Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 286 S2 (Menghadiri Undangan Roni)


__ADS_3

Minggu pagi itu Khaira merasa senang, karena semua saudara dan iparnya berkunjung ke rumah mereka untuk makan siang bersama. Ia tidak merasa kesepian di rumah mewah mertuanya, karena saudara dan iparnya selalu menemani mereka hingga tujuh hari kepergian Laras.


Dengan semangat Khaira ditemani Ira bersama Hasya berkutat di dapur untuk menyiapkan menu makan siang yang akan mereka nikmati bersama. Azkia bersama Rheina memotong buah yang akan dijadikan pencuci mulut.


Sementara itu Ivan bersama ipar-iparnya yang lain asyik berbincang di gazebo membahas masalah pekerjaan masing-masing. Perasaan hangat melingkupi hati Ivan melihat kekompakan iparnya yang selalu mendukung serta meramaikan rumah mereka yang sepi semenjak ditinggal Laras.


Makan siang ini rasanya begitu semarak, bagaimana tidak mereka melakukannya di taman belakang rumah. Suasananya seperti pesta kebun. Ivan senang melihat senyum dan tawa tak lepas dari wajah Khaira. Ia masih teringat dengan ucapan Khaira tadi malam, dan ia yakin bukan pilihan yang ringan bagi Khaira untuk menerima pernikahan mereka, tapi ia tetap berjuang untuk mendapatkan hatinya kembali.


“Karena musibah yang menimpa tante Laras, kami terpaksa menumda perjalanan umroh,” Ariq memulai pembicaraan setelah makan siang selesai.


“Jadi kapan rencana perginya mas, mungkin kami bisa ikut bersama …. “ Ivan berkata seketika.


Ia pun ingin pergi bersama Khaira dan si kembar. Ia akan mengobati segala sakit yang pernah dialami Khaira dengan mengajaknya melakukan perjalanan reliji sekaligus liburan bersama.


“Rencananya minggu depan. Aku sudah mengatur jadwal kepergian ke tanah suci selama satu Minggu. Kita juga akan mengunjungi Junior. Bisa jadi perjalanan yang akan kita lakukan menghabiskan waktu dua minggu,” Ariq menjelaskan secara gamblang.


“Minggu depan anak-anak sudah mulai bersekolah mas …. “ Khaira mengingatkan Ariq dan saudaranya yang lain.


“Tidak apa-apa. Mereka bisa izin dulu di sekolah,” Ali menambahkan.


“Yang, besok kita akan ke Indramayu menghadiri resepsi pernikahan Roni,” Ivan memandang Khaira dengan lekat membuat semua mata tertuju pada keduanya.


Rheina tersenyum mendengar sapaan Ivan yang tidak pernah berubah dari dulu, sedangkan Hasya sudah mencibir dengan bibirnya yang manyun membuat Valdo mencubitnya.


“Kenapa mas gak pergi sama Danu saja. Aku akan di rumah bersama si kembar,” Khaira berusaha menolak keinginan Ivan untuk pergi bersama.


“Kamu itu ya de, suami itu ya didampingi. Ntar ada yang ngikut lagi ….” tak ayal Hasya memanas-manasi Khaira, “Yang minat sama suamimu itu banyak lho …. “


Khaira tidak terpancing dengan omongan Hasya. Ia hanya tersenyum tipis dan menyibukkan diri menyuapi Fajar dan Embun yang duduk di pangkuan ayahnya.


Ivan memandang wajah Khaira dengan lekat, tapi tidak tampak perubahan berarti di wajah ayu istrinya. Rautnya masih sama datar tanpa makna. Khaira mengalihkan pandangan ketika tatapannya bersirobak dengan Ivan.


“Pergilah bersama Ivan. Si kembar besok ditinggal di rumah saja. Anak-anak pasti senang dengan adanya Embun dan Fajar,” Ariq sudah memutuskan, “Gak usah bawa pakaian dan susu. Keperluan Fajar dan Embun sudah tersedia di rumah.”


Ia merasa kasian dengan Ivan. Sebagai lelaki ia pun turut merasakan apa yang dirasakan Ivan. Ia tidak ingin Khaira terlalu lama menghukum suaminya, walau pun ia yakin Ivan tidak mungkin membuat kesalahan yang sama. Tapi tetap saja sebagai lelaki dewasa apalagi yang diharapkan dari hubungan antara lelaki dan perempuan, dan Ariq sangat paham akan hal itu.


