Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 312 S2 (Menikmati Kebersamaan di Rumah Khaira)


__ADS_3

Perlahan Ivan membuka pintu kamar si kembar untuk melihat kondisi di dalamnya. Senyum terkembang di bibirnya melihat beraneka jenis mainan tertata dengan rapi di dua rak yang berbeda sesuai dengan jenis masing-masing. Satu rak khusus mainan mobil dan robot serta segala pernak-perniknya. Sedangkan di rak yang lebih besar ia melihat sekumpulan boneka dan mainan rumah tangga dengan pernak-pernik khas anak perempuan.


Tatapannya beralih pada lemari pakaian. Ia yakin pakaian si kembar telah dipindahkan ke rumah samping, karena saat ia masih berbincang dengan Danu, pak Toto dan Dipo mulai mengangkut semua barang-barang si kembar ke kamar mereka di atas dibantu beberapa tukang yang dikirim ustadz Hanan untuk beberes rumah mereka.


Ivan membuka pintu penghubung kamar si kembar  ke kamar Khaira karena tidak melihat keberadaan istrinya di sana.  Tatapannya mengarah ke semua sisi ruangan. Tempat tidur sederhana sangat jauh berbeda dengan miliknya di rumah namun tertata dengan rapi. Ia berjalan mendekati tempat tidur. Tidak tampak sosok istrinya di dalam kamar.


Ivan terkejut ketika melihat sosok Khaira berbaring di tikar sembahyang masih lengkap dengan mukena yang membalut tubuhnya di sisi tempat tidur. Pantas saja tidak kelihatan dari pintu. Ia menggelengkan kepala. Perlahan Ivan mengangkat dan memindahkan tubuh ramping istrinya ke tempat tidur.


Tidak mungkin ia membangunkan dan mengajak Khaira untuk kembali ke kamar mereka. Ia yakin istrinya kelelahan seharian berbenah untuk pindahan ke rumah miliknya. Malam ini ia akan menemani Khaira di rumah yang tak lama lagi berpindah kepemilikan.


Ia memandang lekat wajah istrinya yang tertidur pulas. Tanpa membangunkan Khaira, Ivan melepas mukena yang masih terpasang. Ia menggelengkan kepala melihat baju daster selutut tanpa lengan yang membalut tubuh sang istri.


“Seperti ini keseharian bunda di sini .... “ Ivan berujar dalam hati.


Ia membelai rambut istrinya dengan lembut.  Sesekali ia mengecup keningnya dengan perasaan sayang. Tangannya secara perlahan turun membelai perut Khaira. Ia berharap Yang Kuasa segera memberikan momongan. Jika kesempatan itu datang, ia berjanji tak akan melewati waktu-waktu berharga untuk menjadi suami siaga hingga sang calon jabang bayi terlahir ke dunia.


Ivan mendengar suara berisik dari arah belakang dibarengi percakapan. Ia segera bangkit dari pembaringan dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh sang istri. Sebenarnya rasa kantuk sudah datang menghampiri, tapi ia merasa penasaran dengan suara percakapan yang terdengar. Padahal ia juga merasa lapar karena melewatkan makan malam setelah bertemu beberapa klien di kota bersama Danu.


Tidak mungkin ia membangunkan istrinya yang sudah terlelap dengan damai untuk menyiapkan makan malam. Ia kembali ke rumah sendirian karena Danu mewakili dirinya untuk memenuhi undangan makan malam klien. Tepat azan Isya berkumandang ia sampai di komplek pondok dan langsung singgah ke masjid setelah melihat ustadz Hanan menunggu di depan masjid.


“Maaf Pak, apa kami mengganggu istirahat Anda?” pak Toto merasa tidak enak hati begitu melihat Ivan muncul di hadapan mereka di dapur.


Ivan menggelengkan kepala dengan cepat. Ia melihat pak Toto dan Dipo yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.


“Kami merasa lapar, rencananya mau masak mi dan bikin kopi. Gerimis gini dengan cuaca dingin enaknya yang anget-anget .... “ Dipo berkata dengan raut sungkan melihat Ivan yang berjalan mendekatinya.


