
Ivan terkejut mendapat kunjungan teman lamanya semasa pendidikan di Amerika. Walau pun pernah ada dendam masa lalu, tapi dengan berlalunya waktu Ivan sudah menutup dan melupakannya dan tidak mempermasalahkan lagi semua peristiwa masa lalu yang terjadi antara dirinya dan George.
“Bagaimana kabarmu?” sapa Ivan dalam bahasa Inggris ketika George Anderson tiba di kantornya siang itu.
“Baik,” George menjawab singkat, “Usahamu sangat sukses. Congrats!”
“Terima kasih,” Ivan tetap dengan senyum ramahnya, “Bagaimana usahamu sekarang? Ku dengar usahamu semakin berkembang dan meluas hingga ke berbagai negara.”
“Aku baru memulai bisnis pertambangan. Temanku mengajak joint,” Gerge menatapnya seksama, “Apa kamu masih mengingat Claudia? Mantanmu si ratu pesta?”
Ivan tertawa kecil, “Bukankah dia lebih memilihmu? Untuk apa mempertahankan yang tidak setia?”
“Ku kira kamu masih terobsesi dengannya.”
Ivan tersenyum tipis, “Itu hanya masa lalu.”
George menatap Ivan dengan wajah serius, “Ada satu hal yang tidak kamu ketahui tentang Claudia.”
“Sudahlah. Aku tidak ingin tau apa pun tentang dia. Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku.” Ivan berkata sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Bayangan wajah Khaira kembali di pelupuk matanya. Sudah dua minggu Khaira masih dalam masa penyembuhan. Ia berusaha menahan hasratnya demi pulihnya sang istri.
Sekarang ia sudah tidak mempermasalahkan tentang anak. Semua adalah rejeki dari Yang Kuasa, selama ia dan Khaira bersama, ia yakin mampu menghadapi ujian apa pun.
Teringat perkataan iparnya membuat Ivan tersenyum tipis. Mana mungkin ia membiarkan Khaira meninggalkannya sendiri hanya untuk anak yang belum tentu ada. Ia sudah pasrah masalah anak, selama ia dan Khaira tidak terpisah.
“Dia sudah berpisah dengan suaminya yang pengusaha real estate.”
“Itu bukan urusanku,” Ivan mengedikkan bahunya dengan enteng. Ia merasa sudah tidak perlu membuka masa lalunya yang sudah ia kubur rapat-rapat.
George tersenyum sinis, “Apa dia tidak pernah memberitahumu bahwa dia memiliki seorang anak saat masih bersamamu?”
Ivan terkejut mendengar perkataan George. Ia diam seketika tak mampu berkata-kata lagi. Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui masalah ini?
Pikiran Ivan jadi terbagi. Ia mengingat kembali kedekatannya selama satu tahun dengan Claudia, tapi itu sepuluh tahun yang lalu, dan itu sudah sangat lama.
“Putramu sangat tampan seperti dirimu .... “ tambah George lagi.
“Bagaimana kamu yakin bahwa itu putraku?” Ivan jadi penasaran mendengar perkataan George.
“Wajahnya sangat tampan, dengan rambut coklat kehitaman,” George berkata dengan serius, “Saat melihatnya pertama kali orang sudah yakin bahwa dia putramu.”
“Sejak kapan kamu tau bahwa Claudia mengandung putraku?” tak ayal rasa penasaran menggelayuti pemikiran Ivan.
“Kau tau apa yang menyebabkan aku meninggalkan Claudia?” George menatap Ivan tajam.
“Karena bersamamu dia meninggalkanku,” Ivan menjawab tajam, “Dan saat itu aku benar-benar kecewa atas permainan belakang kalian.”
__ADS_1
George tertawa kecil, “Aku hanya menggoda Claudia, dan hanya ingin bermain dengannya. Tapi rupanya pancinganku mengena. Dia tertarik padaku.”
Sebenarnya ada rasa kesal di hati Ivan mendengar cerita George tentang hubungannya dan Claudia di masa lalu.
“Jadi menurutmu Claudia tidak mencintaiku secara tulus?”
“Tentu kau bisa memahaminya sendiri.” George menatapnya meremehkan.
