Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 37


__ADS_3

Hani masih memijit betisnya yang pegal. Rasa lelah menghinggapi dirinya. Kebetulan Faiq masih di luar bercengkrama dengan keluarga besarnya. Ia sangat bersyukur saat Faiq mengetahui kegelisahan dirinya.


“Beristirahatlah dulu. Aku tau kamu lelah. Nanti aku dan dedek akan menyusul.” Faiq berkata dengan lembut. Ia membelai kepala Hani dengan mesra.


“Aku nggak enak sama rekan kamu dan ayah, mas.”


Faiq tersenyum, “Nggak apa, biar mas sama ayah yang menemani mereka. Mas tau, sejak sore kamu tidak sempat beristirahat. Nanti mas akan menyusul.”


“Terima kasih, mas.”


Belum sempat Hani berjalan meninggalkan Faiq dan kedua orang tuanya, tampak Santoso datang bersama istrinya serta Sonia yang digandeng seorang lelaki gagah.


“Selamat atas penikahanmu nak Faiq.” Santoso menjabat tangannya dengan kuat. Tatapannya beralih pada Hani, dengan raut meremehkan.


“Terima kasih, om.” Faiq memjawab Santoso dengan hangat.


“Istrimu cantik sekali.” Puji Fani tulus saat ia menyalami Hani sambil matanya melirik Faiq yang sedang bersalaman dengan pasangan Sonia.


“Terima kasih, tante.” Faiq tersenyum samb


Sonia menatap Hani dengan raut tidak suka, tapi mau bagaimana lagi, Faiq tidak tertarik dengan perjodohan yang ditawarkan orang tuanya.


“Wah, syukurlah nak Sonia sudah menemukan calon yang tepat.” Marisa tersenyum pada Sonia yang menggandeng pasangannya dengan mesra.


“Maaf, jeng. Kemaren kami tidak sempat mengundang saat pesta pertunangan Sonia dan Bram. Kenalan papinya…” Fani tersenyum bangga memperkenalkan calon menantunya.


“Bramantyo…” Lelaki gagah itu mengulurkan tangannya pada Faiq. Keduanya berjabatan tangan dengan erat.


“Profesinya adalah pialang. Ia bekerja di pasar modal.” Santoso menyebutkan profesi calon mantunya.


Mereka terlibat percakapan yang hangat. Faiq merasa senang mengenal tunangan Sonia. Dari cara bicaranya menunjukkan bahwa ia memiliki wawasan yang luas dan termasuk low profile.


Setelah meminta ijin dengan Faiq dan kedua mertuanya, Hani berjalan menuju lantai paling atas  yang telah dipersiapkan sebagai kamar pengantin mereka ditemani Lina.


Sebuah kamar president suite telah didekor dengan cantik menyambut kedatangan Hani. Ia sangat terpukau melihat keindahan yang tercipta di hadapannya.


“Wah, kamarnya bukan kaleng-kaleng.” Cerocos Lina langsung dicubit Hani, “Keceplosan, bu. He he….”


Hani tersenyum menanggapi kicauan Lina, “Terima kasih, Lin.”


“Saya pamit ke bawah, bu.”

__ADS_1


Hani mengangguk. Ia menutup pintu perlahan, pandangannya mengitari ruangan kamar yang sangat luas. Dengan cepat ia membuka penutup kepala, kemudian membuka gaun pengantin yang terasa berat di tubuhnya.


Setelah menemukan piyama di dalam koper yang telah ia siapkan dari rumah, Hani langsung ke kamar mandi. Ia ingin segera melaksanakan salat Isya.


Sementara itu Faiq masih asyik berbincang dengan rekan kerja Darmawan serta beberapa kenalan yang mereka undang.


Tepat jam 10 malam, Faiq kembali ke kamar pengantinnya. Ia melihat sekeliling, sangat hening, tidak tampak ada kegiatan apapun. Saat melangkah menuju tempat tidur ia tersenyum. Sebuah piyama sudah tersusun dengan rapi di atas tempat tidur. Ia mengernyitkan dahi, karena tidak melihat sosok Hani di kamar pengantin mereka.


Saat hendak melangkah, Faiq memandang ke sebelah kanan. Ia terkejut Hani tertidur dengan masih menggunakan mukena yang menutupi tubuhnya.


“Masya Allah.” Faiq membatalkan langkahnya ke kamar mandi. Dengan perlahan ia melepaskan mukena yang masih digunakan Hani, kemudian mengangkat tubuh ramping istrinya ke atas tempat tidur. Dengan lembut ia mengecup kening Hani.


