Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 265 S2 (Rencana Liburan)


__ADS_3

Khaira terkejut ketika menuju meja pesanan yang berada di dalam restoran. Ia melihat Embun sudah berada dalam pangkuan ustadz Hanan. Sedangkan Fajar baru mulai disuapi bu Mila.


“Assalamu’alaikum Ustadz .... “ Khaira menyapa ustadz kharismatik tersebut sambil menganggukkan kepala dengan sopan.


“Wa’alaikumussalam Ustadzah,” ustadz Hanan tersenyum.


“Mbak, kok bisa janjian di sini?” Khaira membisiki ustadzah Fatimah yang berada di sampingnya.


“Saya bersama rekan baru selesai melihat proyek,” jawab ustadz Hanan pelan. Ia langsung menjawab karena ucapan Khaira pada istrinya terdengar di telinganya, “Pak Berli serta mas Danu juga berada di tempat ini.”


“Kenapa nggak diajak bareng sama kita Bi?” ustadzah Fatimah langsung menyampaikan komentarnya mendengar perkataan suaminya.


“Abi kasian sama si kembar jika harus bersama mereka,” ujar ustadz Hanan sambil membelai kepala Embun.


“Temannya yang satu nggak ikut ya?”  saat pandangan ustadzah Fatimah menemukan sosok Berli dan Danu, ia tidak melihat sosok Ivan.


“Proyek ini ia lepaskan Mi. Karena ia fokus pada proyek yang satunya,” ustadz Hanan tersenyum tipis pada istrinya.


Ustadzah Fatimah langsung memandang Khaira yang kini asyik menyuapi Fajar, karena ia merasa kasian dengan bu Mila yang seharian sudah menemani putranya bermain. Tiba-tiba ia ingat kejadian di gerai mainan anak. Rasa kesalnya langsung datang mengingat kelakuan bocah lelaki yang merampas mainan yang telah dipilih Fajar.


“Abi ingat perempuan dan bocah laki-laki yang pernah kita temui saat menemani si kembar beli mainan?” ustadzah Fatimah berkata pelan.


“Memangnya kenapa?” ustadz Hanan memandang istrinya lekat.


“Umi kesal Bi. Fajar telah memilih mainan itu, tapi si bocah  langsung merampas mainan yang ada di tangan Fajar,” tampak raut kekesalan yang tergambar di wajah ustadzah Fatimah saat menceritakan peristiwa yang membuatnya marah, “Umi ingat sekarang, perempuan dan bocah itu ....”


Bayangan saat Laura dan Bobby serta Danu membawa kantong mainan  yang memenuhi tangan mereka terlintas di kepala ustadzah Fatimah. Ia ingat saat itu Ivan lah yang telah membayari semua belanjaan bocah itu.


“Sudahlah biarkan saja. Sekarang si kembar tidak perlu mainan lagi. Ayahnya sudah menyiapkan istana mainan di rumahnya.”


“Maksud Abi?”


Ustadz Hanan tersadar, ia kelepasan berbicara. Khaira memandangnya dengan kening berkerut.


“Maksud Abi, si kembar kan sudah punya istana mainan di rumahnya. Biarkan saja, toh mungkin anak itu tidak memiliki mainan seperti kepunyaan Fajar.”


“Yang bikin umi kesel, mbok ya ibunya itu lo... anaknya dididik untuk tidak mengambil barang  yang telah ada di tangan orang lain,” ucapan menenangkan suaminya tak membuat rasa kesal ustadzah Fatimah hilang malah makin bertambah, “Kecil-kecil sudah diajari merampas barang orang lain. Huh!”


“Wah, sadis benar ucapan umi,” ustadz Hanan tersenyum mendengar perkataan istrinya.


Khaira akhirnya mengalihkan pandangan ketika tatapan bertemu dengan ustadz Hanan yang memandangnya penuh makna.


“Orangtua kalau tidak mendidik anaknya dengan benar ya seperti itu. Setiap kemauan anak dituruti. Kalau  dibiarkan terus, sudah besar mau jadi apa? Bibit-bibit seperti itu yang nantinya kalau laki-laki jadi pebinor, perempuan jadi pelakor ....”


“Astaghfirullahal’adjim  Umiii .... “ ustadz Hanan langsung menepuk bahu istrinya agar menghentikan omelannya.


