
“Astagfirullahal’adjim .... “ ustadzah Fatimah menutup mulut dengan tangan kanan mendengar cerita suaminya ketika pagi itu keduanya sedang menikmati sarapan pagi bersama, “Umi benar-benar tak menyangka bahwa pak Ivan adalah ayah kandung si kembar ....”
“Abi saja sampai nggak bisa berkata apa-apa saat Ivan menceritakan semuanya tadi malam,” ustadz Hanan berkata dengan serius.
Ustadzah Fatimah terdiam ketika ustadz Hanan mengakhiri ceritanya. Ia turut merasakan kesedihan mengetahui permasalahan dalam rumah tangga Ivan dan ustadzah Aisya yang sudah ia anggap adik sendiri.
“Umi rasanya ga rela kalau Aisya kembali sama pak Ivan. Dia terlalu meremehkan Aisya hanya karena kehadiran Bryan. Kalau seandainya putranya masih hidup, mungkin sampai sekarang pak Ivan ga tau kalau ia mempunyai keturunan dari Aisya, karena ia sudah memiliki keluarga sendiri dengan perempuan bule gila itu. Anak haram saja dibanggakan. Apa semudah itu untuk kembali? Begitu Bryan meninggal, ujug-ujug mau kembali pada Aisya, apa nggak mikir? Memangnya hati kita terbuat dari spons yang mudah kembali ke bentuk semula. Syukurin ... ,” kilat kekesalan tampak di mata ustadzah Fatimah saat mengatakan itu, “Umi ingat saat pertama Aisya datang kemari. Tatapannya kosong dengan keputus-asaan saat Umi menghampirinya duduk sendiri di masjid .... “
“Mi .... ,” ustadz Hanan menepuk punggung tangan istrinya yang tampak emosional membayangkan tiga tahun yang lalu, “Allah Maha pengampun dan penerima tobat. Abi harap Umi turut mendukung bersatunya kembali ustadzah Aisya dan Ivan demi si kembar.”
“Kalau Umi jadi saudara kandungnya Aisya gak akan Umi biarin Ivan kembali. Kalau perlu Aisya dan si kembar akan Umi bawa pergi jauh, biar gak ketemu sama sekali. Biar tau rasa .... “
“Astagfirulahhal’adjim, Umii.... “ ustadz Hanan tinggal geleng kepala melihat reaksi berlebihan istrinya.
“Abi juga, gihh ... sono kalau mau kawin lagi. Umi rela dipoligami kalau memang Abi masih menginginkan anak.”
“Istighfar Umiii .... “ ustadz Hanan mengelus pundak ustadz Fatimah yang masih emosi.
“Umi kesel Bii!” ujar ustadzah Fatimah sambil menekan dadanya yang terasa sesak merasakan kesedihan yang pernah dialami bundanya si kembar.
Dia yang tidak ada hubungan apa pun dengan Khaira merasakan sakitnya dikhianati dan tidak dipercayai, apalagi pribadi yang mengalaminya sendiri tentu lebih sakitnya berkali lipat.
“Baru kali ini Abi melihat Umi yang reaksinya berlebihan,” senyum ustadz Hanan terbit disudut bibirnya, “Selama ini begitu lembut dan halus tutur kata Umi. Tapi pagi ini, weleh-weleh ....”
“Astagfirullahhal’adjim ..... “ ustadzah Fatimah tersadar bahwa nadanya memang kenceng saat menanggapi cerita suaminya, “Maafkan Umi, ikut terpancing .... “
“Ya, Abi maafin. Tapi tolong dukung ya, doanya juga untuk kebaikan keluarga Ivan dan ustadzah Aisya.”
Ustadzah Fatimah kembali cemberut mendengar ucapan suaminya. Tapi mau bagaimana lagi. Si kembar memang butuh kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya, apalagi mereka dalam masa tumbuh kembangnya.
Jadi tidak boleh mengedepankan emosi, harus lebih sabar dan banyak berserah pada Yang Kuasa. Karena segala sesuatu yang terjadi memang sudah jadi qudrat dan iradat-Nya.
“Insya Allah Bi, Umi akan berdoa yang terbaik untuk mereka,” ustadzah Fatimah akhirnya berkata dengan pelan, “Demi si kembar yang sangat Umi sayangi.”
“Pantas saja si kembar tidak menolak saat Ivan mencium keduanya .... “ ustadz Hanan teringat kembali pada saat si kembar datang mengantarkan oleh-oleh sepulangnya mereka dari Singapura, “Ikatan batin diantara mereka sangat kuat.”
“Benar Bi,” kini ustadzah Fatimah pun sudah lebih santai, “Kalau Umi pandang, wajahnya Embun sangat mirip dengan pak Ivan. Kelakuannya juga sama, suka berbuat semaunya nggak bisa dikasi tahu. Dek Aisya itu orangnya pendiam. Kalau mau mengerjakan sesuatu pasti dipikirkan dengan matang. Ealah, liat si Embun grasa-grusu. Lari sana-sini. Kalau udah maunya ... Umi kadang mikir, anak siapa sih, kok koyo ngono to?”
