Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 43


__ADS_3

Malam itu mereka sedang menikmati makan malam dengan tenang. Ariq dan Ali sudah kembali ke kamar bersama pengasuh mereka begitupun Hasya sudah di bawa Lina ke kamar untuk minum susu.


Tiba-tiba kegaduhan terjadi di ruang tamu. Dengan sigap Faiq berdiri dan melangkah menuju ruang tengah ingin melihat penyebab keributan itu.


“Aku tidak menyangka mas Faiq mengkhianati mbak Hani.” Dengan wajah merah padam Hanif menarik kerah baju Faiq siap untuk memukulnya.


“Dek, kamu salah paham.” Hani menarik tangan Hanif yang sudah hampir menyentuh wajah Faiq.


“Mbak telah dibohonginya. Dia telah menikahi rekan sekantornya.” Ujar Hanif berapi-api.


Hani terkejut, karena tidak tau dari mana Hanif mendapat berita itu, “Mbak sudah mengetahuinya. Tapi masalahnya beda…” Hani berusaha membujuk Hanif yang sudah terlanjur emosi.


Akhirnya mereka duduk bersama di ruang keluarga. Hanif dengan serius mendengarkan Faiq menceritakan kembali kronologis pernikahannya dengan Hesti. Hanif merasa kesal setelah Faiq mengakhiri ceritanya.


“Aku yakin perempuan itu memang menunggu kesempatan ini. Dan mas mau aja dijebak seperti itu.” Suara Hanif masih tinggi, ia tidak terima Hani harus dimadu untuk kedua kalinya.


“Tenanglah dek. Kami akan menjalani ini bersama.” Hani berusaha menahan kemarahan Hanif. “Setelah 40 hari  mas Faiq akan menceraikannya.”


“Apa mbak yakin perempuan itu tidak memiliki maksud lain?” Hanif berusaha mempengaruhi  Hani agar tidak terlalu mempercayai cerita Faiq.


“Mbak yakin dengan mas Faiq.” Hani menatap Hanif dengan senyum hangatnya membuat emosi Hanif berkurang.


“Apa jaminan bahwa mas Faiq akan menceraikannya tepat 40 hari?” Hanif masih tidak yakin  dengan ucapan Hani.


“Mbak percaya dengan suami mbak.” Hani menatap Faiq dan Hanif bergantian, “Jika dalam waktu berjalan terjadi sesuatu yang membuatku tidak mampu untuk bertahan, aku akan mengalah…”


“Apa maksudmu sayang?”  Faiq menatap Hani dengan perasaan was-was.


Hani memandang Faiq dengan serius, “Mas pasti mengerti apa yang ku maksud.”


“Mas akan menjaga kepercayaanmu, dan mas berjanji tidak akan menyakiti kamu dan anak-anak.”


Taklama Darmawan dan Marisa menghampiri mereka dan duduk bersama di sofa keluarga itu. Mereka membicarakan persoalan itu dengan kepala dingin.

__ADS_1


“Ayah dan ibu juga terkejut mendengar cerita Faiq, tapi mau gimana lagi semua sudah terjadi. Dan semoga tidak ada masalah lain setelah proses perceraian kalian nanti.” Marisa memandang Faiq dengan seksama.


“Kamu mengetahui pernikahan siri ini darimana?” Darmawan menatap Hanif dengan rasa ingin tahu.


“Wulan bersahabat di medsos dengan Hesti. Dan perempuan itu mengupload foto  pernikahan kalian.”


Mendengar ucapan Hanif tanpa terasa kesedihan hadir menghinggapi Hani. Ia terdiam menahan sesak di dada. Rautnya yang tadinya tenang langsung sendu mendengar foto pernikahan suaminya sudah diketahui banyak orang.


“Kenapa hidupku Kau uji seberat ini, ya Allah…” batin Hani ingin meronta dalam hati.


Faiq mengetahui perubahan pada wajah istrinya. Ia menggenggam jemari istrinya dengan lembut berusaha memberikan kekuatan, “Percaya padaku, ok.”


“Sekarang kalian bisa merundingkan langkah apa yang harus diambil. Kalau sampai 40 hari ke depan perempuan itu bertingkah aneh.”


“Aku yakin Hesti tidak mungkin melakukannya. Kami sudah bekerja bersama selama 4 tahun. Kami akan berpisah baik-baik. Dan aku menjamin itu.” Faiq  berkata dengan penuh keyakinan.


“Besok pagi ayah dan Ibu akan berangkat. Semoga sepeninggal kami, keluarga kalian baik-baik saja.”


Hanif memandang Marisa, “Ibu dan ayah akan pergi ke mana?”


“Bagaimana pernikahan kalian, kapan akan dilaksanakan?” Marisa mengalihkan pertanyaannya mengingat ia mempunyai janji kepada Hanif.


“Ibu dan ayah tidak usah khawatir. Saya dan Wulan hanya mengadakan resepsi pernikahan kecil-kecilan bulan depan, karena Wulan hanya memiliki ibu.”


“Jika kamu perlu biaya, ayah akan menanggungnya. Bagaimana saran ayah kemaren, apa kamu akan memutuskan untuk membuka usaha di sini atau tetap di Medan?”


“Setelah pernikahan kami, akan saya pikirkan kembali, ayah.”


“Baiklah. Apapun keputusan yang menurut kalian baik, ayah akan mendukung.”


Pernikahan siri antara Hesti dan Faiq memang membuat heboh kantor. Beruntung Faiq sudah resign dari sana, sehingga tidak mendengar pergunjingan rekan-rekan mereka. Hesti menunjukkan cincin pernikahannya dengan sangat bangga. Ia tidak memberi tau rekan mereka bahwa lelaki yang ada di foto pernikahannya adalah Faiq.


Seminggu lagi 40 hari kepergian Bambang. Hesti sedang berkemas di apartemen sederhana tempatnya tinggal selama bekerja di Jakarta. Ia akan pulang ke rumahnya untuk menghadiri 40 hari kepergian sang ayah.

__ADS_1


“Harusnya kamu itu pulang ke rumah suamimu.” Ujar Dewi saat melihat Hesti yang tidak bersemangat memasukkan pakaiannya ke dalam tas.


“Aku nggak enak sama istrinya, bu.”


“Kamu itu juga istri sahnya. Harusnya kamu berjuang, agar Faiq melegalkan pernikahan kalian.”


“Pak Faiq sangat mencintai istri dan anak sambungnya, bu.”


“Jadi istrinya hanya seorang janda?” Pikiran Dewi mulai bermain. “Kamu tau, yang namanya lelaki bisa berhubungan intim tanpa melibatkan emosi. Seharusnya kamu bisa memanfaatkan momen itu, apalagi di mata agama pernikahan kalian sah.”


“Tapi, bu…”


“Ibu akan ikhtiar agar pernikahan kalian bisa langgeng.”


“Ibu sudah memikirkan rencananya…?”


“Yang pertama kamu harus tinggal serumah dengannya. Dengan demikian akan mudah melancarkan usaha kita.”


“Terserah ibulah.”


Senyum kecil terbit di wajah Dewi. Seribu rencana sudah terpikir di otaknya, “Apa kamu tau tempat tinggal suamimu itu?”


“Ya, bu. Kami sekantor di undang saat pernikahan mereka.” Ujar Hesti terus terang. “Tetapi pak Faiq sudah tidak bekerja di kantor lagi, bu.”


“Memangnya ia pindah tugas?”


“Pak Faiq pensiun dini, karena menggantikan ayahnya sebagai pemimpin perusahaan.”


“Antar ibu ke sana secepatnya.”


“Baik, bu.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2