal dunia. Khaira pun menceritakan peristiwa itu tanpa mengurangi satu pun pada Hasya.


“Apa kamu sering bertemu Ivan selama kamu berhubungan dengan Abbas?” Hasya terus mengejarnya.


Khaira menggelengkan kepala cepat. Ia memang tidak pernah bertemu langsung. Ia mengetahui sosok Ivan hanya dari cerita Abbas, apalagi ia jarang ke kafe, karena mulai belajar pengelolaan gerai  Kara Jewellery bersama oma Marisa. Sedangkan ia dan Abbas hanya terhubung melalui medsos, karena Abbas  membatasi diri untuk saling bertemu.

__ADS_1


Memang Ivan sering berkunjung ke kafe, tetapi mereka tak penah bertatap muka. Karena kunjungan Ivan semata-mata untuk bertemu Abbas dan lagi Ivan adalah orang sibuk yang tidak pernah mempedulikan siapa pun yang tidak ada hubungan kerja dengannya.


“Jadi kamu tidak pernah berbicara dan saling memperkenalkan diri?”


Kembali Khaira menggelengkan kepala. Seingatnya ia memang tidak pernah bertatap muka apalagi terlibat pembicaraan dengan Ivan selama Abbas masih hidup.


“Aneh …. “ Hasya membatin, “Tidak pernah berbicara, tapi bisa menghamili Rara.”


Hasya sibuk dengan praduga-praduga yang terjadi antara Ivan dan Khaira hingga menyebabkan adiknya bisa hamil.


“Apa kamu tau dia pengusaha terkenal?”


“Tau,” jawab Khaira enteng, “Aa Abbas kan selalu cerita tentang bosnya yang memiliki kekasih model terkenal itu.”


Hasya menggelengkan kepala tak percaya. Bagaimana mungkin Ivan sudah memiliki kekasih, tetapi menghamili perempuan lain. Apa akibat salah kamar seperti di sinetron ikan terbang atau roman picisan yang dulu sering ia baca?


“Mbak yakin Ivan berbuat nekad padamu pasti karena sesuatu hal. Apa mbak boleh tau permasalahan yang terjadi antara kamu dan Ivan?”


Khaira terdiam, mau tidak mau terpaksa ia harus mengakui semuanya. Rasanya berat baginya untuk menceritakan awal pertemuannya dengan Ivan, tapi kalau tidak sekarang kapan lagi ia bisa berterus terang pada Hasya.


Akhirnya Khaira menceritakan awal pertemuan dan pembicaraan pertama yang terjadi antara dia dan Ivan di kafe, semuanya tak terlewatkan. Kekesalan Khaira atas sifat sombong dan angkuh Ivan yang memandang rendah pada mereka yang tidak sederajat dengan mereka, hingga perkataan Ivan yang menuduh dan merendahkannya membuat Khaira kehilangan simpatik dengan sosok sahabat almarhum Abbas.


Dengan terbata-bata dan mulai terisak teringat peristiwa kelam malam itu Khaira  mulai menceritakan semuanya yang membuatnya merasa hancur dan terhina. Bagaimana ia melewati malam terkutuk itu dan berusaha bangkit dari puing-puing kehancuran agar tetap tegar. Ia teringat wajah-wajah saudara serta orang terdekat yang selalu mendukungnya, hingga alasan ia pergi ke luar negeri.


Hasya tertegun mendengar pengakuan Khaira yang telah berurai air mata menceritakan kisah kelam yang ingin ia lupakan. Ia memeluk adiknya dengan berbagai perasaan yang sukar ia lukiskan. Ia tau, betapa berat musibah yang dihadapi Khaira, mungkin kalau ia sendiri berada disituasi yang sama, belum tentu ia sanggup menjalaninya. Menjalani status janda tepat setelah satu jam pernikahan, dan kini dilecehkan hingga hamil adalah sesuatu yang tragis dan memilukan.


Setelah beberapa saat terdiam dengan pikiran yang masih berkecamuk, akhirnya Hasya mulai melepaskan pelukannya pada Khaira. Ia memandang adiknya dengan lekat.


“Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?” Hasya bertanya dengan penuh perhatian.


Khaira menghapus sisa air mata yang masih menggenang di sudut mata dengan ujung jilbabnya. Perasaan lega mulai menyelimuti perasaannya. Berterus terang pada Hasya membuat sebagian beban berat yang ia tanggung mulai terangkat, apalagi ia tidak sendiri. Semua saudara kini menjadi pelindung dan akan mendampinginya melalui hari-hari yang akan datang.


“Apa pun yang keluarga putuskan aku akan menurutinya. Karena aku sadar, aku tidak sendiri. Terima kasih telah memahami kondisiku.” Khaira menghela nafas setelah menumpahkan semua isi hatinya pada Hasya. Dan ia sangat beruntung karena memiliki saudara yang sangat memperhatikan bahkan di saat ia terpuruk dan merasa sendiri.


“Bagaimana mungkin kami membiarkan adik kesayangan terpuruk sendiri. Bisa bangkit almarhum papa dari kuburnya jika itu terjadi,” Hasya berusaha membuat Khaira tersenyum dengan candaan recehnya.

__ADS_1


 


Selamat menikmati liburan. Sayang kalian semua yang selalu setia mendukung Khaira dan Ivan. Jangan lupa Vote, kritik, saran dan like untuk keberlangsungan dunia halu author.  Love love love   muachhhhh .......


__ADS_2