Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 48


__ADS_3

“Mas, sebaiknya aku tidak usah ikut.” Ujar Hani saat  mereka hendak tidur setelah makan malam selesai.


“Tidak sayang. Kamu harus selalu ada di samping mas. Dengan begitu ada alasan mas untuk pulang secepatnya.”


“Tapi aku nggak enak dengan keluarga besar mereka.” Hani berusaha menolak ajakan Faiq.


“Selama mas di sisimu, kita akan saling menguatkan.” Tangan Faiq mulai bergerilya. “Sudah hampir seminggu mas puasa….”


Hani menahan tangan Faiq, “Sabar ya, belum saatnya.”


“Baiklah, tapi mas request yang kayak kemaren ya…” mata Faiq berkedip nakal.


“Apaan sih…” Pipi Hani bersemu merah, mendengar ucapan Faiq. Ia mesti kursus kilat sama Mawar lagi agar suaminya semakin klepek-klepek. He he…


Faiq memeluk erat tubuh proporsional istrinya yang begitu memabukkan. Ia tak bisa berpaling lagi. Hatinya telah penuh terisi Hani dan ketiga buah hatinya.


Siang itu dengan terpaksa Faiq menggendong Hesti dari kursi rodanya menuju mobil yang telah terparkir di halaman. Hesti memeluk erat leher Faiq dan mencium aroma maskulin dari sosok tegap itu. Pikirannya mulai berkelana membayangkan sesuatu yang indah bersama Faiq.


Hani memalingkan wajah saat melihat Faiq menggendong Hesti. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihan. Cemburu sudah pasti. Tapi ia berusaha mempercayai suaminya, bahwa tidak akan terjadi apapun diantara mereka.


Faiq duduk di depan bersama Karman. Ia tidak ingin mengendarai mobil sendiri. Sementara di belakangnya, Hani, Hesti dan Dewi duduk bersama. Hanya Hesti dan Dewi yang terlibat percakapan serius. Mereka berdua tidak melibatkan Hani dalam obrolan mereka, dan  Hani pun tidak terlalu memikirkan hal itu.


Tiga jam perjalanan, mobil sudah memasuki pekarangan rumah Dewi. Andre beserta keluarga besarnya sedang menyiapkan segala keperluan untuk acara tahlilan yang akan diselenggarakan nanti malam.


Begitu mobil berhenti, Dewi segera turun dan membawa kursi roda Hesti. Ia tidak mempedulikan keberadaan Hani.


“Nak Faiq langsung bawa Hesti ke kamar kalian di atas.”


Hani menelan ludah dengan getir, “Sudah sejauh inikah hubunganmu dengan Hesti, mas. Sehingga kamar kalian juga disiapkan di rumah ini…” batin Hani lirih.


“Ra, tolong bawakan tas Hesti…” Faiq memintanya dengan lembut, Hani mengangguk menyetujui.


Dalam gendongan Faiq, Hesti tersenyum puas. Semua keluarga besar yang berkumpul di sana terkejut melihat perempuan yang datang bersama mereka. Sedangkan Hesti berada dalam gendongan Faiq yang membawanya hingga ke lantai atas kamar mereka.


Karena membawa tas Hesti, langkah Hani lebih lambat. Ia mendengar bisik-bisik keluarga besar Hesti saat berjalan melewati ruang keluarga.


“Itu lho, janda yang merampas kekasih mbak Hesti…” ujar Yuni pelan, tapi suaranya terdengar sampai di telinga Hani.


“Wah, pantesan pak Faiq terpikat. Mungkin pake pelet ….”


“Mbak Dewi bilang menantunya memberikan uang yang banyak untuk tahlilan nanti malam..” ujar Sri adik bungsu Dewi.


“Enak ya punya menantu kaya…” sela yang lain. “Tapi sayang kalau mereka sampai bercerai…”


“Tenang saja, bentar lagi mas Faiq akan bucin juga sama mbak Hesti.” Suara Yuni dibuat lebih nyaring.


Hani mengelus dada mendengar obrolan mereka yang membicarakan rumah tangganya. Ia tidak tau harus menyimpan tas Hesti  kemana.


“Tasnya di bawa ke kamar di atas nomor dua.” Dewi muncul tiba-tiba. “Lihatkan madunya Hesti, entah bagaimana nak Faiq mau dengan janda anak tiga itu.”


Hani miris mendengar ucapan Dewi. Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditunjuk Dewi. Saat Hani hendak mengetuk pintu, ternyata pintunya tidak terkunci. Ia melihat pemandangan yang membuat hatinya terluka.


“Mas, berikan aku kesempatan untuk mencintaimu.” Hesti memeluk Faiq dari belakang dengan erat, karena Faiq akan kembali ke bawah.


Tanpa berkata apa pun Hani berlalu dari kamar Hesti. Ia tidak ingin Faiq mengetahui keberadaannya.


