
Mendengar suara yang sedang berbicara membuat Khaira tersadar. Ia membuka mata secara perlahan. Ia terkejut menyadari bahwa dirinya berbaring di tempat tidur bersama Fajar. Perasaan kemaren ia duduk di kursi bawah.
Ia terkejut melihat ketiga saudaranya sedang berbicara dengan Ivan yang masih tetap dengan Embun di dalam gendongannya. Khaira merasa kecewa melihat Embun yang tidak mau terlepas dari Ivan. Ia segera bangkit dari pembaringan.
“Kapan mas nyampe?” ia langsung bertanya pada Ali yang kini berjalan ke arahnya.
“Barusan nyampe,” Ali tersenyum padanya.
Khaira segera turun dari bed. Ia akan melaksanakan salat Subuh. Sekarang ia tak khawatir untuk meninggalkan si kembar karena ketiga saudaranya ada di sampingnya.
“Mas, titip Fajar. Aku mau salat Subuh,” ia berkata pelan tanpa mempedulikan tatapan lekat Ivan padanya.
“Baiklah,” Ali menjawab singkat.
Khaira segera membuka lemari tempat ia menyimpan segala keperluan si kembar serta mukena yang selalu ia bawa dalam keadaan mendesak.
“Selamat pagi .... “ dua orang perawat memasuki ruangan dengan membawa alat injeksi untuk diberikan pada si kembar.
“Silakan Sus .... “ Khaira tersenyum tipis pada kedua perawat yang ramah tersebut.
“Saatnya menyuntikkan obat penurun panas buat si kembar ya.”
Khaira kembali mendekati Fajar yang mulai merengek karena badannya masih hangat dan tidak merasakan kehadiran Khaira di sisinya.
“Bunda .... “ isaknya mulai terdengar karena hanya melihat Ali di sisinya.
“Bunda di sini sayang .... “ Khaira bergegas menghampiri Fajar dan segera menggendongnya dengan cepat.
Ia mengelus punggung Fajar ketika jarum injeksi mulai disuntikkan ke dalam selang infus Fajar. Ia merasa nyeri sendiri ketika melihat Fajar meringis saat jarum menancap di selang dan mulai memasukkan obat di dalamnya.
“Sabar ya sayang, mas akan sembuh kembali. Nanti kita jalan-jalan ya .... “ Khaira berkata pelan sambil membelai rambut putranya dengan penuh kasih.
Kini kedua perawat berpindah pada Embun yang masih anteng dalam gendongan ayahnya.
Rasanya tak tega Ivan melihat kedua buah hatinya dalam keadaan sakit, dengan jarum infus yang kini tertanam di jari mungil keduanya. Kini ia menahan nafas saat perawat mulai menyuntikkan obat penurun panas ke dalam selang infus di tangan Embun.
“Terima kasih ya. Jam tujuh nanti kami akan mengambil sample darah si kembar. Permisi .... “ keduanya segera berlalu dari hadapan mereka.
Setelah para perawat tidak berada di dalam ruangan, Khaira berpamitan pada Ali untuk menjaga Fajar yang mulai kembali merasa mengantuk.
Kini ruangan kembali sepi, karena Khaira sudah tidak berada dalam ruangan, dan Embun kembali tertidur karena masih dipengaruhi obat yang telah disuntikkan di dalam selang infusnya, Ariq bermaksud membuka percakapan dengan Ivan setelah si kembar kembali tenang dalam pengaruh obat.
Ariq tersenyum tipis melihat penampilan Ivan yang hanya menggunakan kaos oblong serta kain sarung yang melekat di pinggangnya. Ia memandang dengan seksama saat Ivan meletakkan Embun kembali ke bed dan menyelimutinya. Saat Ivan mencium si kembar pun tak lepas dari penglihatannya. Ia memberi kode agar Ali dan Fatih duduk bersamanya di sofa yang agak berjarak dengan bed si kembar.
