Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 103


__ADS_3

Setelah Faiq pulang tinggalah Rizwar, Rudi serta temannya yang bernama Anton. Andre masih menunggu penjelasan ketiga tamu tersebut yang masih santai duduk bersama mereka.


Selama ini dia tidak pernah lagi mendengar kisah Hesti dan Faiq lagi. Andre merasa Hesti sudah menerima dengan lapang dada perpisahan yang terjadi antara ia dan Faiq.


Tapi saat mendapat telpon dari Faiq yang memintanya untuk datang karena urusan penting, mau tak mau Andre harus menuruti keinginannya.


“Perkenalkan ini rekan saya Anton Saragih yang bertugas sebagai intel di Kapolda Metro.” Rizwar memperkenalkan laki-laki brewokan dengan tampang seperti preman yang duduk di sampingnya.


“Apa maksud nak Faiq membawa seorang polisi kemari?” Dewi mulai cemas mengetahui ada seorang intel yang datang ke rumahnya.


“Anda tau nyonya, tuan Faiq masih menghormati anda sekeluarga. Tapi mulai hari ini anda sekeluarga harus menjaga jarak, dan jangan pernah menyapa atau mendekati tuan Faiq. Jika bertemu di jalan, sedapat mungkin segera menghindar.” Rizwar menatap Dewi dan berkata dengan serius.


“Apa kesalahan yang kami perbuat sehingga dia semaunya mengatur seperti itu. Jangan mentang-mentang kaya  seenaknya menindas orang miskin.” Dewi masih tidak terima dengan omongan Rizwar.


“Tuan Faiq masih berbaik hati tidak menjebloskan anda berdua ke penjara.” Rizwar merasa kesal dengan Dewi yang merasa seperti manusia paling benar, “Saat nona Hesti mengirimkan foto-foto kalian dan mengintimidasi istrinya, hingga menyebabkan nyonya Faiq terjatuh dan mengalami koma hingga tiga bulan. Beruntung bayinya masih bisa diselamatkan walau harus ditangani medis selama 3 bulan, karena belum waktunya dilahirkan.”


“Astagfirullahaladjim …. “ Andre mengusap wajahnya dengan kesal mengetahui perbuatan yang dilakukan Hesti dan ibunya.


Dewi menutup mulut dengan tangan kanannya, tidak menyangka bahwa Hesti telah melakukan sesuatu sehingga membahayakan nyawa orang lain.


“Benarkah apa yang mereka katakan Hes?” Dewi menatap Hesti dengan mata melotot.


Hesti terdiam tak berani menjawab. Ia sendiri tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Yang ia dengar dari isu yang berkembang di kantor bahwa istri Faiq hanya terjatuh dari tangga dan mengalami koma. Saat ia berusaha menghubungi nomor Faiq, tidak pernah dijawab. Akhirnya ia yakin bahwa Faiq telah memblokir nomor ponselnya.


“Saya tidak mengetahui hal itu.” Jawab Hesti enteng.


Rudi merasa geram mendengar jawaban Hesti. Kini ia merasakan perubahan sikap Faiq yang lebih over protektif terhadap Hani dan anak-anaknya. Tiada lagi sikap Faiq yang peduli dengan semua orang, semua urusan remeh temeh ia serahkan pada bawahannya. Dengan kecelakaan yang menimpa Hani membuat sifatnya berubah 180 derajat.

__ADS_1


“Jika terjadi sesuatu yang tidak dinginkan menimpa nyonya Faiq, maka kami akan langsung menangkap anda nona Hesti.” Anton yang berpenampilan agak menyeramkan mengeluarkan suara beratnya.


“Bukti kejahatan yang pernah anda lakukan terhadap nyonya Faiq telah kami simpan sebagai alat bukti.” Rizwar menimpali. “Sebenarnya berdasarkan perjanjian talak, kami sudah bisa menuntut anda.”


Hesti terdiam. Kenapa jadi serumit ini. Ia menatap laki-laki di depannya dengan menahan geram. Perasaannya bercampur aduk antara kesal dan marah. Ternyata Faiq tidak main-main dalam melindungi istri kesayangannya. Selain menyewa body guard dan pengacara kini dia melibatkan seorang intel untuk mengawasi setiap pergerakannya.


“Baiklah, saya akan mengingatnya.” Suara Hesti terdengar melemah, “Saya akan menjaga jarak dan tidak akan pernah mendekati keluarga tuan Faiq Al Fareza yang terhormat.”