Faiq menghela nafas berat, dengan pelan ia melepaskan tangan Hesti yang melingkar di perutnya. Ia tidak ingin Hesti menyalahartikan sikap tenangnya. Ada Hani istri sahnya yang harus ia jaga hati dan perasaannya.


“Maafkan aku…”  Faiq membalikkan badannya menghadap Hesti, “Aku tak bisa membagi hatiku untukmu. Perasaanku pada Hani sudah terlalu dalam…”


Hani  melewati ruang keluarga dimana ada Yuni dan Dewi, serta keluarga yang lain. Hani ingin melepaskan gundahnya tapi tidak tau harus kemana. Saat melewati ruang tamu ia bertemu Agus dan Andre yang sedang duduk bersama Thamrin serta seseorang yang tidak ia kenal.


“Mbak Hani…” Andre menyapanya dengan sopan.


“Mas Andre…” Hani membalas sapaannya sambil tersenyum. Hani membatalkan niatnya  ke teras depan.


“Ini istrinya mas Faiq, paman.” Andre mengenalkan Hani pada Thamrin serta seorang lelaki yang sedang duduk di sana.

__ADS_1


“Mas Agus…” Hani menangkupkan kedua tangannya saat Thamrin dan Agus berdiri. Ia berjalan menghampiri mereka.


“Ayu tenan bojone Faiq.” Bisik Widodo  ponakan Thamrin yang kebetulan hadir di acara tahlilan itu. “Kalau koyo ngene gelem aku…”


“Huss.” Agus menoyor kepala Widodo.


“Silakan duduk mbak.” Andre mempersilakan Hani duduk di antara mereka.


Mau menolak rasanya tidak enak duduk di antara para lelaki yang ada di ruang tamu itu. Tapi mau bagaimana lagi tidak ada satupun yang ia kenal. Sementara Faiq belum kelihatan batang hidungnya. Dengan terpaksa ia duduk di samping Andre  untuk menghindari duduk diapit orang yang tidak ia kenal.


Sementara itu Faiq masih di kamar Hesti. Ia memandang Hesti, “Ku harap kamu tidak berharap banyak dalam hubungan ini.  Aku ingin menegaskan bahwa aku tidak mungkin menduakan Hani sampai kapanpun. Maafkan aku, sampai kapan pun aku tidak bisa membalas perasaanmu. Cobalah buka hatimu untuk yang lain. Aku akan pulang sekarang. Kasian Hani sudah menunggu terlalu lama di bawah…”


Secepatnya Faiq berlalu dari kamar Hesti. Ia terpaku melihat tas bawaan Hesti tergeletak di depan pintu kamar. Perasaannya tidak enak. Ia yakin, Hani melihat apa yang mereka lakukan di kamar Hesti. Faiq merasa cemas, ia takut Hani akan berprasangka buruk padanya.


Tanpa mempedulikan panggilan Hesti ia turun dengan cepat. Saat berpapasan dengan Dewi ia menanyakan keberadaan Hani.


“Ibu melihat keberadaan istri saya?” tanpa mempedulikan pandangan mata yang menyorot padanya Faiq bertanya pada Dewi.


“Bukankah kamu baru mengantar istrimu ke kamar kalian?” Dewi menjawab sekedarnya. Ia melihat Faiq yang kebingungan karena tidak menemukan sosok Hani di antara mereka.


“Maksud saya Hani…” Faiq memandang sekelilingnya mencari bayangan istrinya di antara keluarga besar Hesti yang sedang membantu persiapan tahlilan malam nanti.


“Tadi dia mengantarkan tas istrimu ke kamar kalian.”


Faiq merutuk dirinya sendiri. Kenapa ia bisa terjebak dengan situasi ini lagi.  Tanpa menghiraukan Dewi serta keluarga besarnya Faiq melangkah dengan cepat ke luar. Sambil berjalan ia mengedarkan pandangan mencari sosok Hani diantara orang-orang yang ada di rumah Hesti.


Saat mendekati ruang tamu, samar-samar ia mendengar suara lembut Hani berbicara menceritakan ketiga putra-putrinya. Perasaan Faiq  agak tenang  mendengarnya. Tapi saat ia berada di sana, Faiq merasa tidak senang. Bagaimana tidak melihat semua mata memandang Hani dengan antusias.


“Sayang…” Faiq menghenyakkan tubuhnya di samping Hani, padahal kursi itu sudah tidak cukup menampung tubuhnya yang besar, tangannya mendarat di bahu Hani.


Andre segera berpindah mengetahui Faiq duduk di samping Hani. Ia mengambil kursi lain yang letaknya agak jauh dari mereka.


“Pak Thamrin, perkenalkan istri saya Hanifah Az Zahra..”  ia melihat tatapan seorang laki-laki tegap yang tidak lepas dari istrinya.