Mata Khaira membulat mendengar ucapan Ariq. Ia tidak berani membantah, karena ucapan Ariq adalah hukum tertinggi dalam keluarga yang sudah disepakati sejak awal. Sebagai saudara tertua ia yang memberikan keputusan dan yang lain tidak berani membantah jika ia sudah memutuskan.


Senyum kecil terbit di bibir Ivan yang nyaris tak terlihat. Ia merasa bahagia karena Ariq sekarang telah berpihak padanya.


“Ayah, main syana …. “ telunjuk Embun  lentik menunjuk saudaranya yang bermain di dekat kolam ikan, ada pula yang bermain ayunan dan perosotan yang baru dibuat Danu dan beberapa pekerja kemaren.


“Sudah maemnya?” Ivan membelai rambut Embun dan mencium kepalanya dengan penuh rasa sayang.


“Sudah ayah egh …. “ Embun bersendawa membuat semua tersenyum melihatnya.


“Ayah atu itut,” Fajar tak mau kalah.


Ivan segera menggendong keduanya dan Fajar segera naik ke punggung ayahnya tertawa senang karena keinginan mereka dituruti sang ayah.

__ADS_1


“Ra, kamu masih ingat pesan almarhumah oma?” Ariq memulai percakapan serius dengan Khaira begitu Ivan mulai menjauh dari mereka.


Ia memberi kode pada yang lain untuk meninggalkannya  dan Khaira. Ira dan Rheina serta Azkia mulai membersihkan makanan yang tersisa karena semuanya telah menyelesaikan makan siang mereka. Hasya pun turut bangkit dari duduknya dan mengajak Valdo untuk menemani anak-anak bermain.


Ariq ingin mengingatkan adiknya agar membuang segala dendam yang masih tersimpan di hatinya dan ikhlas menjalani kehidupan berumah tangga bersama Ivan.


Mendengar ucapan Ariq, tak nyaman Khaira untuk berkomentar. Ia tau arah pembicaraan Ariq. Ia menundukkan kepala menekuri karpet  alas mereka duduk saat ini.


Dari kejauhan Ivan mengamati interaksi yang terjadi antara istrinya dan kakak ipar tertuanya.  Ia merasa senang karena dengan dukungan Ariq maka semua kepercayaan akan kembali padanya.


“Suami adalah ladang pahala bagi istri,” suara Ariq berkata pelan namun tajam menusuk kesanubari Khaira, “Menyenangkan suami adalah kewajiban seorang istri.”


Air mata Khaira mulai menetes. Bukannya ia tidak paham masalah itu, karena ia pun telah mengalaminya bersama Ivan. Segala upaya untuk menyenangkan Ivan selama mereka berumah tangga telah ia lakukan. Hingga nasehat paling kotor pun ia tanamkan dalam hati hanya untuk menyenangkan suami.


Tidak masalah jadi pel**** untuk suami sendiri ….


Ariq melihat Khaira mulai terisak mendengar ucapannya. Ia tau, Khaira paham semua yang ia katakan, tapi tetap harus diingatkan kembali. Apalagi bagi saudaranya yang lain tidak mungkin untuk menasehati Khaira agar berbuat baik dan menyenangkan suami demi keutuhan rumah tangga yang baru mulai terbina. Mereka sudah paham dengan sikap Khaira yang keras dan tidak mudah ditaklukkan jika tidak sesuai dengan keinginannya.


“Ivan dan almarhumah tante Laras sudah banyak berkorban untuk kita semua, khususnya kamu dan si kembar. Cobalah untuk kembali membuka hatimu padanya …. “


Air mata Khaira menetes semakin deras.  Ia sudah tidak bisa menahan isaknya. Bahunya bergetar menahan tangisnya agar tidak terdengar saudara yang lain.


“Ivan tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali kamu dan si kembar.  Tiada lain yang ia butuhkan sekarang selain perhatian dan kasih sayang seorang istri agar ia bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Tidakkah kau lihat bagaimana sikap dan perilakunya? Kesungguhan Ivan dalam membantumu merawat dan mengasuh si kembar? Jangan menghukum Ivan terlalu lama. Kesabaran seorang manusia ada batasnya.”


Khaira makin dalam kesedihannya mendengar perkataan Ariq. Ia tidak bisa hanya memikirkan keegoisannya  menyimpan rasa sakit yang selamanya tidak akan mudah hilang. Tetapi ia juga harus memikirkan dan menjaga perasaan Ivan. Menghargai semua pengorbanan yang telah Ivan dan mamanya lakukan untuk dirinya dan Fajar.


