Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 229 S2 (Cemburu Tak Berdasar)


__ADS_3

Khaira sedari pagi sudah mengingatkan pada Ivan bahwa mereka akan datang ke resepsi pernikahan Irene dan Rama yang akan dilaksanakan di hotel The Ritz-Carlton. Khaira dapat membayangkan semegah apa resepsi itu, karena ia mendengar cerita mbak Hasya saat Junior dan Afifah tiba dari Jepang untuk menghadiri pernikahan Irene yang dilaksanakan tadi pagi di kediaman tante Indah.


Sudah lima kali Khaira mencoba menghubungi ponsel Ivan, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 19.00 Wib. Khaira menyelesaikan salat Isya terlebih dahulu. Ia yakin tidak akan terlambat. Karena Hasya yang terus menerus menelponnya membuat Khaira bergegas. Dengan cepat ia meminta pak Imron untuk mengantarnya ke hotel tempat pelaksanaan resepsi.


Saat  melangkahkan kaki memasuki lobby hotel, tatapan Khaira terpaku melihat Ivan yang masih menggunakan kemeja kantor yang dipakainya sejak pagi, juga berada di ruangan yang sama dengannya. Tetapi Ivan tidak melihat keberadaannya. Yang membuatnya merasakan kesedihan adalah dengan santainya Claudia menggandeng tangan Ivan yang mendorong kursi roda Bryan memasuki restoran mewah yang berada dalam satu bangunan dengannya berada.


Ia dapat melihat Claudia dengan gaun malam merah  yang sangat berani sehingga menunjukkan bentuk tubuhnya. Senyum Ivan tergambar sempurna saat Claudia berkata sambil tertawa dan mencubit lengan Ivan.


Mereka tampak seperti pasangan yang sedang berbahagia. Khaira menatap nanar kepergian ketiganya yang tidak melihat keberadaan Khaira yang berjalan sendiri. Ia menghapus air mata yang tanpa diundang tiba-tiba menetes.


Akankah ia sanggup jika melihat pemandangan seperti ini terus menerus. Khaira menekan dadanya yang terasa sesak. Dengan menegarkan diri ia berjalan menuju ballroom tempat Hasya dan saudara-saudaranya yang sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu. Mereka datang bersama dengan menggunakan dress code sesuai permintaan kedua mempelai.


Resepsi penikahan Irene yang bertema India atau Bollywood Style ini memang benar-benar meriah. Semua tamu yang datang memakai gaun cerah warna-warni membuat pesta semakin semarak.


Melihat Khaira yang datang sendiri dengan senyum yang tertahan di wajahnya membuat saudaranya tidak berani bertanya panjang lebar. Khaira berusaha memisahkan diri dari saudara-saudaranya yang lain.


Ia merasakan kesedihan dalam kesendirian. Ia sadar semua adalah muslihat Claudia. Ivan hanya menjalankan perannya sebagai ayah yang baik bagi Bryan. Ivan tidak menyadari bahwa ia telah terperangkap dalam permainan Claudia.


Setelah menyalami kedua mempelai, dengan langkah lunglai Khaira berjalan menunduk. Ia enggan untuk menemui mertuanya yang masih sibuk berbincang dengan keluarga besar mereka yang lain.


Saat melangkah menuju singgasana kedua mempelai, ia sempat menyapa mertuanya. Laras pun menanyakan keberadaan Ivan yang tidak menghadiri resepsi Irene. Terpaksa Khaira berbohong bahwa suaminya sedang bepergian ke luar kota.


Dengan menahan air mata Khaira melangkah pelan keluar dari ballroom megah tempat pelaksanaan resepsi mewah Irene dan Rama. Ia ingin segera pulang, tidak ingin berlama-lama di tempat yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.


Tanpa berpamitan dengan saudara-saudaranya yang masih berbicara dengan orang tua kedua mempelai, Rara berjalan pelan melangkah menuju pintu keluar ballroom megah itu.


“Rara .... “ suara bass menghentikan langkahnya.


