Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 65


__ADS_3

Sudah tiga hari  Faiq berada di kota Berastagi. Ia menginap di De Paris Hotel, yang letaknya lebih dekat dengan jalan Danau Singkarak. Dengan menyewa mobil atas bantuan manajer hotel, Faiq memulai pencarian seorang diri. Rasa lelah mulai menghinggap, tapi Faiq tidak peduli. Keinginan untuk menemukan sang pujaan beserta anak-anaknya membuat ia membuang rasa lelah yang ada.


Tanpa kenal putus asa ia menyusuri jalan, namun sampai matahari tergelincir Faiq belum menemukan titik temu. Walaupun masuk dalam kota kecamatan, tetapi kehidupan masyarakat sudah layaknya di perkotaan, satu sama lain banyak yang tidak saling mengenal, dan itu membuat Faiq kesulitan untuk menemukan  Hani dan anak-anaknya.


Hari ini Faiq memutuskan untuk menyewa  ojol. Itu akan meringkas jarak tempuh dan lebih efektif untuk melihat pemandangan indah yang ia lewati. Dengan memakai hodie, masker serta kaca mata hitam, Faiq memulai pencariannya. Dengan dibonceng mas ojol, ia memulai pencariannya di pagi yang sangat cerah itu.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Rasa lapar mulai menyerang Faiq. Morning sickness yang ia rasakan di pagi hari untunglah mulai berkurang, sehingga membuatnya bisa menikmati sarapan, sekedar mengganjal perut untuk memulai aktivitas.


“Mas, kita mampir makan siang dulu, setelah itu baru salat Zuhur.” Faiq menepuk pundak ojol, saat mereka melintasi sebuah warung makan kecil.


“Bapak nggak masalah makan di warung itu?” mas ojol kurang yakin melihat penampilan Faiq yang terlihat branded, tetapi ingin mampir makan siang di warung yang terkesan sangat sederhana.


“Saya nggak pernah pilih lokasi untuk sekedar makan. Yang penting tempatnya bersih…” ujar Faiq tersenyum.


Dengan pelan mas ojol  berbalik arah, menuju warung makan sederhana yang ditunjuk Faiq. Pas kebetulan jam makan siang, suasana di warung makan lumayan ramai.


“Bapak ambil tempat di dalam saja, saya di luar  lebih adem.” Mas ojol segera menghenyakkan tubuhnya di teras warung.


Faiq menganggukkan kepala. Tanpa melepas masker dan kaca mata hitamnya, Faiq melangkah masuk ke dalam warung makan itu. Ia melihat  penataan menu di dalam lemari kaca. Para pelanggan  mengambil sendiri makanannya, menu yang ditawarkan cukup beragam, khususnya masakan Melayu.


Dengan luas ruangan sekitar 6 x 6 meter membuat Faiq leluasa melihat keadaan di dalam warung makan tersebut.  Setelah mengantri setengah jam, akhirnya Faiq mendapatkan makanan rumahan yang cukup mengundang selera.


“Alhamdulillah…” Faiq menyudahi makannya. Tidak ada penolakan saat ia menikmati hidangan sederhana itu.


Faiq segera melambaikan tangannya pada mas ojol yang juga sudah selesai makan siang. Ia mengulurkan uang pada mas ojol untuk dibayarkan pada kasir. Sambil menunggu mas ojol, Faiq membuka ponselnya untuk melihat laporan perusahaan lewat email.


“Terima kasih, atas kunjungan anda di warung makan kami.”


“Deg” suara lembut itu terdengar seperti alunan lagu mengalir di telinga Faiq. Spontan Faiq memalingkan wajah mencari sumber suara.


“Subhanallah, walhamdullillah, Allahu akbar…” kalimat puji-pujian sontak mengalir dari bibirnya. Ia terpaku menyaksikan Hani yang  duduk dengan tenang di meja kasir.


Kebahagiaan dan kesedihan bercampur aduk dalam dadanya. Ia memandang lekat wajah Hani yang tampak lebih kurus dari terakhir ia melihatnya. Tetapi wajahnya lebih bersinar, mungkin aura hamil membuatnya semakin cantik.

__ADS_1


“Mbak Wulan, aku salat dulu, tolong gantiin ya…” suaranya yang lembut membuat jantung Faiq bertalu tak menentu.


Dengan santai Hani meninggalkan meja kasir dan langsung di gantikan Wulan. Senyumnya tersungging saat beberapa pelanggan menyapanya.


Tatapan Faiq terkunci pada perut Hani. Dengan gamis kaos yang ia pakai, terlihat perut Hani yang sudah tampak menonjol. Sambil berjalan, Hani membelai perutnya.


Hati Faiq merasa tergores menyaksikan pemandangan itu. Ia berpikir sesaat. Misi pertama sudah selesai. Ia sudah menemukan istrinya. Kalau ia nekat menghampirinya sekarang, Faiq khawatir  Hani akan menolaknya.


Sebuah rencana muncul di kepala Faiq. Ia kini telah mengetahui keberadaan Hani. Langkah selanjutnya menemui Hanif dan anak-anaknya. Ia tau, Hanif dan anak-anak adalah kuncinya untuk meraih kembali kepercayaan Hani. Senyum kecil terbit di bibir Faiq, mengingat rencana yang telah ia susun.


