
Dengan perasaan berdebar Laras mengikuti langkah Ivan memasuki ruang SVIP di paviliun anak. Jantungnya berdetak semakin cepat. Saat telah tiba di sebuah kamar detak jantungnya semakin tak terkontrol.
“Apa yang terjadi dengan cucu-cucuku?” Laras sudah merasa tidak nyaman dengan wajah sedih Ivan yang tergambar jelas.
“Si kembar terkena DBD …. “ jawab Ivan lirih, “Sudah tiga hari mereka dirawat di sini. Sekarang sedang menjalani fase kritis.”
“Ya Allah …. “ Laras menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Berita terbaik seumur hidup yang ia dapat hari ini tetapi menyiratkan kesedihan yang tak bisa ia tutupi mengetahui kondisi sebenarnya.
“Assalamu’alaikum …. “ Ivan menggandeng mamanya memasuki ruang perawatan si kembar.
Semua mata tertuju pada Laras yang baru kali ini datang dan mengetahui keberadaan cucu-cucunya. Ternyata semua sudah berkumpul di dalam ruangan si kembar termasuk ustadz Hanan dan istrinya yang kebetulan datang untuk membezuk si kembar.
Dengan langkah perlahan Laras berjalan mendekati bed tempat tidur si kembar yang kini sudah bangun dan digendong Fatih dan Ariq dalam keadaan masih lemah.
Melihat kedatangan Ivan, Embun yang berada dalam gendongan Ali langsung bereaksi dan memanggilnya.
“Syama ayah …. “ suaranya terdengar di ruangan yang tenang itu.
“Bersihin diri dulu sebelum mengambil Embun,” suara Hasya membuat Ivan yang berjalan mendekat langsung memutar.
Tanpa protes dengan ucapan Hasya, Ivan langsung mencuci muka dan tangannya di wastafel dan mengeringkannya dengan tisu yang tersedia di samping wastafel.
“Ayo sama ayah …. “ ia langsung meraih Embun yang memeluknya dengan erat.
Mata Laras berkaca-kaca melihat pemandangan yang terjadi. Bibirnya terasa terkunci tidak bisa mengucap apa pun, setelah melihat wajah si kembar.
“Tante …. “ Khaira merangkul Laras yang terpaku seperti patung dan membawanya duduk di kursi samping bed si kembar.
Ivan melihat interaksi antara Khaira dan mamanya. Ia merasa lega karena sikap bundanya si kembar tidak berubah dengan mamanya, walau pun sapaannya yang berbeda.
“Suhu tubuh si kembar mulai turun, tetapi kita masih harus waspada. Karena DBD ini seperti pelana kuda. Di hari ketiga suhu rendah bukan berarti demam mereka turun,” Hasya mulai berkata agar semua tetap tenang.
Ustadz Hanan dan istrinya berjalan mendekati Ivan. Tangannya mengusap lembut kepala Embun dan Fajar yang berada dalam gendongan Fatih.
“Si kembar abi cepat sehat ya. Nanti kita main bersama lagi,” ia berkata dengan lembut dan tulus mendoakan kesehatan bagi si kembar.
Laras memandang keduanya dengan nanar. Ia belum mampu untuk berbicara, masih syok menyadari bahwa si kembar yang ia temui tempo hari dan telah mencuri hatinya memang darah dagingnya sendiri.
“Tante, saya dan istri pamit dulu terlanjur masih siang,” ustadz Hanan mengangguk penuh hormat padanya.
“Iya nak Farouq,” Laras tersenyum tipis.
Kini ruangan hanya tinggal mereka dalam keheningan sibuk dengan pikiran masing-masing. Laras tidak tau harus memulai dari mana.
“De, kami pamit. Besok pasti kemari lagi,” Ira segera bangkit dari kursi dan mendekati Embun dan Fajar, “Besok mama dan papa datang lagi. Cepat sembuh ya sayang …. “
__ADS_1
Laras melihat interaksi mereka dengan mata berkaca-kaca. Kedua cucunya tampak lemah tak berdaya. Di saat pertemuan pertama mereka, ia melihat keduanya tampak lincah bersemangat. Bayangan saat Bobby merebut mainan di tangan Fajar melintas di benak Laras. Ia menyesal karena membiarkan kejadian itu dan tidak mencegah Bobby melakukan perbuatan itu.
“Kami permisi dulu …. “ Ariq mendekati mereka.
