
Berdampingan dengan Jefri dan Vira rekan sesama panitia pameran Khaira berjalan naik ke atas panggung untuk berfoto bersama dengan pejabat daerah, pengusaha serta perwakilan kementerian UMKM yang telah di posisi masing-masing.
Saat melewati laki-laki yang tegap dengan kemeja biru dibalut jas, sontak mata Khaira membulat. Ia terkejut saat menyadari bahwa itu memang suaminya.
Ivan pura-pura tak melihat karena terlibat percakapan dengan Dewi Ayu yang antusias mengajaknya ngobrol. Dari sudut mata ia melihat Khaira yang terkejut memandang ke arahnya. Sepersekian detik Khaira berdiri, tapi Ivan tetap santai seolah-olah tidak mengenalnya.
Melihat sikap suaminya yang pura-pura tidak mengenalnya membuat Khaira merasa kesal. Wajah yang tadinya ceria langsung kecut. Ia berbalik hendak menjauh dan tidak ingin mengikuti sesi foto bersama, tapi Jefri dengan cepat meraih lengannya membuat Khaira menghentikan langkah.
Bukannya Ivan tak melihat kejadian itu. Rasanya ia kesal melihat Jefri menyentuh istrinya, tapi kondisi belum memungkinkan untuk ia bertindak lebih jauh. Ia hanya melihat sambil berusaha menekan emosi yang sudah naik ke kepala.
Ketika sesi foto sudah selesai, para pejabat mulai berjalan meninggalkan panggung. Lelaki muda yang merupakan perwakilan dari Kementerian UMKM l berhenti ketika melihat Khaira masih terlibat pembicaraan dengan Jefri dan Vira.
“Aisha …. “ lelaki muda itu memanggilnya.
Khaira memandang lelaki muda yang seumuran dengannya dan kini berdiri tegak di hadapannya. Keduanya saling memandang.
“Apa kamu tidak mengingatku?” Lelaki muda itu menatapnya dengan lekat, “Aku Dio putra bu Mawar.”
Senyum tipis terbit di wajah Khaira mengingat lelaki muda yang pernah jadi teman mainnya saat masih kecil.
“Bagaimana kabar tante Mawar?” Khaira bertanya dengan antusias.
“Mama sehat selalu. Beliau sering menanyakan kabar kalian,” Dio merasa senang bertemu teman masa kecilnya.
Saat Ivan dan Dewi berjalan melewati keduanya. Khaira menatap wajah suaminya, dengan santai Ivan berlalu tanpa melihat istrinya. Kekesalannya semakin meningkat melihat keakraban yang terjadi antara istrinya dan lelaki yang baru ia lihat pertama kali.
“Kamu sudah menikah?” Dio menatapnya heran, karena wajah Khaira berubah mendung.
Khaira hanya mengangguk, lirikan matanya menatap kepergian Ivan yang berlalu bersama manajer hotel yang penampilannya sangat modis itu.
“Aku sekarang sedang menantikan anak kedua kami lahir,” Dio bercerita dengan penuh semangat, “Baiklah, aku permisi dulu. Salam untuk saudaramu yang lain.”
Dengan perasaan sedih Khaira mengangguk. Hatinya merasa kosong saat tidak melihat lagi bayangan Ivan di dalam ruangan. Ia melangkah dengan pelan menuju kursi panitia untuk mengevalusi acara pembukaan yang telah selesai dilaksanakan.
Banyak istri pejabat beserta masyarakat umum yang masih tinggal di dalam ruangan untuk melihat-lihat koleksi perhiasan yang ditampilkan.
Ivan yang diundang Dewi Ayu ke ruangannya terpaksa memenuhi undangannya. Ia tidak sendiri Parjo terus mengikutinya. Ia tidak ingin terlalu lama meladeni perempuan yang kelihatan tertarik sejak awal berjumpa dengannya.
“Mas Ivan sudah berkeluarga?” Dewi Ayu mulai menanyakan masalah pribadi. Ia tak peduli lajang atau berkeluarga, kalau merasa cocok ia siap menjalani hubungan walau tanpa ikatan.
Kedudukannya sebagai Manajer Hotel membuatnya sudah terbiasa menjalani hubungan take and give tanpa status. Dan ia sangat menikmatinya. Ia tidak pernah memikirkan dampak pada keluarga yang ia masuki kehidupan mereka. Jika telah bosan, maka ia akan berhenti menghubungi lelaki yang dekat dengannya.
“Baru menikah,” jawab Ivan santai.