“Boleh gabung? Saya juga merasa lapar. Baru  ingat belum makan malam, karena datangnya tadi pas Isya....” Ivan berkata dengan serius.


“Bapak mau dimasakin mi juga?” Dipo memandang Ivan tak percaya. Rasanya tak enak kalau tidak menawari majikan baru mereka.


Selama ini mereka tidak pernah terlibat percakapan langsung dengan bos baru mereka. Hanya Danu yang mengurus semua yang berkaitan dengan perpindahan majikan mereka. Walau pun belum pernah terlibat percakapan langsung dengan Ivan, tapi mereka tau bos mereka sangat loyal. Rokok, kopi serta snack selalu tersedia di pos pengamanan tempat mereka berjaga. Kini keduanya tak perlu keluar duit untuk hal remeh-temeh seperti itu, Danu telah mempersiapkan semuanya dengan cermat membuat mereka merasa senang.


“Bapak ingin kopi campur  atau hitam?” pak Toto langsung menawari majikan barunya.


Dipo terdiam. Ia masih tidak percaya bahwa majikan mereka mau menyapa dan berbaur bahkan kini duduk di kursi makan dengan santai.  Selama ini ia mengira bahwa Ivan adalah orang yang sangat menjaga pergaulan dan tidak ingin terlibat langsung dengan para pekerjanya.


“Kopi hitam tanpa gula,” ujar Ivan santai, “Mie-nya boleh pake telur.”


“Ss...siap Pak!” Dipo menjawab geragapan melihat sikap santai Ivan.


“Jangan merasa sungkan,” Ivan berkata sambil tersenyum pada Dipo yang masih tampak gugup di hadapannya.


Pak Toto segera meletakkan kopi pesanan Ivan, “Silakan dinikmati Pak.”


“Terima kasih pak Toto. Ayo duduk di sini,” ujar Ivan mengajak keduanya untuk duduk bersama.


Senyumnya terkembang melihat Dipo mendekat sambil membawa mie kuah dengan topping telur mata sapi terhidang dengan sempurna di hadapannya.

__ADS_1


“Terima kasih mas Dipo,” Ivan berkata santai sambil menghirup aroma mie yang sangat menggugah selera.


Ketiganya langsung menikmati mi rebus yang mengeluarkan aroma nikmat dan wangi. Keheningan tercipta, hanya bunyi benturan sendok dan piring yang terdengar karena masing-masing menikmati hidangan yang telah tersedia. Ivan menghabiskan makanannya dengan cepat.


“Besok, pak Toto dan mas Dipo juga ikut pindah ke samping,” ujar Ivan setelah mengakhiri makanan, “Malam ini silakan temani si kembar di sebelah, saya akan menemani ibu di sini.”


“Siap Pak,” pak Toto menjawab dengan cepat.


“Saya harap pak Toto dan mas Dipo tidak mengecewakan setelah bekerja dengan saya. Keselamatan dan kenyamanan istri saya dan si kembar tanggung jawab kita  bersama,” Ivan berkata dengan tegas seraya bangkit dari kursi.


“Baik Pak!” Pak Toto dan Dipo menjawab kompak dan berdiri.


“Silakan lanjutkan makannya. Saya hanya ingin melihat-lihat tempat ini,” Ivan berkata santai sambil berjalan memeriksa dapur sederhana milik istrinya.


Matanya mengitari seluruh isi yang ada di dapur tersebut. Walaupun tidak terlalu luas, tetapi perabotan dan segala perlengkapan yang ada cukup modern, sehingga memudahkan untuk melakukan aktivitas memasak. Ia melihat pintu samping terbuka. Kini ia tau, bahwa pak Toto dan Dipo lewat pintu samping menuju dapur, sehingga tidak mengganggu aktivitas penghuni rumah. Ia berjalan menuju pintu yang terbuka dan menatap sekelilingnya.


