Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 292 S2 (Sandiwara Ivan)


__ADS_3

Saat memasuki kamar perasaan kecewa langsung menyelimuti Ivan. Ia yang sudah berencana untuk bergulung bersama sang istri langsung ambyar melihat Khaira sudah membereskan tempat tidur dan berpakaian lengkap.


Pilihan gamis Hari dengan warna biru lembut membuat aura kecantikan istrinya semakin memancar. Ivan terpana dibuatnya. Ia berpikir keras bagaimana cara menahan Khaira untuk tinggal satu hari lagi bersamanya.


“Kita pulang sekarang?” mata bening Khaira menatapnya penuh harap..


“Uhuk, uhuk . “ Ivan terbatuk-batuk, “Hhhh ….”


Ia menghempaskan diri ke sofa sambil memijit kepalanya yang tidak sakit, berharap dapat ide cemerlang agar bisa menghabiskan waktu bersama dan Khaira tidak memintanya untuk check out dari hotel sekarang.


Khaira terkejut melihat Ivan yang berbaring di sofa. Dengan cepat ia menghampiri sang suami yang tampak meringis menahan sakit.


“Mas kenapa? Apa masih ada yang sakit?”  Khaira bertanya dengan penuh kekhawatiran apalagi melihat wajah Ivan yang berkeringat dan memerah.


Melihat spontanitas Khaira yang langsung duduk di samping kepalanya membuat Ivan menahan senyum.


“Wajah mas memerah dan berkeringat?” jemari lembut Khaira langsung meraba dahi suaminya dengan cemas.


Padahal Ivan masih menahan kekesalan dan kemarahan pada Sandra yang membuat wajahnya merah dan berkeringat karena Sandra telah membuang waktu berharganya. Tapi ia merasa puas dengan ancaman yang ia berikan.


Ia berharap tidak ada lagi orang dari masa lalu, atau pun di masa yang akan datang, siapa pun dia yang ingin mengacaukan rumah tangganya akan ia basmi langsung ke akar-akarnya. Sudah terlalu sakit ia menjalani kesendirian terpisah dari perempuan yang ia cintai bahkan telah melahirkan darah dagingnya yang tak pernah ia ketahui kehadirannya di dunia ini.


Ting! Ide brilian telah muncul di otaknya. Ia merasa yakin rencananya akan berhasil dan hari ini hingga malam Khaira masih miliknya tanpa gangguan dua pengacau kecilnya.


“Kepala terasa berdenyut …. “ Ivan berkata lirih, berusaha menahan perasaannya agar Khaira tidak curiga, “Mas belum mampu untuk membawa mobil sendiri.”


“Sini tak pijitin biar kurang pusingnya,” Khaira menatap suaminya dengan perasaan cemas.


Ivan mengangkat kepalanya dan berpindah ke pangkuan Khaira. Jemari lembut Khaira langsung bergerak memijit kepalanya yang memang berdenyut karena menginginkan yang lain. Dasar Ivan!


Ia memejamkan mata merasakan kenyamanan di kepala atas pijitan lembut sang istri. Ivan menarik nafas dalam menghirup aroma lembut wangi tubuh Khaira. Perbuatannya itu sontak membangunkan sisi lain dari tubuhnya.


Sambil memejamkan mata merasakan kehangatan sikap sang istri, Ivan serasa ditarik kembali pada masa ia berjauhan dengan Khaira. Hampir satu tahun kebersamaan ia dan Claudia dalam upaya menyembuhkan Bryan.


Ia dapat rasakan tidak ada ketulusan dalam sikap Claudia selama merawat Bryan yang notabene adalah putra kandungnya sendiri. Berkali-kali juga Claudia berusaha memancing kelelakiannya untuk berhubungan seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu.


Ia kini yakin saat Khaira  sedang mengandung si kembarlah yang membuatnya merasakan hamil simpatik, sehingga ia mampu terlepas dari rayuan maut Claudia.  Padahal tubuhnya menginginkan kehangatan seorang perempuan, tetapi si kembar telah membuatnya tak bisa berdekatan dengan perempuan manapun.


Ivan jadi bergidik, membayangkan kalau seandainya ia jatuh dalam jeratan Claudia, ia tidak akan bertemu Khaira dan berkumpul bersama kedua buah hati kesayangannya. Selamanya ia  akan  masuk dalam perangkap Claudia bahkan mungkin telah menambah keturunan lagi. Ivan menggelengkan kepala membayangkan semua yang belum terjadi.


