Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 136 S2 (Penasaran)


__ADS_3

Setelah para pengunjung mulai sepi, Khaira langsung meminta Ari, Budi dan Rani sebagai otak keberlangsungan kafe restoran peninggalan Abbas  untuk ke ruang kerja almarhum  yang kini tampak hening karena 4 bulan sudah tidak berpenghuni.


Dengan perasaan sedih Khaira mengelus kursi kerja Abbas yang kini jadi saksi aktivitas almarhum suaminya kala masih hidup. Tak terasa air mata yang sejak tadi ia tahan saat mulai memasuki kafe karena masih terasa keberadaan Abbas di sana yang menyambutnya dengan senyum tulus penuh kasih.


Ketukan di pintu membuatnya cepat menghapus setitik air  mata yang tidak mau komproni lolos di pipinya yang kini tirus karena bobotnya yang jauh berkurang. Khaira segera menghenyakkan tubuhnya di kursi kerja tersebut membayangkan duduk dalam pangkuan suaminya penuh  kehangatan.


Ari, Budi dan Rani segera duduk di hadapan Khaira dengan pandangan serius menunggu perkataan bos baru mereka. Walau pun mereka tau, Khaira juga menanamkan modal yang tidak sedikit saat pengambilalihan kafe dari Ari pada Abbas. Mereka siap jika ada perobahan pengelolaan  ataupun penggantian personil, karena setiap orang punya visi dan misi yang berbeda, dan mereka akan menerima semua dengan lapang dada.


“Terima kasih atas dedikasi mas Ari, mas Budi dan mbak Rani dalam pengelolaan kafe ini.” Khaira berusaha berkata tegar menguatkan hatinya, “Saya sangat bangga pada kalian bertiga. Begitu pun almarhum ….”


Ketiganya terpaku melihat kesedihan yang kini tidak bisa disembunyikan Khaira. Suaranya tercekat, tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Keadaan hening seketika.


“Maafkan saya yang terlalu baper …. “ Khaira berusaha tersenyum walau terasa sulit. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata pegawainya.


Setelah dapat mengendalikan perasaannya Khaira kembali menarik dan menghembuskan nafas pelan. Ia memandang satu persatu pegawai andalan Abbas yang masih sabar menunggu.


“Saya secara tulus sangat menghargai pekerjaan mas Ari dan kawan-kawan. Di sini saya menganggap bahwa kalian bukanlah karyawan atau pegawai yang dipekerjakan. Kalian bertiga adalah rekan kerja bagi kafe ini. Kita berempat adalah tim. Itu yang selalu diingatkan almarhum pada saya. Jadi jangan pernah merasa sungkan dalam mengelola kafe ini.”


Ari dan Budi saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Khaira akan mengatakan hal tersebut. Padahal mereka sudah berprasangka bahwa Khaira akan mengambil alih kepemimpinan dan merombak konsep kafe yang selama ini telah dirintis, namun kenyataannya sangat berbeda.


“Saya ingin mas Ari tetap sebagai manajer dan posisi mbak Rani dan mas Budi tetap sama. Saya percaya kalian mampu mencari pegawai yang sesuai untuk membantu kinerja dan pengembangan di kafe ini. Saya tidak bisa stand by seperti almarhum di sini, karena saya juga punya tanggung jawab lain,” Khaira menghela nafas perlahan, “Saya percayakan kafe ini pada mas Ari, mas  Budi dan mbak Rani.”


“Apa mbak Rara akan pergi dalam waktu yang lama?” Rani jadi penasaran mendengar ucapan bos barunya tersebut.


Khaira tersenyum tipis, “Saya nggak akan kemana-mana. Yang pasti saya datang ke mari hanya Selasa dan Jum’at. Jika ada keperluan atau hal yang mendesak, saya minta mas Ari yang meng-handle-nya.”


“Bagaimana jika ada yang ingin bertemu dengan pemilik kafe ini?” Ari menatap Khaira dengan lekat. Baru kali ini ia bisa melihat dari jarak dekat tunangan bosnya yang kini telah berganti status menjadi janda almarhum Abbas.


“Saya tidak ingin menemui siapa pun.” Khaira berkata dengan tegas. Ia merasa tidak mempunyai kepentingan yang berkaitan dengan kafe ini, jadi ia menolaknya langsung, “Saya akan menaikkan gaji mas Ari, mas Budi dan mbak Rani. Kalian bertiga adalah aset terpenting dari kafe ini. Jadi saya harap kita bisa bekerja sama selamanya.”

__ADS_1


Mendengar perkataan Khaira membuat ketiganya merasakan kebahagiaan yang teramat besar. Bukan berarti gaji mereka selama ini kecil, tetapi mereka paham Abbas adalah orang yang baru mulai merintis usaha, sehingga segala sesuatunya sangat diperhitungkan. Sedangkan Khaira memang terlahir dari keluarga terpandang, dan kafe ini baginya hanyalah sebagai selingan diantara usaha lain yang telah menggurita.


Ivan memandang laptop yang menyala di meja kerjanya. Tapi kosentrasinya tidak tertuju pada laporan yang terbuka lebar di sana. Pikirannya masih tertuju pada sosok ramping bermata bulat sendu yang sudah beberapa hari ini mengganggu pikirannya.


Senyum tipis muncul di sudut bibir Ivan membayangkan sorot tajam yang menghadang langkahnya saat ingin membayar makan siang mereka bersama Peter saat itu. Wajah ayu yang sangat menyenangkan untuk dipandang.


Sejenak Ivan menggelengkan kepalanya saat apa yang terlontar dibenaknya tidak sinkron dengan bibirnya yang berusaha menolak pesona yang kini mengganggu ketenteraman pikirannya selama ini.