“Analisa Umi sangat tepat. Kalau Fajar memang mirip ustadzah Aisya. Tingkah laku dan tutur katanya terukur,” ujar ustadz Hanan manggut-manggut.
“Ciye-ciye, yang mulai naksir. Sayang udah ditikung,” kini ustadzah Fatimah mulai menggoda suaminya.
“Kenapa Umi nggak cemburu dengan ustadzah Aisya?” kembali ustadz Hanan menggelengkan kepala dengan kelakuan istrinya.
__ADS_1
“Umi percaya sama Abi dan Aisya. Karena Umi sudah mengikhlaskan semuanya atas nama Allah. Tapi kalau jodohnya bukan bersama Abi, Umi tetap bahagia dan bersyukur untuk mereka.”
Ustadz Hanan tersenyum penuh kelegaan. Itulah istri yang selalu ia cintai dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang selalu mendukungnya baik dalam duka maupun suka.
“Tapi tolong rahasiakan pada ustadzah Aisya, kalau rumah itu milik Ivan. Dia sudah empat hari tidak melakukan aktivitas apa pun selain mengamati kegiatan ustadzah Aisya dan si kembar.”
“Ya Allah, segitunya .... “ Ustadzah Fatimah menggelengkan kepala mendengarkan ucapan suaminya, “Pantas saja Aisya merasakan setiap mau keluar rumah seperti ada mata yang mengawasi dari rumah samping.”
“Kapan ia mengatakan pada Umi?”
“Kemaren, ba’da Asar. Aisya merasa seperti diamati dari kejauhan,” ustadz Fatimah berkata dengan serius.
“Kalau sudah seperti ini, apa umi tega menjauhkan Ivan dari orang-orang yang ia cintai?” ustadz Hanan menatap istrinya dengan lekat.
Senyum seketika terbit di wajah ustadzah Fatimah, “Umi akan berdoa untuk kebaikan mereka semua,” ujarnya dengan tulus.
“Itulah yang Abi harapkan dari Umi. Kita tidak bisa memisahkan si kembar dengan ayah kandungnya, walau pun ada masalah yang terjadi diantara kedua orang tuanya.”
“Umi paham,” senyum tulis tersungging di bibir ustadzah Fatimah, “Umi juga merindukan si kembar, akhir-akhir ini tidak pernah bermain ke sini lagi.”
“Ivan telah mengatur semua supaya ia bisa bermain dengan si kembar tanpa ketauan bundanya.”
“Umi gak bisa bayangin bagaimana reaksi Aisya kalau tau bahwa Ivan telah mendekati si kembar.”
“Kita doakan yang terbaik saja,” ujar ustadz Hanan sambil menghabiskan kopi yang tinggal separo dan mulai dingin.
Sementara itu di sebuah ruangan besar yang dipenuhi mainan anak berbagai macam Ivan menemani si kembar bermain.
Embun dan Fajar tertawa senang duduk di punggung Ivan yang kini menjadikan dirinya seolah-olah kuda pacuan.
“Pegangan yang kuat ya, kudanya mau jalan .... “ Ivan berkata dengan lembut pada keduanya yang antusias di atas punggungnya.
Danu geleng-geleng kepala melihat Ivan yang hanya menggunakan celana tanggung dengan kaos oblong, seolah melupakan dunia luar dengan keberadaan si kembar di sisinya.
“Ayah, atu mau telbang .... “ Embun mulai bosan dengan kuda pacuannya.
Dengan cepat ia turun dari punggung Ivan, dan mulai menarik kaos ayahnya agar segera menggendong dan memutarnya di udara.
“Ok, princess cantik. Pesawat segera terbang .... “ Ivan segera memegang Fajar yang masih nangkring di pundaknya, “Mas turun dulu ya, Ade mau terbang.”
“Baik Ayah .... “ Fajar mengangguk dan membiarkan Ivan meraih Embun yang sudah menunggu dengan senang hati.
“Memang aslinya si Bos!” Dani tersenyum melihat gaya Embun yang seperti seorang penguasa wilayah yang tidak mau dikalahkan siapa pun.
__ADS_1
“Siapa dulu dong ayahnya,” Ivan berkata dengan bangga.
Dua jam kemudian, ruangan bermain sudah hening. Kini ketiganya terkapar di karpet tebal dengan si kembar yang mulai mengantuk dan memegang botol susunya masing-masing. Dani tersenyum melihat pemandangan indah di depannya. Sementara ia masih membalas email dari Berli yang mengajak mereka bertemu di lokasi pembangunan rumah sakit.
Ivan membelai wajah Fajar. Ia menatap lekat wajah putranya. Alis dan bulu matanya yang panjang dan lentik, cerminan wajah Khaira tergambar jelas di sana. Tatapannya beralih pada Embun, peri cantik yang membuat ia tak bisa memalingkan wajah saat berinteraksi dengannya. Kini ia telah memiliki anak keturunan sendiri, dan siapa pun tidak bisa mengingkari bahwa wajah keduanya sangat identik dengan dirinya dan Khaira.