“Apakah masih terasa sakit Mas?” Khaira merasa heran dengan tingkah suaminya yang berbaring di pangkuannya.

__ADS_1


Ivan meraih kedua tangan istrinya dan menyimpan di dadanya. Ia tidak ingin semuanya berlalu. Ia ingin tetap seperti ini bermanja dalam pangkuan Khaira.


“Aku sangat mencintaimu bahkan dengan kehadiran si kembar membuat rasa cintaku terus bertambah berkali lipat,” Ivan membuka mata dan menatap wajah Khaira yang berada di atasnya.


Khaira berusaha menarik tangannya dari genggaman Ivan. Ia malas menanggapi ucapan Ivan. Ia tak ingin terjebak dengan perasaannya sendiri. Walau pun sikap dan perilaku Ivan telah membuktikan semua ketulusannya, tetap saja rasa sakit yang pernah tercipta masih menyisakan kepedihan.


“Sayang …. “ Ivan melihat perubahan raut wajah Khaira.


Ia segera bangun dan memeluk Khaira dengan erat. Ia tak ingin suasana romantis yang tercipta hilang karena kesalahannya. Ia sadar, perasaan istrinya begitu halus dan sangat sentitif. Tidak mudah untuk melupakan rasa sakit serta orang yang pernah mengecewakannya.


“Aku sangat menyesal atas semua yang terjadi di masa lalu,” Ivan melepaskan pelukannya dan menatap mata bening istrinya dengan lekat. Tangannya menggenggam jemari Khaira dengan erat, “Aku janji tidak akan pernah membahasnya lagi. Kita akan menutup semuanya dan membuka lembaran baru.”


Khaira terdiam mendengar perkataan Ivan. Ia ingin melepaskan jemarinya, tapi tangan Ivan begitu kuat menggenggamnya. Ivan membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya dan menatap wajahnya lekat.


Tak kuasa Khaira membalas tatapan mata hitam suaminya. Ia menundukkan wajah. Ciuman lembut mendarat di dahinya. Saat Khaira membuka mata bibir Ivan telah mendarat sempurna membuatnya jantungnya langsung berdetak cepat.


Ciuman Ivan semakin menuntut membuatnya kehabisan nafas. Ia mulai terhanyut dengan sentuhan suaminya. Khaira ingin menolak, tapi semua hanya akan sia-sia. Keahlian Ivan dalam memikat perempuan sudah tidak  diragukan lagi.


“Kriuk …. “ Khaira menutup wajahnya merasa tidak nyaman. Perutnya sudah meronta minta diisi.


Ivan tersenyum melihat rona merah muncul di pipi Khaira. Ia menarik kedua tangan istrinya bangkit dari sofa dan menggandengnya. Ia akan  membawa Khaira  keluar untuk  menikmati pemandangan kota Indramayu sekaligus  makan siang di luar  agar Khaira tidak merasa bosan.


“Kita akan cari makanan di luar,” Ivan berkata pelan sambil meraih kunci mobil di atas meja.


“Astaga …. “ Ivan langsung memegang kepalanya.


Kalau seandainya ia memaksa ke luar, otomatis Khaira menganggapnya telah sehat dan bisa melanjutkan perjalanan pulang kembali, bisa gak guna gaun tidur yang telah dibelikan Hari. Ivan menahan senyum, pikirannya  sudah melanglang buana membayangkan pemandangan indah sang pemakai gaun yang diberikan Hari. Baiklah dia harus melanjutkan rencana A agar bisa menikmati malam ini hanya berdua Khaira.


Khaira menatap suaminya dengan dahi berkerut. Ia merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan Ivan.


“Mas sehatkan?” mata bening Khaira menatapnya penuh selidik.


“Mungkin kamu benar sayang. Mas masih perlu istirahat. Mata masih terasa berkunang-kunang,” Ivan berkata lirih khawatir Khaira mencurigainya, “Sebaiknya mas pesan makan siang dari layanan kamar saja.”


Ivan kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Langsung memejamkan mata dengan tangan yang ia letakkan di kepala.


Akhirnya Khaira kembali mengikuti suaminya dan melanjutkan aktivitasnya memijit kepala Ivan. Karena keenakan pijitan istrinya Ivan benar-benar terlena dan langsung terlelap tak berapa lama kemudian.


