Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 284 S2 (Kunjungan Teman Lama)


__ADS_3

“Ku lihat sikap mbak Aisya semakin ramah pada Bos. Apa sudah ada kemajuan?” Danu penasaran dengan perlakuan Khaira yang tampak santai pada Ivan.


“Alhamdulillah semoga semakin baik Dan,” ujar Danu pelan sambil menambah nasi goreng di piringnya, “Silakan lanjutkan sarapanmu, aku akan ke depan menemani Khaira.”


Danu bingung memandang Ivan yang membawa nasi goreng penuh menuju ruang keluarga. Tapi ia tak ambil pusing meneruskan sarapan dan menghabiskan nasi goreng yang tersisa di piringnya. Ia segera meminum kopi yang masih mengeluarkan asap dan menghirupnya hingga kandas tak bersisa.


Ivan dengan santai duduk di samping Khaira. Ia melihat keringat mulai mengaliri pelipisnya. Bubur ayam yang berada di mangkok dilihatnya sudah hampir habis.


“Sekarang saatnya Bunda sarapan,” Ivan mengulurkan sendok yang sudah terisi penuh ke arah bibir Khaira.


“Bunda ma am uga …. “ Fajar duduk di pangkuan Khaira sambil membawa mainan robotnya.


Khaira tidak menyangka Ivan akan melakukan itu padanya. Ivan menatapnya penuh harap sambil menganggukkan kepala.


Tanpa memandang wajah Ivan, Khaira akhirnya membuka mulut karena tidak nyaman melihat Ivan yang terus memaksanya.


“Mas nggak ingin kamu sakit. Mengurus si kembar yang sedang aktif bukan perkara mudah ternyata …. “ ujan Ivan santai kembali mengisi sendok dan mengarahkan ke bibir Khaira.


Karena memang belum sarapan sejak awal, akhirnya Khaira menerima suapan demi suapan Ivan, hingga piring yang tadinya terisi ludes tak bersisa.


“Wah, ternyata bunda lapar ya …. “ Ivan merasa senang karena Khaira menerima semua perlakuannya.


Tanpa banyak bicara Khaira meraih piring di tangan Ivan serta gelas kosong yang tadinya berisi air putih habis minum si kembar dan membawanya kembali ke dapur bersamaan dengan Danu yang barusan keluar dari ruang makan.


“Main lagi yok …. “ Ivan menghujani Embun dan Fajar dengan ciuman di pipi cubby keduanya.


“Geyi Ayah …. “  Embun mengusap pipinya sambil menolak wajah Ivan.


“Hahaha …. “ Ivan tertawa melihat tingkah Embun sedangkan Fajar tidak peduli dengan semua perlakuan Ivan.


“Gak cukuran Bos? Tuh princess bilangnya apa …. “ Danu tersenyum mendengar suara kenes Embun yang memprotes kumis dan jenggot sang ayah.


“Ratunya belum komen,” Ivan menatap bayangan Khaira yang mondar-mandir di ruang makan bersama bu Giyem.


“Wah, aku tau yang ada di pikiran Bos,” Danu cengengesan memandang Ivan.


“Jangan biarkan imajinasi liar bermain di kepalamu,” Ivan mendengus tak senang mendengar ucapan Danu.


“Hehehe …. “ Danu terkekeh mendengar nada sumir perkataan Ivan.


Keduanya masih disibukkan dengan urusan masing-masing ketika bell terdengar bersahutan menghentikan aktivitas Danu.


“Tamu Bos?” Danu mengernyitkan dahi.


“Coba kamu lihat siapa yang datang?”  ujar Ivan pelan.


Kelihatan kalau Fajar dan Embun mulai bosan bermain di dalam tenda. Kini keduanya mulai berjalan mengikuti langkah Danu menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


“Assalamu’alaikum …. “ terdengar suara kompak memberi salam.


“Hari, Roni …. “ Ivan tersenyum lebar mengetahui kedatangan keduanya yang sudah lama tidak bertemu.


“Apa kabar Bos? Mohon maaf baru mengetahui kepergiaan tante Laras …. “ Roni berkata dengan perasaan tidak nyaman.


Ivan langsung memeluknya dengan erat, “Kamu sudah jadi bos sekarang Ron. Udah gak pantas memanggilku seperti itu,” kelakar Ivan sambil menepuk bahunya pelan.


“Gaklah,” Roni menjawab sambil tersenyum cengengesan, “Dari dulu bosku itu hanya bos Ivan.”


Kini Ivan beralih memeluk Hari yang masih berdiri mengamati keduanya yang masih saling berbasa-basi.