Faiq tersenyum  mengingat drama antara Hasya dan Lina. Ia tidak keberatan si mungil tidur bersama mereka malam ini, tapi Marisa dan Wulan terus membujuk Hasya  agar ikut Wulan tidur di kamar lain. Mereka tidak ingin mengganggu malam pengantin keduanya. Darmawan meminta pegawai hotel untuk mengosongkan beberapa kamar yang akan diisi keluarga dekatnya yang berasal dari luar kota maupun asisten Hani


Setelah melaksakan salat Isya, Faiq segera naik ke tempat tidur. Ia memandang wajah Hani dengan lekat. Rasa syukur ia panjatkan kepada Yang Kuasa, karena impiannya untuk menyunting perempuan yang sejak awal telah mencuri hatinya kini tercapai.


Wajah teduh dan ayu Hani begitu menenangkan perasaan Faiq. Melihat istrinya yang tidur dengan pulas, rasanya tak tega Faiq untuk membangunkannya. Akhirnya Faiq memejamkan matanya yang juga sudah terasa berat.


Sebelum subuh datang, Faiq bangun dari tidurnya. Ia melihat Hani yang masih tertidur pulas di sisinya. Ia membelai rambut istrinya dengan lembut dan memberikan kecupan singkat di keningnya. Beranjak dari pembaringan Faiq langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu melaksanakan salat malam, untuk mengucapkan syukur atas rahmat dan kebahagiaan yang telah diberikan Allah padanya.


Sayup-sayup Hani mendengar suara lirih dari kamar tempatnya berada. Ia menajamkan pendengarannya. Dari temaram lampu kamar ia melihat Faiq yang sedang berdoa di sudut kamar dengan suara lembut.


“… ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya ini. Kuatkan dan rekatkan jalinan yang telah Engkau halalkan ini dalam ikatan rumah tangga yang kokoh. Jadikan hamba suami yang baik bagi istri hamba. Hamba yakin, masih ada keraguan dalam diri istri hamba. Ya Allah yang Maha pembolak-balik hati, tetapkanlah  hati istri hamba dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami yang baru terbina hari ini.


Biarkan mereka tetap tersenyum dan tertawa. Hamba tidak ingin meminta yang lain lagi ya Allah. Hamba sangat bersyukur dan bahagia bersama istri dan anak-anak hamba...”


Faiq terkejut merasa sebuah tangan memeluk belakangnya dengan erat. Ia menoleh ke belakang, melihat Hani sudah berurai air mata.


“Rara, ada apa sayang….”  Faiq membalik badannya langsung merengkuh Hani ke dalam pelukannya.


Hani menangis sesegukan menumpahkan kepedihan yang ia rasakan, dan tak pernah ia ungkapkan kepada siapapun apa yang membuat dirinya trauma untuk berumah tangga. Do’a yang disampaikan Faiq benar-benar mencubit sanubarinya. Ia sadar belum sempurna untuk mencintai dan menjadi istri bagi seorang Faiq Al Fahreza.


“Menangislah, jika itu membuat rasa sesak di dadamu berkurang.” Faiq membelai rambut Hani dengan lembut sambil mengecup dahi istrinya dengan penuh kasih.


Hani menghentikan isakannya dan memberanikan diri menatap wajah tampan suaminya. Air mata masih mengalir menganak sungai di pipinya.


Faiq memegang wajah Hani dengan kedua tangannya, dan menatap lekat  mata sayu yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan pelan ia menghapus butiran air mata dengan jari-jarinya. “Katakanlah apa yang mengganggu  pikiranmu. Mas siap mendengarnya. Kalau berkaitan dengan trauma masa lalu, kita bisa konsultasi ke dokter…”


Hani menggelengkan kepala. “Maafkan aku … yang belum bisa menjadi istri yang baik buat mas Faiq. Aku bukanlah seorang wanita sempurna, aku hanya seorang janda dengan tiga anak …”


Faiq menggelengkan kepala sambil tersenyum mesra, “Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Allah telah menciptakan semua yang ada di dunia ini berpasangan. Dan kamu diciptakan Allah untuk menyempurnakan iman mas sebagai seorang muslim. Mari kita meraih surga Allah bersama-sama. Mas menginginkanmu untuk mendampingi mas, tidak hanya di dunia, tapi hingga ke surganya Allah.”

__ADS_1


Hani meraih kedua tangan Faiq yang masih memegang wajahnya, dan menggenggamnya dengan erat. “Aku sangat berterimakasih atas cinta dan kasih sayang yang telah mas berikan pada anak-anak. Di saat ayahnya tidak peduli …”


Faiq mencium dengan hangat kedua tangan Hani yang berada di atas pangkuannya. “Akulah ayah mereka. Aku akan selalu ada untuk ketiga anak kita.”


Raut kesedihan tampak menyelimuti wajah Hani, dan Faiq menyadari itu. Ia yakin ada sesuatu yang masih ditutupi Hana, hingga membuat trauma yang berkepanjangan dan tidak diungkapkan pada siapapun.


