Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 111


__ADS_3

Dengan perasaan berdebar Hani mengikuti langkah suaminya memasuki rumah Adi yang tampak habis melakukan perayaan, karena karpet yang digelar serta meja hidang yang masih menyisakan berbagai menu makanan.


“Syukurlah kalian datang. Tante sudah menunggu sejak tadi.” Seorang lelaki yang sebaya dengan Faiq sudah menyambut kedatangan keduanya.


Faiq menggandeng tangan Hani  dan mengikuti langkah lelaki muda itu memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Ia melihat ada  Rusdi, Hanif, Johan serta Linda yang sudah duduk di sopa dengan wajah serius.


“Selamat malam, tante ….” Sapa Hani ramah begitu berhadapan dengan Linda.


Tatapan mata mengarah pada mereka  berdua, Hani tersenyum menganggukkan kepada pada semua yang berada di dalam ruangan, sedangkan Faiq menyalami satu demi satu hingga terakhir pada lelaki muda yang menyambut kedatangan mereka.


Hani meraih tangan Linda dan menciumnya dengan lembut. Linda langsung memeluk Hani dengan erat, air matanya tak mampu ia bendung mengalir dengan cepat. Hani terpaku dengan kelakuan Linda. Ia membalas pelukan Linda sambil menepuk pundaknya.


“Maafkan mama. Semua ini kesalahan mama ….” Tangis Linda langsung pecah.


“Apa yang tante katakan?”  Hani bertanya dengan kening berkerut.


“Sudahlah tante. Bukankah kita perlu membahas agenda pemindahan pengelolaan perusahaan Tama.” Suara lelaki muda yang menyambut mereka tadi membuat Linda berusaha menghentikan tangisnya.


“Baiklah Bimo, tante serahkan semuanya padamu.” Linda berkata dengan lirih sambil menghapus genangan air mata yang tersisa.


“Saya  Bimo keponakan almarhum om Sofyan. Sebelum kepergian Tama, dia sering bercerita kehidupan pribadinya serta perusahaan miliknya. Hubungan kami lumayan dekat, dan almarhum sempat meminta saya untuk mengelola perusahaan yang bakal diwariskan kepada putra-putrinya.”


“Almarhum ….”  Hani berkata lirih.


Semua mata langsung tertuju pada Hani. Hanif dan Faiq sontak berpandangan dengan perasaan berkecamuk.


“Maafkan saya, karena belum menceritakan tentang bang Tama pada istri saya. Tentu semua yang ada di sini mengetahui kondisi Hani pada saat itu.” Ujar Faiq pelan.


“Mas, ada apa sebenarnya?” tanya Hani memandang Faiq tanpa berkedip.


“Sayang, bang Tama telah pergi mendahului kita akibat kecelakaan tempo hari. Hari ini adalah 40 hari kepergiannya ….” Pelan Faiq berkata pada Hani yang menatapnya dengan mata membulat.


“Innalillahi wainnailaihi roji’un ….” Desis Hani lirih.


Tanpa bisa dicegah air matanya terjun bebas, membuat semua yang berada di dalam ruangan terdiam. Linda kembali berduka dan tak bisa menahan cucuran air matanya melihat mantan menantunya yang cukup terpukul atas kepergian Adi.


“Maafkan mas yang tidak mengatakan ini padamu.” Faiq berkata dengan lirih, “Mas khawatir, saat itu kamu akan menjalani operasi mata.”

__ADS_1


Jantung Hani terasa berhenti berdetak setelah mendengar perkataan Faiq.  Berita kematian Adi cukup membuatnya shock. Ia tak menyangka  Adi pergi begitu cepat, meninggalkan mereka semua.


“Apa anak-anak sudah tau?” dengan berlinangan air mata ia bertanya pada  Faiq yang menggenggam jemarinya dengan erat.


Sebuah kotak tisu terulur padanya. Dengan cepat ia menghapus genangan air mata dengan tisu yang diulurkan Bimo ke arahnya.


“Terima kasih.” Ujarnya lirih tanpa menatap wajah Bimo.


Faiq menatapnya dengan lekat sambil menggelengkan kepala. Ruangan kembali hening, hanya pikiran masing-masing yang bekerja.


Hani menghirup udara dan membuangnya dengan perlahan berusaha menghilangkan sesak di dada.


“Bagaimana kita akan mengatakan pada anak-anak, khususnya Ariq … dia sangat dekat dengan ayahnya ….” Hani berkata lirih.


“Besok kita akan membawa anak-anak ziarah ke makam bang Tama.” Ujar Faiq akhirnya setelah berpikir beberapa saat.


Setelah kondisinya mulai tenang, Hani menarik nafas dan membuangnya dengan pelan. Tatapannya beralih pada Linda.


“Maafkan saya tante, karena baru mengetahui berita ini. Saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian ayahnya anak-anak.” Tak terasa air mata Hani kembali menetes, “Apa yang bisa saya lakukan ….?”


Linda tak mampu menjawab pertanyaan Hani, hanya mampu menganggukkan kepala dengan lemah.