“Ya, saya tau. Andre baru saja mengenalkannya pada kami. Saya salut atas kehidupan rumah tangga kalian. Dan saya benar-benar minta maaf atas peristiwa itu. Terutama pada mbak Hani.” Thamrin menatap Hani dengan perasaan tidak enak.


“Ini, perkenalkan Widodo ponakan istri saya. Dia seorang prajurit TNI.” Thamrin merasa Faiq melirik Widodo dengan raut tak senang, karena terus menatap istrinya.


Faiq membalas jabat tangan Widodo dengan kuat. Ia tak akan membiarkan siapa pun mendekati Hani.


“Istrimu sangat menarik.” Widodo berbisik di telinga Faiq, membuatnya emosi jiwa.


“Maafkan kami, karena tidak bisa mengikuti tahlilan hingga selesai. Saya dan Hani akan segera kembali, anak-anak menunggu di rumah.”  Setelah melepaskan jabat tangan Widodo ia menarik tangan Hani, “Andre, tolong pamitkan aku pada ibu dan Dewi.”


“Baik, mas.” Andre mengangguk. Ia merasakan hawa dingin hadir di antara mereka. Melihat sikap Faiq barusan, ia tau ada yang membuat lelaki muda itu kesal.


Sepeninggal Faiq dan Hani, ketiga lelaki dewasa itu berpandangan. Akhirnya tatapan mereka mengarah pada Widodo.


“Apa yang kamu katakan, Le?” Thamrin memandang ponakan istrinya dengan wajah penuh tanya.


Widodo tersenyum puas, “Aku hanya bilang, istrinya sangat menarik.”


Kontan saja mereka tertawa mendengar omongan Widodo. Lelaki mana yang tidak cemburu, jika ada orang lain memuji istrinya bahkan menunjukkan rasa ketertarikan tepat di depan matanya.


“Jangankan kamu, Wid. Mantan suaminya sampai sekarang menyesal menceraikan istrinya.” Ujar Agus santai.


Kini tatapan yang lain berpindah pada Agus. Mereka pada kepo mendengar Agus mengetahui kehidupan istri Faiq.


“Temanku adalah asisten suami pertamanya. Sampai sekarang ia tidak berniat menikah lagi, hanya ingin membesarkan anak-anak hasil pernikahan mereka.”


“Aku yang merasa tidak nyaman karena mengganggu rumah tangga mereka…” Thamrin mengeluh lirih menyesali keputusannya tempo hari.


“Tenang saja, paman. Jika salah satunya diceraikan aku akan menampungnya.” Ceplos Widodo santai.


“Yang mana?” Andre penasaran dengan jawaban Widodo.


“Nomor 1 prioritas, sisanya cadangan.”

__ADS_1


“Enak saja. Mbak Hesti mau kamu jadikan cadangan?” Andre kesal dengan gurauan Widodo yang serampangan.


“Nggak lah. Dari dulu aku udah tresno jalaran soko kulino karo mbakyumu….”


“Hanya saja, kalian berada di waktu dan tempat yang tidak tepat…” Agus berkata dengan bijak.


Mereka mencermati perkataan Agus yang banyak benarnya. Tak lama kemudian tetangga dekat mulai berdatangan memenuhi rumah yang lumayan besar itu.


Selama  perjalanan pulang, Hani mengerutkan jidatnya melihat perubahan sikap Faiq yang tampak kesal. Karman menyetir dengan perlahan. Ia sendiri bingung dengan sikap diam majikannya. Tak biasa Faiq bersikap sedingin itu.


Sesampai di rumah, Faiq langsung melangkah tanpa menghiraukan Hani, membuat keheranan Hani semakin menjadi. Harusnya ia yang marah, tetapi malah kebalikannya. Hani menghela nafas.


Setelah makan malam, Faiq menemani si kembar belajar di kamar mereka. Hasya dengan anteng duduk di pangkuan Faiq sambil menghisap botol susunya. Melihat ketiganya, rasa kesal Faiq mulai hilang. Ia jadi resah sendiri, teringat  kejadian di rumah Hesti.


Rasa cemburu benar-benar mengganggunya. Padahal ia tau, Hani sedikitpun tidak memandang lelaki gagah itu. Dan jika Hani berada di antara mereka bukan kesalahannya, tapi karena ia sendiri yang membiarkan Hesti menahan dirinya di kamar.


Setelah ketiganya tidur dengan nyenyak, Faiq segera memanggil Lina untuk menemani mereka. Tak terasa  malam semakin larut.


Dengan pelan Faiq melangkah ke kamar. Ruangan kamar sepi, ia tidak melihat bayangan Hani di sana. Setelah melaksanakan salat Isya, Faiq segera merebahkan diri di pembaringan. Matanya belum bisa terpejam. Ia membuka ponselnya untuk memeriksa laporan Handoko dan pak Arman tentang perusahaan yang ia tinggal seharian ini.