Tatapan Ariq beralih pada Laras yang masih duduk berdampingan di bed dengan Khaira. Ia tidak dapat mengartikan sorot mata Laras yang tak teralihkan dari si kembar.
“Tante, Ivan …. “ Ariq menyalami Ivan sejenak kemudian berpindah pada Laras yang masih terdiam tetapi senyumnya tampak tersungging di bibirnya, “Kami pamit.”
“Terima kasih mas,” Ivan menganggukkan kepala saat menjabat tangan Ariq.
Ia mencium Fajar dan Embun bergantian. Saat ia baru tiba, Ali telah menceritakan keinginan Ivan untuk memberitahu mamanya keberadaan si kembar. Ariq tak berkomentar apa pun. Ia yakin, cepat atau lambat pertemuan ini pasti akan terjadi. Ia berharap semua akan baik-baik saja dan tidak akan menimbulkan permasalahan lagi di kemudian hari.
Ia percaya bahwa Ivan akan menghormati keputusan Rara, dan ia menghargai apa pun yang akan jadi keputusan mereka.
Ali meminta Rheina untuk ikut pulang bersama Fatih dan Kia. Ia ingin menemani Khaira saat menghadapi Laras. Ia khawatir jika Laras perkataan Laras akan menyinggung adiknya.
Khaira meraih Fajar yang kini mulai menguap dalam gendongan Fatih. Keduanya hari ini benar-benar rewel tidak mau dilepas.
“Terima kasih mas,” Khaira melihat Fatih mulai melemaskan persendiannya setelah seharian ini menggendong Fatih yang rewel tidak mau dilepas.
“Besok aku dan Kia agak sore baru bisa kemari,” ujarnya pelan sambil membelai rambut Fajar, “Pakaian si kembar akan kami bawa sekalian.”
Azkia segera membereskan pakaian-pakaian kotor Khaira dan si kembar yang telah disiapkan dalam satu tempat.
Hasya berjalan menghampiri Khaira dan Laras yang masih duduk berdampingan di bed milik si kembar.
Hasya mencium Fajar yang kini mulai memejamkan mata dalam gendongan Khaira. Ia membelai rambut Embun yang masih menikmati kebersamaan dengan sang ayah.
Valdo mendekati Ivan dan menyalaminya dengan hangat kemudian mendekati Laras.
“Apa kabar tante,” sapa Valdo dengan sopan.
“Alhamdulillah tante merasa lebih sehat sekarang,” akhirnya Laras mampu mengatasi suasana hatinya yang tadi masih belum normal dari keterkejutannya atas keberadaan kedua cucunya.
Melihat Fajar yang mulai terlelap, dengan pelan Khaira segera membaringkannya di bed dan mengelus punggungnya agar merasa nyaman.
“Bobo ayah …. “ suara Embun terdengar pelan di telinga Ivan.
“Ya, sayang … bobo aja. Ayah di sini …. “ ujar Ivan lembut sambil mencium pipi lembut putrinya
Laras tidak tau perasaannya saat ini. Kebahagiaan berlipat-lipat ia rasakan mengetahui bahwa ia memiliki sepasang cucu kembar yang cantik dan tampan. Tatapan Laras begitu lekat memandang Fajar yang kini tenang dalam tidurnya. Jemarinya gemetar saat menyentuh Fajar dan membelai kepalanya dengan mesra.
“Cucuku yang tampan …. “ bibirnya bergetar saat mengatakan itu, “Maafkan eyang yang baru mengetahui keberadaan kalian …. “
Khaira hanya terdiam mendengar perkataan Laras. Ia tidak ingin memikirkan apa pun. Kesepakatan yang telah ia buat adalah harga mati yang tidak bisa ditawar siapa pun.
“Tante saya permisi mau salat dulu …. “ tanpa memandang Ivan, Khaira bergegas membuka lemari pakaian yang tersedia.
__ADS_1
Selintas Laras mengamati bahwa ada kekakuan yang terjadi antara Khaira dan Ivan. Ia melihat sikap Khaira begitu dingin dan tidak memandang keberadaan Ivan walau pun mereka berhadapan.
Setelah Embun mulai terlelap dengan nyaman, Ivan segera membaringkannya di sisi Fajar yang dipisahkan oleh bantal besar. Ia mencium keduanya dengan penuh kasih.