“Sudah lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Ivan menepuk bahu Hari.


“Baik Bos,” jawab Hari seketika, “Kebetulan hari ini bos Ardi melakukan dinas ke London, jadi aku mampir sekalian. Bos Ardi juga titip salam.”


“Terima kasih kalian masih menyempatkan diri mampir ke mari.”


“Ayah main syana …. “ Embun menghampiri ketiganya yang masih berbincang sambil berdiri di depan pintu.


Roni dan Hari terkejut melihat sepasang bocah kembar yang imut dan menggemaskan berjalan mendekati mereka.


“Bos?” Hari takjub sekaligus bingung menatap Ivan yang tersenyum lembut pada kedua bocah itu. Ia ingat saat terakhir kali mengantarkan Ivan kembali ke rumah lamanya yang sudah kosong tak berpenghuni.


“Fajar, Embun, mimi susunya dulu ya …. “ dengan santai Khaira berjalan mencari si kembar yang tidak kedengaran suaranya dari ruang keluarga.


“Keduanya di sini sayang …. “ Ivan melambaikan tangan pada Khaira yang masih memanggil keduanya.


“Bos?” kini Roni yang memandang Ivan dengan bingung.


Khaira terkejut melihat kehadiran Roni dan Hari yang berada bersama suaminya dan masih dalam keadaan berdiri.


“Pak Roni, pak Hari …. “ Khaira menyapa keduanya dengan sopan, “Mas tamunya gak diajak masuk?”


Pandangan Khaira beralih pada Ivan yang tersenyum sambil menatapnya lekat.


“Fajar dan Embun mau main di luar. Mereka sudah bosan terkurung di dalam,” dengan santai Ivan merengkuh pundak Khaira hingga menempel padanya.


“Wah, dari dulu bos itu suka pamer sama kita,” Roni langsung nyeletuk melihat sikap posesif Ivan yang tak membiarkan Khaira jauh darinya.


Kedua bocah langsung mengambil botol susu masing-masing dari tangan Khaira. Tanpa  mempedulikan pandangan teman ayahnya Fajar dan Embun menggandeng tangan Khaira dan Ivan membawanya berjalan ke taman.

__ADS_1


“Yok kita ngobrol di sana saja,” Ivan mengajak Hari dan Danu ke gazebo di samping rumah. Ia menggendong Embun dan Fajar yang berjalan beriringan.


“Mas, aku akan mempersiapkan makan siang untuk mas dan teman-temannya,” begitu ada kesempatan untuk  melarikan diri Khaira segera menahan langkah Ivan yang menggendong Embun


“Baiklah,” Ivan menganggukkan kepala menyetujui keinginan Khaira.


“Ayah, atu main di syanaa ….” Fajar menunjuk ke arah kolam ikan hias yang terletak di tengah-tengah taman tempat yang ada gazebo tempat untuk bersantai.


“Kita  duduk di sana saja,” Ivan menunjuk gazebo luas yang cukup untuk tempat mereka ngobrol. Ia segera mengenggendong Embun sedangkan Fajar sudah berlari kecil menuju kolam ikan.


“Bagaimana bos menemukan bidadarinya dan  membawa kembali ke rumah ini?” Hari masih penasaran melihat Ivan sudah kembali bersama Khaira. Ia teringat dua tahun yang lalu menjemput dan mengantar Ivan kembali ke rumah kosong yang dipenuhi rumput ilalang yang tinggi menjulang.


Roni menatap keduanya dengan kening berkerut. Ia sudah lama lost contact dengan Ivan sehingga tidak mengetahui sedikitpun kehidupan rumah tangga Ivan begitu ia mengundurkan diri dari perusahaan.


“Apa yang terjadi Bos?” Roni langsung memandang Ivan dengan raut penuh tanya.


Karena Embun dan Fajar yang sudah asyik dengan mainan pancingnya terpaksa Ivan mengikuti keduanya dengan menggelar karpet di bawah pohon jambu air yang sedang berbuah menambah nyaman suasana taman di pagi menjelang siang itu.


Kini Hari dan Roni pun mengikuti Ivan menemani si kembar yang mulai memancing dengan celoteh riangnya.


Karena Roni sudah sejak awal mengetahui drama percintaan yang terjadi antara dirinya dan Khaira, tanpa menyembunyikan sesuatu apa pun Ivan menceritakan semua peristiwa masa lalu yang terjadi dalam rumah tangganya dan Khaira yang sempat terpisah hingga  kecelakaan maut yang menimpa mamanya dan wasiat Laras sebelum kepergiannya.


