
Setelah perasaannya mulai tenang, Hani mengajak Faiq untuk kembali ke ruang kerja bertemu dengan Linda dan tamu lainnya.
“Bagaimana perasaanmu, nak?” Linda bertanya penuh perhatian.
“Sudah agak mendingan, tante. Saya ingin mengetahui maksud dari pertemuan malam ini.” Jawab Hani lugas.
“Mari kita lanjutkan,” sela Rusdi cepat.
Hani mendengar perkataan Rusdi yang mengatakan kalau semua saham serta properti yang dimiliki Aditama telah berpindah atas nama putra-putrinya. Selaku orang tua dari anak yang masih di bawah umur, sudah kewajiban Hani untuk mengelola perusahaan yang ditinggalkan Adi hingga anak-anaknya sudah besar dan mampu untuk mengambil alih pengelolaan perusahaan.
“Bagaimana kalau saya menolak?” Hani bertanya langsung.
Terus terang dengan kondisinya yang minim pengetahuan dan pengalaman mengurus perusahaan multi nasional milik Adi ditambah dengan bocah-bocah yang masih perlu pengasuhan dan pengawasan darinya membuat Hani keberatan dengan apa yang disampaikan Rusdi.
Sontak semua mata tertuju padanya, karena Hani langsung bersikeras menolak tanggung jawab yang telah diberikan berdasarkan surat kuasa yang telah dibuat.
“Kenapa anda menolak nyonya?” Rusdi langsung mencecar pertanyaan padanya.
“Mohon maaf sebelumnya, pak. Saya tau sepak terjang almarhum dalam mengelola perusahaan serta perjuangannya membuat perusahaan menjadi yang terbaik di negeri ini. Saya menolak untuk mengelola perusahaan, karena saya bukan orang yang berkompeten di bidang yang telah digeluti almarhum. Saya percaya perusahaan memiliki orang-orang hebat yang telah berjuang sejak awal untuk nama besar perusahaan.
Saya juga masih memiliki bayi serta balita yang masih perlu pengasuhan dan pengawasan saya. Jadi saya mohon kebijakan dari pak Rusdi, tante, serta siapa pun yang berkepentingan terhadap perusahaan untuk memakluminya.” Hani mengakhiri perkataannya.
Faiq memandang istrinya lekat, dan mengagumi cara pikir istrinya. Ia mengelus pundak Hani penuh kebanggaan. Terus terang sebagai suami, ia merasa keberatan jika Hani ingin melibatkan diri dalam pengelolaan perusahaan.
“Bagaimana menurut tuan Bimo?” Rusdi mengalihkan pandangannya pada Bimo yang menatap Hani dengan tajam.
“Saya memahami penolakan Hani,” sela Linda cepat, “Tapi setidaknya sebagai wali dari anak-anak yang bertanggung jawab atas kepemilikan perusahaan, setidaknya satu bulan sekali harus datang ke perusahaan. Dan setiap pertemuan bulanan tetap harus datang untuk mengikuti rapat dengan para petinggi perusahaan yang lain.”
“Dan saya sebagai pemegang mandat terakhir dari tuan Aditama juga menyerahkan surat kuasa penunjukkan tuan Aryo Bimo sebagai CEO menggantikan almarhum tuan Aditama Prayoga.” Rusdi mengulurkan selembar kertas yang berisikan tanda tangan Aditama lengkap dalam surat yang telah dibuatnya saat masih hidup.
__ADS_1
Bimo menyambut kertas dari tangan Rusdi. Ia membacanya secara seksama tanpa berkedip. Ia menghela nafas berat. Kalau tidak mengingat bantuan Tama saat perusahaannya di Singapura terpuruk karena kelakuannya yang suka bermain perempuan, hingga menyebabkan perusahaan yang bergerak di bidang konsultan keuangan hampir pailit karena hutang yang ditanggung. Perempuan yang ia kencani membawa pergi semua berkas penting dan aset perusahaan, membuat Bimo hampir dipenjara karena tidak mampu membayar gaji karyawan serta sewa bangunan yang ia gunakan sebagai tempat usaha.
Hutangnya terlalu besar pada Aditama, hingga disaat-saat terakhir Rusdi menghubunginya karena permintaan Tama, dengan terpaksa ia menyanggupi untuk kembali ke Indonesia dan membantu mengelola perusahaan sepupunya itu.
“Kapan tuan Bimo akan mulai ngantor?” Rusdi langsung mencecarnya begitu melihat Bimo menandatangi surat kuasa yang ia berikan.
“Besok saya akan melihat situasi perusahaan,” jawab Bimo datar.
Setelah pembicaraan yang cukup alot, akhirnya Hani bisa menerima saran dan masukan dari Rusdi dan Linda. Hari Kamis lusa ia akan hadir dalam rapat umum untuk memperkenalkan dirinya sebagai wali dari anak-anaknya sebagai pewaris perusahaan peninggalan Aditama.
Faiq memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Ia tidak konsentrasi mengikuti rapat bulanan yang dipimpin oleh ayahnya. Kosentrasinya terpecah mengingat pertemuan yang mereka lakukan di rumah almarhum Tama.
Ia dapat melihat gaya arogan yang ditampilkan Bimo, sepupu almarhum Tama yang diserahi jabatan untuk pengelolaan aset yang dimiliki anak sambungnya. Tidak ada sopan santun yang ditampilkannya saat berhadapan dengan mereka.
Faiq jadi berpikir, apakah memang seperti itu sifat para pengusaha dalam menghadapi orang asing yang tidak mereka kenal, kaku dan cenderung angkuh tidak bersahabat. Tidak ada basa-basi mereka dalam bersikap sehingga Faiq pun merasa enggan untuk menyapanya.
Faiq menatap lurus ke depan. Ia mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita muda berpenampilan syar’i yang berdiri tepat di samping ayahnya. Dengan cepat ia menggelengkan kepala.
“Baiklah, sekarang mari kita berkenalan dengan nona Latifa Chairul. Beliaulah yang akan membantu mewujudkan impian tuan Faiq dalam pengelolaan hotel secara syariah.”
Faiq mengerutkan dahinya, otaknya bekerja cepat. Akhirnya keinginannya untuk mengelola hotel secara syariah mendapat persetujuan dewan direksi. Dari awal ia menerjunkan diri untuk mengelola hotel ia sudah berangan-angan untuk pengelolaan secara syariah. Faiq ingin memberikan rezeki yang halal untuk menghidupi anak dan istrinya. Walau ia tau, jalan ke sana tidak lah mudah, tapi dengan doa dan usaha yang ia lakukan, akhirnya setelah hampir empat tahun impiannya menjadi kenyataan.
Pertemuan siang itu berakhir. Kini tinggallah Faiq, ayahnya serta perempuan yang baru ia kenal di dalam rapat tadi. Ia masih asyik menelpon Hani yang sedang memberikan ASI pada junior yang kini sudah mulai bisa beradaptasi dengan sekelilingnya.
Senyum Hani dan tatapan tajamnya menghilangkan penat Faiq setelah seharian mengikuti rapat yang membuatnya bosan. Rencananya dan Hani yang ingin membawa anak-anak ziarah ke makam Tama belum terealisasi, karena sampai saat ini mereka belum memiliki waktu luang untuk menceritakan kepergian Tama pada anak-anaknya.
Apalagi sekarang Ariq dan Ali sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah serta les yang mereka ikuti hingga sore hari. Saat ia kembali ke rumah, keduanya kadang sudah tertidur karena kelelahan dengan aktivitas seharian mereka.
“Mas Faiq masih ingat dengan saya?” pertanyaan lembut mengelus daun telinga Faiq.
__ADS_1
Ia menatap ke depan, ternyata ayahnya sudah tidak berada di dalam ruangan, hanya tinggal ia berdua dengan seorang perempuan muda yang tersenyum manis menatap padanya. Faiq menegakkan tubuhnya, dan memandang perempuan itu dengan raut bingung. Ia sama sekali tidak mengingatnya.
“Saya Ifa, adik kelas mas Faiq saat di MAN. Saya mengambil jurusan ekonomi syariah dan diajak om Darmawan bergabung. Selama ini saya bekerja sebagai konsultan perusahaan yang berbasis syariah,” ujar Latifa menangkupkan kedua tangannya sambil menyunggingkan senyum yang dibalas Faiq dengan anggukan.
“Maafkan saya yang sulit untuk mengingat orang,” ujar Faiq datar.
“Mulai saat ini saya akan membantu mas Faiq untuk mewujudkan impian mas Faiq dalam mengelola hotel berbasis syariah.”
Faiq menganggukkan kepalanya tanpa berbicara. Ia segera bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan Latifa menuju ruangannya.
Latifa tertegun, sikap Faiq berubah bahkan seperti tidak mengenalnya. Ia dan Darmawan kebetulan bertemu saat menghadiri undangan pernikahan kolega mereka. Latifa yang kebetulan datang bersama dengan kedua orangtuanya terlibat percakapan ringan dengan Darmawan.
Latifa kenal dekat dengan keluarga Darmawan, karena pada saat bersekolah di Madrasah Aliyah ia dan Faiq sama-sama aktif di kegiatan Rohis sekolah. Ia dan beberapa teman yang lain sering mampir ke rumah Faiq untuk rapat atau pun kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah.
Latifa sudah mengagumi Faiq, saat ia mulai terjun diorganisasi yang sama dengan Faiq. Sikap dewasa dan care Faiq terhadap sesama membuatnya jatuh cinta pertama kali pada kakak kelasnya yang menjabat sebagai ketua Rohis itu.
Perasaan itu tidak pernah berubah hingga detik ini. Ia masih berharap suatu saat akan bertemu kembali dengan sang pujaan. Sudah banyak laki-laki yang berniat meminangnya untuk menjadikan seorang istri, tapi Latifa masih keukeuh mengunci hatinya.
Tawaran bekerja sebagai konsultan untuk bisnis hotel syariah yang disampaikan Darmawan membuatnya tertarik apalagi setelah mendengar bahwa Faiq lah yang memegang kendali terhadap hotel membuat keinginnya bergabung semakin besar.
“Han, tempatkan staf baru dalam ruanganmu,” ujar Faiq datar saat memasuki ruangannya.
“Bukankah dia yang akan membantu dalam mewujudkan impianmu?” Handoko menyernyitkan dahinya melihat Faiq yang santai memeriksa berkas di meja kerjanya.
Faiq menatap Handoko tajam. Dari sudut matanya tadi ia dapat menangkap pandangan yang berbeda ditujukan Latifa terhadapnya. Dan ia tak ingin melakukan kesalahan yang berulang, hingga menyakiti istri dan anak-anaknya.
__ADS_1