“Kembaliannya nggak usah diambil.” Pesan Faiq saat mas ojol sudah berada di hadapannya.


Faiq melangkah ke luar warung makan dengan perasaan bahagia. Walaupun ia belum sempat  menanyakan kabar keluarga kecilnya, tapi melihat keadaan Hani membuatnya merasa puas.


Faiq mengistirahatkan tubuhnya di masjid As Syuhada, karena lebih dekat dengan warung makan tempat ia menemukan Hani. Ia meminta mas ojol yang bernama Budi untuk terus bersamanya.


Budi merasa senang, karena pelanggannya kali ini sangat dermawan, dan akan menggunakan jasanya 3 hari ke depan.


Faiq baru saja terlelap di teras samping masjid, ketika sebuah tepukan membuatnya terbangun.


Faiq melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ia terkejut, berarti hampir 3 jam ia tertidur. “Apa kamu bisa mengejarnya.”


“Baik, pak.” Dengan sigap Budi mengambil motor yang terparkir di halaman masjid. Faiq segera duduk di boncengan Rudi.


Dari jarak 5 meter, Budi berhasil menyusul Hani yang dengan santai mengendarai motor matiknya. Budi menghentikan motornya saat Hani berbelok memasuki pekarangan sebuah ruko. Faiq berjalan mendekati sebuah toko sembako, yang tempatnya berseberangan dengan ruko yang ditinggali Hani.


Ia mengamati dari kejauhan aktivitas Hani yang membuka pagar besi. Taklama dari samping muncul Hanif dan temannya yang bernama Joko.


“Biar aku yang bawa.” Dengan cepat Joko membantu Hani membuka pintu dan memasukkan motor matic yang digunakan Hani sebagai kendaraannya selama membantu bu Sarmi jualan di warung makannya.


“Terima kasih, bang.” Hani tersenyum. Ia membiarkan Joko membawa masuk motornya ke dalam halaman rumah.


“Nif, aku dah pantas belum jadi abang iparmu?” seloroh Joko yang samar-samar sampai di telinga Faiq, membuat darahnya berdesir tidak senang.

__ADS_1


Hanif memukul bahu Joko, “Kalau berani, langsung aja sama yang bersangkutan. Apa abang mau jadi ayah sambung mereka. Ditambah lagi yang di perut mbak Hani.” Hanif menjawab sekenanya membuat Hani kesal atas ulah keduanya.


“Kalian berdua memang suka ngelantur.” Hani melengos memasuki rumah tanpa mempedulikan pembicaraan keduanya.


Faiq menahan kesalnya melihat ada lelaki lain yang berusaha mencari perhatian istrinya. Tapi ia belum bisa bertindak apapun. Setelah mengetahui alamat tinggal Hani, rasa puas hinggap di hatinya.


Sesudah salat Isya, dengan diantar Budi, Faiq menunggu di seberang jalan depan ruko Hani. Ia sudah bertekad untuk bertemu Hanif secepatnya. Ia tak ingin terlalu lama menunggu untuk menjumpai Hani dan anak-anaknya. Budi langsung mengetuk pintu ruko.


Hanif dan Wulan yang makan malam bersama di rumah Hani merasa heran. Selama ini tidak pernah ada yang bertamu malam-malam begini.


“Coba lihat dulu, dek. Siapa tau klien kamu ada keperluan mendesak.” Hani mengingatkan Hanif.


Hanif menyelesaikan makannya dan langsung meneguk segelas air yang telah disiapkan Wulan. Dengan cepat ia membuka pintu depan. Ia segera menghampiri Budi yang berada di depan pintu rumahnya.


“Ada perlu apa, pak?” Hanif mengerutkan keningnya melihat seorang ojol berada di depan pintu rumahnya.


“Ada seseorang yang ingin bertemu bapak.” Budi berbicara sambil jemarinya menunjuk pada Faiq yang berdiri di depan toko di seberang jalan.


Hanif mengerutkan dahinya melihat sosok Faiq yang berdiri tegak memandangnya dari kejauhan. Dengan rasa penasaran, Hanif menyeberang jalan dan menghampiri Faiq. Emosi langsung menguasai Hanif begitu melihat sosok Faiq berdiri tegak di hadapannya. Tanpa ragu ia langsung menarik krah baju Faiq.


“Hei, hei…tolong jangan buat keributan di sini…” Budi shock melihat perbuatan keduanya dan langsung menahan Hanif.


“Biarkan saja. Ini memang kesalahanku.” Faiq pasrah apapun yang akan dilakukan Hanif ia akan menerimanya.


Hanif berusaha meredam emosinya melihat Budi yang ketakutan. Ia menatap Faiq dengan tajam. Ia memandang ruko sekilas, khawatir ada yang melihat keberadaan Faiq.


“Aku ingin menceritakan banyak hal padamu.” Faiq menatap Hanif  dengan serius.


“Baiklah. Kita cari tempat yang tenang.” Akhirnya Hanif mengalah.


Ia kembali ke rumah dan mengeluarkan mobil sejuta umat yang menjadi kendaraan mereka selama di kota Berastagi tersebut. Saat berpamitan, Hanif tidak menceritakan keberadaan Faiq pada keluarga kecilnya. Ia masih ingin mengetahui cerita Faiq yang sebenarnya, hingga ia bisa mengambil langkah selanjutnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2