“Ya Allah …. “ Roni terkejut mendengar Ivan yang mengakhiri ceritanya dengan wajah melow, “Ku pikir perjalanan bos dan mbak Rara akan mulus hingga akhir …. “


Ivan mencium kepala Embun dan Fajar bergantian, “Entah apa jadinya hidupku jika tidak menemukan Rara, apalagi mengetahui bahwa ia telah melahirkan darah dagingku.”


“Allah masih sayang padamu Bos, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertemu dan berkumpul kembali,” sela Hari.


Ia tampak kagum dengan keberadaan si kembar yang begitu aktif dan tak henti-hentinya berceloteh sambil bernyanyi menunggu jorannya dimakan ikan.


“Aku kemari juga menyampaikan undangan pernikahan serta resepsinya yang akan diadakan minggu depan di kampung Bos,” Roni akhirnya menceritakan maksud lain dibalik kedatangannya berkunjung.


“Wah,” Ivan terkejut sekaligus senang mendengar bahwa Roni telah menemukan tambatan hatinya, “Selamat ya Ron. Semoga samawa. Akan ku usahakan untuk datang bersama Rara.“


“Terima kasih Bos, “ Roni merasa bahagia mendengar ucapan Ivan.


“Tinggal tunggu Don Juan kita yang satu ini,” Ivan memandang Hari yang cengengesan, “Jangan sampai kamu mengalami seperti yang pernah terjadi padaku.”


“Tidaklah Bos. Sekarang aku sudah tobat, dan mulai dekat dengan tetangga samping rumah, anak seorang guru,” Hari berkata dengan santai.


“Syukurlah kalian telah menemukan pasangan yang tepat,” Ivan merasa senang untuk kedua mantan asistennya, “Sekarang mereka berdualah sumber kebahagiaanku. Rasanya berat bagiku untuk melepas keduanya walau hanya sekejap mata.”


Ivan memandang Fajar dan Embun yang mulai bosan dengan mainan pancingnya. Kini  keduanya berlari kecil dan naik ke gazebo.


“Mas, adenya  jangan dibawa lari nanti jatuh,” dengan cepat Ivan berjalan menghampiri keduanya yang sudah santai duduk membongkar kotak mainan yang sudah disiapkan Danu beberapa jam yang lalu.


“Kok bos betah momong anak?” Roni tak bisa menahan rasa heran melihat Ivan yang sangat telaten mengikuti si kembar.


“Yakin nggak ada Bryan yang lain Bos?” Roni seperti biasa mulai mengeluarkan apa pun isi kepalanya tanpa disaring lagi.


“Gaklah,” Ivan berkata dengan pasti, “Hanya dengan Claudia aku berhubungan lama di masa lalu, setelahnya … ah sudahlah. Aku tidak ingin mengingat masa laluku.”


“Hehehe …. “ Roni tertawa lepas, “Kasian mbak Rara dapat barang bekas.”


“Kamu itu Ron,” Hari memukul pundak Roni yang tak bisa merubah gaya bicaranya.


“Aku tidak bisa menyembunyikan apa pun dari kalian berdua,” Ivan mulai berkata dengan serius, “Claudia-lah yang telah menabrak mama.”


“Astaghfirullahhala’djim …. “ mata Roni sampai membulat mendengar ucapan Ivan.


Hari tak percaya mendengar kelanjutan cerita Ivan tentang perbuatan Claudia yang tidak terima dengan keputusannya untuk kembali pada Khaira setelah kepergian Bryan. Ia benar-benar tak habis pikir dengan perempuan nekad dari masa lalu Ivan.


“Dia sudah dituntut dengan hukuman yang berat. Tapi kondisinya juga sangat memprihatinkan,” Ivan berusaha menceritakan sesuai versi Fatih yang telah mengurus semuanya bersama Ali.


“Bos melihatnya?” Roni tak tak bisa menahan penasaran.


“Tentu saja tidak. Aku tidak ingin terjebak dengan semua kebohongan yang ia ciptakan. Fokusku sekarang Rara dan anak-anak.”


Ketiganya masih serius bertukar cerita hingga delapan buah mobil datang serempak menghentikan pembicaraan mereka.


“Siapa Bos?” Hari terkejut.


Ketiganya berpandangan melihat Khaira yang menyambut kedatangan beberapa perempuan modis bersama dengan perempuan muda yang usianya di bawah Khaira. Di antara sepuluh mobil dua mobil membawa katering pesanan Ira sedangkan mobil yang satunya Hasya yang datang bersama Valdo.


“Assalamu’alaikum De …. “ Hasya langsung memeluk Khaira begitu turun dari mobil.