Hani baru selesai menelpon Mawar. Atas saran Mawar, ia terpaksa pesan barang online untuk melihat reaksi suaminya.


Faiq  tidak kosentrasi membaca email dari ponselnya. Matanya terkunci pada Hani yang baru menyelesaikan salat Isya. Terus terang tidak berbicara dengan Hani seharian membuatnya tersiksa, apalagi adik kecilnya yang sudah panas dingin ingin mencari sesuatu yang anget.


Darah Faiq merasa bergolak, melihat Hani menggunakan baju tidur tipis transparan press body. Ia berusaha menahan diri agar tidak menarik tubuh Hani ke pembaringan.


Hani merasa malu saat disuruh Mawar untuk memilih lingerie yang ia kirim lewat chat-an mereka dua jam yang lalu., biar Faiq bertekuk lutut padanya. Lelaki nggak akan bisa nolak sesuatu yang indah, Hani meringis membuka belanja online yang kini berada di tangannya.


“Kau tau, lelaki itu suka disuguhi yang seperti ini…” ujar Mawar di telpon.


Akhirnya pilihan Hani jatuh pada gaun malam yang lumayan membuat pipinya merona saat mencobanya. Malam ini hawa panas begitu terasa di kamar mereka. Dari sudut kaca riasnya Hani melihat pandangan Faiq fokus padanya.


Dengan santai ia mengoleskan krim malam ke seluruh tubuhnya, kemudian menyemprotkan parfum yang wanginya mengundang gairah. Setelah selesai dengan senjatanya, Hani berjalan santai menuju pembaringan. Tanpa menoleh Faiq, ia mematikan lampu dan langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut dengan membelakangi suaminya.


Melihat tingkah Hani membuat Faiq kebakaran jenggot. Gairahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Ia masih berusaha menahan hasratnya. Aroma parfum Hani membuat tubuhnya makin panas dingin. Faiq membolak-balik tubuhnya dengan gelisah.


Hani yang menyadari kegelisahan suaminya tersenyum kecil. “Rasain, siapa suruh cuekin aku…” batin Hani berusaha menahan tawanya.


Faiq berusaha memejamkan mata. Tapi bukannya tidur, pikirannya malah sudah membayangkan yang ***-***. Dengan kesal Faiq menarik selimut yang menutupi  Hani. Tapi Hani menahan selimut yang menutup tubuhnya. Karena mendapat perlawanan, Faiq tidak tinggal diam. Dengan senyum licik, ia mencari celah. Melihat selimut di bawah kaki Hani yang terbuka, Faiq langsung  menelusup masuk ke dalam selimut.


Begitu tangannya merasakan tubuh hangat Hani, ia langsung memeluknya dengan erat, sambil tersenyum puas.


“Aku akan menghukummu, karena menjadi kucing nakal …” Faiq berbisik dengan suara berat, nafasnya terasa hangat di telinga Hani.


Hani pura-pura acuh tidak menghiraukan tangan Faiq yang mulai bergerilya. Ia berusaha menahan desahan atas sentuhan Faiq yang begitu memuja tubuhnya.


“Kau tidak akan bisa lepas …” bibir Faiq mulai menghisap tempat-tempat favoritnya. “Aku tidak suka melihat orang lain menikmati keindahan istriku. Kamu hanya milikku Rara…”


Hani tersenyum mendengar ucapan suaminya, “Siapa suruh lama-lama di kamar…” Hani menghentikan kata-katnya. Ia tidak ingin mengingat peristiwa itu.


“Hesti yang memeluk mas.” Faiq menghentikan cumbuannya. Ia tak ingin Hani salah paham. Matanya menatap sorot bening Hani. “Kamu cemburu?”


Faiq menyadari raut sedih Hani yang tak bisa berbohong, “Mas senang jika dicemburuin kaya gini. Kamu tambah menggemaskan.”


“Siapa juga yang cemburu, ke-gr-an.” Hani membuang muka. Ia menelungkupkan tubuhnya.


Faiq makin gemes dengan tingkah istrinya, “Yah, yang cemburu berat itu mas.” Faiq mengingat kembali bisikan perwira gagah itu yang membuat emosinya memuncak.


Dengan cepat ia mengangkat tubuh Hani ke sofa dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


“Tatapan matanya begitu bernafsu memandang dirimu.” Faiq mulai kecupan-kecupan ringan di wajah Hani. “Kau sangat menggairahkan malam ini. Mas suka…”


Entah berapa waktu yang terlewat, saat keduanya memadu cinta dalam gelora asmara yang begitu hangat. Faiq menumpahkan segala hasrat dan kerinduan yang ia tahan. Ia berharap semoga Yang Kuasa secepatnya memberi mereka keturunan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2