Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 243 S2 (Kenapa Ada Rasa Yang Berbeda?)


__ADS_3

“Assalamu’alaikum .... “ Khaira memberi salam ketika mampir ke rumah ustadzah Fatimah untuk berpamitan.


“Wa’alaikumussalam warah matullahi wabarakatuh,”  ustadz Hanan yang kebetulan berada di beranda rumah dan sedang mengobrol bersama Kyai Abdullah mertuanya menjawab dengan cepat.


“Ustadzah .... pagi sekali kemari ada keperluan apa?” Kyai Abdullah memandang Khaira sambil mengerutkan keningnya.


Ia sudah mengetahui rencana putrinya ustadzah Fatimah yang ingin meminang Khaira untuk menjadi madunya. Pihak keluarga bahkan istri Kyai Abdullah tidak menolak keinginan putrinya. Mereka pun menyukai keberadaan  Khaira dan si kembar diantara keluarga mereka. Hanya tinggal menunggu keputusan ustadz Hanan.


“Kyai .... “ Khaira menunduk dengan takjim, “Saya selama dua hari ke depan akan pergi bersama si kembar, karena ada acara keluarga.”


Kyai Abdullah manggut-manggut penuh wibawa, “Baiklah ustadzah, kami memakluminya. Semoga acaranya berjalan dengan lancar.”


“Terima kasih Kyai. Mohon sampaikan salam saya buat ustadzah Fatimah,” ujar Khaira pelan, “Assalamu’alaikum .... “


Ia pamit undur diri tidak nyaman menunggu berlama-lama di hadapan kedua laki-laki yang bukan muhrimnya, apalagi melihat tatapan tajam dari ustadz Hanan yang penuh selidik.


Saat Khaira telah berlalu dari hadapan keduanya, Kyai Abdullah langsung mengalihkan tatapan pada menantunya. Ia tersenyum samar  melihat  ustadz Hanan masih memandang kepergian Khaira hingga hilang dari pandangan mereka.


“Bagaimana Gus?” sapaan Kyai Abdullah pada mantunya membuat ustadz Hanan tercenung.


Ia menghela nafas perlahan. Sudah lebih dari enam bulan keluarga besar istrinya menanyakan kepastian padanya. Namun sampai detik ini, ia masih belum memberikan keputusan. Memang ia akui, hari-hari belakangan ia terus memantau dan mengamati semua perilaku bundanya si kembar.


Ustadz Hanan melalui pengamatannya yang jeli menangkap sesuatu yang disembunyikan Khaira. Ia tidak tau pasti apa itu, tapi ia yakin bahwa bundanya si kembar memiliki rahasia besar dalam hidupnya. Dan ia sedikit kagum akan kemampuan Khaira menyembunyikan itu semua lewat ketegaran yang ia tampilkan dalam keseharian.


“Saya belum bisa memutuskan Abah .... “ ujar ustadz Hanan pelan.


Ia akui bundanya si kembar secara penampilan maupun perilaku memang patut diacungi jempol. Kriteria seorang istri idaman sudah menyatu dalam dirinya. Sebagai lelaki normal yang melihat dari kacamata awam tak dapat ia pungkiri, memandang perempuan muda yang masih enerjik membuat bersemangat menjalani hari, tapi ia masih ingin meyakinkan bahwa apa yang diminta istrinya adalah bentuk kerelaan dan ketulusan semata-mata karena Allah bukan karena yang lain.


“Semua Abah serahkan padamu dan Fatimah, semoga kalian menemukan jalan yang terbaik untuk pernikahan kalian.”


“Terima kasih Abah,” ustadz Hanan mengangguk ta’jim pada mertuanya  yang semakin sepuh. Ia akan memohon petunjuk kepada Yang Kuasa untuk memberikan pencerahan padanya dalam memutuskan perkara yang cukup rumit baginya.


Berpoligami memang disunahkan dalam Islam asal memenuhi syarat dan rukunnya serta kesediaan dari semua pihak. Meski poligami termasuk perkara yang disyariatkan dalam Islam, namun bukan berarti otomatis menjadi suatu hal yang dianjurkan.