Dengan cepat Khaira menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya.  Ia berusaha tersenyum begitu melihat Fahri yang berjalan menghampirinya.


“Kamu sendirian?” Fahri menatapnya dengan lekat.


Sejak tadi ia memang mengamati sosok Khaira yang berjalan sendirian tanpa suaminya yang selalu ada selama ini mendampinginya kemana pun keduanya pergi.


Karena tidak ingin membuat kebohongan lebih lanjut, Khaira hanya mengulas senyum kecil di bibirnya.


“Kamu ingin pulang sekarang?” Fahri menatap Khaira yang tampak gelisah.


“Benar mas.  Aku merasa lelah beberapa hari ini,” Khaira berkata pelan, “Mas Fahri sudah mau pulang juga, pestanya belum selesai.”


“Itu pesta Irene, bukan pestaku,” jawab Fahri enteng.


Khaira tertawa kecil mendengar perkataan Fahri, “Maaf. Ya ... sih ... Moga mas Fahri disegerakan menemukan jodoh terbaik.”


“Bagaimana kabar anak sambungmu? Ku dengar ia sekarang tinggal bersama kalian?”  Fahri bertanya dengan hati-hati pada Khaira.

__ADS_1


Bukan rahasia umum lagi masalah ini, karena Fahri selalu mengikuti kegiatan Khaira semenjak ia tau perasaannya yang belum bisa berpaling pada yang lain.


“Doakan yang terbaik aja deh mas,” Khaira tersenyum menahan kegalauan yang kini melandanya.


“Kamu bersama siapa? Apa boleh aku mengantarmu pulang?” Fahri bertanya dengan sopan saat keduanya melangkah berbarengan menuju lobby hotel.


Sementara itu Ivan dan Claudia beserta Bryan juga sudah menyelesaikan makan malam mereka. Karena desakan Claudia yang menginginkan makanan western terbaik atas nama Bryan terpaksa Ivan menyanggupi keinginannya.


Tanpa berpikir panjang Ivan langsung membawa keduanya ke restoran yang selama ini ia rekomendasikan jika membawa klien yang berasal dari luar negeri. Memang harganya selangit, tetapi sebanding dengan kualitas yang didapatkan.


Saat keluar dari lift Bryan melihat  Khaira yang berbicara dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal.  Ia langsung mengatakannya pada Ivan.


“Dad, bukankah itu aunty Rara. Dia sangat cantik sekali,” Bryan menunjuk Rara yang melangkah di depan mereka.


Ivan terkejut.  Ia menajamkan penglihatannya karena tidak yakin dengan perkataan  Bryan. Ternyata apa yang dikatakan Bryan benar bahwa perempuan yang berpakaian pesta seperti perempuan India itu adalah istrinya. Tetapi Khaira tidak sendirian, ada Fahri bersamanya. Keduanya berjalan di hadapan mereka terlihat sangat akrab. Ia dapat melihat senyum yang terpancar di wajah Khaira saat mendengar Fahri berbicara.


Rara menggunakan sari India model gamis dengan warna yang sangat cerah, kontras dengan kulitnya yang putih. Penampilannya benar-benar sempurna. Ivan nyaris tidak mengenali istrinya sendiri. Sedangkan Fahri menggunakan pakaian pesta seperti pria India pada umumnya.


Jika orang lain tidak mengenal keduanya, mereka pasti menyangka Fahri dan Khaira adalah pasangan. Mereka sangat serasi sekali. Yang laki-laki gagah dan tampan, sedangkan perempuan cantik jelita.


“Ini tidak bisa dibiarkan,” kecemburuan langsung mengoyak akal sehat Ivan, “Kenapa keduanya bisa bersama di tempat ini?”


Kesibukan di kantor serta pemintaan Claudia membuatnya melupakan bahwa hari ini seharusnya ia dan Khaira menghadiri resepsi pernikahan Irene dan Rama. Dan Ivan benar-benar tidak ingat sama sekali.