“Wa’alaikumussalam,” Khaira merasa senang dengan kehadiran Hasya.


“Sore nanti yang lain nyusul,” ujar Hasya melepas pelukannya.


Ia segera mengkoordinir pegawai katering yang sudah siap untuk menata meja dengan hidangan yang telah mereka bawa. Dengan cepat para pegawai katering yang berjumlah empat orang menata menu sehingga menarik untuk segera dinikmati.


“Maaf  de, tante baru tau kalau jeng Laras telah berpulang ke rahmatullah,” seorang perempuan yang sudah setengah baya tapi penampilannya dengan rambut warna blonde serta perawatan mahal membuatnya tampak muda dari usianya, “Masih ingatkan dengan saya tante Ismi rekan arisan berlian mertuamu?”


Khaira menganggukkan kepala berusaha bersikap ramah. Walau pun ia telah lama tidak pernah bertemu dan mengikuti arisan sosialita almarhumah mertuanya, tapi ia ingat tante Ismi adalah perempuan yang baik dan tidak pernah usil dengan kehidupan orang lain.


“Saya Bertha sama dengan jeng Ismi,” perempuan yang berjilbab syar’i  menyalami Khaira dengan penuh kehangatan.


“Saya  Livia dan ini putri saya drg. Memes,” seorang perempuan yang dari gayanya sudah kelihatan angkuh memperkenalkan dirinya dan putrinya yang masih muda sambil tersenyum meremehkan saat Khaira mengulurkan tangan.

__ADS_1


“Kenalkan saya Cristine dan putri saya  Elisa seorang pengacara,”  ujar perempuan terakhir yang masuk belakangan bertepatan dengan kedatangan Ivan yang menggendong Fajar karena sudah kecapean dan tertidur, sedangkan Embun naik di punggung Valdo sambil berceloteh riang.


“Nak Ivan …. “ tante Livia langsung menghadang langkah Ivan yang akan mengantarkan Fajar untuk beristirahat di kamar.


“Silakan duduk dulu tante …. “ Khaira menyapa tamunya dengan sopan.


Ia merasa lega, kedatangan para sahabat almarhumah mertuanya bertepatan dengan katering yang telah dipesan. Selama ini almarhumah Laras selalu menjamu tamu ataupun rekan yang datang ke rumahnya dan tidak pernah membiarkan mereka pulang sebelum menikmati jamuan yang ia sediakan.


“Katanya Ivan sudah lajang?” Khaira mendengar bisik-bisik tante Livia dan tante Christine yang menatapnya dengan raut tak senang, “Kok ada anak kecil dan mantan menantunya di sini?”


“Memangnya kenapa?” suara tante Ismi terdengar pelan di telinganya, “Baguslah kalo nak Ivan rujuk sama istrinya. Ku lihat nak Ivan begitu perhatian sama bocah yang berada di gendongannya.”


“Tante mau minum apa?” Khaira merasa tidak nyaman dengan percakapan halus yang terjadi diantara para perempuan teman almarhumah Laras.


“Terserah nak Rara aja,” tante Bertha tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Ivan kembali ke ruang tamu dan melihat Khaira tidak berada di sana. Sayup-sayup ia mendengar suara Khaira, Hasya dan Valdo yang berbicara di ruang keluarga sesekali ditimpali suara Roni dan Hari. Mereka berbincang penuh keakraban.


“Terima kasih atas kedatangan tante di rumah kami,” Ivan segera menghenyakkan tubuhnya di hadapan para teman Laras.


“Kami turut berduka cita atas kepergian mamamu,” tante Ismi mulai menyampaikan maksud kehadiran mereka.


“Kami sangat terkejut saat di grup memposting kepergian beliau,” tante Bertha pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya karena ia merasa sangat dekat dengan Laras.


“Semua memang sudah takdir tante …. “ Ivan berkata pelan.


“Apa nak Ivan mengingat putri tunggal saya Memes. Dia sudah menyelesaikan profesi dokter giginya,” tante Livia mulai mempromosikan putrinya yang menatap Ivan penuh kekaguman.


“Ini putri tante, Elisa teman main kamu saat masih kecil. Sekarang ia telah menjadi pengacara terkenal,” tante Christine tak ingin kalah saing dengan sahabatnya Livia.


Tante Ismi dan tante Bertha hanya menahan senyum mendengar kedua temannya saling memajukan putrinya masing-masing.


Khaira datang bersama bu Risma membawa minuman dingin beserta snack sekedar menghilangkan dahaga para tamunya yang tampak berbicang dengan serius.


