
Khaira masih melihat-lihat foto yang dikirim Dewo dari Lombok, Indro dari Martapura, serta Asep di Bandung. Tiga hari ini ia bekerja keras memosting dan mengreasikan foto yang tersedia sehingga bisa ditampilkan di medsosnya. Ia merasa puas melihat karya pengrajin berlian lokal, apalagi dari Martapura yang sudah sangat mendunia. Banyak komentar positif menanggapi postingan yang telah ia bagikan di medsos.
Paket yang dikirim dari 3 tempat telah tiba di atas mejanya. Dengan pelan Khaira membuka satu demi satu paket yang berisi 1 set perhiasan berlian, dari cincin, anting, gelang, kalung hingga bros. Khaira mulai menatanya dengan apik di meja panjang yang berada di dalam ruangannya.
Dengan kameranya Khaira mulai mengambil gambar mencari angle of view untuk memaksimalkan hasil yang ia inginkan. Saking serius dengan aktivitasnya ia tidak menyadari bahwa tamu yang ditunggu sudah memasuki ruang kerjanya. Khaira lupa bahwa hari ini ia akan mendapat kunjungan dari perusahaan berlian yang ingin bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Mereka sangat tertarik dengan postingan Khaira yang selalu update menampilkan foto-foto terbaru perhiasan berlian yang dibuat pengrajin lokal.
“Selamat siang Miss Althafunnisa ….” sapaan suara bass menghentikan aktivitas Khaira.
Khaira terkejut, rasanya suara itu tidak asing baginya. Saat ia membalikkan badan dan berhadapan dengan pemilik suara ….
“Mr. Edmond.” Khaira tersenyum langsung menghampiri lelaki bule yang selalu didampingi asisten setianya Robert.
Ia menangkupkan kedua tangannya saat Peter mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengannya. Khaira segera mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan dan meminta Andini menyiapkan minuman serta snack yang tersedia
“Saya tidak menyangka anda pemilik gerai perhiasan Kara Jewellery ini.” Peter menatapnya dengan penuh kekaguman, “Perhiasan yang dimiliki gerai Kara sangat berkualitas walaupun hanya produksi lokal. Dan saya sangat yakin bisa bersaing secara global.”
“Saya hanya membantu meneruskan usaha oma saya,” Khaira berusaha merendah. Ia tidak ingin siapa pun mengetahui bahwa ia pemilik gerai perhiasan berlian Kara Jewellery, “Saya sangat berterima kasih jika anda berkenan dengan apa yang ada di gerai milik kami.”
Peter tersenyum lebar, “Kesederhanaan anda membuat saya tertarik untuk memilih anda sebagai brand ambassador dari Kara Jewellery.”
Khaira mengernyitkan dahinya. Ia tersenyum tipis menanggapi ucapan Peter, “Saya tidak akan mengambil job yang bukan style saya. Saya lebih senang berada di belakang layar. Silakan anda pilih model yang tepat. Dan saya akan mengikuti semua kebijakan yang anda buat.”
Peter menatapnya dengan penuh kekaguman, “Kebetulan hari ini saya datang ke Jakarta karena ingin menjalin kerja sama dengan Kara Jewellery yang ternyata pemiliknya adalah anda. Perempuan yang sangat bertalenta.”
Khaira tersenyum menanggapi pujian yang diberikan Peter padanyanya, “Anda tidak usah berlebihan Mr. Edmond. Banyak kekurangan pada diri saya, hanya Yang Kuasa masih menutupi semua kekurangan itu.”
Kekaguman Peter semakin bertambah. Ia memandang Khaira dengan lekat. Tapi tatapannya beralih pada sebuah pigura yang bertengger manis di atas meja kerja Khaira. Tanpa meminta izin pada sang pemilik ia mengambil pigura itu.
Tampak sepasang perempuan dan laki-laki yang duduk berdampingan di suatu senja dengan berlatar mushola, pemandangan yang sangat meneduhkan.
__ADS_1
“Itu suami saya namanya Abbas Setyawan,” Khaira berusaha menegarkan suaranya yang mulai bergetar saat menyebut nama sang suami yang terlebih dahulu meninggalkannya. Ia berusaha tersenyum walau pun hatinya menangis.
“Lelaki yang beruntung,” Peter berkata dengan tulus.
Ia kembali meletakkan pigura itu pada tempatnya. Tatapannya beralih pada foto-foto yang ada di belakang meja kerja Khaira. Ia merasakan ketenangan saat berada di dalam ruangan itu. Sayang sang pemilik ruangan sudah ada yang punya, Peter menelan ludah dengan perasaan kecewa.
“Bagaimana menurut anda perhiasan yang baru datang ini Mr. Edmond?” Khaira berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menunjukkan tiga set perhiasan yang tertata apik di meja pajang yang berisikan foto-foto kebersamaannya dengan Abbas.
Bukannya melihat perhiasan yang ada, Peter malahan mengamati foto-foto kenangan milik Abbas yang ditemukan Khaira di lemari kamarnya yang kini jadi bagian diri Abbas yang selalu bertahta di hatinya dan menemani kesehariannya.
“Berlian itu murni, Berlian itu abadi …. “ Peter mengamati satu demi satu foto yang tertata, hingga sampai di foto terakhir kenangan saat Abbas dan Khaira bertunanganm dimana tangan mereka berdampingan dengan menggunakan cincin belah rotan yang sangat sederhana, “Aku mengagumi hubungan percintaan kalian. Seperti kemurnian berlian ini, ku lihat cinta kalian begitu indah dan murni.”
“Terima kasih Mr. Edmond, saya sangat tersanjung.” Khaira tersenyum mendengar ucapan Peter, “Semoga anda segera menemukan cinta sejati anda.”