Ivan melihat ketiganya sudah duduk bersama di sofa. Berbagai spekulasi muncul di benaknya akan apa yang bakal diucapkan saudara Khaira, dan ia harus siap mendengarnya walau sesakit apa pun. Sebelum Ariq memulai percakapan Ivan langsung menyampaikan isi hatinya.
“Mas, tolong jangan pisahkan aku dengan anak-anakku,” Ivan sudah tidak bisa menahan perasaannya. Ia harus mengungkapkan apa yang ada di hatinya, “Aku tau kesalahanku tidak bisa dimaafkan. Tapi aku mohon demi Embun dan Fajar .... “
“Tidak semudah itu,” Ali langsung memotong perkataan Ivan, “Kau pikir bisa kembali setelah meninggalkan luka pada Rara juga kekecewaan pada kami. Tenyata keputusan untuk mengizinkan kamu menikahi Rara sejak awal sudah salah.”
“Mas .... “ Fatih merasa khawatir jika suara Ali membuat si kembar terbangun.
__ADS_1
Ia pun sependapat dengan Ali. Setelah kekecewaan dan kesakitan yang dialami Khaira tidak mungkin mereka dengan mudah memaafkan semua perbuatan yang dilakukan Ivan.
“Aku siap menukar semua yang ku miliki selama aku diijinkan bersama anak-anakku,” Ivan berkata dengan perasaan getir, “Aku ingin bersama mereka. Mohon ... demi si kembar maafkan semua kesalahan yang pernah ku lakukan di masa lalu ....”
Ia tau apa pun yang ia katakan rasanya sulit untuk dimaafkan saudara Khaira apalagi untuk kembali bersama, tentu bukanlah perkara yang mudah untuk ia lalui. Tetapi kembali lagi semua sudah jadi skenario Allah.
Segala sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia tetapi jika Allah menghendaki, maka sekuat apa pun manusia berencana maka segala keputusan adalah menjadi hak Allah untuk mempermudahnya. Ivan sangat meyakini itu. Dengan ketulusan niat dan keikhlasan untuk menerima semuanya ia yakin, Allah-lah sebaik-baik pembuat keputusan
“Kau pikir kami kekurangan harta?” Ali berkata sinis, “Kami tidak memerlukan sepesermu dari uang yang kau miliki.”
“Hm .... “ Ariq mulai bersuara.
Ia tidak bisa membiarkan percakapan yang mulai memanas. Jika seperti ini maka masalah tidak akan ada akhirnya dan yang akan menjadi korban adalah si kembar.
“Aku sadar kematian, kelahiran, dan semua yang terjadi adalah sebuah proses perjalanan hidup yang akan selalu kita alami. Tidak ada manusia yang sempurna, selalu ada celah untuk melakukan kesalahan,” Ariq berkata dengan bijak, “Kita tidak bisa memvonis dan menghukum manusia bersalah atau tidak karena semua sudah menjadi kehendak Allah.”
“Mas ... “ kini Fatih pun merasa keberatan mendengar perkataan Ariq. Ia yakin perasaan Ariq tersentuh atas sikap Ivan pada ponakan mereka.
“Aku tidak setuju jika dia berkumpul kembali dengan Rara dan ponakanku,” Ali berkata dengan tegas menyambung Fatih.
Ivan diam tak berkutik. Sebenarnya ia keberatan berbicara di dalam ruangan yang ada kedua buah hatinya. Tapi ia yakin, ketiganya tidak akan memberinya waktu untuk duduk bersama di lain tempat.
Ia hanya berdoa dalam hati semoga si kembar tetap tenang dalam tidurnya dan tidak terganggu dengan percakapan yang terjadi antara mereka sesama orang dewasa. Ivan pun berharap semoga pembicaraan yang akan mereka lakukan bisa memberikan jalan keluar terbaik khususnya bagi dirinya pribadi.
“Kita tidak bisa memutuskan ini sepihak,” Ariq kembali berbicara menimpali ucapan tegas Ali. Ia pun sama dengan Ali masih kecewa dengan semua yang telah terjadi.
“Apa kita menerima begitu saja dan memberi maaf setelah apa yang ia lakukan pada Rara?”