Khaira tak bisa menahan senyum mendengar tausiyah ustadzah Fatimah yang belum berakhir. Padahal yang ia tau, ustadzah Fatimah seorang perempuan yang lemah lembut, tutur bahasanya selalu terukur dan tidak pernah sembarangan dalam mengeluarkan isi hatinya. Hal itulah yang membuat Khaira merasa nyaman curhat padanya. Tapi semenjak kehadiran si kembar, semuanya berubah. Dia jadi cerewet  dan kini ....


“Mbak .... “ Khaira tersenyum tipis saat memanggil ustadzah Fatimah yang kini terdiam.


“Saya itu ya dek, nggak senang liat ketidakadilan terhadap anak kecil. Apalagi mengganggu si kembar,” suaranya kini terdengar mulai pelan, “Untunglah mas Fajar orangnya tenang banget. Sini sayang umi duluu ....”


“Terima kasih mbak,” perasaan haru menghinggapi Khaira melihat Fajar yang langsung menghadiahi ciuman di pipi ustadzah Fatimah.

__ADS_1


“Pulang nanti saya yang akan mengantar ustadzah Aisya dan anak-anak,” ujar ustadz Hanan sambil membelai kepala Embun yang kini sudah tertidur lelap di pelukannya.


“Benar dek.  Biar pak Totok mengikuti dari belakang,” ustadzah Fatimah menyambung perkataan suaminya.


“Baik Mbak,” Khaira menganggukkan kepala menyetujui usulan keduanya.


Saat keluar restoran mereka kembali bertemu dengan Laras serta Laura yang menggandeng Bobby dengan gaya angkuhnya.


Ustadz Hanan merasa mengenal perempuan parobaya itu, dan ia juga melihat Laura yang tersenyum ramah. Ia menghentikan  langkah untuk menyapanya.


“Assalamu’alaikum Tante .... “


Laras memandang lelaki dengan penampilan kharismatik tersebut. Ia terkejut melihat Khaira pun ada di sana. Keterkejutannya tak hilang, karena bocah perempuan cantik yang mencuri hatinya beberapa saat yang lalu kini berada dalam gendongan lelaki itu.


“Maaf .... “ Laras terdiam berusaha mengingat lelaki itu. Rasa-rasanya ia kenal. Tapi siapa dan dimana mereka bertemu?


“Saya Hanan Al Farouq, teman SMAnya Ivan tante,” ujar ustadz Hanan ramah, “Maklumlah sudah hampir 22 tahun tidak bertemu.”


“Masya Allah, nak Farouq .... “ Laras mengingat kembali teman Ivan yang sering main bareng di rumahnya.  Paling sopan dalam bersikap dan bertutur kata dibanding temannya yang lain, “Maafkan tante, pertambahan usia membuat tante mudah lupa.”


Ustadz Hanan menangkupkan kedua tangannya ketika Laras ingin bersalaman. Ia menganggukkan kepala dengan hormat. Ia memandang Laura sekilas yang tetap memamerkan senyum memikatnya.


“Putrimu?” rasa penasaran kembali membuat Laras mengajukan pertanyaan yang sama pada ustadz Hanan.


Ustadz Hanan tidak menjawab pertanyaan Laras, “Perkenalkan ini istri saya .... “


Melihat ustadz Hanan yang mengenalkan istrinya yang mendorong stoller Fajar membuat Laras yakin bahwa si kembar memang anak keduanya.


Laras merasa heran melihat Khaira berada diantar keduanya. Tapi ia tidak ingin berprasangka negatif.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” Laras menjawab pelan.


Ketika memasuki kompleks perumahan Hasya, ustadzah Khaira tidak bisa menahan penasaran saat bertemu dengan perempuan parobaya tadi. Ia cukup terusik dengan keberadaan Laura, tapi ia tak mengindahkannya. Ia yakin, seribu perempuan yang ingin menggoda Ivan tak mungkin menggoyahkan perasaannya, apalagi ustadz Hanan sudah menceritakan semua.


“Dek, kamu mengenal perempuan parobaya itu?” ustadzah Fatimah pura-pura tidak tau dan ingin mengungkit perasaan Khaira.


