Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 197 S2 (Makan Malam Bersama Klien)


__ADS_3

Rheina dan Ali terkejut mendapat kunjungan dadakan dari keduanya. Setelah resepsi pernikahan keduanya memang baru kali ini Khaira sempat mengunjungi rumah mereka.


“Kalian akan menginap di sini malam ini?” Rheina menatap adik iparnya dengan penuh harap.


“Nggak kok mbak,” Khaira menjawab cepat, “Mas Ivan memintaku menemaninya memenuhi undangan makan malam. Aku kan bingung, nggak ada persiapan apa pun.”


“Ohh… begitu to,” Rheina mengangguk-anggukkan kepala, “Jangan khawatir, kamu berada di tempat yang tepat.”


Ali dan Ivan duduk berhadapan di sofa ruang keluarga. Keduanya masih terdiam berusaha mencari bahan perbincangan, hingga akhirnya Ali mulai menyapa adik iparnya terlebih dahulu.


“Bagaimana kabar kalian berdua sekarang?” akhirnya Ali memulai percakapan terlebih dahulu.


Ia dapat melihat perubahan sikap arogan dan kaku Ivan tidak tampak saat bersama  adiknya. Apalagi saat memasuki rumah Ivan menggandeng tangan Khaira ketika tiba dihadapan ia dan istrinya.


“Alhamdulillah baik mas,” Ivan merasa lega melihat saudara iparnya yang ia nilai paling keras sifatnya kini bersikap ramah dan lebih santai.


Ali tersenyum tipis, “Aku sangat senang kalian mampir ke mari. Sudah hampir dua bulan kalian menikah. Apa tidak ada keinginan untuk berbulan madu?”


“Saya belum membicarakan hal itu sama Rara,” Ivan jadi berpikir


Sejak awal menikah hingga sekarang memang belum ada arah pembicaraan antara ia dan Khaira untuk merencanakan bulan madu.


Azan Magrib menghentikan percakapan keduanya. Kini Ivan menyadari bahwa keluarga istrinya memang agamis. Ini dapat dibuktikan dengan tempat kediaman masing-masing yang selalu dekat dengan masjid, hingga memudahkan mereka untuk beribadah berjamaah di masjid.


Dan ia sangat bersyukur karena saat memilih rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Khaira juga lokasinya berdekatan dengan masjid.


“Yok kita salat di masjid An-Nur depan,” Ali bangkit dari kursinya.


“Ya mas,” Ivan langsung bergegas mengikuti langkah Ali yang sejak kedatangan mereka memang sudah memakai koko dan kain sarung, tampaknya memang sudah bersiap ke masjid.


Sepulangnya dari masjd, Ivan tidak melihat istrinya. Ia mengikuti langkah Ali yang mengajaknya langsung menuju ruang makan. Di sana ia melihat kakak iparnya Rheina sudah menyiapkan menu untuk makan malam.


“Adek ada di kamar sana,” Rheina menunjuk kamar paling depan, “Ku dengar kalian akan menghadiri jamuan makan malam….”


“Benar mbak. Karena itulah kami mampir. Rara nggak mau saya ajak cari gaun di butik,” Ivan berterus terang alasan mereka singgah.


Untuk kesopanan dan menghargai Ali sebagai kakak iparnya terpaksa ia memanggil Rheina yang seusia dirinya dengan mbak.


“Tenang aja. Aku sudah siapkan pakaian untuk kalian berdua. Ku jamin tidak akan mengecewakan,” ujar Rheina sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Ivan.


Ali hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan keduanya. Tapi ia percaya dengan apa yang dikatakan Rheina, untuk masalah penampilan, istrinya itu memang yang nomor satu.


Saat Ivan memasuki kamar, suasana tampak tenang tidak ada siapa pun di kamar tamu yang sangat luas itu.  Ia merasa heran karena tidak menemukan istrinya di dalam. Tatapannya terfokus pada setelan jas serta gaun yang tertata di tempat tidur, senyum tipis muncul di bibirnya. Masih ada waktu untuk membersihkan diri.


Ivan merasa lega, saudara Khaira memang patut diacungi jempol. Semua sudah disiapkan bahkan nyaris sempurna. Saat ia membuka pintu kamar mandi, ternyata Khaira juga baru mau keluar.


Ivan terpaku, pemandangan yang sangat menggoda melihat istrinya yang hanya memakai handuk menutupi setengah paha dengan rambut dicepol memperlihatkan leher putih jenjangnya. Ivan menelan ludah. Rasanya ia ingin melukis di tempat-tempat yang begitu mengundang hasratnya.