Dari jarak lima meter Ivan dapat melihat semua gerak-gerik Khaira. Ia tidak  tau apa yang dikatakan Ariq pada istrinya, tapi Ivan yakin bahwa Khaira menangis. Ia melihat Khaira yang berkali-kali menyeka wajahnya dengan tisu yang berada di hadapannya. Tak tega ia melihat istrinya berurai air mata, rasanya saat ini juga Ivan ingin berlari dan memberikan bahunya sebagai sandaran Khaira dan berbagi kesedihan bersama. Terpaksa Ivan menahan diri untuk melakukannya, karena ia yakin Ariq menasehati adiknya  mewakili hati nurani sebagai sesama kaum lelaki, dan ia merasa bersyukur akan hal itu.


Melihat Khaira yang menekuk wajahnya semakin dalam membuat Ariq jadi iba. Ia tau pertentangan batin yang terjadi dalam hati Khaira. Tapi ia ingin Khaira menjaga hati dan perasaan Ivan dan menghargai semua pengorbanan yang telah suaminya lakukan. Dengan pelan Ariq menepuk bahu adik kesayangan mereka.


“Semoga pernikahanmu dan Ivan sakinah, mawaddah dan warahmah. Seperti keinginan orangtua kita yang telah dipanggil terlebih dahulu.”


“Terima kasih telah mengingatkanku mas …. “ ujar Khaira dengan berurai air mata, “Aku akan berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang istri.”


“Sudah jangan menangis lagi. Kamu itu sudah jadi ibu dua anak. Jangan jadi orang yang cengeng,” senyum Ariq terkembang melihat mata Khaira yang bengkak dengan hidungnya yang memerah karena menangis terlalu lama.


“Siapa yang buat aku jadi cengeng, kalau bukan mas Ariq …. “ Khaira mencubit lengan Ariq yang kini menggodanya.


Perasaan Ivan lega melihat Khaira dan Ariq sudah tertawa bersama walau pun meninggalkan bekas yang tampak nyata pada wajah istrinya.


“Yang,  Fajar sudah pengen bobo …. “ Ivan  mendekati Khaira yang masih duduk sedangkan Ariq sudah berjalan menjauh, “Embun masih main perosotan dengan Qeela,”


Khaira segera bangkit dari duduknya. Ivan merangkul bahu Khaira berusaha menguatkan sang istri yang  wajahnya masih tampak muram. Khaira tak menolak perlakuan Ivan. Ia dengan pasrah mengikuti langkah sang suami.


Azan Zuhur dari masjid mulai bergema. Ivan segera membaringkan Fajar di tempat tidur. Ia melihat Khaira yang masih termangu berdiri melihat aktivitasnya. Ia tidak tau apa yang telah dibicarakan  istri dan iparnya, tapi ia yakin sangat mempengaruhi Khaira karena ia dapat melihat wajahnya yang masih mendung.


Diluar dugaan Khaira, Ivan meraihnya dan memeluknya erat. Jemarinya membelai kepala istrinya yang tertutup hijab. Ia ingin memberikan kenyamanan pada Khaira untuk berbagi kesedihan dan menumpahkan semua beban dan bersandar di dadanya.


Khaira terdiam atas semua perlakuan Ivan. Sejenak ia merasakan kehangatan dalam dekapan suaminya. Ivan merasakan kedua tangan Khaira mulai melingkar di perutnya. Senyum tipis terbit di wajah Ivan menyadari Khaira mulai membalas perlakuannya.

__ADS_1


Ia melepas pelukan dan meraih dagu Khaira untuk menatap wajahnya. Ia melihat bulir-bulir air mata kini menggenang lagi di mata bening istrinya. Ivan mendekatkan wajahnya dan memandang telaga madu yang sempat ia akrabi tadi malam.


Khaira pasrah ketika Ivan mulai menjatuhkan bibirnya dan mendarat dengan pelan di bibirnya. Melihat Khaira yang tak bereaksi membuat Ivan semakin percaya diri. Saat ia mulai mendapat akses untuk memperdalam ciumannya, ketukan di pintu membuatnya menahan kesal di dalam hati.


“De, Embun nangis cariin ayahnya …. “ suara Ira menghentikan aktivitas Ivan.


