Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 58


__ADS_3

Sementara itu di suatu tempat yang berada di ujung Sumatera Utara  di kabupaten Karo  tepatnya di kecamatan Berastagi tampak Hani bersama ketiga buah hatinya sedang duduk santai di restoran kecil milik ibunya Wulan.


Pernikahan Wulan dan Hanif dilaksanakan secara sederhana setelah mereka memboyong ibunya Wulan. Hanif membuka usaha lawyer rekanan dengan temannya yang kebetulan tinggal di kota Berastagi yang bernama Joko Pasaribu. Karena Wulan sudah terbiasa bekerja, ia meminta Hanif membuatkan rumah makan walaupun sederhana untuk usahanya bersama sang ibu.


Di sinilah Hani dan ketiga buah hatinya tinggal. Ia tak peduli dengan kondisi rumah sederhana yang ia tempati bersama bu Sarmi ibunya Wulan. Ia berencana akan menetap dalam waktu yang belum ia tentukan.


Sudah 5 hari ia berada di sini tepatnya di rumah bu Sarmi yang bersatu dengan rumah makan miliknya yang berada di jalan Danau Singkarak. Melihat rumah makan kecil milik bu Sarmi membuat Hani teringat kembali perjuangan awalnya bersama Hanif untuk mempertahankan usaha rumah makan mereka demi menghidupi ketiga malaikat kecilnya.


Hani mengucap syukur yang tak terhingga, berkat almarhum mertuanya mereka hidup berkecukupan dan tak kekurangan sesuatu apapun. Ia tak ingin mengingat Faiq, karena hanya membuka lukanya semakin menganga lebar. Mulai detik ini ia akan menganggap Faiq orang asing. Dengan begitu ia akan tenang menjalani hidup. Pengalaman hidup telah membuatnya semakin kuat.


Ia melihat bu Sarmi kerepotan melayani pelanggan yang mulai berdatangan saat jam istirahat kantor. Berhubung rumah makan bu Sarmi berada di pinggir jalan kota, otomatis banyak pelanggan yang  mampir. Dengan senang hati Hani membantu melayani pelanggan bu Sarmi.


Sore  itu Hanif  mampir ke rumah bu Sarmi untuk menjemput Wulan sekalian memberitahu Hani bahwa di samping tempat tinggal mereka  ada yang ingin menyewakan ruko dua lantai dengan 3 kamar.


Hanif dan Wulan  menempati sebuah ruko  di Jalan Danau Singkarak yang terdiri atas 2 lantai atas dan bawah sebagai tempat tinggal mereka. Khusus lantai bawah dijadikan tempat usaha Hanif. Tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh dari rumah makan bu Sarmi, hanya sekitar 20 menit mengendarai mobil.


“Jika mbak berminat, besok saya akan mempertemukan mbak dengan pemilik ruko tersebut. Harganya masih bisa nego.”


“Baiklah.” Hani menyetujui saran Hanif. Ia  ingin tempat tinggalnya bersama anak-anak tidak terlalu jauh dari Hanif dan Wulan, karena ia ingin berkumpul bersama saudaranya.


Kebetulan  ruko di samping Hanif sudah habis masa kontraknya dan tidak diperpanjang oleh penyewa sebelumnya, hingga Hanif menemui sang empunya ruko.


Dan kini terjadilah akad sewa. Setelah terjadinya tawar menawar, dan harga yang disepakati sudah sesuai, akhirnya akad sewa berlangsung  di antara kedua belah pihak. Siang itu juga Hanif beserta rekannya Joko dan beberapa staf mereka membantu Hani untuk menempati rumah baru mereka.


Sebagai ucapan terima kasih kepada Hanif dan rekan-rekannya, Hani mentraktir mereka makan di restoran bu Sarmi. Ia merasa tenang tinggal di kota kecamatan tersebut. Jauh dari hiruk pikuk kota besar, serta udara yang masih bersih membuata suasana hati Hani semakin membaik.


Nun jauh di ibukota negara, Faiq masih termenung di kamarnya.  Rasa mual di pagi hari begitu mengganggu. Ia masih terpaku di depan wastafel memuntahkan segala yang ada di dalam perutnya.  Ningsih menyiapkan teh hangat untuk mengurangi rasa mual Faiq.