“Beliau adalah orang yang pernah hadir di masa lalu,” jawab Khaira pelan, “Saya telah melupakan semuanya.”


Ustadz Hanan dan ustadzah Fatimah saling berpandangan dari kaca dashboard mobil dengan perasaan berkecamuk di hati masing-masing mendengar jawaban Khaira yang datar tanpa beban.


Sementara itu pikiran Laras  masih tertuju pada si kembar yang kini mulai membuatnya hilang konsentrasi.


“Ya Allah ... seandainya mereka cucuku dan darah dagingku sendiri .... “ hatinya berdesir membayangkan sesuatu yang baginya sangat tidak mungkin.


“Tante, kita langsung pulang kan?”


Pertanyaan Laura menghempaskan segala khayalan yang sempat hinggap di kepalanya. Membuat Laras kembali ke dunia nyata.


“Ya. Tante akan meminta  pak Kirno mengantarkan kalian terlebih dahulu,” Laras berkata cepat.


Pertemuan dengan si kembar membuat rencana yang telah ia susun untuk membawa Laura dan Bobby  ke rumah untuk masak bersama dan menyiapkan makan malam karena kedatangan Ivan sirna sudah.


Jawaban Laras yang sangat diluar dugaannya membuat khayalan Laura yang telah melambung tinggi langsung terhempas. Ia tidak boleh memaksakan kehendak. Ia akan mengikuti alur yang diciptakan Laras. Jika ingin berhasil ia harus memasang strategi, dan harus pandai mengatur dan menarik-ulur sesuai ritme.  Jika kesempatan itu datang, maka ia harus menggunakannya seefektif mungkin, untuk meraih keinginannya.

__ADS_1


“Baik tante. Terima kasih atas hadiahnya untuk saya dan Bobby.”


“Sama-sama sayang .... “


Laura mengamati kepergian mobil yang membawa calon mertua masa depannya yang tajir melintir.  Bagaimana mungkin dia mundur sekarang. Laras telah membuka pintu untuknya dan Bobby. Tinggal  Ivan yang membuatnya harus mencari cara lain untuk menaklukannya. Ia yakin tidak mungkin Ivan untuk kembali pada Khaira perempuan yang penampilannya sederhana bahkan tidak mampu memberikan seorang anak.


Laura teringat dengan cerita yang berhembus bahwa Ivan berpisah dengan istrinya karena putra mereka meninggal dunia. Ia jadi bingung sendiri, kenapa versinya berbeda dengan yang ia dengar dari calon mertua tajirnya.


“Ah biarlah. Apa pun yang terjadi, yang penting sainganku untuk mendapatkan mas Ivan nggak ada,” monolognya dengan perasaan senang, “Yang penting tante Laras ada dipihakku, yang lain bisa dikesampingkan.”


Sudah dua hari kepergian bu Mila dari rumah Khaira. Ia meminta izin pada Khaira untuk pulang kampung, karena putri bungsunya akan menikah. Khaira tak bisa menolak keinginan bu Mila. Apalagi selama dua tahun belakangan, beliau tidak pernah meninggalkan si kembar yang dalam pengasuhannya.


Khaira tidak keberatan bu Mila berlibur lebih lama di kampungnya. Kegiatan di pondok sudah mulai longgar. Para santri sudah menyelesaikan ulangan kenaikan kelas, tinggal kegiatan classmeeting serta rapat penentuan kenaikan kelas, serta persiapan libur panjang menutup tahun pelajaran agenda penting yang akan dilakukan besok.


Semua beban tugas serta penilaian untuk kelas yang diajarnya telah selesai dikerjakan.  Kini ia bisa fokus bermain dengan si kembar dan beberes rumah.


Belum jam 9, Khaira dikejutkan dengan telpon dari keluarga bu Nuri di kampung yang memintanya pulang. Ayahnya bu Nuri yang sudah sepuh dalam keadaan kronis dan ingin bertemu putri sulungnya.


Terpaksa Khaira melepaskan bu Nuri untuk pulang karena saudaranya langsung menjemput ke kediaman mereka.


Setelah mengantar bu Nuri hingga di halaman rumahnya Khaira kembali ke dalam rumah. Ia lebih santai sekarang, jadi walau pun tanpa kedua pengasuh si kembar ia merasa mampu mengasuh Fajar dan Embun.


