
Faiq mengingat kembali percakapannya dengan dr. Thomas. Ia sangat berharap Hani bisa sembuh dan mengingat semuanya. Ia akan sangat tersiksa jika Hani melupakan dirinya.
“Bagaimana cara untuk mengobati amnesia yang diidap istri saya, dok?” Faiq masih berharap banyak pada dr. Thomas.
Dr. Thomas menghela nafas berat. Ia dapat melihat betapa Faiq sangat terpuruk dengan kondisi istrinya.
“Ada beberapa cara untuk pengobatan amnesia yang pertama terapi okupasi. Terapi jenis ini mengajarkan pasien untuk mengenalkan informasi baru dengan ingatan yang masih ada. Yang kedua teori kognitif. Terapi ini bertujuan untuk memperkuat daya ingat pasien dengan cara bantuan teknologi, seperti telepon, tablet, agenda elektronik, atau tablet. Yang ketiga pemberian vitamin dan suplemen untuk mencegah kerusakan otak yang lebih parah. Perubahan gaya hidup salah satunya dengan menghindari minuman beralkohol. Saya yakin istri anda bukan pecandu alkohol.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan dok? Saya tidak siap jika istri saya menolak kehadiran saya?”
“Anda harus melakukan pendekatan lebih intensif. Seorang perempuan tidak akan menolak kebaikan yang kita berikan secara tulus bukan? Mungkin istri anda menganggap anda orang asing. Tapi percayalah, batu di pantai saja bisa lunak karena tersiram ombak di laut, apalagi hati seorang wanita. Istri anda mungkin melupakan masa lalu entah apalah yang terjadi, yang pasti anda bisa menciptakan lingkungan baru yang penuh dengan keromantisan sehingga istri anda akan selalu mengingatnya…”
“Terima kasih dokter.” Faiq merasa puas atas jawaban yang diberikan dr. Thomas.
Mulai saat ini, ia akan menciptakan suasana baru dalam kehidupan rumah tangganya dan Hani, dan belum terlambat bagi Faiq untuk memulainya.
Hani membuka kedua matanya. Ia melihat seorang lelaki yang memandangnya sambil tersenyum. Peralatan medis yang melekat di tubuhnya sejak kemaren sudah dilepas.
“Selamat pagi, sayang…” Faiq menyapanya dengan menyunggingkan senyum termanisnya.
“Siapa anda?” mata bening Hani memandang Faiq sekilas.
“Aku adalah suamimu.” Faiq berkata dengan penuh kelembutan. “Walaupun kamu belum mengingatnya, tapi percayalah ini kenyataannya.”
Hani bangkit dari pembaringan, ia ingin ke kamar mandi. Dengan pelan ia berusaha turun dari tempat tidur.
“Sayang, aku akan membantumu…”
Melihat Hani yang agak kesusahan untuk turun dari tempat tidur membuat Faiq dengan spontan meraih pinggangnya.
“Maaf…” Hani merasa keberatan atas sikap Faiq, “Saya bisa melakukannya sendiri.”
__ADS_1
Hani melepas tangan Faiq yang sudah berada di pinggangngya.
Hati Faiq serasa dicubit, Hani menolak niat baiknya. Dengan berat hati ia melepaskan tangan dari pinggang istrinya. Tatapannya tak terlepas dari Hani yang berjalan dengan pelan menuju ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Hani kembali ke hadapannya. Wajahnya tampak lebih segar. Tanpa mempedulikan keberadaan Faiq, Hani naik ke tempat tidur.
“Sayang, hari ini kita akan kontrol ke dokter, besok kita kembali ke rumah…” Faiq menghampirinya yang kini menyandarkan tubuhnya di bantalan tempat tidur.
Faiq menatap Hani dengan lekat, seketika Hani membuang pandangan. Kesedihan menyeruak di dada Faiq. Istri yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya tidak mengingatnya sama sekali. Ia menghela nafas dengan gundah, berusaha membuang kesedihan yang hadir melingkupi hati dan perasaannya. Keheningan terjadi di antara keduanya.
Ketukan di pintu menghempaskan kesunyian yang tercipta. Faiq berjalan dengan cepat membuka pintu yang ia kunci sejak tadi malam.
“Assalamu’alaikum …” Hanif tersenyum sambil membawa paper bag berisi sarapan pagi.
“Wa’alaikumussalam.” Keduanya menjawab dengan kompak.
Hani merasa lega, ia tidak nyaman berada satu ruangan dengan orang asing, walaupun pada kenyataannya adalah suaminya sendiri.
“Baiklah. Aku akan mempersiapkan semuanya.”