“Beruntunglah aku segera mengetahui watak asli Claudia,” Ivan tersenyum kecut.
“Lantas bagaimana dengan putramu yang ada bersama Claudia?” George jadi penasaran dan ingin tahu langkah selanjutnya yang akan diambil Ivan saat mengetahui keberadaan putranya, “Ku dengar sampai saat ini kamu dan istrimu belum memiliki keturunan.”
Ivan tersenyum tipis, “Sekarang aku tidak ingin membebani istriku. Biarkan semua mengalir seperti air.”
“Apa kamu tidak ingin bertemu dengan putramu?” George terus mencecarnya dengan pertanyaan yang membuat Ivan jadi jengah.
“Aku heran denganmu yang begitu bersemangat,” Ivan menatap George dengan rasa curiga.
George menatap Ivan dengan senyum sinisnya, “Sekarang kehidupan Claudia tidak seperti dulu. Dengan status sebagai single parent dan putra yang sakit-sakitan sangat menyedihkan.”
“Kamu sangat mengetahui kehidupan pribadinya, apa kalian masih berhubungan sampai sekarang?” rasa penasaran tak bisa Ivan sembunyikan sekarang mendengar cerita George.
“Dia bekerja denganku, sebagai sekretarisku,” jawab George santai.
“Sekretaris plus-plus,” ujar Ivan mencibir.
Ivan tercenung sesaat. Dalam hati kecilnya ada keinginan untuk menemui anak yang menurut George adalah darah dagingnya. Tapi ia khawatir akan menyakiti Khaira.
“Sekarang di mana anak itu?” Ivan tak bisa menahan rasa ingin taunya.
Rasa kemanusiaan juga sangat besar dalam dirinya. Terhadap orang lain saja ia bisa dengan mudah memberikan pertolongan, apalagi keturunannya yang walau pun belum bisa dibuktikan secara medis.
“Dia masih menjalani perawatan di rumah sakit Singapura,” George berkata terus terang.
“Kamu sendiri apa sudah menikah?” rasa penasaran akan status George membuat Ivan bertanya langsung.
“Aku masih betah melajang,” jawab George enteng. “Nyaman bepergian kemana pun.”
Ivan hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban George. Ia pun mengenal George seperti dirinya dan Edward. Tetapi Edward lebih manusiawi, dan pertemanan mereka begitu tulus dan tidak pernah menyakiti satu sama lain. Keduanya saling mendukung dan mensuport dalam kehidupan maupun dalam pekerjaan masing-masing.
“Kamu ingin bertemu Claudia?” kini George menatapnya dengan serius.
“Tidak. Aku tidak ingin terjebak dengan masa lalu,” Ivan menjawab tegas, “Tapi untuk anaknya aku akan membantu semampuku.”
“Baiklah,” George merasa puas mendengar jawaban Ivan, “Kapan-kapan aku ingin mengundangmu makan malam bersama. Sekalian reunian.”
“Aku akan mengatur jadwalku,” Ivan menganggukkan kepala menyetujui usul George.
__ADS_1
Keduanya berjabatan tangan begitu George bangkit dari kursi dan berpamitan untuk kembali ke perusahaan tempatnya joint dengan kenalan barunya.
Setelah kepergian George, Ivan termangu di kursi kerjanya. Ia benar-benar terkejut mengetahui kenyataan bahwa memiliki anak dari hubungan di masa lalunya. Jika itu memang darah dagingnya ia akan bertanggung jawab dan menanggung semua biaya yang diperlukan demi kesembuhan anak yang ia miliki bersama Claudia.
Dengan cepat Ivan menghubungi Edward. Ia yakin sahabatnya pasti dengan mudah mengetahui informasi yang ia perlukan. Ia tidak ingin terlalu lama terombang-ambing menunggu kepastian.
Empat jam kemudian Ivan berhasil terhubung dengan Edward. Tanpa membuang waktu Ivan langsung menceritakan pertemuan yang terjadi antara dirinya dan George. Ia tidak melewatkan sedikitpun hasil pembicaraannya dengan George, dan ia ingin meminta pendapat Edward untuk memutuskan langkah yang akan ia ambil.