__ADS_1


“Mas Ivan baru pulang dari masjid?” dengan santainya Khaira menatap pada suaminya yang sudah kaku tak mampu bergerak karena terkesima dengan pemandangan menyegarkan.


Khaira bingung melihat Ivan yang terdiam, tapi pandangannya tetap fokus pada dirinya. Dengan santai ia berjalan melewati Ivan.


Aroma sabun mandi yang menguar dari tubuh istrinya, membuat konsentrasi Ivan terpecah. Ia langsung meraih pinggang Khaira dan menariknya ke dinding.


“Ehh….” Khaira terkejut dengan kelakuan spontan suaminya.”Emph ….”


Dengan cepat Ivan membenamkan bibirnya di telaga madu yang tak akan pernah membuatnya bosan. Setelah merasa puas karena mulai mendapat balasan, ciumannya Ivan mulai berpindah ke leher jenjang sang istri. Ia menghirup aroma wanginya dengan penuh perasaan.


Sensasi serta rasa geli membuat  Khaira berusaha mendorong tubuh suaminya. Ia baru sadar dengan kondisinya yang hanya memakai handuk.


“Mass …. “


“Ya …. “ Ivan tak ingin berhenti. Jemarinya mulai bergerilya.


“Ra, kalau sudah selesai mandi biar mbak dandani,” panggilan Rheina serta ketukan di pintu kamar membuat Ivan merasa kesal, karena keinginannya belum tercapai.


“Mas …. “ Khaira melotot melihat Ivan yang masih merangkulnya dengan erat, “Katanya kita mau makan malam di luar.”


Akhirnya dengan perasaan enggan Ivan melepaskan istrinya. Ia langsung melangkah ke kamar mandi sekalian bersih-bersih. Rasanya gerah juga seharian beraktivitas di luar, ditambah lagi warming up yang barusan ia lakukan bersama Khaira. Kalau saja tidak ingat tempat, bisa-bisa aktivitas mereka berakhir di tempat tidur.


Sambil membasahi tubuhnya dengan air, senyum Ivan terbit di wajahnya. Ia yakin, tidak lama lagi perjalanan ke puncak akan segera mereka lewati. Dan ia tidak  sabar menunggu saat-saat itu.


Rasanya Ivan ingin protes pada Rheina ketika melihat Khaira keluar dari kamar setelah di-make over-nya. Tapi mau bagaimana lagi, ia hanya menggelengkan kepala karena Rheina mengacungkan jempol padanya.


“Ini terlalu menor mbak,” Khaira memprotes riasan wajahnya.


“Mbakmu ini de, kalau udah bekerja nggak setengah-setengah,” dengan santai Ali pun mengacungkan jempolnya ke arah Ivan, “Biar suamimu nggak liat perempuan lain lagi.”


Khaira melirik Ivan yang menatap lekat padanya. Matanya mendelik ketika mengalihkan pandangan pada Rheina yang masih memasang senyum kepuasan.


“Benar apa yang dikatakan mas Ali. Di luaran itu banyak pelakor dan ulet bulu yang berkeliaran. Mereka itu suka memikat laki-laki, nggak peduli lajang atau suami orang,” ujar Rheina serius.


“Bagaimana aku mau melihat perempuan lain. Malahan aku nggak ingin lelaki lain melihat istriku. Rasanya aku ingin mengurungnya di kamar.” Ivan bermonolog dalam hati melihat penampilan istrinya.


“Jadi pergi nggak nih?” melihat Ivan yang masih terpaku membuat Khaira melangkah mendekati suaminya.


“Jadi dong!” Rheina melotot menatap Ivan yang tak mengalihkan pandangan dari istrinya, “Aku udah mempersiapkan semuanya dengan sempurna, mosok nggak jadi?”


Ivan tersadar. Ia memandang Ali dan Rheina dengan perasaan tidak nyaman. Ia paham dengan arti tatapan mas Ali padanya. Ivan segera mengenggam jemari istrinya dengan erat.


“Terima kasih mas, mbak Rheina. Kami permisi dulu,” Ivan segera pamitan.


“Kapan-kapan mampir dan nginap di sini ya….” Rheina melambaikan tangannya saat keduanya mulai melangkah menuju mobil.


Khaira menganggukkan kepala sambil tersenyum hingga  memasuki mobil. Akhirnya mobil mulai berlalu meninggalkan komplek perumahan.

