Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 73


__ADS_3

Pagi itu setelah salat subuh Faiq merasa kelelahan sehingga tertidur lagi. Tadi malam ia terpaksa tidur dengan Ali, karena Hani masih mengkhawatirkan keadaan Ariq. Masih jauh api dari panggang mengharapkan kebersamaan antara mereka.


Kelihatannya Ali sudah berangkat ke sekolah. Biasanya Hasya ikut ke sekolah Ariq jika yang mengantar Joko atau Hanif, karena tidak kedengaran lagi suaranya. Dengan perlahan Faiq menuruni tangga menuju ke dapur. Ia membatalkan langkahnya mendengar pembicaraan antara Hani dan Hanif.


“Bagaimana hubungan mbak dan mas Faiq, apakah sudah ada kemajuan?”


“Maksudmu?”


“Tentu mbak lebih paham maksudku.”


Hani menghela nafas, “Aku terlalu takut untuk memulai lagi. Mungkin lebih baik tetap seperti ini. Aku nggak ingin anak-anak trauma melihat pertikaian antara kami.”


“Mas Faiq itu lelaki normal, mbak. Nggak mungkin selamanya ia akan menunggu…”


“Kalau mas Faiq menyerah, itu haknya. Apa yang bisa ku lakukan. Aku nggak mungkin menahan orang yang tidak menjadikan kita prioritas dalam hidupnya.”


“Mbak tidak usah mengambil kesimpulan sendiri, siapa bilang mas Faiq tidak memprioritaskan kalian. Buktinya ia sekarang berada di sini.”


“Ipar andalan.” Puji Faiq dalam hati sambil menyandarkan tubuhnya di balik tembok menyimak percakapan keduanya.


“Aku tidak bisa menerimanya kembali, karena Hesti telah mengandung anaknya.” Suara Hani terdengar parau saat menyatakan itu. Bayangan kejadian malam itu berkelebat di kepalanya.


“Siapa bilang Hesti hamil? Apa mbak pernah menyaksikan mereka berhubungan?” Kejar Hanif. Ia merasa Hani dan Faiq belum sempat berbicara serius.


“Bu Dewi  telah menceritakan semua padaku. Dan semenjak mas Faiq mulai dekat dengan Hesti kami sudah tidak pernah berhubungan.” Ujar Hani lirih.


“Apa mbak tau, saat mas Faiq mengetahui kehamilan mbak Hani semenjak itu ia tidak bisa berdekatan dengan perempuan manapun. Ia mengalami hamil simpatik. Jika ada perempuan yang mendekatinya, dia akan langsung mual dan muntah.”

__ADS_1


“Aku tidak percaya. Buktinya…” Hani menghentikan ucapannya. Ia langsung diam tak bersuara.


“Kenapa mbak tidak mau berjuang untuk mempertahankan pernikahan kalian. Biarpun Hesti mengandung, tapi mas Faiq tidak mungkin menceraikan mbak Hani.”


“Pengalaman telah membuatku kuat. Aku siap menggugatnya. Toh, ini bukan pengalaman pertama bagiku.” Hani merasa sedih saat mengucapkan itu.


“Atau karena mbak didekati jaksa duren itu?” Melihat sekelebat bayangan Faiq membuat pembicaraan Hanif makin ngelantur.


Hani memandang Hanif dengan heran, “Aku tidak pernah menganggapnya serius.” Potong Hani cepat, “Apa Wulan yang menceritakan ini?”


Hanif menggeleng, “Pak Irwan klienku. Dia sering menanyakanmu, tentang hubunganmu dengan mas Faiq. Dia siap menikahimu jika berpisah dengan mas Faiq…”


“Dasar ipar durjana.” Batin Faiq dalam hati. Ia masih berdiri diam, menyimak pembicaraan keduanya.