“Aku sudah mengetahui semuanya saat kedatanganmu ke Paris tempo hari,” ujar Edward via telpon.
“Kenapa kamu tidak menceritakan sejak awal?” Ivan merasa gusar karena Edward tidak berterus terang.
“Apa kamu tidak memikirkan perasaan Rara?” Edward langsung mengingatkan Ivan bahwa ia telah memiliki istri, “Apa kamu ingin mengakhiri pernikahanmu dan menikahi Claudia karena anak kalian?”
Ivan terkesiap. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. Tidak mungkin ia melepas Khaira yang telah menjadi cinta satu-satunya di dalam hatinya.
“Ini bukan tentang Claudia. Tapi anakku yang ada padanya,” tegas Ivan, “Aku akan bertanggung jawab pada anak kami. Dan membawanya bersamaku dan Rara.”
“Kau pikir Claudia akan melepas anak kalian? Apa lagi sekarang dia sudah menjadi single parent.”
Pembicaraan Ivan dan Edward berakhir tanpa menemukan titik temu. Ia memijit kepala yang tiba-tiba berdenyut. Kenapa di saat ia dan Khaira sudah merasa nyaman dan saling memiliki harus diuji lagi dengan masa lalu yang tak bisa ia lepas dengan mudah.
Dengan perasaan gundah Ivan kembali ke rumah. Ia belum siap untuk berterus terang dengan Khaira. Ia masih perlu waktu untuk memikirkan langkah yang akan ia ambil ke depan demi kebaikan semua orang. Khususnya rumah tangganya.
Ia tidak ingin kehidupan masa lalunya menghancurkan masa depan yang baru saja ia bangun bersama Khaira. Jika ia salah mengambil keputusan, ia yakin iparnya akan mengambil tindakan yang akan merugikan dirinya sendiri.
“Mas sudah pulang?” senyum Khaira mengembang begitu melihat Ivan berjalan dengan langkah tak bersemangat.
Ia langsung mencium tangan suaminya dan mengambil tas kerja yang berada dalam genggaman Ivan.
“Tunggu sebentar,” Ivan menahan langkah Khaira.
“Kenapa mas?” Khaira merasa heran melihat sikap suaminya yang tidak bersemangat seperti biasa.
“Biarkan aku memelukmu sebentar,” tanpa menunggu jawaban sang istri, Ivan langsung merangkul tubuh mungil Khaira ke dalam pelukan.
Sejenak ia merasakan ketenangan mendapat pelukan hangat sang istri. Ia begitu kesal atas masa lalu yang terus mengikutinya. Kenapa ia harus punya anak dari hubungan sesaat yang tidak ingin ia ingat kembali dan telah ia kubur dengan rapat.
“Mas baik-baik saja?” sambil menepuk pundak kokoh suaminya, Khaira mengerutkan kening.
Ia tidak pernah melihat suaminya serapuh ini. Dengan sabar Khaira menghadapi sifat manja Ivan yang tidak ingin ditinggal walau sejenak. Ivan merasa bahwa memang rumahlah tempat ternyaman menjadi baiti jannati yang di dalamnya ia mendapatkan ketenangan, kenyamanan dan ketenteraman.
Bagaimana mungkin ia meninggalkan istrinya, seorang bidadari dalam wujud perempuan sederhana, yang selalu patuh dan menyenangkan saat dipandang, memberikan penghiburan disaat dirinya merasa suntuk akan persaingan dunia usaha.
Dengan sentuhan dan belaian serta kata-kata penyemangat membuat Ivan merasa bahwa Khaira-lah satu-satunya perempuan yang tetap akan ia genggam erat tangannya. Biar dunia membenci semua masa lalunya, tapi ia yakin Khaira akan memberikan keputusan yang tepat.
__ADS_1
*** Jangan protes ya. Inilah ujian cinta dalam kehidupan rumah tangga Ivan dan Khaira. Yakinlah bahwa cinta IVan tak akan berubah walau badai dan gelombang besar akan menghadang bahtera rumah tangga mereka. Ikuti terus kejutan-kejutan yang akan reader temukan di episode-episode mendatang. Sayang untuk readerku semua .... ***