Peter menatapnya dengan lekat, “Saya akan membeli dan memasarkan perhiasan berlian yang anda tawarkan. Saya harap kerja sama ini akan berjalan mulai saat ini. Saya yakin, walaupun hanya produksi lokal, tapi kualitasnya mampu bersaing secara global.”
“Terima kasih atas kepercayaan yang anda berikan Mr. Edmond.” Khaira merasa lega. Ia akan segera menyampaikan berita gembira ini pada Dewo, Indro dan Asep.
Robert segera menyerahkan perjanjian kerja sama yang telah dibuat untuk ditanda tangani kedua belah pihak. Khaira merasa puas setelah membaca surat perjanjian kerjasama yang dibuat dua rangkap oleh pihak Peter yang masing-masing akan mereka pegang sebagai bukti kerja sama yang mulai berjalan.
“Minggu depan kebetulan ada Fashion Week di Paris, sekaligus saya akan mempromosikan dan memperkenalkan perhiasan berlian milik perusahaan anda dalam pameran tersebut.”
“Saya sangat beruntung dengan kerja sama ini Mr. Edmond.”
“Saya harap anda berkenan datang dalam acara tersebut. Perusahaan kami di Paris yang menjadi sponsornya.” Peter meminta Robert mengeluarkan undangan yang telah ia siapkan saat akan datang berkunjung ke Kara Jewellery.
Khaira menerima undangan dari tangan Peter. Ia membacanya sekilas. Senyum terbit di bibir Khaira.
“Saya merasa tersanjung jika anda bisa memenuhi undangan ini,” Peter berkata dengan penuh harap.
__ADS_1
“Insya Allah saya akan datang, karena jadwalnya berdekatan dengan pernikahan sahabat saya di Paris.”
“Wah, kebetulan sekali.” Peter tampak senang karena Khaira menyanggupi untuk memenuhi undangannya menghadiri Fashion Week di Paris, “Bagaimana untuk merayakan kerja sama ini saya akan mentraktir anda makan siang. Sekaligus ucapan terima kasih atas pelayanan anda saat kami mengunjungi kafe kemarin.”
“Baiklah,” Khaira menganggukkan kepala menyetujui perkataan Peter.
Saat mulai memasuki Pasola – The Ritz Carlton Pacific Place, Khaira mendengar samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya. Dengan cepat Khaira menoleh. Senyum lebar langsung tersungging di bibirnya melihat Ariq yang didampingi Beni asistennya juga berada di lokasi yang sama.
“Mas, kenalin nih klien baru Mr. Peter Edmond dari Paris yang akan memasarkan produksi Kara Jewellery,” Kara segera memperkenalkan Peter pada Ariq yang kini berada di hadapannya.
Keduanya segera berjabatan tangan. Peter menatap Khaira dan Ariq bergantian. Kini ia bisa menarik kesimpulan bahwa keduanya adalah saudara. Mata mereka memiliki kesamaan yaitu tajam dan hitam pekat.
“Ariq.” Ariq berkata dengan ramah sambil menyambut penuh kehangatan bule tampan yang berada di hadapannya, “Kebetulan saya juga belum menikmati makan siang. Mari kita makan bersama.”
Khaira merasa senang sekaligus lega mendengar perkataan Ariq. Sebenarnya ia merasa risih memenuhi undangan makan dari Peter, tapi nggak enak juga ia menolak saat kerjasama baru saja terjalin antara kedua perusahaan mereka.
Akhirnya makan siang itu diisi obrolan yang sangat menyenangkan antara Ariq dan Peter yang sama-sama berjiwa bisnis.
Sementara itu Ivan sendiri dalam beberapa hari ke belakang, walaupun belum sepenuhnya mampu melupakan wajah teduh nan ayu, tapi paling tidak ia mampu menahan dirinya untuk tidak melangkahkan kaki ke kafe Abbas. Dan ia mulai mencoba untuk kembali membuka hati dan dalam rangka menyeleksi perempuan masa depan seperti yang dikatakan sepupunya Denis.
Usahanya cukup berhasil, jika ingatan si mata bening mulai mengganggu pikirannya dengan cepat Ivan menyibukkan diri dengan bekerja atau berbaur dengan rekan sesama pengusaha untuk menghabiskan waktu di klub sekedar mengobrol membuang kepenatan bersama rekan pengusaha yang masih lajang. Hatinya belum bisa untuk memilih yang spesial.
Siang ini Ivan memenuhi undangan makan siang dari rekanan perusahaan kosmetik yang menggunakan jasa serta beberapa modelnya untuk merayakan kerja sama mereka di sebuah restoran mewah di Jakarta.
Ivan cukup terhibur dengan dua model profesional yang bernaung di bawah agensi miliknya yang turut mendampingi makan siang itu. Dari pihak marketing kosmetik, perempuan cantik bernama Shena tampak antusias dengan kehadiran Ivan.
Shena yang datang bersama Marcel sang bos pemilik brand kosmetik tidak bisa menyembunyikan rasa tertariknya pada Ivan. Ia menyibukkan diri mengajak Ivan berbicara membahas berbagai macam proyek kecantikan yang tetap akan memakai rumah produksi Ivan.
Saat makanan mulai dihidangkan Ivan mulai menikmati makanan western yang sudah lama tak ia rasakan. Senyum tipis terbit di wajah tampannya saat Shena dengan antusias menceritakan keseharian serta harapannya dengan kerja sama yang terjalin antara perusahaan iklan serta brand kosmetik yang tengah dipasarkan.
__ADS_1
Dukung terus, kritik, saran dan vote serta like, biar author semangat ya...