“Kami rekam ucapan anda nona. Seharusnya anda bersyukur tuan Faiq masih memiliki hati nurani untuk tidak menuntut anda karena telah membuat nyawa istri dan bayi-bayinya terancam.” Rizwar menatap Hesti dengan tajam.


Hesti menelan ludah dengan pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa pun sekarang. Ia menunduk sedih.


“Terima kasih atas kerja sama anda semua.” Rizwar menutup pertemuan malam itu.


Ketiga lelaki itu bangkit dan bersalaman dengan tuan rumah. Andre mengantar mereka hingga ke depan pintu apartemen.


“Dre, kakakmu hanya memperjuangkan cintanya.” Dewi masih membela Hesti membuatnya semakin besar kepala.


“Kenapa perempuan itu tidak mati sekalian!” Hesti mengumpat.


“Mbak, omongan mas Faiq memang benar. Kamu hanya terobsesi dengannya. Itu bukan cinta, sadarlah mbak. Segera lupakan mas Faiq, bukalah hatimu untuk mencari lelaki yang mencintaimu.” Andre berusaha mengingatkan saudarinya.


Dewi terdiam mendengar pembicaraan kedua anaknya yang sudah sama-sama dewasa. Mendengar ancaman pihak Faiq ia jadi khawatir. Ia tidak akan sanggup melihat putri sulung yang selalu ia banggakan mendekam di hotel prodeo.


“Hes, ibu setuju dengan Andre. Cobalah untuk membuka hatimu pada orang lain. Nanti kamu pasti akan menemukan orang yang bisa mencintaimu dengan tulus.”


Hesti tidak senang mendengar ucapan ibunya yang kini lebih memihak Andre, dan tidak mendukung dirinya untuk kembali mendapatkan perhatian Faiq.

__ADS_1


“Aku mau tidur. Besok harus ngantor.” Ujarnya ketus.


Dengan bergegas Hesti memasuki kamarnya dan langsung menutup pintu dengan keras. Ia tak mempedulikan pandangan ibu dan Andre yang masih ingin berbicara dengannya.


“Ini akibat ibu yang selalu memanjakan dan menuruti kemauan mbak Hesti. Akibatnya ia menjadi egois dan tidak memiliki simpati maupun empati terhadap orang lain.”  Andre memandang ibunya dengan perasaan kecewa.


Dewi menghela nafas berat. Baru ia sadar, sebagai seorang ibu ia tidak pernah mengarahkan Hesti untuk memiliki kepekaan sebagai seorang perempuan dan memiliki solidaritas yang tinggi terhadap sesama kaum perempuan.


Karena salah dalam pergaulan membuat Dewi tidak menyukuri hidup. Suaminya yang hanya pensiunan seorang guru membuat ia merasa selalu kekurangan, hingga akhirnya Hesti menceritakan tentang lelaki muda di kantor yang telah mencuri hatinya.


Begitu bertemu Faiq dan mengetahui latar belakang kehidupannya, keinginan  Dewi untuk memiliki menantu seperti Faiq semakin besar.  Mata hatinya telah tertutup oleh kekayaan yang dimiliki Faiq sehingga melupakan fakta bahwa Faiq telah berkeluarga. Dan kini Dewi telah menyesali semuanya.


Faiq tiba di rumah begitu azan Subuh berkumandang. Setelah mengganti baju rumahan, Faiq langsung mengambil Wudu. Ia keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur dan segera duduk di samping  Hani yang mulai membuka mata.


“Mas …. “ Hani terkejut melihat suaminya sudah duduk dengan wajah segar di sampingnya.


“Subuh yuk, keburu waktunya abis.” Faiq menyunggingkan senyum melihat istrinya yang kini mulai bangkit dari pembaringan.


Pandangan Faiq tak terlepas hingga Hani memasuki kamar mandi, dan keluar dengan wajah yang segar dengan wudunya.


“Ya, Allah semoga istriku selalu dalam lindungan-Mu …. “ doa Faiq dalam hati saat melihat Hani mulai menyiapkan sajadah untuk mereka berdua.


Kini ia merasa tenang karena sudah menemui Hesti dan Dewi serta Andre. Harapan Faiq ke depannya tidak akan ada lagi yang akan mengganggu perjalanan rumah tangga mereka. Dan ia yakin dan percaya semata-mata kepada Allah untuk selalu menjaga keutuhan rumah tangga mereka.


 


 

__ADS_1


__ADS_2