Begitu Khaira memasuki kamar mandi, Ali langsung menghampiri Laras dan Ivan yang kini duduk memandang kedua malaikat kecil yang tertidur dengan nyaman.
“Saya harap tante tidak berbicara yang aneh-aneh dengan Rara,” Ali langsung ke topik pembicaraan. Ia tidak ingin berbasa-basi.
“Maksudmu?” Laras tidak paham dengan perkataan Ali.
“Jangan pernah mengungkit masa lalu yang terjadi antara Ivan dan Rara. Biarkan semua berjalan seperti apa yang telah disepakati mereka,” Ali berkata dengan tegas.
“Ma, kita tidak bisa membawa si kembar pulang ke rumah. Tapi Rara mengijinkan jika kita ingin mengunjungi si kembar,” Ivan mengatakannya dengan perasaan sedih.
Laras menggelengkan kepala tak percaya mendengar perkataan Ivan. Ia akan membicarakan ini dengan Khaira dari hati ke hati. Ia yakin Khaira bukanlah perempuan yang kejam dan tak mempunyai hati nurani. Apalagi hubungan mereka di masa lalu sangatlah dekat.
“Ku harap tante menghormati keputusan Rara. Terlalu banyak kekecewaan dan rasa sakit yang ia alami di masa lalu. Jadi jangan pernah untuk meminta Rara berbuat melebihi apa yang ia putuskan.”
Laras terdiam berusaha mencerna perkataan Ali. Ia memandang Ivan yang menganggukkan kepala padanya.
Khaira telah selesai melaksanakan salat Asar. Penampilannya lebih segar. Ia mendekati Laras. Dan duduk di sampingnya.
“Tante sudah makan?” ia bertanya dengan sopan, “Mbak Ira telah membawakan makan siang untuk kita semua. Saya akan menyiapkannya.”
Dengan cepat Khaira bangkit. Sejak siang ia belum merasakan sesuap nasi karena rewelny si kembar. Kini kesempatan itu telah datang.
Laras terus mengamati Ivan yang tak melepaskan tatapannya dari Khaira yang kini menyiapkan makanan di atas meja. Ia merasa bahwa hubungan keduanya tidak normal. Tatapan penuh harap tergambar di wajah Ivan, sedangkan Khaira cenderung dingin tak peduli.
Beberapa saat yang lalu Ali telah pamit untuk pulang. Keheningan terjadi. Khaira telah terlelap di samping Fajar. Kini tinggal Laras dan Ivan yang masih berbincang di sofa.
Laras meminta Ivan menceritakan semua tentang awal pertemuannya dengan si kembar. Dan alasan Ivan tidak memberitahunya hingga saat ini.
Secara perlahan Ivan menceritakan pertemuan demi pertemuan antara ia dan Khaira serta si kembar tanpa tersisa. Harapannya yang belum terkabul untuk kembali bersama dengan Khaira dengan membawa si kembar bersama mereka tak lupa ia sampaikan pada Laras.
“Jadi selama tiga tahun ini ia tinggal di pondok nak Farouq?” Laras menggelengkan kepala tak percaya mendengar cerita Ivan tentang keberadaan Khaira dan si kembar.
“Benar ma. Malahan Hanan ingin memperistrinya agar Embun dan Fajar memiliki ayah sambung,” Ivan berkata dengan tidak bersemangat, “Aku mohon doa mama agar Rara bisa menerimaku kembali.”
Laras memandang Ivan dengan perasaan sedih. Ia sadar, mereka memang banyak melakukan kesalahan pada Khaira dan mereka akan bertanggung jawab atas semua yang pernah terjadi.
“Aku tidak akan bahagia jika terpisah dari mereka,” Ivan menatap ketiganya dengan lekat, “Aku akan memperjuangkan mereka kembali.”
“Mama akan mendukungmu jika itu yang ingin kamu lakukan,” Laras berkata dengan sungguh-sungguh, “Tidak ada lagi yang mama inginkan selain kebahagiaanmu apalagi dengan si kembar yang tampan dan cantik, menjadi kado terindah buat mama.”
“Apa mama ingin pulang sekarang? Hari sudah larut …. “ Ivan melirik jam di pergelangan tangannya.
“Mama ingin di sini bersama cucu-cucu mama.”
__ADS_1
“Baiklah jika mama menginginkannya,” Ivan menyetujui keinginan mamanya.