Kedekatan dengan si kembar telah menambah spirit baru dalam kehidupan Ivan. Walau pun hati Khaira belum mampu ia raih, setidaknya si kembar telah menerima kehadirannya dan mulai bergantung padanya. Hatinya akan kembali hampa, jika sore menjelang. Di saat si kembar kembali pulang, Ivan merasa jiwanya melayang mengikuti kemana pun langkah kaki si kembar.
Ivan tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mamanya jika mengetahui telah memiliki sepasang cucu kembar yang sangat cantik dan tampan dari Khaira. Tapi dengan berbagai alasan, Ivan belum ingin memberitahunya.
Minggu-minggu terakhir ini ia dapat melihat bahwa Khaira begitu sibuk. Pergi jam 7 pagi, pulang sebentar saat waktu Zuhur, kemudian berangkat dan kembali ke rumah setelah salat Asar.
Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat raut kelelahan yang tergambar di wajah ayu Khaira. Rasanya tak tega Ivan menyaksikan itu semua. Harusnya apa yang ia miliki sekarang dinikmati oleh orang-orang yang ia sayangi. Khaira tidak perlu membanting tulang dan mengeluarkan keringat hanya untuk menghidupi buah hatinya. Tapi ... waktu belum berpihak kepada mereka untuk bersama menikmati hari dalam penuh kebahagiaan.
Kebetulan pada saat itu ia si kembar baru saja pulang dijemput bu Mila dan bu Nuri. Dari lantai dua rumahnya Ivan melihat drama setiap hari. Khaira selalu keberatan karena si kembar setiap pagi selalu berbelok ke rumahnya untuk bermain, dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Ivan.
Ia ingin si kembar merasakan ketergantungan karena ia sudah merasakan keterikatan batin yang kuat dengan keduanya. Keinginan Ivan mulai terwujud, si kembar sudah mulai tak bisa jauh darinya.
Perasaan sedih kembali menerpa Ivan, ketika percakapan terjadi dengan ustadz Hanan. Ia merasa iba dengan kondisi Khaira yang memulai aktivitasnya sejak pagi hingga sore menjelang.
“Aku gak tega melihat Rara bekerja seperti ini ... “ keluhnya pada ustadz Hanan ketika ba’da Asar ustadz Hanan mengunjunginya untuk menyampaikan progress pembangunan rumah sakit yang kini sudah berjalan 25%.
“Bekerja seperti apa?” ustadz Hanan bingung dengan ucapan Ivan.
“Kau bayangkan, aku memiliki perekonomian yang mapan, sedangkan bundanya anak-anak membanting tulang dari pagi hingga sore hari .... “
“Aku yakin dia melakukan semuanya karena kecintaannya pada anak-anak. Dia perempuan yang tangguh,” ujar ustadz Hanan santai.
“Berapa sih gaji Rara perbulan? Jika dia mau, tak perlu susah payah seperti itu. Dia akan menjadi ratu jika kembali padaku.“
“Kau pikir ustadzah Aisya kekurangan materi? Walau pun tidak bersamamu, keluarganya sangat kaya. Buktinya mereka mampu melakukan apa pun saat kamu melepasnya,” Ustadz Hanan tersenyum meremehkan ucapan Ivan, “Seperti kata istriku, akan sulit bagimu meraih kepercayaannya kembali, walau pun si kembar sudah dekat padamu.”
Ivan terdiam mendengar ucapan ustadz Hanan yang sudah terbukti kebenarannya. Ia tau, tidak akan mudah meraih hati Khaira. Ia tidak boleh sombong dan percaya diri dengan segala kekayaan yang ia miliki.
“Aku akan pasrah dengan takdir Allah. Tapi aku akan selalu berikhtiar agar ia menerimaku kembali,” Ivan berkata lirih, “Sekarang ia masih menganggapku orang asing, tapi aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik bagi kami semua.”
“Aamiin,” ustadz Hanan langsung mengaminkan ucapan Ivan, “Mana si kembar sudah seminggu ini aku tidak melihatnya. Istriku juga merindukannya karena tidak pernah bermain di rumah lagi.”
Pandangan ustadz Hanan mengitari ruang tamu yang luas itu. Ia mengetahui bahwa si kembar selalu bermain di tetangga barunya karena fasilitas permainan anak yang lengkap.
“Barusan pulang dengan pengasuhnya,” jawab Ivan santai.
“Hebat, kamu sudah bisa beradaptasi dengan si kembar secepat ini,” puji ustadz Hanan.
__ADS_1
“Aku harus main kucing-kucingan dengan pengasuhnya agar mereka tidak mencurigaiku yang selalu bersama si kembar. Untunglah ada bu Warti yang selalu mengajak mereka memasak dan bercerita setiap hari, aku merasa sangat terbantu,” senyum Ivan melebar mengingat bagaimana Danu mengatur semuanya.
Ustadz Hanan tersenyum membayangkan cerita Ivan yang mengatur siasat agar bisa bermain dengan kedua buah hatinya. Ia selalu mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya.