Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 248 S2 (Pertemuan Tak Terduga)


__ADS_3

Ivan tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia memutuskan berkunjung ke pondok pesantren walau pun tidak ada janji temu dengan ustadz Hanan.  Keinginannya hanya satu, jika ia melihat si kembar, maka ia akan  menemui bundanya.


Sejak  awal ia sudah berjanji dengan Danu selepas salat Subuh langsung berangkat agar lebih cepat sampai di pondok. Ia tidak ingin menundanya lagi. Danu merasa heran dengan keinginan si bos, tapi mau bagaimana lagi. Sebagai asisten kepercayaan ia tidak berhak menolak perintah, apa lagi gaji yang diberikan perusahaan serta bonus Ivan  sangat menggiurkan membuatnya menolak tawaran menjadi fotografer di studio lain.


Ustadz Hanan terkejut ketika salat Zuhur tiba Ivan turut menjadi makmum di belakangnya bersama asistennya Danu. Padahal dua hari yang lalu mereka baru saja bertemu di kantor Ivan bersama Berli dan sekretarisnya untuk memulai rencana pembuatan sketsa denah bangunan rumah sakit.


Setelah melaksanakan salat Zuhur, ustadz Hanan mengajak Ivan untuk makan siang bersama tapi Ivan langsung menolak dengan alasan telah makan siang saat di perjalanan.  Terpaksa ustadz Hanan membatalkan keinginannya untuk makan siang karena menghargai tamunya.


Ustadz Hanan segera mengeluarkan sketsa kasar yang mulai ia rancang beberapa hari terakhir. Dengan serius ia menjelaskan setiap ruangan secara mendetail. Semua tergambar dan terukur secara jelas walau pun masih belum sempurna seratus persen.


Ivan tidak konsen mendengar perkataan ustadz Hanan, matanya mengitari halaman yang luas berusaha mencari sesuatu.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” pertanyaan ustadz Hanan langsung menghentikan aktivitas Ivan.


“Hari ini suasana tampak sepi. Dan pondok kelihatan tenang sekali .... “ Ivan berkata sambil tersenyum tapi matanya masih mengarah ke pondok di mana ia terakhir kalinya melihat si kembar dibawa pengasuhnya pulang.


“Sekarang para santri dan ustadzah sedang liburan semester. Banyak yang pulang ke rumah masing-masing,” ustadz Hanan menjelaskan tanpa curiga dengan sikap sahabatnya.


Setelah pembahasan selesai, Ivan ssegera undur diri. Ia merasa kecewa karena keinginannya untuk mencari jawaban tentang ustadzah Aisya dan si kembar tidak berhasil. Danu merasa heran dengan tingkah Ivan yang lebih banyak diam saat mereka dalam perjalanan pulang.


“Kita mampir untuk makan siang,” ujar Ivan setelah mereka menghabiskan waktu sekitar empat jam perjalanan.


Karena tidak menemukan rumah makan yang cukup standar untuk bosnya, akhirnya Danu mengarahkan mobilnya memasuki pusat perbelanjaan yang ada restoran terkenal di dalamnya.


Keduanya segera memasuki pusat perbelanjaan yang lumayan ramai di saat liburan sekolah itu. Jam telah menunjukkan pukul 3 siang. Danu hanya tersenyum mengingat  bahwa mereka belum makan siang hingga jam segini.


Kini keduanya sudah memasuki restoran yang lumayan ramai. Banyak pengunjung yang sedang menikmati kuliner di restoran yang terkenal itu.


“Mommy udah bilang jangan lari-lari,” sebuah suara perempuan terdengar keras memarahi anaknya yang sedang menangis karena terjatuh.


“Maafkan Bobby Mom. Bobby janji nggak akan nakal lagi,” suara bocah lelaki yang berusia sekitar 6 tahun itu terdengar ketakutan.


“Jangan membuat Mommy malu. Sudah berapa kali Mommy bilang,” perempuan muda itu tak segan mencubit putranya sehingga bocah lelaki itu tidak berhenti menangis.


Lututnya tampak lecet karena tergores keramik licin yang ia lewati karena berlari, saking senangnya diajak mommynya makan di restoran.


“Nona Laura .... “ Ivan tertegun melihat perlakuan Laura terhadap anak lelaki yang masih sangat belia itu.

__ADS_1


Laura terkesiap melihat perbuatannya dilihat oleh Ivan. Lelaki yang telah ia ketahui latar belakangnya dan membuat ia mulai merancang sesuatu yang berbeda dalam hidupnya.


Ivan segera mengangkat anak lelaki yang tampak ketakutan dengan sikap kasar ibunya. Ia mendudukkannya di kursi  kosong yang berada di samping mereka saat ini.


Tanpa diminta Danu segera memesan ruang khusus untuk menghindari bosnya yang tidak terbiasa makan di tengah keramaian.


Ivan memandang Bobby yang kini mulai tenang. Setiap mengingat bocah lelaki, ia selalu teringat pada Bryan. Dengan kepergian Bryan dan kisah masa kecilnya membuat Ivan merasa bersalah karena tidak pernah melibatkan diri dalam  pertumbuhan dan perkembangan Bryan selama jauh darinya.


“Maafkan Bobby  tuan Ivan,” Laura merasa tidak nyaman dengan perlakuan Ivan terhadap putranya.


“Tidak apa-apa. Aku sangat menyenangi anak-anak,” Ivan berkata dengan tulus sambil tersenyum, “Sudah berapa usianya?”


“Lima tahun,” jawab Laura cepat. Ia merasa tersentuh melihat perlakuan Ivan terhadap putranya.


Ia seorang single mom  karena ditinggal suaminya yang hanya pekerja kantoran biasa. Laura yang sudah terbiasa bergaul dengan sosialita akhirnya mulai mendekati bos lajangnya hingga perpisahan dirinya dan sang suami tak bisa dihindari. Lelaki mana yang sanggup hidup dengan perempuan yang menjual kehormatan demi menunjang gaya hidupnya yang tinggi.


Taklama kemudian Danu kembali dan menyampaikan pada Ivan bahwa ada satu ruangan VIP yang tersedia untuk mereka.


Ivan menggendong Bobby yang masih tampak pincang saat berjalan. Laura merasa bahagia melihat perlakuan lembut Ivan terhadap putranya. Apalagi mereka akan menikmati makan siang bersama di ruangan khusus membuat Laura merasa tersanjung. Belum pernah ada lelaki mana pun yang berlaku tulus pada putranya.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang VIP dengan melewati beberapa meja yang telah terisi penuh. Dengan gaya angkuhnya Laura berjalan melewati orang-orang yang sedang menikmati hidangan. Ia merasa bangga karena menempati ruang VIP yang hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu, apalagi bersama dengan seorang pemilik perusahaan terkemuka yang mulai detik ini mulai menyentuh hatinya.


“Rara .... “ guman Ivan.


Seketika tatapannya teralihkan pada perempuan muda yang masih asyik berbicara dengan rekan semejanya. Jantungnya  berdetak semakin cepat. Ivan yakin matanya tidak salah mengenali orang, apalagi orang itu adalah perempuan yang sudah bersamanya dan mengisi hatinya yang tidak mungkin tergantikan oleh siapa pun.


Ivan mempercepat langkahnya memasuki ruang VIP.  Ia segera meletakkan Bobby pada sofa yang tersedia di ruangan VIP tersebut.  Laura tak melepaskan tatapannya dari wajah Ivan. Segala perilaku Ivan membuat perasaannya semakin kuat. Ia meyakinkan diri, jika  Ivan membuka hati padanya maka ia akan menjadi perempuan yang bertanggung jawab


Ivan mendekati Danu dan berbisik padanya untuk menjamu Laura dan anaknya sebaik mungkin.  Ia akan mengurus sesuatu yang sangat penting. Kali ini ia tidak ingin melepas Khaira dan akan mengikutinya kemana pun.


Laura melihat tingkah Ivan dan Danu yang berbicara pelan di hadapannya. Ia merasa tidak senang saat Ivan tanpa berpamitan padanya langsung keluar dari ruangan VIP dimana dirinya dan putranya berada.


Walau pun makanan yang terhidang adalah menu terbaik di restoran, namun tak membuat Laura senang. Ia merasa kesal karena Ivan tidak ada bersama mereka untuk menikmati hidangan yang disediakan.


Saat Ivan kembali ke meja yang ia lewati, ternyata telah kosong. Ia mengalihkan pandangan  ke pintu keluar  ketika melihat tiga sosok perempuan yang sudah berada di luar   restoran terlihat jelas dari kaca tempat ia berdiri saat ini.