Keempatnya langsung terdiam menghentikan pembicaraan yang tengah memanas membahas hubungan Ivan dan Khaira serta anak-anaknya ke depannya.
“Wa’alaikumussalam,” akhirnya semua menjawab dengan kompak, dengan pandangan penuh kekhawatiran jika Khaira mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Mas .... “ Fatih kembali memandang Ariq untuk meneruskan pembicaraan mereka.
“Ra, kita harus membicarakan ini bersama. Duduklah di sini .... “ Ariq meminta Khaira mendekat dan duduk di sampingnya.
“Saya pamit salat dulu mas,” Ivan tak ingin melewatkan salat Subuh yang sudah hampir habis waktunya.
“Baiklah. Setelah ini banyak yang akan kita bicarakan,” Ariq berkata sambil menatapnya dengan serius.
“Saya mengerti mas.”
Dalam waktu 10 menit Ivan telah kembali di dalam ruangan. Ia melihat Khaira yang masih menyiapkan dua botol susu yang sudah terisi di atas nakas.
Tanpa memandang Ivan yang duduk berseberang dengannya, Khaira menghempaskan tubuh di samping Ariq. Mereka memang harus duduk bersama dan membahas semua dengan kepala dingin.
“Kita semua telah menjalani kehidupan berumah tangga, diawali pernikahan, mempunyai anak dengan segala ujian dan permasalahan di dalamnya.” Ariq memulai pembicaraan, “Setiap permasalah dalam rumah tangga berbeda, tinggal kita menyikapi dan menjadikannya seperti apa.”
Semuanya terdiam mendengarkan perkataan Ariq, tidak ada yang berani menginterupsi, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tatapan Ivan lekat memandang Khaira yang duduk dengan tenang diapit ketiga saudaranya. Sedikitpun Khaira tidak memandang wajahnya. Sesekali tatapan Khaira terarah pada si kembar yang tidak terusik dengan pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Kalian berdua sejak awal ... dan kini telah memilih kehidupan masing-masing,” Ariq memandang Ivan sejenak, kemudian mengalihkan pada Khaira di sampingnya, “Kami sebagai keluarga telah memberikan kebebasan dan keleluasaan kalian untuk memutuskan bahkan dari awal kalian memulai berumah tangga .... “
“Aku tau apa yang mas Ariq pikirkan ... “ Khaira langsung memotong perkataan Ariq. Ia tidak suka membuang waktu untuk pembicaraan yang sangat penting. Ia ingin langsung ke topik pembicaraan.
“Aku sudah memikirkan semalaman .... “ Khaira sengaja menghentikan perkataannya.
Semua terdiam mendengar ucapan Khaira. Ketiganya yakin Khaira akan mengambil keputusan yang terbaik khususnya buat si kembar. Tatapan Ivan dan Khaira bertemu dalam jangka waktu yang lama.
“Aku tau, tak mungkin menutupi kebenaran ini selamanya. Suatu saat si kembar harus tau ayah kandungnya .... “ Khaira berkata dengan tenang.
Perasaan berdebar sekaligus senang membuncah di hati Ivan. Ia tidak menyangka doanya akan terkabul secepat ini.
“Aku akan mengatur jadwal jika ayah si kembar pingin mengunjungi keduanya .... “
“Deg!” perasaan Ivan yang sempat melambung ke udara langsung terhempas seketika.
Ia menatap Khaira yang masih memandangnya dengan raut datar. Wajah ayu yang selalu ia rindukan kini tepat di hadapannya. Mata bening yang biasa memancarkan kesejukan saat ia pandang kini dingin tanpa makna.
“Apakah ini berarti?” Fatih menatap Khaira dengan bingung.
“Demi si kembar,” ujar Khaira yakin, “Aku dan ayahnya bisa bekerja sama untuk mengasuh dan membesarkan mereka hingga dewasa.”
“Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?” Ivan menjatuhkan harga dirinya untuk meminta pada Khaira menerimanya kembali, “Si kembar memerlukan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.”
Khaira tersenyum mendengar perkataan Ivan, “Aku tidak memaksa ayahnya anak-anak, karena hanya itu yang bisa ku tawarkan. Yang lain tidak!”
