
Tatapan Hesti terpaku melihat sebuah mobil baru merk S yang harganya di kisaran 250 juta. Terparkir dengan rapi di halaman rumahnya, dengan seorang lelaki muda yang dengan santai bersandar di pintu mobil. Rasa penasaran membuatnya langsung keluar dari mobil meninggalkan Rudi dan Faiq yang masih mengobrol ringan.
“Ternyata Rizwar sudah sampai duluan dari kita.” Faiq memandang Rizwar yang sudah menanti mereka dengan senyum lebarnya.
Hesti melupakan kalau ia tadi pagi masih menggunakan kursi roda, dan Faiqlah yang mengangkatnya ke dalam mobil. Hesti berjalan menghampiri Rizwar. Kini ia berdiri tepat di hadapannya.
Faiq dan Rudi tersenyum berpandangan melihat Hesti yang berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Apa saya mengenal anda?” Hesti berbasa-basi melihat penampilan Rizwar yang tidak kalah dengan Faiq.
“Saya pengacara Faiq.” Jawab Rizwar tenang.
Hesti terkejut mendengar jawabannya. Kini ia mengalihkan pandangan pada Faiq dan Rudi yang berjalan berdampingan menghampiri keduanya.
“Mari kita selesaikan di dalam. Aku sudah mengundang beberapa kerabat almarhum ayahmu.” Dengan santai Faiq berjalan meninggalkan ketiganya menuju rumah yang pintunya terbuka lebar karena melihat dua buah mobil yang baru terparkir di halaman rumah.
“Assalamu’alaikum…” Faiq memberi salam pada penghuni rumah.
Keterkejutan menghiasi wajah Dewi melihat menantu tampannya sudah berada di hadapan mereka. Sepagi ini Thamrin adik iparnya telah memberitahunya, bahwa mereka akan kedatangan tamu dari kota. Andre dan Yuni adik Hesti yang kebetulan berkunjung di rumah ibunya turut bersiap mendengar perkataan pamannya.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Mereka yang berada di dalam ruangan menjawab salam dengan kompak.
“Silakan masuk, nak Faiq dan teman-temannya.” Thamrin tersenyum lebar menyambut menantu ponakannya.
“Terima kasih pak.” Faiq memandang Rizwar dan Rudi yang berdiri di belakangnya, dan memberi isyarat untuk mengikuti langkahnya.
Mereka duduk bersama di ruang tamu yang lumayan luas itu. Dari pihak keluarga Hesti, semuanya hadir, termasuk suami Yuni yang bernama Agus dan istri Andre, Rina. Mereka penasaran mendengar cerita mertua mereka yang mengatakan bahwa Faiq dan Hesti akan meneruskan pernikahan mereka, karena Faiq juga menyukai Hesti.
__ADS_1
Apalagi mengingat Faiq yang berasal dari keluarga kaya, maka Dewi sedapat mungkin akan berusaha mempertahankan pernikahan siri anaknya dan melegalkan pernikahan itu.
“Mohon maaf kedatangan kami di rumah almarhum keluarga pak Bambang memang sudah kami rencanakan seminggu yang lalu.” Rizwar mulai membuka suara. “Saya mewakili klien atas nama Faiq Al Fareza ingin mengembalikan nona Hesti kepada keluarga besarnya.”
Hesti tercekat, ia memandang wajah Faiq yang fokus mendengar perkataan Rizwar. Ia sama sekali tak menyangka, Faiq mengembalikannya kepada keluarga besar tanpa berkompromi terlebih dahulu. Sejenak angannya yang sudah melambung tinggi, terhempas ke dasar hancur tak berbekas.
“Apakah nak Faiq tidak ingin melegalkan pernikahan ini. Dalam Islam laki-laki yang memiliki lebih dari satu istri itu tidak masalah.” Thamrin mulai menyela kata-kata Rizwar.
“Maafkan saya, pak.” Rizwar langsung memotong ucapan Thamrin, “Memang dalam hukum Islam lelaki poligami itu dibolehkan. Tetapi klien saya sangat mencintai keluarganya. Dan dia tidak bisa menyakiti istri yang sangat ia cintai. Di tambah lagi istrinya sekarang sedang hamil.”
Thamrin dan Dewi terkejut mendengar Rizwar menceritakan kehamilan istri Faiq. Keduanya berpandangan dengan penuh tanya, karena Dewi sempat menceritakan kepada Thamrin bahwa istri Faiq telah meninggalkan rumah karena tidak mau dipoligami. Dan ia sangat bahagia akan hal itu. Dengan demikian langkah Hesti untuk menjadi satu-satunya nyonya Faiq Al Fareza akan segera terwujud.
Rizwar mengeluarkan beberapa berkas di dalam tas kerja yang telah mereka persiapkan sejak awal. “Kita tidak perlu berbasa-basi lagi. Karena perjanjian pernikahan mereka juga sudah melewati batas yang telah disepakati sejak awal. Pernikahan yang seharusnya hanya selama 40 hari mundur hingga 80 hari terhitung hingga saat ini. Jadi di depan keluarga besarnya, klien saya akan segera menjatuhkan talaknya kepada nona Hesti Handayani.”
Suasana hening sesaat. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Hanya pikiran masing-masing yang berperang dengan keinginan yang tak berbalas, sedangkan Faiq dan rekan-rekannya merasakan ini saatnya ia melepas dan memberi kebebasan pada Hesti yang membuat rumah tangganya bermasalah dan belum terselesaikan hingga detik ini.