Ivan manggut-manggut saat berdiri di luar pintu yang berbentuk lorong yang terhubung hingga ke depan. Lorong itu dibuat tanpa atap. Ia melihat ke sisi rumahnya dan langsung tertuju ke lantai atas ruang kerjanya yang lampunya masih menyala. Ia tersenyum mengingat kelakuannya yang sering mengintip segala tingkah laku penghuni rumah, khususnya Khaira dan si kembar, walaupun tidak bisa melihat aktivitas penghuni rumah dengan jelas tapi cukup membuatnya bahagia.


Ia mengagumi ketelitian pembangunan rumah tempat istri dan anak-anaknya berada selama ini. Saudara Khaira memang sangat detail dalam memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi aktivitas mereka sehari-hari, serta keamanan yang tidak perlu diragukan lagi. Setelah puas mengitari sekeliling rumah, Ivan kembali ke dapur untuk menemui pak Toto dan Dipo yang juga telah menyelesaikan makan.


Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi bu Nuri dan bu Mila untuk menemani si kembar tidur. Ia melihat titik-titik hujan yang tadinya hanya gerimis semakin berjatuhan menetes deras ke bumi. Pantas saja seharian ini terasa begitu panas, rupanya hujan akan turun. Ia ingin menciptakan kenangan manis di rumah yang mulai besok akan ditinggalkan istri dan anak-anaknya. Setelah selesai menelpon, Ivan membalik badan menghadap Dipo dan pak Toto.


“Terima kasih atas jamuan pak Toto dan mas Dipo. Selamat  malam ... ” Ivan tersenyum ramah pada keduanya yang berdiri tegak di hadapannya dan berjalan meninggalkan dapur, yang dibalas pak Toto dan Dipo menganggukkan kepala dengan kompak.


Khaira merasa gelisah dalam tidur. Ia membuka mata secara perlahan. Rasa melilit begitu menyiksa. Ia baru teringat bahwa belum makan karena menunggu suaminya yang berjanji akan datang sebelum jam makan malam. Saat habis salat Magrib ia hanya menemani si kembar dan menyuapi keduanya tanpa sedikitpun menyentuh makan malam yang telah disiapkan asisten rumah tangga.


Khaira membalik tubuh dan melihat  suaminya yang tertidur dengan tenang. Senyum terbit di wajahnya melihat betapa damainya  sang suami dalam tidur. Ia merasa bersyukur dengan perubahan sikap Ivan yang lebih dewasa dan berhati-hati dalam pergaulannya terhadap lawan jenis. Apalagi dengan kehadiran si kembar membuat Ivan lebih fokus dalam keseharian.


Kriuuuk ....


Suara yang begitu mengganggu keluar dengan sendirinya. Khaira meringis begitu menyadari mata Ivan terbuka lebar. Ia menggigit bibir tak enak hati karena mengganggu waktu istirahat sang suami.


“Hm ... Bunda belum makan malam?” Ivan memandang istrinya lekat.


Khaira menganggukkan kepala dengan perasaan malu, “Maaf Mas. Aku ketiduran sehingga tidak menemani Mas makan malam.”


“Astaghfirullah .... “ Ivan beristighfar mendengar ucapan Khaira, “Ayah yang harusnya minta maaf karena terlambat pulang. Ayo Ayah temani Bunda makan.”


Dengan cepat Ivan bangkit dari tempat tidur dan menggandeng Khaira membuka pintu kamar untuk berjalan ke dapur.


Khaira berhenti melangkah membuat Ivan memandangnya heran.


“Mas, aku gak enak seperti ini .... “ Khaira mengarahkan telunjuk pada pakaian yang melekat di tubuhnya.


“Bagi mas tetap menarik,” Ivan tersenyum miring, “Bunda gak perlu koleksi VS lagi. Yang ini udah menyegarkan pemandangan .... “


Khaira sangat menyadari apa yang ada di pikiran suaminya. Ia mencubit perut Ivan dengan sewot seketika membuat suaminya meringis.

__ADS_1


“Bunda kdrt pada Ayah .... “ Ivan menggeleng-gelengkan kepala melihat senyum tipis yang tercetak di wajah Khaira setelah melihatnya mengusap-usap perut.