Ia langsung menghubungi Hari untuk menjemput Claudia seerta Bryan, dan memintanya datang dalam waktu 10 menit di hotel Rizt-Carlton karena Claudia sudah menunggunya di lobby.


Claudia merasa tidak senang atas keputusan  Ivan yang meninggalkan dirinya dan Bryan di lobby hotel hanya untuk mengejar istrinya. Claudia sudah tau bahwa malam ini Ivan ada undangan resepsi keluarga besarnya, karena saat  art membawa undangan dia turut membacanya.


Ia  berhasil membuat  Ivan tidak datang menghadiri undangan itu  dengan alasan membawa Bryan check up untuk keempat kalinya. Karena ingin menikmati makan malam di restoran mewah ia langsung membisiki Bryan untuk menyampaikannya pada Ivan.


Begitu selesai kontrol, ia meminta Ivan mampir ke mall membeli berbagai keperluan Bryan. Keinginanannya untuk belanja barang branded serta produk kecantikan yang harganya selangit tercapai. Ivan telah membayar semua barang yang ia beli. Senyum puas tecetak di wajah Claudia. Ia tidak masalah Ivan tak memandang dirinya yang penting tetap berada di sisinya.


Tapi kini rona kebahagiaan  telah hilang di wajah Claudia begitu melihat Khaira melintas di depan mereka. Ia dapat melihat raut kemarahan dan kecemburuan yang tergambar jelas di wajah Ivan.  Apalagi saat Ivan menghubungi Hari dengan tatapan yang tak beralih dari sosok Khaira yang berjalan santai di hadapan mereka.


Claudia mengepal tangannya dengan perasaan kecewa, karena Ivan melangkah meninggalkan ia dan Bryan tanpa mengucap sepatah kata pun.


Dengan  kesal Ivan berjalan cepat  mengejar Khaira dan Fahri yang masih berjalan di lobby hotel yang besar dan megah tersebut. Perasaan panas tiba-tiba menjalari hatinya. Bagaimana mungkin ia membiarkan istrinya berada di pesta dengan laki-laki lain. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Apalagi keduanya tidak melihat keberadaan dirinya


“Sayang .... “ begitu jaraknya tersisa semeter Ivan langsung memanggil istrinya.


Kekesalan Ivan semakin meningkat karena Khaira tidak mendengar panggilannya tetap berjalan bersama Fahri tanpa menghiraukan ramainya tamu yang keluar masuk menginap  di hotel yang megah tersebut.


Karena ramainya para  tamu  yang berlalu lalang di lobby hotel membuat Khaira tidak mempedulikan panggilan Ivan. Ia berpikir itu hanya perasaannya saja. Apa lagi sekarang ia sedang menelpon pak Imron untuk segera menjemputnya.


“Kita minum dulu di sana?” Fahri menawarinya untuk mampir ke kafe yang berada paling depan dari bangunan hotel yang luas, “Atau langsung ku antar pulang?”

__ADS_1


“Pak Imron sudah berada di depan untuk menjemputku,” Khaira menggelengkan kepala dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.


Karena sudah merasa lelah dengan pikiran yang berkecamuk, Khaira kurang berhati-hati dalam melangkah, apalagi ia menggunakan highheels yang membuat kakinya penat. Hampir saja ia terpeleset. Dengan cepat Fahri menahan  bahunya agar tidak jatuh terduduk.


“Jangan sentuh istriku!” suara bariton itu mengejutkan Khaira dan Fahri yang masih saling memandang.


Spontan Fahri melepas tangannya di bahu Khaira  sehingga tidak jatuh di lantai marmer yang sangat licin mengkilat.


“Mas Ivan .... “  mata Khaira langsung membulat melihat sosok Ivan sudah berada di hadapannya ketika ia membalik badan karena merasa ada tangan kokoh yang memegang tangannya.


Fahri dapat melihat raut tajam dari sorot mata Ivan saat keduanya bertatapan. Ia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.