__ADS_1
“Wow!” Dewi Ayu pura-pura takjub mendengarnya, padahal ia merasa kesal karena sejak perbincangan awal tiada tampak ketertarikan Ivan saat memandangnya.
Apalagi saat dengan santainya Ivan mengambil gambar perempuan berpakaian tertutup yang menyampaikan pidato pembukaan membuat Dewi Ayu tidak senang. Selama ini setiap lelaki yang ia dekati tidak pernah menolak untuk berkencan atau pun hanya sekedar ONS dengannya.
Ia masih berusaha menarik perhatian Ivan dengan membuka kancing blouse atas kemejanya dan meletakkan jas yang melapisi blouse tipis yang ia pakai.
Ivan melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam ia melewatkan waktu berharganya memenuhi undangan Dewi Ayu. Ia mengerutkan kening melihat kelakuan perempuan yang seusia dengannya yang kini mulai mengurai rambutnya sambil menjilat bibirnya yang berwarna merah terang.
“Maafkan aku harus pergi sekarang,” tanpa mengharap persetujuannya Ivan bangkit, “Terima kasih atas jamuan anda nona Dewi.”
Dewi Ayu terkejut melihat Ivan yang berlalu diikuti Parjo tanpa mempedulikan apa yang ia lakukan. Tidak pernah ada yang menolak pesonanya. Tetapi lelaki di depannya begitu teguh dan tidak memandangnya sekilas pun.
Ivan berjalan berdampingan dengan Parjo menuju kamar president suite yang mulai malam ini akan ia tempati bersama sang istri. Keduanya langsung duduk bersantai sejenak di sofa tunggu yang berada di depan kamar.
“Saya tidak tau kalau kehidupan bos selalu dikelilingi perempuan menarik seperti mereka,” Parjo mulai membayangkan pemandangan indah saat di ruangan Dewi Ayu.
Ia sama seperti Roni yang berpikiran masih lurus dan jarang menyimpang. Jika bertemu pemandangan yang aneh mereka paling cepat berkomentar. Ia dapat melihat sesuatu yang indah menyembul di balik blouse sang manajer yang dengan sengaja membuka kancing atas dengan pemandangan menerawang dari blouse tipis yang dipakai.
“Yang topless pun banyak. Aku udah muak lihat yang seperti itu,” Ivan menjawab dengan cepat, “Mereka seperti tidak ada harganya sama sekali. Menjual tubuh mereka hanya untuk mendapatkan kepuasan dunia sesaat.”
Parjo mencibir, padahal ia tahu bagaimana kehidupan masa lalu bosnya. Semenjak menikah inilah ia melihat perubahan sikap yang signifikan dari bos arogan tersebut.
“Kamu mengejekku?” Ivan menatap Parjo dengan cepat.
“He he ….” Parjo tertawa, “Mana berani saya bos.”
“Aku sekarang telah menikah. Dan aku berhutang banyak dengan almarhum sahabatku,” Ivan menatap kejauhan, “Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengacau dalam kehidupan rumah tangga kami.”
Parjo menggaruk-garuk kepala plontosnya. Senyum lebar terbit di wajahnya melihat raut Ivan yang serius saat berkata barusan.
Ivan melihat foto yang dikirim Herlan. Rautnya tampak kesal melihat Khaira yang duduk di meja bundar hanya berdua dengan Dewo yang menatap istrinya lekat. Dari beberapa gambar yang terkirim kelihatan kalau istrinya sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjukkan kertas di tangannya.
“Jemput Rara sekarang. Aku menunggunya,” Ivan melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 22.10 menit.
“Tadi bos bilang jam 10.30,” Parjo mengerutkan keningnya.
“Ku bilang sekarang!” Ivan berkata dengan tegas, dari tadi ia sudah menekan emosinya untuk tidak melakukan perbuatan yang akan menjauhkan Khaira dari dirinya.
“Baik bos.” Dengan cepat Parjo bangkit dari kursi dan berjalan menjauhi Ivan kembali ke ballroom hotel untuk menjemput sang nyonya.
Ia tersenyum tipis. Pantas saja bosnya kesal. Dari matanya melihat bahwa lelaki yang bersama nyonya bos tampak memiliki perasaan tersembunyi saat memandang nyonya bos dengan sorot penuh kekaguman. Apa lagi ia sempat melirik ponsel Ivan yang memuat foto keduanya yang terlihat dekat.
“Permisi …. “ Parjo menyapa keduanya yang langsung menghentikan perbincangan mereka, “Nyonya, ada salah satu pengusaha yang tertarik dengan perhiasan yang anda pamerkan dan memesan secara khusus pada anda.”