Khaira sudah memutuskan. Tak mungkin ia menoleh ke belakang. Untuk apa semua usaha yang telah mereka lakukan jika akhirnya kembali bersama. Bukan berarti ia masih mendendam, tidak! Ia telah memaafkan dan melupakan semuanya. Dan ia telah ikhlas menjalani. Tetapi yang perlu orang lain tau, ia selalu konsisten dengan perkataan dan perbuatan yang ia lakukan.
Senyum kepuasan terbit di wajah Ali mendengar keputusan Khaira. Ia mengedipkan mata pada Fatih sambil mengacungkan jempol.
“Baiklah,” Ivan akhirnya menerima walaupun dengan perasaan kecewa.
“Sekarang keputusan telah kalian berdua sepakati. Kami menghormati keputusan kalian,” Ariq berkata dengan perasaan lega, “Semoga si kembar segera sembuh.”
Saat ketiga saudaranya pamit pulang Khaira mengantar hingga ke pintu. Ia enggan untuk berbicara dengan Ivan. Bibirnya mungkin berkata telah memaafkan, tapi luka itu ternyata belum sepenuhnya sembuh. Entah masih perlu beberapa waktu agar ia bisa melupakan semua yang pernah Ivan katakan padanya.
Ivan hanya menahan diri untuk berbicara ketika tinggal dirinya dan Khaira di dalam ruangan itu yang kini sepi seperti tak berpenghuni. Walau pun mereka belum bisa berkumpul satu atap, setidaknya ia mempunyai waktu khusus untuk menemui kedua buah hatinya. Batu saja bisa hancur karena ditetesi air, apalagi hati manusia akan mudah dibolak-balik oleh sang penciptanya. Dan Ivan memegang kuat keyakinan itu. Suatu saat ia akan kembali meluluhkan hati Khaira yang saat ini membeku. Senyum tipis terbit di sudut wajah Ivan membayangkan jika masa itu akan tiba. Entah kapan ....
Tepat jam delapan Danu datang mengantarkan pakaian untuk bosnya. Ia sudah ditelpon Ivan saat melaksanakan salat Subuh. Ia tak bisa menahan senyum karena Ivan hanya mengenakan kain sarung dan kaos oblong tidak sempat berpikir untuk mengganti apa yang ia pakai, saat mendengar si kembar dilarikan ke rumah sakit.
“Semoga si kembar cepat sembuh ya Mbak .... “ doa tulus Danu ucapkan saat mendekati bed tempat Fajar dan Embun berbaring.
“Terima kasih mas Danu. Sampaikan salam saya untuk ibu dan bapak ya ...” Khaira menanggapi ucapan Danu sambil tersenyum.
“Siap Mbak. Ustadz Hanan dan istrinya juga menanyakan keberadaan si kembar. Saya sudah menceritakan kondisi si kembar pada beliau,” ujar Danu sambil memandang dengan prihatin Embun dan Fajar yang masih terlelap dalam tidurnya masing-masing.
Beberapa saat kemudian Danu pergi, Ivan segera membawa travel bag yang berisi pakaiannya ke kamar mandi.
“Aku akan segera kembali,” ujarnya pelan saat melihat Khaira mendekati Embun.
Selama di kamar mandi pikiran Ivan bekerja cepat. Senyum terbit di wajahnya. Langkah awal adalah jadwal kunjungan si kembar. Langkah selanjutnya pendekatan dengan bundanya si kembar. Ya ... ia akan menjalaninya secara perlahan. Biar semua berjalan apa adanya. Tetapi disebalik itu ia akan berdoa dan berikhtiar untuk mengembalikan semua pada tempatnya.
__ADS_1
Keberadaan si kembar atas izin sang bunda akan membuat Ivan mempunyai seribu alasan agar Khaira tetap di sisinya. Seperti pepatah Jawa, alon-alon waton kelakon yang artinya pelan-pelan yang penting tercapai. Semangat Ivan yang tadinya sempat kendor kini kembali lagi.