Khaira tersentak dan mendorong tubuh Ivan yang masih menempel rapat dengannya. Ivan tersenyum sambil menganggukkan kepala dan berjalan membuka pintu.


“Ayah …. “ seperti anak Koala dengan cepat Embun berpindah ke pelukan Ivan begitu melihat ayahnya membuka pintu.


“Yang lain udah pada ke masjid, kalian berdua malah asyik di kamar,” Hasya muncul di hadapan mereka sambil membawa botol, “Mentang-mentang penganten baru maunya di kamar mulu ….”


Ivan tersenyum mendengar sindiran kakak iparnya yang paling ringan mulutnya diantara yang lain. Ia memandang Khaira dan menyerahkan Embun yang kini mulai terlelap dalam gendongannya.


“Mas ke masjid dulu. Embun pun sudah tidur,” Ivan berkata pelan sambil berjalan menuju tempat tidur.


Ia langsung membaringkan Embun dengan pelan dan mengecup keningnya lembut.


“Mas akan ke masjid menyusul yang lain,” Ivan berkata sambil menatap Khaira dengan lekat.


Khaira menganggukkan kepala tidak berani menatap wajah Ivan. Senyum bahagia tergambar di wajah Ivan melihat rona merah yang tergambar di wajah Khaira. Ia yakin Khaira mulai menerima keberadaannya.


Jam delapan pagi Ivan dan Khaira memulai perjalanan ke Indramayu untuk menghadiri pernikahan sekaligus resepsi Roni. Mereka telah menitipkan si kembar di rumah Ariq. Si kembar merasa senang melihat semua sepupunya berkumpul di rumah Ariq. Kebetulan waktu liburan kenaikan kelas masih tersisa satu minggu.


Perjalanan dari Jakarta menuju Indramayu  memakan waktu hampir empat jam melalui tol Palimanan. Ivan sengaja tidak membawa supir ataupun mengajak Danu. Ia ingin menikmati perjalanan berdua bersama Khaira.


“Hatchi …. “ Ivan bersin. Ia memandang Khaira dengan perasaan tidak nyaman, “Maaf….”


Khaira memandang Ivan. Ia merasa bahwa kondisi suaminya tidak fit. Kembali Ivan bersin membuat Khaira merasa khawatir. Ia melihat keringat mulai mengalir di wajah suaminya. Spontan Khaira meraba dahi Ivan. Ia merasakan tubuh Ivan dingin dan mulai berkeringat..


“Mas, dahimu dingin. Mas baik-baik saja kan?” raut cemas tergambar di wajah Khaira.


Ivan meraih jemari Khaira yang masih menempel di pelipisnya dan menciumnya kemudian  menggenggamnya. Kehangatan menyelimuti hatinya mendapat perhatian Khaira. Kembali ia mencium lembut jemari Khaira yang berada dalam genggamannya.


“Mas baik-baik saja,” Ivan tersenyum lembut menenangkan Khaira yang menatapnya dengan cemas.


Khaira meraih tisu dan menyeka keringat dingin yang mengalir di wajah Ivan. Ia melihat wajah suaminya tak berhenti dengan keringat yang terus menerus menganak sungai.


“Kita mampir ke rumah sakit ya mas. Aku khawatir …. “ Khaira tak bisa menutupi rasa cemasnya melihat keadaan Ivan.


“Mas hanya kecapean sayang,” Ivan melirik jam di pergelangan tangannya, “Sepuluh menit lagi kita sampai.”


Khaira mendesah pelan. Tatapannya tak beralih pada Ivan. Ia tau apa yang dikatakan Ivan memang benar. Suaminya kurang istirahat. Setelah mengurus si kembar selama seminggu di rumah sakit, ditambah musibah yang menimpa Laras otomatis Ivan mengurangi jatah istirahat dan tidurnya di malam hari.


“Itu rumahnya …. “ Ivan merasa lega ketika melihat janur yang terpasang tinggi di sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman yang sangat luas.


“Sepulangnya nanti kita mampir ke praktek dokter ya mas,” Khaira masih belum mau turun dari mobil begitu Ivan sudah memarkirkan mobil di lapangan luas di seberang tempat acara pernikahan berlangsung.


“Ya sayang. Mas akan mengikuti keinginanmu.”

__ADS_1


***Bakal ada kejutan di pernikahannya Roni. Apa ya .... dukung\, vote\, kritik dan sarannya aku tunggu ya... Sayang untuk reader semua ....***


__ADS_2