Mendengar percakapan keduanya Faiq kembali merasakan tamparan di sudut hatinya. Hani benar-benar menganggapnya orang asing. Dan tak menghiraukan keberadaannya. Tapi ia harus mempersiapkan diri. Ia akan berjuang dari awal untuk meraih kepercayaan Hani kembali. Dan ia tak akan lelah memperjuangkannya, hingga Hani memberi kesempatan padanya untuk berjuang bersama membesarkan anak-anak mereka.
“Ini pakaian ganti Rara.” Faiq memberikan paper bag yang berisi pakaian Hani yang sudah dipersiapkan Marisa beberapa hari yang lalu pada Hanif yang tampak kebingungan.
“Terima kasih, mas.” Jawab Hanif singkat.
Walaupun masih merasa emosi pada Faiq, tapi Hanif berusaha meredamnya. Melihat kesungguhan Faiq merawat dan menjaga Hani selama 3 bulan terakhir membuat Hanif sadar, bahwa Faiq memang mencintai saudarinya dan ia harus mempercayakan Hani bersamanya.
Tatapan Faiq berbinar melihat Hani yang kini sudah kembali seperti semula. Wajahnya benar-benar memancarkan keanggunan yang selama ini begitu ia rindukan. Walaupun ia yakin Hani telah melupakan kebersamaan yang pernah tercipta antara mereka, tapi ia akan berjuang untuk mendapatkan kepercayaan istrinya.
Ketiganya kini duduk berhadapan di sofa yang berada dalam ruangan. Hanif tersenyum menyadari tatapan Faiq yang tak bergeser dari wajah kembarannya.
__ADS_1
“Dasar bucin…” rutuk Hanif dalam hati.
Rasanya ia ingin mentertawakan sikap Faiq yang seperti orang bodoh. Sementara Hani dengan santainya menikmati sarapan yang ia bawa, tanpa mempedulikan keberadaan Faiq di antara mereka.
“Kalian berdua tidak ingin sarapan?” suara lembut Hani membuat Faiq gelagapan.
Dengan cepat ia mengalihkan pandangan pada nasi goreng serta bubur ayam yang telah dihidangkan Hanif sejak tadi. Melihat Hani yang menikmati bubur ayam yang masih hangat membuat Faiq meraih wadah bubur tersebut dan langsung menikmatinya dengan lahap.
Bubur ayam tersebut terasa nikmat di lidah Faiq apalagi ia makan ditemani sang bidadari yang sudah lama ia nantikan dari tidur panjangnya. Walaupun Hani belum bisa menerima, tapi ia merasa bahagia. Perjuangan baru dimulai. Hanif mengambil nasi goreng yang tersisa. Ketiganya menghabiskan sarapan yang tersedia tanpa banyak bicara.
Setelah sarapan bersih tak bersisa, Hanif segera membereskannya. Ia kembali duduk di hadapan Faiq dan Hani.
“Mbak, besok aku akan kembali ke Medan. Wulan istriku sedang hamil muda, dan ia tidak bisa jauh dariku.”
“Kapan kamu menikah, kenapa tidak memberitahu?” Hani memandang Hanif dengan raut bingung.
“Kita duduk bertiga di sini karena akan membahas masalah penting.” Ia tidak mengindahkan pertanyaan Hani. Hanif memandang kembarannya sambil menghela nafas.
Ia tidak tau harus memulai dari mana, tetapi itu harus ia sampaikan. Ia tak mungkin selamanya berada di sisi Hani, apalagi istrinya sedang membutuhkan kehadirannya.
“Mbak Hani sekarang bukan tanggung jawabku lagi, tetapi tanggung jawab mas Faiq.”
Hani menatap Faiq sekilas. Ia merasa asing dengan lelaki yang duduk di hadapannya. Ingatannya masih berkutat di masa lalu.
“Bukankah aku belum bercerai dengan mas Adi, bagaimana keadaan bayiku? Bukankah aku baru melahirkan? Kenapa aku bisa menikah dengannya?” Hani menatap Hanif dengan raut bingung. “Siapa dia? Di mana aku bertemu dengannya?”
Mendengar serentetan pertanyaan yang diungkapkan Hani membuat Faiq merasa sedih. Tapi ia tetap sabar, dan meyakinkan diri untuk berjuang dari awal demi kebahagiaan dirinya dan anak-anak mereka yang baru lahir.
Di sinilah mereka kini berada di ruangan dr. Valerie Anastasya, SpKJ (Spesialis Kejiwaan) atas referensi dr. Thomas. Dr. Valerie adalah seorang psikiater yang sudah terbiasa menangani pasien yang mengidap penyakit amnesia dengan berbagai gejala. Faiq tidak ingin bertele-tele menangani penyakit yang diidap Hani. Ia ingin merawat Hani dan membawanya kembali ke rumah.
__ADS_1