Suasana benar-benar hening saat Ivan membuka matanya. Ia terkejut menyadari bahwa ia tertidur di sofa. Ia langsung bangkit dari tidur dan menatap sekelilingnya. Makan siang sudah tersusun di hadapannya. Tapi ia tidak melihat sosok Khaira di sekelilingnya.


Ivan berjalan mendekati tempat tidur, tapi tidak ada sosok istrinya berbaring di sana. Tatapannya terhenti di pojokan melihat Khaira sedang melaksanakan salat. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, ternyata sudah masuk waktu Zuhur. Dengan cepat Ivan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri karena ia pun akan segera menjalankan kewajibannya.

__ADS_1


Melihat suaminya melaksanakan salat, Khaira segera menyiapkan piring dan air putih agar ia dan Ivan dapat makan siang bersama.


Ivan menyudahi salatnya setelah berdoa meminta keberkahan dan penjagaan dari Yang Kuasa atas rumah tangga yang baru mulai terbina bersama Khaira dan anak-anaknya.  Ia banyak mengucapkan syukur atas segala yang telah dianugerahkan Sang penggenggam hatinya, sehingga istrinya menerima dirinya kembali dengan penuh kerelaan.


Kini ia sudah duduk bersama Khaira menghadap menu yang sudah terhidang beberapa saat yang lalu. Khaira melayani semua permintaannya.


“Obatnya diminum lagi mas,” Khaira meletakkan beberapa kapsul di atas piring kertas.


“Mas udah gak apa-apa. Badan sudah berasa ringan,” jawab Ivan cepat.


“Syukurlah,” Khaira tersenyum, “Kasian si kembar sudah menunggu juga.”


Ivan tercekat, salah ngomong lagi. Bisa-bisa rencana siang ke malamnya gagal karena ia terjebak dengan sandiwaranya sendiri.


“Obat yang flu saja. Perasaan mas masih gak enak.”


Khaira mengerutkan dahi melihat tingkah Ivan, melihat keseriusan di wajah suaminya ia pun segera mengulurkan satu kapsul yang berwarna kuning.


Ivan langsung meminumnya dengan cepat, sambil  menarik-narik hidungnya dan menghirup udara dengan cepat untuk menyempurnakan sandiwara yang ia buat. Otomatis hidungnya langsung memerah.


“Mas ingin istirahat dulu, biar obatnya segera bekerja,” dengan wajah serius Ivan berlalu dari hadapan Khaira dan langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur, tak lupa menggulung dirinya dalam selimut.


Di bawah selimut senyum lebarnya terbit membayangkan  hal indah yang bakal ia lakukan bersama Khaira.


“Aku akan memberitahu mas Ariq bahwa kita belum bisa kembali,” Khaira memandang suaminya yang kini sudah berbaring dan menyelimuti dirinya hingga ke kepala.


Terpaksa Ivan mengeluarkan kepalanya untuk mencegah perbuatan istrinya. Sambil menghisap udara ke hidungnya Ivan berkata, “Gak usah. Mas barusan nelpon mas Ariq.”


“Fajar dan Embun bagaimana? Aku gak pernah meninggalkan mereka sampai dua hari,” Khaira berkata dengan raut sedih.


“Mas Ariq sudah menjamin, si kembar akan baik-baik saja. Uhuk, uhuk …. “ sandiwara Ivan masih berlanjut.


“Mas masih flu dan batuk?” Khaira melepas ponsel di tangannya dan segera duduk di samping tempat tidur.


“Rasanya dingin …. “ Ivan melanjutkan dramanya, “Baringlah di sini, temani mas istirahat.”


Khaira masih terdiam di sisi tempat tidur. Bukan Ivan namanya kalo tidak berhasil melakukan keinginannya. Ia mengangkat Khaira dan membawanya  berbaring di sisinya.


“Mas …. “ Khaira tidak menyangka tindakan Ivan begitu cepat.


“Hanya tidur …. “ ujar Ivan berbisik lirih sambil mengulum senyum dan langsung memeluk tubuh Khaira dengan erat. Dalam hati ia bermonolog sendiri, “Entah untuk dua atau tiga jam ke depan belum tau …. “

__ADS_1


***Babang Ivan nakal .... ***


__ADS_2