“Aku tidak pernah membayangkan untuk menikah lagi. Cukup anak-anakku, dan bayi kembar yang ada di dalam perutku. Merekalah hidupku sekarang, dan aku tidak membutuhkn yang lain lagi.”


“Apa maksudmu?” Hani jadi bingung mendengar ucapan Hanif.


“Mbak Hani menikah dengan seorang hakim, walau akhirnya mas Faiq resign. Eh, sekarang malah mau dipinang jaksa duren.”


“Ngawur kamu.” Hani tidak senang mendengarnya.


“Atau kalau mau turun level dan mbak suka, bang Joko juga sudah menyampaikan niatnya untuk mempersunting mbak dan menjadi ayah sambung buat semua anak-anak mbak. Jadi mbak Hani turun kelas jika menikah dengan bang Joko. Bakal jadi nyonya pengacara…” Hanif tidak bisa menahan ketawanya, karena berhasil menggoda Hani.


Dengan gusar Faiq menghampiri keduanya dan langsung menghenyakkan tubuhnya di kursi samping Hani  yang masih mengupas telur rebus di meja makan.


“Kau pikir aku sudah mati, sehingga jadi comblang buat istriku.” Faiq berkata dengan kesal matanya melotot tak senang memandang Hanif.

__ADS_1


Melihat kemunculan Faiq yang tiba-tiba membuat Hani terkejut. Ia memandangnya seketika, “Mas mau sarapan sekarang? Minumnya apa?” Mendengar suara lembut Hani langsung meredakan kekesalan Faiq.


Ia menahan lengan Hani yang hendak bangkit dari kursi. Faiq tidak mau menundanya lagi, ia harus menceritakan kebenarannya.


“Bilangin sama klien dan rekanmu itu, masih banyak gadis atau janda di luaran sana. Nggak usah ngarap bini orang.”


“Mas …” Hani menepuk tangan Faiq agar tidak terpengaruh dengan guyonan Hanif.


Hanif tersenyum, karena berhasil membuat Faiq keluar dari persembunyiannya. Ia ingin keduanya segera membicarakan permasalahan keluarga mereka dengan kepala dingin, sehingga semua normal seperti di awal.


Faiq menatap wajah Hani yang tampak cemas. Ia merendahkan suaranya.


“Mas akan sarapan dengan yang sudah tersedia ini saja.” Ia melihat sudah ada nasi goreng, telur dadar serta kerupuk. “Sebelumnya mas akan membuat pengakuan padamu.”


Hanif tidak beranjak dari kursinya. Ia turut mendengarkan  cerita Faiq. Ia melihat raut wajah Faiq  yang berubah kesal, terkadang marah, hingga ia menutup ceritanya dengan wajah sedih. Jemarinya menggenggam tangan Hani yang masih terlipat di atas meja.


Hani mengela nafas lega ketika mendengar bahwa tidak terjadi apapun antara suaminya dan Hesti.


“Jadi jangan pernah untuk meninggalkanku lagi. Sampai ke ujung dunia pun aku akan mencari kalian.”


Hani jadi teringat perkataan Mawar  masalah sihir. Ia jadi kesal dengan perbuatan Dewi dan Hesti yang tega mengguna-gunai suaminya, sehingga menyebabkan pertikaian dalam rumah tangga mereka.


“Maafkan aku, karena telah pergi meninggalkan rumah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan pertengkaran kita. Anak-anak merasa trauma dengan sikap mas Faiq.” Hani menatap Faiq dengan mata berkaca-kaca.


“Ini bukan kesalahanmu. Akulah yang paling bersalah, karena membawa mereka memasuki rumah tangga kita.”


“Cie, cie, teletubbies berpelukan….” Melihat gelagat keduanya yang sudah saling membuka diri membuat Hanif langsung berkomentar.

__ADS_1


“Dasar ipar kurang ajar.” Faiq merasa momen romantis yang akan terjadi antara ia dan Hani jadi ambyar gara-gara Hanif.


__ADS_2