Ia mengetahui kekhawatiran Ningsih dan Karman saat melihat keadaannya. Tetapi Faiq masih menyembunyikan berita kehamilan Hani. Ia tidak mau berita ini menjadi bumerang bagi orang-orang yang tidak menyukai  kebahagiaan mereka.


“Papa nggak apa mengalami morning sickness seperti ini, yang penting bayi papa tumbuh sehat di perut bunda.” Faiq berusaha menyemangati dirinya sendiri. Hanya itulah yang dapat dia lakukan, disaat ia tidak tau keberadaan istri dan anak-anaknya.


Ia yakin, salah satu  art di rumah pasti ada yang menjadi mata-mata Hesti dan ibunya. Faiq akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Setelah kesegarannya sedikit pulih, Faiq segera turun ke lantai bawah.


Ia meminta Ningsih menyiapkan sarapan nasi putih dengan telur mata sapi. Menu sarapan pagi yang selalu dinikmati Hani di pagi hari.  Tak terasa air mata mencelos begitu saja. Faiq merasa sedih. Ia semakin melankolis, padahal baru dua hari ini ditinggalkan istri dan anaknya.


Tatapannya nanar menatap satu demi satu kursi makan yang biasanya berisikan istri dan ketiga buah hatinya, tapi kini kosong melompong. Nasi yang ia kunyah rasanya sulit untuk melewati tenggorokan. Dengan cepat Faiq meraih teh hangat agar nasi yang ia makan tidak ia muntahkan kembali.


Faiq menghubungi Handoko untuk memberitahukan bahwa ia tidak ke kantor pada hari ini. Ia mencoba menghubungi Rudi dan memintanya datang ke rumah. Ia yakin Rudilah satu-satunya teman yang bisa diajak bicara permasalahan yang membelit rumah tangganya kini.


Kebetulan Rudi sedang mengambil cuti tahunan dari kantornya, dan akan segera tiba beberapa menit lagi. Saat ini Faiq merasa kesepian. Tiada lagi suara canda si kembar serta celotehan manja Hasya yang mendampingi hari-harinya.


Bell rumah berbunyi. Ningsih merasa heran, sepagi itu sudah ada tamu yang berkunjung ke rumah mereka.

__ADS_1


“Buka saja, Bi. Dia temanku, langsung suruh ke meja makan. Biar menemaniku sarapan.” Perintah Faiq pada Ningsih.


“Baik, den.” Dengan cepat Ningsih melangkah ke luar untuk melihat tamu yang berkunjung di pagi itu.


“Ada apa, bos. Pagi-pagi udah memintaku datang kemari?” Rudi melihat penampilan Faiq yang tampak kusut tak seperti biasanya.


“Udah duduk dulu. Temani aku sarapan.”


Mata Rudi mengamati hidangan yang tersedia. “Apa bos mampu menghabiskannya sendirian?” Ia melihat ada nasi goreng, telur mata sapi, roti, teh hangat serta kopi yang terhidang menggugah selera.


“Apa gajimu sekarang sudah cukup?” Faiq to the point bertanya dengan Rudi.


Rudi mengengernyitkan dahinya dengan bingung. Tak ada angin, tak adda hujan, Faiq menanyakan keadaan keuangannya.


“Yang namanya PNS golongan IIIa seperti saya itu jauh dari kata cukup, bos. Tapi dicukup-cukupin saja. Soalnya SK udah keburu disekolahin di bank.”  Rudi tertawa hingga gerahamnya keluar membuat Faiq tak bisa menahan senyumnya dengan rekannya yang satu ini.


“Jika kamu mau kerja denganku, gajimu akan kunaikkan 4 kali lipat. Belum ditambah bonus dan lain-lain.”


“Yang bener, bos?” mata Rudi terbelalak tak percaya mendengar penawaran Faiq.


“Nggak usah melotot gitu juga kali. Serem liatnya.”


“Kurang ajar kau, bos!” Rudi meninju bahu Faiq yang dibalas ringisan Faiq karena pukulan Rudi cukup keras di bahunya.


“Aku serius. Bekerjalah denganku. Segera pensiun dini. Aku sedang mengalami masalah besar.” Faiq mulai mode serius dengan tatapan menerawang jauh.


Faiq memandang Rudi, “Kamu sudah mengetahuinya?”


“Tentu saja. Orang sekantor heboh, melihat postingan Hesti yang menunjukkan mahar nikah dengan foto cincin kawin di jari manisnya. Tapi kami belum mengetahui siapa suaminya. Sampai saat ini ia belum masuk kerja, karena mengambil cuti selama 2 minggu ditambah izin sakit. Hingga detik ini ia belum ngantor.”


“Akulah lelaki di dalam foto itu.”


“Astoge noge.” Rudi menepuk jidatnya, “Apa yang terjadi bos?”


Akhirnya Faiq harus menceritakan kembali kejadian tentang perjanjian pernikahan  antara ia dan Hesti yang disaksikan keluarga besarnya, padahal sedapat mungkin peristiwa itu ingin ia lupakan.


“Lantas bagaimana mbak Hani?” Rudi tak habis pikir dengan permasalahan yang menimpa Faiq. “Apa ia sudah mengetahui pernikahan siri kalian?”


“Kita sarapan dulu,” Faiq segera mengulurkan piring pada Rudi.


Setelah sarapan selesai, Faiq mengajak Rudi ke ruang kerjanya sambil menceritakan peristiwa yang ia alami selama kehadiran Hesti dan ibunya di rumah mereka.


Rudi melihat cctv yang diputar ulang Faiq dengan perasaan geram. “Tak disangka dibalik senyum manisnya ternyata ia seorang pelakor.” Rudi menahan kesal. “Kenapa bos harus membawanya ke rumah ini?”

__ADS_1


“Ibunya yang mengantar Hesti, dengan alasan ia tak punya teman di kos-kosannya. Apalagi ia sudah menikah denganku.”


“Lantas apa yang sudah kau lakukan dengannya? Apa sudah ***-***?”


“Bug!” Faiq memukul bahu Rudi dengan kuat, “Kau tau, aku hanya mencintai Rara. Tetapi aku tak ingin melepaskan tanggung jawabku. Ayah dan ibu sudah menyetujui keinginanku untuk membelikan sebuah rumah yang layak serta sebuah mobil untuk keperluan Hesti,”


“Keenakan Hestinya, dong. Aku juga mau seperti itu.”


“Apa kau mau kunikahi juga?”


“Ih amit-amit, emang gue bences?” Rudi melakonkan gaya gemulainya membuat Faiq tak bisa menahan senyumnya, membuatnya melupakan sementara kesedihan yang menghinggapinya beberapa hari ini.


Rudi kembali mendengar cerita Faiq dengan serius. Ia turut merasakan kegundahan temannya itu, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.


“…Rara pergi membawa anak-anak dari rumah. Dan ia pergi saat sedang  mengandung anakku.” Kesedihan Faiq kembali hadir saat mengucapkan itu.


Rudi terdiam melihat wajah Faiq yang kembali sendu. Ia paham kesedihan Faiq, karena ia yang mengetahui awal kisah percintaan mereka hingga terjadinya pernikahan.


“Aku tidak memiliki orang yang dapat kupercaya untuk membantuku. Tapi aku percaya padamu.”


“Aku akan membicarakan hal ini dengan Ina.” Ujar Rudi setelah berpikir beberapa saat. “Jika Ina mengizinkan, aku akan resign dari ASN dan ikut denganmu.”


“Tidak usah kelamaan mikir, keburu aku dapat asisten lain.”


“Lantas bagaimana tindakanmu atas kebohongan Hesti?”


“Sudah lewat dua bulan dari perjanjian awal. Dan aku belum ada ide bagus untuk menceraikannya. Aku perlu pendapatmu.”


“Eh, saudara iparmu itu kan pengacara? Kenapa nggak manfaatin dia aja?”


“Justru itu, kamu lihat sendiri. Dia yang membawa Rara dan anak-anak pergi. Sampai detik ini aku tidak tau keberadaan mereka. Dan ini sangat menyiksaku.”


Ketukan di pintu menghentikan percakapan keduanya. Ningsih masuk dalam ruangan.


“Den, di ruang tamu ada nyonya Hesti dan bu Dewi.”


Faiq dan Rudi saling berpandangan.


“Apa saya suruh tunggu atau bilang aden masih di kantor.” Ningsih menatap Faiq dengan raut bingung.


“Suruh tunggu aja, bi. Jangan bilang saya ada di rumah.”


“Baik, den.” Ningsih segera keluar dari ruangan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2