Hani menghela nafas berat, “Aku merasa malu dan kotor…” Ia menutup wajah dengan kedua tangannya membuat Faiq mengerutkan dahinya. Tapi ia tak menanggapi, cukup menjadi pendengar yang baik dan ia siap  mendengarkan Hani mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.


Faiq membelai rambutnya dengan mesra, matanya memandang wajah sendu Hani yang tepat berada di hadapannya.


“… Helen memasang cctv di kamar tidur kami. Dan dia melihat setiap kami berhubungan intim…” suara Hana tercekat di tenggorokan. “Dia merendahkanku, dan mengejekku tidak mampu untuk memuaskan suami….”


“Astaghfirullahaladjim…” Faiq merasa kaget mendengar curahan hati Hani. Ia langsung memeluk Hani dengan erat, tak henti-hentinya mengecup kepala Hani untuk memberikan dukungan padanya. Ia merasakan tubuh Hani bergetar hebat. Inikah trauma terberat yang dialami istri tercintanya, sehingga perlu waktu lebih lama bagi Faiq untuk meyakinkan Hani, agar menerimanya untuk memulai hubungan dalam ikatan pernikahan.


Faiq  tak mampu untuk berkata apapun setelah mendengar perkataan Hani. Ia merasa geram sendiri, sungguh keterlaluan perbuatan Helen begitupun Adi mantan suaminya.


Setelah membiarkan Hani tenang, Faiq melepaskan pelukannya dan menatap Hani dengan lembut, “Mulai detik ini, kamu harus percaya diri. Mas akan melindungimu dari siapapun. Jangan biarkan perempuan itu meremehkanmu. Kamu adalah ciptaan Allah yang paling sempurna di mata mas. Kita akan melalui ini bersama. Biar Allah yang membalas segala perbuatan jahat mereka padamu.”


Hani merasakan ketenangan setelah berterus terang pada suaminya. Setitik  cahaya mulai mengisi relung hatinya. Ia membiarkan Faiq yang mulai mengecup keningnya. Dan ia merasakan sesuatu yang hangat  menyapu bibirnya. Faiq mencium bibirnya dengan lembut. Dan mereka berdua saling menguatkan satu sama lain.


Setelah melaksanakan salat Subuh berjama’ah, Faiq mulai membimbing Hani kembali ke peraduan. Sebagai sorang lelaki normal. Faiq sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya. Apalagi Hani adalah perempuan yang sangat dicintainya dan sudah sah menjadi miliknya.


Walaupun sudah pernah berumah tangga, tetapi untuk berhubungan intim dan memuaskan suami bagi Hani masih sangat awam. Ia membiarkan Faiq yang memulai semuanya. Ia sudah memasrahkan diri apapun yang akan diperbuat suaminya terhadap dirinya ia akan ridha.


Senyum tersungging di bibir Faiq, saat ia merasakan sendiri yang namanya surga dunia. Walaupun ini adalah pengalaman pertama baginya, tapi ia sungguh bersyukur, karena melakukannya dengan perempuan yang selalu ia sebut namanya di sepertiga malam.


“Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu.” Ujar Faiq setelah menuntaskan hasratnya yang sudah sekian lama ia tahan. Faiq memandang wajah Hani yang bersemu merah. Rasanya tak puas ia memandang mata bening yang menghanyutkan itu.


Hani menutup wajahnya dengan selimut, ia merasa malu karena tatapan Faiq tak lepas dari wajahnya. Baru kali ini ia merasa sangat dihargai. Saat menikah dengan Adi, ia merasa hanya sebagai obyek pelepas kebutuhan biologis suaminya sekaligus mesin pencetak anak bagi keluarga mereka.


“Kenapa harus ditutupi. Aku sangat memujamu. Kamu adalah perempuan terakhir yang ku inginkan untuk menjadi pendamping serta ibu dari anak-anakku kelak. Nggak peduli berapapun yang akan diberikan yang Kuasa nanti.” Dengan pelan Faiq meraih selimut yang menutupi wajah Hani dan seluruh tubuhnya.


Saking kuatnya Hani menahan selimut yang menutupi dirinya, membuat Faiq tersenyum lebar. Ia kini sedikit memahami bagaimana kondisi rumah tangga yang pernah dijalani Hani dan mantan suaminya.


Sekali tarikan selimut terlepas, Hani kalang kabut. Faiq merasa matanya dimanjakan dengan pemandangan indah di depannya. Nalurinya kembali bangkit, tanpa permisi ia langsung mendaratkan tubuh tegapnya dengan penuh kelembutan untuk menggapai surga dunia yang  kedua kalinya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2