“Bunda, main tama ayah ya .... “ suara Embun membuat Khaira terhenyak.


Sudah tiga hari ia mengurung keduanya di dalam rumah. Ia tidak ingin merepotkan bu Warti yang sudah sepuh dalam pengasuhan si kembar. Berhari-hari ia disibukkan pekerjaan rutin di sekolah, kini saatnya ia menghabiskan waktu bersama.


Khaira tak habis pikir dengan kelakuan ajaib putri kecilnya. Setelah mandi dan sarapan pagi, ia langsung mengambil tas ransel dan mengisinya dengan botol susu yang telah disiapkan bu Nuri.


“Mau kemana sayang?” Khaira tersenyum melihat  kesibukan Embun yang pagi itu mengalahkan aktivitas keseharian yang ia lakukan.


“Mau main tama ayah .... “


Sontak jawaban Embun membuat Khaira terkejut. Ia tidak ingin putri kecilnya terlalu lengket dengan Danu. Ia harus bertemu dan berbicara terus terang dengan Danu untuk menyatakan keberatan atas perlakuan Danu pada si kembar khususnya Embun yang selalu memanggil ayah disaat naik ke peraduan.


Setiap malam dalam bulan-bulan terakhir ini, Embun selalu menceritakan kesehariannya saat bermain bersama sang ayah yang kini telah menjadi idola baru baginya. Khaira sampai geleng-geleng kepala mendengar cerita Embun dengan suara kenes dan cadelnya.


Fajar lebih banyak diam saat melihat interaksi bunda dan Embun. Jika Khaira bertanya, ia hanya menjawab singkat dengan bahasanya sendiri.


Di kamar yang berbeda Ivan termangu menghadapi tenda yang tiga hari yang lalu ia buat bersama si kembar. Kini sudah tiga hari ia tidak mendengar suara manja dari putri kesayangannya serta  gaya cool putra tampannya.  Ia merasakan kerinduan yang teramat kuat, serasa merontokkan jantung.


Bagaimana dan dari mana ia harus memulai, Ivan serasa mati langkah. Percakapannya dengan ustadz Hanan tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan. Hanya kepada sang Maha pembolak-balik hati ia memperpanjang doa dan harapnya agar niat baiknya segera terlaksana.


Hari berlalu dalam keheningan, kini malam telah menjelang. Ivan merasakan tersiksa dalam kerinduan. Pada Khaira ia dapat menahannya. Tetapi si kembar adalah hal yang berbeda. Ivan hanya mengadu pada sang Khalik akan beban yang sudah tidak mampu ia tahan.


Pagi menjelang, suara riuh rendah sudah terdengar di halaman rumahnya. Ivan memandang dari lantai dua tempatnya berada saat ini. Senyum terbit di wajahnya melihat si kembar sudah melompat-lompat bersama bu Warti dan bu Giyem art  di rumah Khaira.


“Dan, cepat bawa si kembar kemari!” Ivan sudah tidak mampu menahan rasa rindu.


“Baik Tuan,”  Danu  mengangguk cepat.


Bu Giyem yang tidak terbiasa dengan pengasuhan si kembar yang super aktif akhirnya kewalahan. Ia memasrahkan si kembar pada bu Warti dan Danu yang kini mulai mengambil alih.


Tak terasa sudah jam sebelas siang. Ivan baru selesai memberi makan si kembar. Rasa kerinduannya sudah terobati dengan kehadiran keduanya. Dari Danu, Ivan mendapat informasi bahwa kedua pengasuhnya pulang kampung, sedangkan hari ini bundanya si kembar mengikuti rapat akhir di pondok.

__ADS_1


Khaira kembali ke rumah setelah agenda rapat selesai. Semua pengajar di pondok bersilaturahmi untuk menutup tahun pelajaran, karena banyak yang ingin pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengisi liburan.


Khaira dan saudaranya sudah merencanakan untuk melakukan umroh ke tanah suci selama liburan berlangsung. Sesudah pulang umroh, agenda selanjutnya mengikuti Junior dan istrinya  ke Jepang. Keduanya sampai saat ini belum mendapatkan momongan, dan memilih bekerja di sana. Si kembar akan mereka bawa bersama menikmati perjalanan pertama keduanya.


__ADS_2