“Apa kabar Ivan?” Fahri menyapanya dengan sopan.


Ivan tidak mempedulikan sapaan Fahri. Dengan cepat ia menarik tangan Khaira membawanya berlalu dari hadapan Fahri menuju ke lift dan naik ke lantai atas.


Claudia terpaku melihat Ivan yang menggenggam jemari Khaira melewatinya memasuki pintu lift  menuju lantai atas. Kemarahan dalam dadanya menggelegak. Ivan tidak bisa melepaskan istrinya dalam kehidupannya. Claudia tau apa yang ada dalam pikiran Ivan sekarang. Ia sudah membayangkan perlakuan apa yang bakal diterima Khaira melihat sikap Ivan yang tampak tegang dan datar.


“Oh Alex, sudah terlalu kuat perempuan itu mengikatmu,” rutuk Claudia di dalam hati.


Walau berbagai cara untuk menjauhkan Ivan dari istrinya, tapi tetap saja alam mendukung keduanya selalu untuk bersama. Claudia hanya merutuk kesalahannya di masa lalu yang mudah tergoda dengan rayuan George yang hanya mempermainkannya. Tapi tetap saja, semua adalah kesalahan dirinya sendiri yang mudah tergoda dan tidak cukup puas dengan satu pria.


Tak lama kemudian Hari muncul di hadapannya. Karena merasa lelah dengan emosi yang beradu di kepalanya membuat Claudia tidak bisa berpikir. Akhirnya ia dengan pasrah mengikuti langkah Hari yang kini mendorong kursi roda Bryan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman hotel.


“Mas ini sudah malam. Kita akan pergi kemana?” Khaira merasa heran menghadapi sikap Ivan yang datar tapi tidak melepaskan genggaman tangannya yang mencengkeram begitu kuat.


Ia  terpaku begitu Ivan menyeretnya dengan cepat memasuki sebuah kamar president suite yang sangat mewah dan luas. Khaira menatap Ivan tidak mengerti atas tindakan spontan yang dilakukan suaminya dengan membawanya ke kamar hotel ini.


“Mas .... “


“Kau sangat cantik sekali malam ini,” Ivan berkata dengan sinis tanpa mengalihkan pandangan dari sorot bening Khaira yang menatapnya dengan bingung, “Apa kamu sengaja ingin memikat lelaki di luaran sana?”


Jemari Ivan mulai membuka jasnya dan membuangnya di sembarang tempat. Kemudian tangannya beralih membuka satu demi satu kancing kemejanya. Tatapannya tak beralih dari wajah cantik Khaira.


Melihat sikap Ivan yang tak bersahabat membuat Khaira semakin bingung. Ia yang seharusnya marah, karena sejak sore sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi tetap saja panggilan tidak terjawab.


Ivan melangkah mendekati Khaira yang masih berdiri tegak.  Ia melihat bibir merah menyala yang begitu menantang.


“Bahkan dengan Fahri kamu sangat akrab hingga tidak melihat suamimu sendiri,” suara Ivan masih dengan nada sindiran.


Khaira mundur. Ia dapat melihat sorot kemarahan yang tergambar jelas di wajah Ivan. Otaknya belum bisa berpikir untuk menjawab semua tuduhan Ivan yang tak berdasar.


Bagaimana mungkin Ivan menuduhnya berdandan untuk lelaki lain. Sedangkan ia memenuhi undangan sepupu suaminya sendiri.


Apa iya harus datang ke resepsi pernikahan ala India dengan wajah pucat pasi tanpa riasan, sedangkan gaun pesta yang dipakai harganya bukan kaleng-kaleng. Dasar Ivan!

__ADS_1


Melihat Khaira yang mundur menjauhinya membuat Ivan semakin kesal. Dengan sekali tarikan ia meraih Khaira dan mengangkat tubuh istrinya membawa ke tempat tidur lalu menghempaskan tubuh Khaira dan mengurungnya membuat istrinya tak bisa berkutik.


__ADS_2