Dengan cepat Ivan melangkah keluar untuk mengejar ketiga sosok yang kini semakin jauh dari pandangannya.  Sekitar jarak sepuluh meter Ivan melihat ketiganya berjalan menuju parkiran. Tanpa memperhatikan sekelilingnya Ivan memperpendek jarak dirinya dengan berjalan cepat.

__ADS_1


“Rara .... “ Ivan langsung memanggil perempuan yang ia yakini sebagai istrinya.


Sementara itu Khaira sudah tidak nyaman saat berada di dalam restoran.  Ia menyadari keberadaan Ivan yang berjalan sambil menggendong seorang anak lelaki dengan diikuti perempuan cantik di belakangnya.


Ia berusaha bersikap sewajarnya.  Karena ia sudah meyakinkan diri tidak akan terpengaruh lagi jika suatu waktu bertemu dengan Ivan. Beruntung saat Ivan dan rombongan sudah memasuki ruang VIP, teman-temannya sudah selesai menikmati hidangan yang tersedia.


Perasaan lega karena telah keluar dari restoran ternyata tidak berlangsung lama. Khaira merasa seseorang memanggil namanya. Ia menulikan telinga berusaha tidak peduli.


“Ustadzah Aisya .... “ panggilan itu kembali terdengar.


“Ustadzah, ada yang memanggil namamu .... “ ustadzah Ilmina berbisik padanya.


“Benar Ustadzah,” rekannya yang bernama ustadzah Zahra juga berbisik padanya.


Serempak ketiganya menghentikan langkah ketika Ivan berada di hadapan mereka. Tatapan Ivan terfokus pada Khaira yang menatapnya datar tanpa makna.


Ivan menatap lekat Khaira yang kini telah merubah penampilannya. Walau pun menggunakan kaca mata dan menggunakan cadar tapi ia tetap mengenali sosok sang istri. Di balik kaca mata beningnya Ivan melihat sorot mata indah yang tak akan pernah ia lupakan.


Khaira menatap Ivan datar tanpa senyum, kemudian mengalihkan pandangannya pada kedua temannya.


“Apa kabar  Rara?” Ivan bertanya dengan lembut tanpa mengalihkan pandangannya.


Khaira menulikan telinga mendengar pertanyaan Ivan. Ia enggan untuk menjawab malah membuang pandangan ke arah lain.


“Ustadzah mengenalnya?” ustadzah Ilmina memandang Khaira takjub ketika melihat seorang lelaki tampan menghadang langkah mereka dan berusaha berkomunikasi dengan rekan mereka.


“Maaf, ingatan saya akhir-akhir ini menurun. Mungkin anda salah orang,” dengan cepat Khaira menggelengkan kepala, “Mari kita pergi dari sini, nanti kemalaman sampai di rumah.”


Kedua temannya mengangguk serempak mendengar ucapan Khaira. Mereka tidak ingin berlama-lama di tempat terbuka seperti ini, apa lagi dengan orang asing yang tidak mereka kenal.


Ivan tersentak mendengar jawaban lugas Khaira. Bagaimana mungkin Khaira tidak mengenalnya.


“Permisi tuan, maafkan kami harus pergi,” tanpa memandang padanya Khaira langsung melangkah menuju mobil yang sudah berada di hadapan mereka.


Ivan tak bergeming dari posisinya berada. Ia tak percaya dengan tindakan Khaira yang mengacuhkannya. Rasanya ia ingin menahan Khaira. Kalau saja tidak ada kedua perempuan yang bersamanya maka Ivan akan nekad membawa Khaira dan mengurungnya hanya untuk dirinya.


Ivan tak peduli saat mobil yang dikemudikan Khaira mengklakson agar ia menepi karena menghadang mobil mereka, ia tetap nekad berdiri di tengah parkiran.

__ADS_1


Khaira mengalah dengan sikap Ivan yang seolah menantang dengan menghadang tepat di depan mobil mereka. Untung saja parkiran mulai sepi, sambil menahan perasaan kesal Khaira memundurkan mobil hingga berjarak lima meter dan memutar mengambil jalan lain.


“Ya, Allah Rara, kenapa jadi seperti ini?”  Ivan tak percaya ketika mobil itu telah berlalu dari hadapannya membawa Rara pergi tanpa berkata apa pun padanya. Ivan tersadar begitu mobil telah menjauh dari posisinya saat ini.


__ADS_2