Sudah empat bulan semenjak kepergian Abbas dia tidak pernah singgah ke kafe yang semakin populer itu. Dan selama Abbas masih hidup ia sering mampir ke sana, tapi tidak pernah melihat perempuan yang menunjukkan sifat permusuhan padanya sejak awal bertemu.


“Sungguh menarik!” batin Ivan seketika mengingat senyum yang tersungging dengan lesung pipit menyempurnakan keindahan ciptaan Allah dalam bentuk seorang perempuan yang sampai saat ini tidak ia ketahui siapa dan dari mana asalnya.


“Bos, sudah jam makan siang. Apa perlu ku pesankan sekarang?” Kehadiran Roni dan Gisel yang muncul di hadapannya memangkas lamunan Ivan.


Ivan bangkit dari kursi dan menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi kerjanya. Setelah memasang jasnya dengan cepat, ia berjalan mendahului Roni dan Gisel yang masih menatapnya dengan heran.


“Kita makan di Kafe Abbas.”


Dengan perasaan malas Gisel kembali ke meja kerjanya. Kehadirannya yang sudah hampir 3 bulan di samping Ivan, belum membuat the most wanted itu memandangnya. Sambil memeriksa email masuk, pikiran Gisel terus bekerja mencari celah untuk membuat Ivan tertarik padanya.


Sesampainya di kafe, pandangan Ivan langsung mengitari sekelilingnya. Satu demi satu pegawai yang bekerja ia perhatikan, tapi yang ia cari tidak ditemukan.  Dengan santai ia berjalan menuju meja kerja Ari yang posisinya di depan ruangan pemilik  yang kini tertutup rapat.


“Selamat siang  tuan Ivan.” Dengan cepat Ari bangkit dari kursinya begitu melihat sosok tegak berdir di hadapannya.


“Aku ingin menikmati menu terbaik kafe ini. Dan tolong pelayan yang kemarin yang harus melayani.” Ivan berkata dengan datar, matanya masih menyapu sekeliling berusaha mencari sosok yang kini mulai bersemayam di otaknya.


Ari mengerutkan jidatnya mendengar  perkataan Ivan. Seingatnya kemaren tidak ada pelayan khusus yang mendampingi Ivan dan beberapa tamunya yang datang untuk makan siang.


“Apa perlu saya menyiapkan tempat khusus untuk anda tuan?” Ari melihat hanya Ivan dan Roni yang berdiri di hadapannya. Ia mempersilahkan dengan hormat. Ia tau Ivan adalah  seorang pemilik perusahaan besar dan teman dari almarhum bosnya.

__ADS_1


“Tidak perlu, aku sudah tau tempatnya,” ujar Ivan datar.


Dengan santai Ivan melenggang menuju ruangan khusus dimana Khaira membawanya bersama dengan kliennya kemaren. Roni mengikuti langkah bosnya sambil geleng-geleng kepala melihat  gaya santai Ivan yang tak mempedulikan keadaan sekelilingnya.


Sambil menunggu menu datang, Ivan kembali memainkan ponselnya. Ia malas menanggapi pertanyaan Roni tentang perubahan selera makannya yang kini mulai menikmati nasi dan teman-temannya.


Ketukan di pintu membuat Ivan menegakkan tubuhnya dengan cepat. Ia ingin kelihatan cool di depan seseorang yang mulai mengganggu pikirannya.


“Hm….” Ivan memandang dua orang pelayan yang datang mengantarkan makanan yang tampak mengundang selera.


Roni memandang gerak-gerik Ivan dengan heran. Tumben bosnya kelihatan begitu memperhatikan penampilannya saat berada di tempat seperti ini. Ada apakah gerangan?


“Saya ingin pelayan  yang kemarin, cepat panggil kemari!”  ujar Ivan dengan wajah dingin. Ia merasa kecewa yang datang tidak sesuai dengan harapannya.


Bagus dan Gita yang menyiapkan makanan segera menyelesaikan pekerjaannya. Keduanya mengangguk hormat pada Ivan yang menatap dengan raut kesal.


Ketukan di pintu membuat Ivan langsung memandang dengan penuh semangat. Rani berjalan dengan santai mendekati Ivan yang wajahnya kembali masam.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya Rani dengan sopan. Ia baru saja diberitahu Bagus bahwa tamu VIP memintanya datang ke ruangan khusus untuk dilayani.


“Saya ingin perempuan yang kemarin melayani kami di sini,” ujar Ivan datar tanpa senyum.


Rani mengerutkan kening, berusaha mengingat pegawai kafe yang melayani beberapa  tamu VIP yang datang  kemaren bersama tamu yang kini berada di hadapannya. Kini ia ingat, Khaira lah yang menemani tamu di ruangan khusus tersebut.


“Maaf tuan, hari ini pegawai kami tidak masuk.” Dengan cepat Rani menjawab.


Ia sudah melihat wajah kesal yang tergambar jelas di hadapannya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, toh ia mengatakan kebenarannya bahwa Khaira memang tidak ada di tempat.


Roni memandang Ivan dengan penuh keheranan. Tidak biasa bosnya bersikap aneh seperti itu. Ia hanya menyaksikan interaksi keduanya tanpa ikut mengomentari. Tak lama kemudian Rani keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


“Habiskan semua makanan ini. Selera makanku sudah hilang.” Dengan kesal Ivan bangkit dari kursi dan meninggalkan Roni yang melongo menghadapi aneka menu yang cukup menggugah selera.


Komentar, like dan vote-nya selalu aku tunggu. Sayang untuk semua .....


__ADS_2