Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 179 S2 (Mulai Kerasa Ada Manisnya)


__ADS_3

Ruangan kini terasa hening. Ivan masih duduk di sisi bed sambil membuka email di ponselnya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan waktu dini hari. Matanya sudah terasa penat dan lelah. Tatapannya beralih pada sosok anggun yang sudah terlelap dalam buaian.


Perasaan damai menyelimuti hatinya melihat wajah perempuan yang kini telah ia miliki seutuhnya. Ivan berjanji akan menjaga dan memberikan kebahagiaan seutuhnya bagi istri dan anaknya yang bakal lahir ke dunia.


Ia tidak pernah menyangka termakan omongannya sendiri. Ia pernah sesumbar bahwa tidak ingin terikat pernikahan yang akan mengekang kehidupannya yang sudah sempurna. Dan ia pun yakin bahwa Sandra lah yang telah menyempurnakan kehidupannya.


Tapi semua itu berubah saat pertemuan demi pertemuan yang tak ia harapkan berubah menjadi sesuatu yang sangat mengganggu. Untuk pertama kali Ivan merasakan jantungnya bermasalah karena seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah sosok yang selalu ia remehkan dan ia pandang sebelah mata.


Ivan menatap dengan lekat wajah Khaira yang kini menghadapnya. Ia mengelus pipi halus mulus yang mulai berisi. Jemari Ivan mulai membelai bibir penuh yang membuatnya selalu ingin mereguk madu tersembunyi yang tidak pernah disentuh siapa pun.


Ivan  teringat dengan sahabatnya almarhum Abbas. Ia jadi tak habis pikir dengan hubungan yang terjalin antara keduanya selama ini. Bukannya sebentar keduanya menjalin cinta, sebelum kuliah Abbas berakhir hingga Abbas berhenti bekerja dengannya hampir 7 tahun mereka dekat bahkan bertunangan.


Kini jemari Ivan berpindah pada hidung bangir yang membuat wajah itu benar-benar tak membosankan untuk dipandang, apalagi kalau sedang cemberut atau pun marah. Rasanya pengen ia dekap di dada dan tak ia lepaskan.


Senyum terkembang di wajah Ivan teringat pertemuan pertama saat ia di rumah sakit karena Abbas mengalami kecelakaan. Ia sudah khawatir jika Abbas menginginkan ia menikahi perempuan yang tak pernah ia pandang karena bukan tipe yang selama ini menghangatkan ranjangnya.


Dengan sombongnya ia menyiapkan persyaratan jika pernikahan dirinya dan tunangan Abbas terjadi. Otak liciknya akan memanfaatkan keberadaan perempuan itu untuk menutup mulut mamanya yang selalu memintanya segera berumah tangga.


Ternyata semua tidak seperti yang ia dan Roni pikirkan.  Ia sendiri tidak menyaksikan saat terjadi ijab qabul di dalam ruangan, tapi cincin miliknyalah yang menjadi mas kawin  hingga akhirnya Abbas menghadap sang khalik tepat satu jam setelah pernikahannya.


Ia yang menyangka bahwa janda Abbas telah hamil karena nekat melakukan pernikahan saat Abbas mengalami sakaratul maut, sebab ia yakin Abbas dan tunangannya telah terbiasa melakukan hubungan pra nikah.


Tapi kini ia sendirilah yang telah merenggut kehormatan Khaira bahkan menanam benih di rahim perempuan yang kini telah memporak porandakan hatinya, membuat ia tak memiliki tempat untuk nama lain di hatinya selain nama Khaira Althafunnisa.


Perlahan Ivan mendekatkan wajahnya ke wajah ayu yang masih terlelap dalam tidurnya. Ivan mencium kening istrinya dengan perasaan yang tak bisa ia lukiskan. Ia tau, belum ada perasaan apa pun yang tergambar di mata bening indah itu selain kekesalan dan kebencian yang sangat jelas saat menatap wajahnya. Ivan bertekad untuk membuat kekesalan dan kebencian yang tergambar di sana menjadi tatapan penuh kasih dan cinta seperti yang ia miliki saat ini.


Senyum tipis kembali terbit di wajahnya mengingat malam ini adalah malam pertama dan malam pengantin mereka yang biasanya sangat ditunggu oleh para pejuang cinta. Tapi keberuntungan belum berada di pihaknya.

__ADS_1


Ivan tidak pernah menyangka Sandra akan berbuat nekad dengan mencetak foto-foto masa lalu saat kebersamaan masih terjalin antara mereka. Ia merasa jijik melihat semuanya. Tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi. Ia tak menyesali semuanya, Tuhan masih sayang padanya. Dengan masa lalu yang telah ia lewati membuatnya dipertemukan dengan Khaira.


Ivan menyibak selimut yang menutupi tubuh Khaira. Ia segera membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Rasa hangat langsung mengalir di tubuhnya membayangkan kalau malam-malam selanjutnya perempuan inilah yang akan menemani malam-malam panjangnya.


Dengan pelan Ivan mulai meletakkan tangannya di atas tubuh Khaira yang berbaring miring membelakanginya. Ia mulai menghirup aroma wangi yang menguar dari rambut istrinya. Tangannya mulai turun membelai perut Khaira yang masih rata dengan perasaan bahagia. Karena di sanalah kini Ivan Junior mulai bertumbuh.