__ADS_1


Sampai di restoran Le Quartier  Ivan melihat Roni dan Gisel sudah menunggunya. Jemari Ivan tak melepaskan genggaman pada jemari istrinya. Roni mengerling Gisel sambil memberi isyarat melihat kelakuan posesif bos mereka pada sang istri.


“Mereka sudah menunggu kita di ruang private room,” ujar Roni sambil mengarahkan Ivan dan Khaira menuju ruangan tempat Adam dan sekretarisnya menunggu.


“Sudah lama?” Ivan menatap Roni sekilas.


“Sekitar lima menit yang lalu bos.”


“Baiklah, Ron. Kalian berdua ikut gabung bersama kami,” ujar Ivan ketika Roni membukakan pintu prive room.


“Nggak usah bos. Kami berdua makan di luar saja. Suasananya lebih nyaman,” Roni berusaha menolak.


“Baiklah jika itu  pilihanmu,” Ivan mengangguk.


“Kebetulan Hari juga ingin makan bersama kami,” Roni menceritakan keinginan Hari yang pingin ikut makan malam bersama.


“Masukkan saja dalam tagihan perusahaan,” ujar Ivan.


“Terima kasih bos,” ujar Roni sambil tersenyum.


Keduanya mulai memasuki private room di Le Quartier. Jemari tangan Ivan masih mengait jemari Khaira saat keduanya berhadapan dengan Adam dan Meri.


Seperti dugaan Ivan, begitu melihat istrinya Adam menatap dengan kening berkerut. Adam tidak menyangka istri pengusaha entertainment terkenal itu memiliki istrinya yang berpenampilan tertutup.


Meri yang malam itu sengaja menggunakan gaun malam seksi mencibir saat melihat perempuan muda yang mendampingi lelaki yang telah membuatnya panas dingin. Ia memang sekretaris plus-plus bagi Adam. Hubungan take and give yang sama-sama menguntungkan.


Padahal Adam adalah lelaki yang telah berkeluarga dan memiliki anak yang telah dewasa  duduk di bangku kuliah. Tapi pesona sang sekretaris membuatnya menganggap hal itu biasa, karena istrinya juga seorang pejabat pemerintahan yang selalu disibukkan dengan pekerjaan.


“Istri anda?” Adam masih tak percaya saat Ivan mulai mendekat pada keduanya.


Khaira menangkupkan kedua tangan sambil tersenyum tipis pada Adam. Dan ia menymbut uluran tangan Meri yang tampak memandangnya dengan remeh.


“Khaira Alexsander,” ujar Ivan sambil mengelus pundak istrinya di depan Adam.


“Wah, anda lelaki yang sangat romantis,” Adam memuji Ivan saat melihat perlakuannya pada Khaira.


“Itu sudah kewajiban kita terhadap pasangan. Dan saya sangat menikmati pernikahan dan kehidupan berumah tangga ini,” ujar Ivan sambil mengedipkan mata pada Khaira.


Adam tersenyum, “Memang di awal pernikahan seperti itu. Tetapi lima tahun bahkan sepuluh tahun, kita mulai bosan dan jenuh dengan pasangan kita.”


“Saya harap itu tidak terjadi pada pernikahan kami. Saya dari awal adalah orang yang memegang komitmen,” ujar Ivan dengan santai ia mengecup jemari tangan Khaira yang masih berada dalam genggamannya.


Perbuatan Ivan membuat Khaira terkejut. Tapi mendengar ucapan Ivan tak ayal membuat perasaannya merasa tersentuh. Ia membalas tatapan Ivan yang begitu lekat penuh damba padanya.


Meri melongo menyaksikan kemesraan yang dipertontonkan kedua pasangan yang baru saja memasuki ruangan. Ia tidak menyangka laki-laki yang begitu dingin saat pertemuan pertama mereka, tapi kenyataannya adalah lelaki yang romantis pada pasangannya.


Memang ia akui kecantikan natural yang terpancar dari wajah perempuan yang ia pandang berpakaian ketinggalan jaman itu tidak bisa dianggap sepele. Wajahnya begitu teduh dan menyenangkan saat dipandang. Sedangkan dirinya ….

__ADS_1


 


***Dukung terus ya. Mohon maaf author sangat sibuuuuuuk sekali. Tapi tak usahain agar tetap update. Karena setelah masa indahnya penganten baru\, tentu ada ujian pernikahan. Tapi author janji nggak bakal ada pelakor. Sueeer ke wewerrr.... Komennya dibanyakin yah. Author jadi semangat kalo baca komen dari readerku tersayang. ****


__ADS_2