“Apa nak Faiq benar-benar ingin melepaskan Hesti?” Thamrin berusaha mendobrak pertahanan Faiq yang tetap kukuh untuk menceraikan Hesti. “Bukankah istri nak Faiq seorang janda, tidakkah seorang gadis lebih baik dari seorang janda?”
“Maafkan saya, pak. Kita tidak berhak menghakimi seorang manusia. Saya yang paling tau kebaikan istri saya dari siapapun. Di depan keluarga besar almarhum pak Bambang Sutowo saya Faiq Al Fareza menjatuhkan talak pada istri saya Hesti Handayani binti almarhum Bambang Sutowo. Dan saya mengharamkan diri saya untuk menyentuh saudari Hesti Handayani untuk selama-lamanya.” Faiq tak ingin berlama-lama di antara keluarga besar Hesti yang telah membuang waktunya. Ia menghela nafas lega setelah mengucapkan kalimat sakti itu.
Pihak keluarga Hesti terhenyak mendengar ucapan Faiq yang telah menjatuhkan talaknya. Mereka tidak menyangka Faiq langsung mengatakan itu disaat mereka berusaha mengulur waktu.
“Saya akan kembali ke Jakarta karena masih ada keperluan lain, biar Rizwar yang akan mengurusnya.” Tanpa menunggu komentar keluarga Hesti, Faiq dan Rudi langsung pamit dan meninggalkan kediaman Hesti.
Hesti dan Dewi menatap nanar kepergian Faiq yang diikuti Rudi. Mereka berjalan dengan cepat menuju mobil yang terparkir di halaman. Sopir pribadi Rizwar juga telah menunggu di dalam mobil, karena Rizwar masih mengurus berkas bersama Hesti dan keluarga besarnya.
Sepeninggal Faiq dan Rudi, Rizwar meletakkan berkas di atas meja. “Walaupun pernikahan yang terjadi hanya perjanjian sementara, tetapi Faiq tetap memberikan hak kepada mantan istrinya. Dia telah membelikan sebuah apartemen di Kalibata serta sebuah mobil untuk mobilitas nona Hesti. Dan nona Hesti telah melihat sendiri mobil yang diberikan saudara Faiq.” Rizwar mengulurkan berkas yang telah ditandatangani Faiq.
__ADS_1
“Kalau memang nak Faiq tidak mencintai Hesti kenapa dia memberikan semua fasilitas ini?” Thamrin tidak mengerti dengan jalan pikiran Faiq.
Rizwar menghela nafas. “Kami sudah merundingkan semuanya. Faiq hanya tidak ingin dikemudian hari ada tuntutan dari pihak keluarga di sini, karena dianggap lelaki yang tidak bertanggung jawab. Dan di sini Faiq telah membuat pernyataan tidak akan ada tuntutan kedua belah pihak atas pernikahan siri yang tidak merugikan pihak manapun.”
Hesti terhenyak, harapannya untuk menjadi nyonya Al Fareza telah kandas. Faiq telah menjatuhkan talak padanya. Ia menatap Dewi dengan perasaan sedih. Tapi ia tak bisa menyalahkan siapapun. Inilah komitmen mereka sejak awal. Dan Faiq telah memenuhi janjinya.
“Faiq hanya ingin melindungi keluarga kecilnya.” Rizwar menatap Thamrin yang masih terpaku memandang Hesti yang terdiam tak berdaya. “Silakan nona Hesti beserta saksi untuk menandatangi semua berkas yang telah saya siapkan.”
Mata Hesti berkaca-kaca menatap berkas perceraian di atas meja. Tertulis namanya dan nama Faiq serta beberapa saksi dari pihak keluarganya. Tanda tangan Faiq sudah tercetak jelas.
“Jika salah satu pihak kami tidak mau menandatanganinya?” Dewi berusaha menghalangi Rizwar. Terus terang ia tidak ingin melepaskan Faiq sebagai menantunya.
“Saya sebagai kuasa hukum saudara Faiq akan mengajukan tuntutan balik, karena anda telah mengingkari kesepakatan awal, dan menjebak klien kami untuk melakukan pernikahan ini.”
Dewi dan Hesti saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Faiq telah mempersiapkan semuanya secara terperinci.
Dengan berat hati Hesti menandatangani berkas yang ada di hadapannya. Sorot matanya penuh duka, tapi mau bagaimana lagi. Semua ini memang bukan keinginan Faiq.
Rizwar menerima berkas dari Hesti dan membacanya dengan seksama. Thamrin dan Andre pun segera menandatangani semua berkas yang diberikan Rizwar. Mereka berdua tau, semua bukanlah kesalahan Faiq, dan mereka menerimanya dengan lapang dada.
“Terima kasih atas kerja samanya.” Dengan cepat Rizwar membereskan semua berkas. Kini ia percaya dengan omongan Faiq, hanya Andre yang masih berpikiran waras dalam menghadapi permasalahan mereka.
Ruangan hening setelah kepergian Rizwar. Andre mengetahui kedukaan yang dialami saudaranya. Ia menghela nafas dengan berat.
“Mbak tak usah berlarut dalam kesedihan. Mas Faiq lelaki yang bertanggung jawab. Buktinya ia menyiapkan rumah serta kendaraan buat mbak Hesti. Kalau lelaki lain, belum tentu seperti dia.”
Dewi merasa kecewa mendengar ucapan Andre yang tidak mendukungnya untuk mempersatukan Hesti dan Faiq dalam pernikahan legal. Dan kekesalannya semakin menjadi mendengar berita kehamilan Hani.
__ADS_1