Firman Allah QS. An-Nisa ayat 129 yang artinya “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”


Mengingat firman Allah tersebut yang membuat ustadz Hanan berpikir panjang untuk menyetujui keinginan sang istri. Ia khawatir tidak bisa berlaku adil. Terlebih lagi jika ia menikah dan memiliki keturunan sendiri maka hatinya lama kelamaan mulai terbelah dan ia tidak sanggup menyakiti hati ustadzah Fatimah. Akhirnya hanya kepada Allah-lah ia akan berserah untuk menemukan jalan terbaik.


Sementara itu di sebuah  restoran mewah sudah berkumpul keluarga besar Khaira. Hari ini mereka akan merayakan ulang tahun si kembar yang ke dua. Ali yang telah memprakarsai acara ini. Ia merasa prihatin dengan kehidupan si kembar yang sangat sederhana berbaur di pondok yang sangat jauh dari  pusat kota.

__ADS_1


Walau pun ia dan Rheina telah membuat area bermain kekinian di kediaman Khaira tetap saja mereka merasa itu masih jauh dari kata pantas mengingat lokasi yang berada di kawasan pedesaan.


Aula restoran sudah disulap dengan dekorasi yang serba wah. Baru kali ini mereka merayakan secara mewah. Khaira selalu mengelak saat satu tahun pertama si kembar Ariq dan Ira menghubunginya untuk merayakan. Ia tidak ingin si kembar menjalani kehidupan yang serba hedonis.


Akhirnya saat itu mereka merayakan bersama di pondok dengan dipimpin oleh ustadz Hanan.  Khaira meminta biaya yang telah dipersiapkan Ariq dan  Ira diserahkan pada pengasuh pondok untuk berbagi bersama.


Kini ia tidak bisa menolak, apalagi melihat keantusiasan Fajar dan Embun saat berkumpul bersama sepupunya yang lain. Khaira tersenyum melihat Embun serta ponakannya yang perempuan menggunakan gaun princess.


"Atu dadi inces syantikk .... “Embun berputar-putar menunjukkan gaun yang diberikan Rheina.


Khaira memeluk putrinya yang menggunakan gaun princess Elsa berwarna biru laut lengkap dengan mahkotanya.


“Cantiknya putri bunda .... “ Khaira menciumnya dengan gemes. Ia tidak menyangka pesta kali ini benar-benar meriah dan sangat di luar dugaannya.


“Ihh bunda ... ilang syantikknya .... “ suara kenes Embun membuat semua tertawa.


“Siapa yang kasih dede gaun syantik ini hm .... ?” Khaira membelai rambut Embun yang bermahkota.


“Mami .... “ Embun menunjuk Rheina yang mengacungkan dua jempol padanya.


“Sudah bilang terima kasih pada mami?” Khaira menatap penuh kasih pada putri cantiknya.


Khaira tinggal geleng kepala melihat semuanya. Kini Ariq dan Ira mendekati keduanya dengan membawa box besar.


“Ini kado dari mama dan papa .... “ Ira meletakkan box besar yang sudah dibungkus dengan cantik.


“Telima kasih papa mamaa .... “ Embun memandang dengan takjub kado besar yang kini disimpan Ariq di hadapannya.


“Sayang papa dulu dong  princess yang cantik .... “ Ariq berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Embun.


Dengan penuh semangat Embun mencium pipi Ariq sambil tertawa senang kemudian memeluknya dengan erat.


“Dede Embun sini .... “ panggil Khansa putri Ali yang kini berusia 9 tahun.


Ia dan putri Fatih yang berusia enam tahun bernama Aliyah serta Aqeela putri sambung Hasya tampak bersemangat membawa balon warna-warni.


“Jaga dede ya sayang .... “ Rheina mengingatkan putri semata wayangnya untuk menjaga adik-adiknya yang lain.