“Mas, aku gak enak kalo tiba-tiba mas Dipo dan pak Toto muncul di belakang melihatku seperti ini .... “ Khaira menatap keluar kamar begitu pintu sudah terbuka.


Ivan tersenyum menyadari kerisauan istrinya. Ia merangkul pundak Khaira dan membawanya berjalan ke dapur.


“Jangan khawatir. Mas Dipo dan pak Toto di rumah samping,” ujar Ivan lembut begitu keduanya tiba di dapur.


“Mas tau dari mana?”  Khaira menatap suaminya penuh keheranan. Karena ia juga tidak mendengar suara keduanya, yang kebiasaan jam segini biasa ke dapur untuk membuat kopi.


“Tadi ayah sempat ngopi dan makan mi sama keduanya. Bunda pengen makan apa?  Biar Ayah yang masak.”


Khaira belum mengomentari perkataan suaminya. Ia membuka tudung saji yang ada di atas meja makan. Menu ikan asam manis serta telur balado sudah tampak dingin. Ia  tersenyum melihat menu yang memang disediakan bu Giyem untuk pak Toto dan Dipo.


Ia melihat Ivan mengeluarkan dua butir telur serta sosis dari dalam kulkas. Kemudian menyiapkan wortel serta timun di atas meja.


“Dingin gini pengennya makan nasi goreng. Jadi lapar lagi ....  “ Ivan berkata pelan saat mulai menghidupkan kompor.


“Mas sudah makan?” Khaira mengernyitkan dahinya mendengar ucapan suaminya.


“Ayah pikir Bunda udah makan saat liat Bunda udah tidur lelap. Makanya ayah langsung tidur. Tapi,  liat pak Toto dan Dipo ngopi  ditambah masak mi, bikin ayah pengen makan .... “


Khaira tersenyum tipis. Ia yakin, suaminya juga kelelahan setelah seharian mengurus pekerjaannya di studio yang sudah lama ditinggalkan.


“Biar aku yang masak. Mas duduk aja .... “ ujar Khaira cepat.


Ia langsung mengambil alih pisau di tangan Ivan. Dengan cekatan sosis yang utuh sudah terpotong dengan rapi. Ia membuka kulkas kembali untuk mengambil daun bawang dan mengirisnya sesuai ukuran yang ia kehendaki.


Aroma wangi sudah menyebar saat Khaira memasukkan nasi untuk diaduk bersama bumbu serta wortel yang sudah setengah layu.


“Ehhh .... “ Khaira terkejut menyadari tangan kekar Ivan memeluk perut dengan dagu yang menopang di bahunya.


“Masakan bunda enak. Ayah udah gak sabar nunggunya,” bukannya membaui aroma masakan sang istri, malah hidung dan bibirnya menempel di leher Khaira.


“Massss .... “ Khaira merasa terganggu atas perbuatan Ivan yang membuatnya tidak konsentrasi mengaduk nasi goreng.


“Bunda wangi banget .... “


Khaira merasakan nafas suaminya yang hangat menyapu leher. Dengan cepat ia mematikan kompor, karena tidak tahan dengan perbuatan Ivan yang terus mengganggu aktivitasnya.


Khaira segera menyiapkan piring serta segelas air putih hangat untuk makan malamnya saat ini. Tingkah Ivan benar-benar kolokan, ia yang pada awalnya ingin membuat nasi goreng, akhirnya hanya menikmati semua yang disajikan istrinya di atas meja.


Dengan telaten Khaira menyuapi suaminya yang tidak mau makan sendiri malah mendekatkan mulutnya hingga nasi goreng yang terhidang bersih tak bersisa. Ia tersenyum melihat Ivan yang sendawa begitu menghabiskan air putih yang tinggal separo.


“Alhamdulillah, tinggal satu PR  lagi .... “


Khaira manyun menatap senyum jahil yang terbit di wajah  tampan suaminya dengan kerlingan mata yang penuh makna.

__ADS_1


***Mohon maaf baru sempat up lagi\, karena kesibukan. Padahal ceritanya udah hampir end .... "


__ADS_2