Setelah suasana mulai kondusif, Rusdi mulai angkat bicara. Ia mengeluarkan setumpuk berkas yang terdiri dalam beberapa map.


“Saya akan memulai pertemuan kita malam ini.” Ujar Rusdi tegas.


Semuanya terdiam melihat Rudi yang mulai memisahkan map dan menyusunnya di meja panjang di hadapan mereka.


“Semua ini adalah aset kepunyaan almarhum. Sebelum kepergiannya, saya dan saudara Hanif telah membuat surat wasiat sesuai perintah almarhum untuk memindahkan semua aset kepada putra putrinya.” Rusdi mulai membuka satu demi satu map yang tersedia.


Pikiran Hani benar-benar kacau. Ia tidak akan sanggup menceritakan kepergian Adi pada anak-anaknya, khususnya Ariq. Kedekatan Ariq dan ayahnya dapat Hani saksikan dengan jelas. Setiap habis bepergian dengan Adi, secara khusus Ariq selalu  antusias menceritakan keseruan selama bersama ayah mereka. Bagaimana ia memuji Adi sebagai ayah yang hebat dan mendukungnya dalam meraih apapun.


Begitu pun perlakuan Adi terhadap Ariq. Hani melihat raut Adi yang tampak bangga atas semua prestasi Ariq. Sikap Ariq yang lebih peka dibanding Ali membuat Adi memberikan perhatian khusus pada putra sulungnya itu, walaupun ia tidak membeda-bedakan kasih sayang terhadap ketiga anaknya, tapi tetap saja Ariq lebih memahami kesedihan yang dialami Adi saat melihat kebersamaan bunda dan ayah sambungnya. Karena itulah Adi merasa bahwa Ariq lah yang lebih mengerti dirinya dibanding siapapun.


“Sayang ….” Faiq  terkejut mendapati Hani yang lemas tak berdaya bersandar di dadanya.


“Astaga, menyusahkan saja.” Bimo berkata dengan ketus melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


“Lebih baik di bawa ke kamar.” Ujar Linda terenyuh melihat Hani yang pingsan di dalam pelukan Faiq.


Linda mendampingi Faiq yang menggendong Hani untuk mengantarnya menuju kamar tamu yang letaknya berhadapan dengan ruang kerja di mana mereka berada sekarang.


Faiq membelai rambut istrinya dengan penuh perasaan. Ia tau, Hani cukup terguncang atas kepergian Adi. Mereka berdua harus saling menguatkan untuk membicarakan masalah ini pada ketiga putra-putri Adi.


“Arg …. “ erangan lembut keluar dari mulut Hani begitu ia mulai membuka mata.


Orang pertama yang ia lihat adalah Faiq yang menatapnya dengan penuh kecemasan. Jemarinya masih berada dalam genggaman suaminya.


“Sayang … “ suara Faiq terdengar lembut di telinganya.


Mata Hani mengerjab. Ia memandang sekeliling yang terasa asing baginya. Hani berusaha bangun, tapi kepalanya masih terasa berat.


Faiq menyadari kebingungan istrinya dengan suasana asing di kamar yang mereka tempati. Ia menyunggingkan senyum tipis pada Hani.


“Sekarang kita berada di rumah eyangnya anak-anak. Tadi kamu pingsan. Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Faiq penuh perhatian.


“Kepala terasa berat.” Hani menekan dahinya dengan kuat, “Tapi aku tidak nyaman jika harus menginap di sini. Kasian juga sama anak-anak di rumah.”


Faiq berpikir sejenak. Seperti Hani yang merasa tidak nyaman berada di kediaman Linda, begitu pun dirinya. Ia meraih minyak kayu putih yang sempat diletakkan Linda di atas nakas samping tempat Hani berbaring. Ia meminta Hani untuk berbaring dan mulai memijit kepala istrinya dengan pelan, berusaha mengurangi sakit kepala yang diderita Hani.


Hani memejamkan mata merasakan kenyamanan atas pijatan lembut yang dilakukan suaminya. Ia berusaha mengingat penyebab ia sampai gelap mata dan tidak mengingat apa pun, hingga kini berada di kamar tamu kediaman mantan suaminya.


Kesedihan kembali menggerogoti Hani setelah otaknya mulai mengingat kejadian awal saat ia tau bahwa Adi telah meninggal dunia. Tangannya meraih tangan Faiq yang masih memijat kepalanya.


Faiq terkejut atas perbuatan Hani yang menggenggam jemarinya dengan kuat. Ia menghentikan aktivitasnya dan langsung meraih jemari Hani dengan tangannya yang lain.


Keduanya bertatapan lekat, dan Faiq dapat melihat sorot kesedihan di mata tajam milik Adi yang kini telah menjadi milik istrinya.


“Mas, bantu aku untuk menceritakan semuanya pada anak-anak …. “ pinta Hani lirih.


“Tentu saja. Kita berdua akan saling mendukung. Kamu harus kuat demi anak-anak.” Faiq langsung memeluk Hani.


Ia tidak ingin Hani larut dalam kesedihan. Dan ia tidak akan menceritakan semua pengorbanan yang telah dilakukan Adi hingga mendonorkan matanya demi kembalinya penglihatan istrinya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2