
Azan subuh sudah berkumandang. Faiq terbangun dari tidurnya. Badannya terasa sangat bugar sekali. Ia memandang Hani yang masih meringkuk di bawah selimut. Senyum bahagia tergambar jelas di wajah tampannya. Ia membelai punggung mulus istrinya yang kelelahan akibat ulahnya.
“Sayang… salat dulu, yuk. Setelah itu istirahatlah kembali. Mas akan memberitahu Mawar kamu nggak ke kantor hari ini.” Faiq mengecup pipi Hani yang masih memejamkan mata.
Mata Hani terasa berat untuk dibuka. Badannya terasa remuk. Entah apa yang dikonsumsi suaminya sehingga kekuatannya berlipat-lipat.
“Sayang, kalau kamu nggak bangun …”
Mendengar ancaman Faiq membuat Hani bergegas bangun. Ia tau ancaman Faiq akan mendatangkan keuntungan sepihak bagi suaminya. Bisa-bisa ia nggak bisa jalan seharian.
Faiq tersenyum melihat Hani yang bergegas bangun dan meraih gaun tidurnya yang sudah tidak berbentuk akibat ulahnya tadi malam.
Melihat Hani yang kesusahan membuat Faiq jadi iba. Sebelum Hani membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, Faiq langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.
“Mas nggak tega liat kamu seperti ini.” Faiq membaringkan Hani di dalam bathtub, dan menghidupkan keran air untuk mencampur air dingin dan hangat.
“Sudah mas, aku bisa melakukan sendiri.” Wajah Hani merona menahan malu melihat perlakuan suaminya yang begitu perhatian dan memanjakannya.
“Mas akan selalu memanjakanmu. Gaunmu yang rusak itu akan mas ganti dengan yang lebih baik. Akan mas tambah koleksinya.” Mata Faiq berkedip nakal.
Hani menggigit bibir. Ini yang ia khawatirkan. Ia mempercepat mandi takut Faiq berubah pikiran melihatnya yang masih polos membilas diri di bawah shower.
Faiq tersenyum melihat ketergesaan Hani. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Hani itulah yang tengah bersemayam di otaknya. Dengan cepat ia mengalihkan pikirannya, kasihan melihat Hani yang masih tampak lelah.
Setelah sarapan bersama, Karman segera mengantar si kembar ke sekolah. Sedangkan Hani masih menemani Faiq sarapan. Jam baru menunjukkan pukul 7 pagi.
Faiq memandang Hani yang sudah rapi dengan setelan gamisnya. Tak bosan ia memandang wajah teduh yang kini duduk di sampingnya.
“Mas pikir kamu masih ingin istirahat.” Faiq menatap Hani dengan lekat.
“Nggak enak sama mbak Mawar. Hari ini ada kunjungan dari PAUD ingin bawa anak-anak main di sana.”
“Mas, nggak ingin kamu kelelahan. Secepatnya mas pingin kita program untuk tambah momongan.” Faiq mengecup kening Hani dengan mesra. “Semoga di tahun depan sudah ada anggota baru di keluarga kita…”
Hani menggenggam jemari Faiq yang masih di atas kepalanya. “Aamiin ya Rabbal alamiin…”
Suasana semarak di Restoran dan Play Ground A2H benar-benar meriah. Balon warna-warni dihias sedemikian rupa membuat para siswa PAUD bersama orang tuanya merasa gembira.
Fandi, Mawar turun tangan ke lapangan untuk membantu suksesnya acara. Beberapa karyawan mereka terus memantau agar acara bisa berjalan lancar.
Hasya turut senang melihat keramaian di taman belakang restoran. Ia berlari dengan riang mengikuti kerumunan anak-anak yang bermain dengan semangat.
Jam 12 siang acara telah selesai. Hani merasa senang karena para kepala sekolah PAUD merasa puas atas pelayanan yang telah diberikan restoran Hani.
Tepat jam 2 siang Hani kembali ke rumah bersama Hasya dan Lina. Ia terkejut melihat si kembar yang berwajah murung. Biasa jam segini si kembar sedang bermain di ruang keluarga, tetapi keduanya tampak murung di depan televisi.
“Assalamualaikum…” Hani memberi salam.
“Waalaikumussalam …” keduanya menjawab dengan kompak.
“Jagoan bunda kenapa murung?” Hani menghenyakkan tubuh di samping Ariq. Ia membelai rambut putra sulungnya dengan penuh kasih.
“Bun, tante itu akan tinggal di sini ya?” Ali memandang Hani dengan raut kesal.
Hani mengernyitkan dahi, “Maksud mas Ali, tante yang mana?”
__ADS_1
“Eh, nak Hani barusan pulang kerja ya?” suara Dewi mengejutkan Hani.
Ia melihat Dewi mendorong kursi roda berjalan ke arah mereka. Hani terkejut melihat penampilan Hesti yang tidak memakai jilbab. Rambutnya di warnai coklat gelap. Hani merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu.
“Jam berapa nak Faiq akan pulang?” Dewi duduk di depan Hani.
“Biasanya jam 5 sore sudah tiba di rumah.” Jawab Hani pelan.
Suasana hening sejenak. Mata Dewi menatap ruangan dengan senyum mengembang. Ia harap rencananya kali ini berhasil. Ia tak mungkin melepaskan menantu tajirnya.
Dewi tidak mempedulikan keberadaan Hani dan ketiga anaknya. Ia dan Hesti berbicara dengan riang sambil tertawa. Melihat hal itu membuat Hani semakin tidak nyaman. Ia mengajak ketiga anaknya untuk pindah ke kamar. Hasya juga sudah kelihatan mengantuk.