“Sini Yang …. “ Ivan memberi isyarat pada Khaira untuk duduk di sampingnya.


Tanpa syak wasangka Khaira duduk di samping Ivan dan mengulas senyum pada para tamu yang menatapnya dengar raut yang berbeda.


“Silakan dinikmati tante, mbak-nya …. “ Khaira berkata pelan sambil memandang Ivan yang menatapnya dengan lekat.


“Embun belum tidur siang ya?” Ivan  berkata sambil merentangkan tangannya dan memeluk pundak Khaira.


Sontak perbuatan Ivan membuat tante  Livia dan tante Christine serta putrinya masing-masing merasa tidak senang.


“Ayah …. “ di luar dugaan semuanya Embun datang sambil menggosok matanya yang mulai memerah menahan kantuk.


“Princess ayah sudah mau bobo ya?” Ivan langsung meraih Embun ke dalam pangkuannya.


“Putri nak Ivan ya?” tante Ismi bertanya dengan penuh perhatian.


“Benar tante. Mereka kembar. Laki dan perempuan,” Ivan berkata dengan bangga.


“Wah, selamat ya …. “ tante Bertha langsung menyela, “Mungkin inilah yang dibicarakan mamamu seminggu yang lalu ketika tante mengajaknya bertemu untuk makan malam merayakan ulang tahunnya.”


“Benar,” tante Ismi menyambung perkataan tante Bertha, “Saat itu jeng Laras bilang gini di grup, bahwa dia mendapatkan kado terindah dengan kehadiran cucu kembarnya. Jadi dia tidak bisa nraktir makan di luar. Lain waktu …. “


Christine dan Livia terdiam. Keduanya memang sempat terlibat percakapan dengan Laras yang ingin mencarikan jodoh buat Ivan yang  putus asa karena belum menemukan Khaira. Tetapi Ivan tidak pernah menemani almarhumah mamanya saat makan bersama dengan Christine dan Livia yang tentu saja datang dengan Memes dan Elisa.


“Menurut teman tante, mamamu dalam keadaan tenang dan bahagia saat kepergiannya.”


“Alhamdulillah tante,” Ivan menanggapi perkataan tante Bertha sambil menganggukkan kepala, “Mama telah memenuhi wasiat terakhirnya.”


“Berapa tahun usia si kembar?” tante Ismi memandang Embun dengan seksama melihatnya yang mulai memejamkan mata dalam pangkuan Ivan.


“Dua tahun lebih tante,” ujar Ivan sambil mencium kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


“Sudah boleh diberi adik tuh. Mumpung kalian masih muda,” sambung tante Bertha tersenyum penuh arti.


“Semoga disegerakan tante,” Ivan memandang Khaira yang juga menatapnya sekilas dan segera mengalihkan pandangan pada Embun.


Senyum terbit di wajah Ivan melihat rona yang muncul di pipi Khaira mendengar perkataan tante Ismi dan tante Bertha.


“De, tamunya dipersilakan menikmati hidangan yang ada. Sudah jam makan siang ini ….” Hasya muncul di hadapan mereka bersama dengan Valdo.


“Tante kenalkan saudara ipar saya mbak Hasya dan mas Valdo,” Ivan segera bangkit sambil menggendong Embun yang mulai terlelap.


“Dokter Sasya …. “ Memes terkejut melihat seniornya bersama sang suami berada di ruangan yang sama dengannya.


“Dokter Memes …. “ Hasya mengerutkan kening tidak menyangka bertemu Memes dokter muda yang baru bertugas di tempat yang sama dengannya.


“Kamu mengenalnya?” tante Livia terkejut mengetahui putrinya mengenal saudara ipar Ivan.


“Beliau senior saya bu,” Memes menjawab sambil menundukkan wajah.


“Mari kita makan siang dulu tante. Keburu hidangannya dingin …. “ Khaira mengajak para tamu untuk makan siang bersama.


“Wah jadi merepotkan,” tante Ismi tersenyum senang, “Setiap main ke rumah Laras, beliau selalu menyuguhi hidangan istimewa. Jeng Laras memang sahabat terbaik yang ku miliki ….”


“Benar,” sambung tante Bertha, “Tidak akan ada lagi sosok sahabat seperti jeng Laras.”

__ADS_1


Khaira merasa lega para tamu yang datang dapat dijamu dengan menu yang telah mereka persiapkan sejak awal. Dan ia pun cukup senang dengan keberadaan Hasya membuatnya ada teman untuk sekedar berbasa-basi melayani teman almarhumah mertuanya yang berkunjung.


__ADS_2