__ADS_1
“Ya?” Khaira menatap Parjo dengan heran.
Ia tidak mengetahui bahwa lelaki plontos itu adalah bawahan suaminya yang sengaja disuruh Ivan untuk menjemputnya.
“Bos saya meminta anda menemuinya,” ujar Ivan dengan serius, “Beliau ingin melihat anda mempresentasikan perhiasan yang anda miliki dan dipamerkan pada malam ini.”
“Saya yang akan menemani mbak Rara menemuinya,” Dewo mencoba menawarkan diri.
“Tidak perlu!” potong Parjo cepat, bisa dipotong bonusnya kalau tidak berhasil membawa nyonya bos sendiri ke kamar yang sudah disewanya untuk beberapa hari ke depan.
“Tidak apa-apa mas Dewo,” Khaira tersenyum tipis.
Ia tidak merasa khawatir karena Herlan dan Andini selalu ada di sampingnya. Dengan segera ia menghampiri Jefri untuk berpamitan dan memberitahunya bahwa ia akan langsung beristirahat.
Jefri mengangguk menyetujui keinginan Khaira. Ia pun tidak ingin menahan istri pengusaha yang telah mensponsori kegiatan mereka.
Saat di depan pintu kamar president suite, Jefri segera memberikan isyarat pada Herlan dan Andini untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Herlan yang mengenal Parjo segera menganggukkan kepala, dan ia mengajak Andini untuk kembali ke kamar masing-masing.
“Apa benar bosmu menunggu di ruangan ini?” Khaira menatap Parjo dengan raut khawatir.
Ia tidak mungkin menemui orang yang tidak ia kenal, apalagi di dalam ruangan tertutup. Ia menghormati pernikahan yang telah terjadi. Walau pun merasa kesal atas sikap acuh Ivan, tapi bukan menjadi alasan untuk ia menemui orang lain di dalam kamar hotel mewah tersebut.
“Maafkan saya tuan,” Khaira mulai memandang sekelilingnya karena tidak melihat Herlan dan Andini, “Saya tidak bisa menerima undangan dari bos anda. Saya telah menikah. Saya khawatir pendapat orang tentang saya.”
Ivan yang berada dalam ruangan melihat pembicaraan yang terjadi di depan kamarnya melalui CCTV yang telah ia download di dalam ponsel. Senyum bahagia terbit mendengar perkataan istrinya.
“Anda tidak perlu khawatir nyonya. Bos saya seorang pria baik. Tidak mungkin ia berbuat kurang ajar…. “ Padahal dalam hatinya Parjo sudah membayangkan hal yang akan terjadi di dalam kamar bosnya saat bertemu sang istri yang sudah 4 hari berjauhan.
Dengan berat hati Khaira akhirnya melangkah memasuki ruangan yang telah dibukakan Parjo. Saat memasuki ruangan ia mendengar pintu kamar terkunci secara otomatis. Perasaan tidak nyaman mulai bermain di kepalanya.
Lampu ruangan tiba-tiba gelap tetapi terganti dengan lilin-lilin aroma terapi yang berjejer di kiri kanan yang dilewati Khaira. Detak jantungnya berdebar dengan cepat. Ia terus berjalan hingga menuju rooftoop kamar president suite yang sangat luas itu.
Tampak sebuah meja yang telah dipenuhi hidangan makan malam mewah disertai mawar merah yang ditata dan disusun menjadi beberapa bagian menambah kesan romantis di rooftop hotel yang luas itu.
Tampak sosok lelaki yang berdiri membelakangi Khaira memandang deburan ombak yang sangat indah di kejauhan .
“Maafkan saya tuan. Apakah saya salah masuk kamar?” Khaira merasa janggal karena ia tidak menyangka memasuki ruangan yang sepertinya telah ditata sebagai tempat untuk melakukan dinner romantis.
Lelaki tegap itu berbalik, “Kamu tidak salah sayang ….”
Mata Khaira membulat setelah menyadari bahwa lelaki yang tegak di hadapannya adalah suaminya sendiri. Mengingat sikap acuhnya saat bersama perempuan modis yang menempel padanya tadi membangkitkan rasa kesal lagi di hati Khaira.
__ADS_1
***Happy Monday .... Salam sayang semua. Jangan lupa vote\, kritik dan saran sepanjang jalan kenangan ya menuju adegan uwu-nyahhhhh. Ha ha .... yang manis-manis aja dulu....***