Ivan menyadari perbuatannya terhadap Khaira membuat sesuatu di bawah sana mulai menegang. Tapi ia berusaha menahannya. Ia harus bisa mengendalikan diri jika ingin Khaira membuka hati padanya. Dan ia bertekad tidak akan memaksa jika Khaira belum bisa menyerahkan hati seutuhnya.


Ivan merasa nyaman saat tubuhnya mulai merapat dan memeluk hangat tubuh ramping istrinya sambil menghirup aroma wangi yang menguar  dari tubuh yang ia peluk dan membuatnya tenang.


Khaira merasa tidurnya tidak nyaman. Ia mulai gelisah karena terasa beban berat melingkar di perutnya. Ia terkejut melihat tangan kokoh dengan aroma parfum laki-laki begitu dekat dengannya.


Ivan yang baru saja terlelap terkejut merasakan gerakan halus di dadanya. Ia masih berpura-pura memejamkan mata untuk melihat kelakuan Khaira. Ia merasakan Khaira berusaha memindahkan tangannya yang masih bertahan memeluk pinggang Khaira.


“Ish, dasar tidak tau malu.” Khaira masih berusaha, tapi pelukan Ivan semakin kuat  membuatnya kesusahan.


Dengan kesal Khaira mencubit tangan Ivan dengan kuat membuat Ivan akhirnya membuka mata karena tidak tahan.


Sambil menahan senyum Ivan kembali mengeratkan pelukannya sambil mendusel-duselkan wajahnya ke rambut istrinya yang beraroma wangi.


“Kenapa anda tidur di sini tuan. Cepat pindah sana,” Khaira berusaha mengusir Ivan agar turun dari bed-nya. Dan ia tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan Ivan.


“Apa kamu ingin aku melakukan lebih dari ini? Ingat kita sudah menikah. Sebagai suami aku bebas melakukan apa pun yang ku mau,” balas Ivan dengan cepat penuh ancaman.


Khaira terdiam. Ini yang ia khawatirkan. Mengingat apa yang pernah dilakukan Ivan terhadapnya Khaira yakin omongan lelaki yang sangat ia benci dan kini telah menjadi suaminya itu bisa menjadi kenyataan.


Melihat Khaira yang kini terdiam dalam pelukannya membuat senyum terbit di wajah Ivan. Ia membelai rambut Khaira dengan lembut.

__ADS_1


“Jangan salah sangka,  aku nggak meluk kamu. Tapi aku memeluk bayiku yang berada di perutmu,” ujar Ivan pelan sambil menahan senyumannya.


“Apa bedanya?” batin Khaira dalam hati dengan perasaan kesal.


Ia sadar, Ivan adalah suaminya. Ucapan Hasya masih melekat di pikirannya. Tapi ia belum siap untuk memulai dari awal. Ia masih perlu waktu untuk menata semua luka yang masih tersimpan di hatinya.


“Atau kamu mau kita mengulangi yang pernah terjadi dulu?” Kini Ivan mulai memancing di telaga tenang, “di sini sekarang ….”


Khaira membalik badannya hingga keduanya berhadapan tanpa ada pembatas. Ivan melihat mata bening itu menatapnya masih dengan raut kesal.


“Anda orang yang tidak tau diri dan tidak tau malu tuan Alexander Ivandra.” Mata Khaira berapi-api saat mengatakan itu.


“Dan sayangnya orang yang tidak tau diri dan tidak tau malu ini telah menjadi suami anda nyonya Khaira Alexander,” balas Ivan dengan senyum yang kini menghias wajah tampannya.


Khaira mengeleng-gelengkan kepala tidak percaya dengan kelakuan narsis lelaki yang telah menjadi suaminya itu.


Tanpa diduga Khaira kini Ivan telah menyergap telaga madu yang sudah diincarnya sejak tadi. Ia menghi*** dan melum***tnya tanpa mempedulikan pukulan di dada yang terus dilakukan istrinya. Setelah puas mengabsen semua yang berada di dalam telaga madu Ivan melepaskan pagutannya dengan senyum semakin melebar.


“Sekarang tidurlah, kalau tidak  … aku akan melakukan lebih dari ini.”


Mata Khaira melotot dengan nafas tersengal. Ia tidak menyangka akan menikah dengan lelaki yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, yang kelakukannya sangat berbeda dengan almarhum Abbas. Ia berusaha membalikkan diri untuk kembali membelakangi Ivan.


“Seperti ini saja. Tidurlah, aku ingin memeluk bayiku.” Ivan menahan tubuhnya tetap dengan posisi berhadapan. Ia menahan senyum melihat Khaira yang kini pasrah di pelukannya.


“Kalau seperti ini mulai ada manis-manisnya,” ujar Ivan sambil menyunggingkan senyum pada Khaira yang masih memandangnya dengan kesal.


Akhirnya Khaira pun diam tidak berani melawan. Ia takut Ivan akan membuktikan ancamannya. Keduanya saling berdiam diri setelah terlibat percakapan kecil yang membuat Ivan merasa di atas angin.

__ADS_1


Kini ia tau, cara merubah kucing liar menjadi kucing yang manis dan imut. Dan kini kucing imut itu telah memejamkan mata dengan sempurna dalam pelukannya.


Semoga Author khilaf. Sekarang lagi males masak, jadi yang ringan aja dulu. Ntah esok bumbunya udah mulai author siapin. Jangan protes ya ... Tetap semangat... Author mau melanjutkan tugas negara dulu, see you ba bay ....


__ADS_2