Mereka kini terlibat perbincangan hangat sekaligus saling mencurahkan kerinduan karena sudah lama tidak saling mengunjungi karena kesibukan dan aktivitas masing-masing.

__ADS_1


Di ruang resepsionis Ivan masih berkompromi dengan petugas restoran. Hari  ini ia sudah berjanji untuk bertemu dengan pengusaha dari Jambi yang ingin membuat iklan tentang Sail Sabang Propinsi Jambi.


Ia merasa kecewa karena aula yang luas biasa digunakan sebagai tempat jamuan para tamu kini telah dialih fungsikan karena telah disewa oleh seseorang untuk pesta ulang tahun putri mereka.


“Maafkan kami tuan .... “ resepsionis yang ber-name tag Ajeng merasa tidak nyaman, karena Ivan juga pelanggan potensial  restoran mereka.


Danu yang sudah sejak awal memesan tempat memandang Ivan dengan perasaan khawatir melihat raut muka Ivan yang mulai berubah.


“Kami bisa menyiapkan ruangan di samping jika tuan bersedia,” Ajeng berkata dengan senyum ramah, “Tempatnya tak kalah menarik.”


“Tuan Syamsul 15 menit lagi akan tiba di sini Bos,” Danu memandang Ivan sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


“Baiklah,” terpaksa Ivan menerima penawaran pihak restoran.


Sudah tidak memungkinkan baginya untuk reservasi di restoran lain. Apalagi sekarang sudah jam makan siang. Otomatis semua pegawai kantor sedang istirahat maka jalanan akan macet dipenuhi para karyawan yang ingin mencari tempat untuk makan siang.


Sambil memandang ponselnya Ivan berjalan menuju ruangan mengikuti resepsionis yang mengantarkan mereka menuju tempat uang dimaksud.


Tiba-tiba di luar dugaan seorang bocah perempuan berlari sambil membawa balon dengan suara tawa renyahnya.


“Hup!” Ivan segera menangkap si bocah yang hampir terjatuh karena gaun princesnya terlalu panjang melebihi dirinya.


Sejenak Ivan terpaku. Ia memandang lekat bocah cantik  menggemaskan  yang kini berada dalam rengkuhannya.


“Telima kacih om .... “ mata bening bulat memandangnya sambil tersenyum lebar.


Perasaan hangat tiba-tiba menjalar di sanubari Ivan saat  itu si cantik mungil memandangnya dengan hangat. Aroma wangi bayi begitu memanjakan penciumannya. Rasanya berat bagi Ivan untuk menurunkan si mungil dari gendongannya. Ada perasaan yang berbeda saat ia merengkuh gadis mungil itu.


“Dede Embun .... “ suara bariton menghentikan tatapan Ivan pada si mungil.


Ia terkejut melihat  kakak iparnya Ali yang berjalan diiringi beberapa bocah perempuan yang menggunakan gaun princess yang berbeda.


“Selamat siang mas Ali .... “ dengan cepat Ivan menyapanya. Ia tidak menyangka akan bertemu keluarga besar Khaira.


Jantungnya berdetak cepat. Ia yakin pasti Khaira ada diantara mereka. Tatapan tajam Ali memandang Ivan dengan raut tidak senang. Apalagi melihat Embun yang masih anteng dalam gendongan Ivan.


“Sini sama papi .... “ tanpa menghiraukan sapaan Ivan, dengan cepat Ali meraih Embun dari gendongan Ivan.


“Ba ... bai ... “ Embun melambaikan tangan sambil menyunggingkan senyum pada Ivan.

__ADS_1


Sejenak dunia terasa berhenti saat Ivan mengamati kepergian Ali dan si mungil cantik yang telah memberikan rasa yang berbeda di hatinya. Ivan tidak tau apa yang terjadi dengan hatinya. Kenapa rasanya begitu berbeda? Masih terasa harum lembut aroma bayi yang melekat di indera penciumannya. Ivan tak habis pikir yang terjadi saat ini.


__ADS_2