“Saya permisi bawa anak ke kamar, bu, mbak Hesti…”
Dewi tersenyum sinis saat Hani dan anak-anak berlalu dari hadapannya. Ia memandang foto keluarga yang tertata rapi di sebuah lemari jati berisikan gelas kristal koleksi Marisa.
“Mertuamu sangat kaya. Kelihatannya mereka orang baik…” Dewi mengamati foto-foto yang berisikan si kembar dan Hasya.
“Saya hanya dua kali bertemu mereka, bu.”
“Tenang saja. Nanti kita lihat, hanya ada foto kamu dan anak-anakmu lah yang kelak di pajang di sini…” Dewi mulai berkhayal.
“Aku juga mengharapkan hal itu, bu.” Hesti tersenyum senang mendengar ucapan ibunya.
Jam 5 sore Faiq kembali ke rumah. Seperti biasa sebelum mandi ia menyempatkan diri bermain bersama si kembar di halaman belakang rumah.
Dengan riang Ariq dan Ali rebutan mengejar bola. Hani tersenyum melihat keakraban yang terjadi antara Faiq dan anak-anaknya.
“Unda, atu itut…” Hasya turun dari bangku taman langsung berlari kecil. “Papa…”
“Atu dadi buyung…” suara kenesnya membuat Hani tersenyum.
“Kita lihat saja, ini tidak akan berjalan lama…” ujar Dewi berkata pada Hesti saat mereka mengintip dari jendela melihat keluarga kecil Faiq yang bermain bersama.
“Mas udah ketemu mbak Hesti dan ibu?” Hani menatap Faiq yang tampak kelelahan sesudah bermain bersama si kembar.
“Mereka sudah kembali? Bagaimana kabar Hesti, apa kakinya sudah bisa difungsikan?” tanya Faiq sambil menghapus keringat yang mengalir menganak sungai di wajahnya.
“Kelihatannya masih menggunakan kursi roda.”
Faiq tercenung sesaat. Sudah lebih 40 hari batas perjanjian mereka. Tapi untuk memutuskan sekarang, rasanya kurang tepat.
Hani mengulurkan air putih pada Faiq. Ia memahami apa yang membuat suaminya merasa gundah. Hani mengambil sapu tangan yang terletak di pangkuan Faiq. Ia membersihkan sisa-sisa keringat yang masih ada di dahi Faiq.
“Aku paham yang mas pikirkan. Kita akan lewati ini bersama. Jika mbak Hesti sudah sembuh, silakan ambil keputusan yang telah kalian sepakati.”
Faiq menahan tangan Hani yang masih berada di wajahnya, “Terima kasih atas pengertianmu, sayang.”
Keduanya bertatapan dengan penuh cinta. Hani merasa kini hatinya telah dipenuhi Faiq. Ia akan berjuang untuk menjaga keutuhan keluarga mereka. Ia tidak ingin merasakan kegagalan berumah tangga untuk yang kedua kali.
Saat makan malam, Hani hanya bisa menghela nafas gelisah. Pakaian yang digunakan Hesti membuatnya merasa gerah.
Faiq memandang Hesti sekilas, ketika Dewi mendorong kursi rodanya untuk makan malam bersama. Hesti yang selama ini dilihatnya selalu menutup aurat kini hanya menggunakan blouse rumahan sebatas lutut dengan lengan terbuka.
“Kenapa tante tidak memakai tutup kepala?” Ariq yang sejak kecil sudah diajarkan Hani tentang aurat perempuan dan laki-laki bertanya dengan polosnya.
__ADS_1
Hani terdiam, ia tak menyangka putranya akan menanyakan hal itu.
“Kamu itu masih kecil. Tante Hesti bukanlah orang lain. Dia itu istri papamu juga…” Dewi menjawab dengan cepat.
“Apakah kami mempunyai ibu tiri? Riris bilang ibu tiri itu jahat.” Ali menyela omongan mereka.
“Mas Ariq, mas Ali, tante Hesti ini saudara kita juga. Kalian harus menghormatinya, ya…” Hani berusaha menenangkan suasana yang mulai tidak nyaman.
Dewi memandang Hani. Ia mulai menjalankan rencananya. Dengan memasang senyum palsunya ia berkata dengan suara lembut.
“Mengingat kesibukan nak Hani, selama ibu di sini, izinkan ibu menyiapkan sarapan pagi serta makan malam.”
“Tidak perlu, bu. Saya masih bisa melakukannya.” Hani menolak dengan cepat. “Anak-anak juga tidak mau masakan yang dibuat orang lain.”
“Sayang, mas tau kamu repot. Nggak apa-apa kan ibu meringankan tugasmu?” Faiq menatapnya, berharap Hani menerima usulannya.
“Baiklah, bu. Jika itu tidak merepotkan.” Hani tidak bisa menolak perkataan suaminya.
“Nak Faiq, tolong bantu Hesti belum bisa berjalan sendiri…” Dewi meminta Faiq mengangkat Hesti dari kursi rodanya.
Dengan cepat Faiq bangkit dari kursinya, dan mengangkat Hesti dan mendudukkannya di samping Dewi.
Perasaan Hesti membuncah bahagia. Debaran jantungnya terasa cepat saat tangan Faiq menyentuh kulitnya yang ia biarkan terbuka.
Hani hanya memperhatikan gerak-gerik Hesti dan Dewi. Ia tidak ingin berbicara banyak. Karena suasana sudah tidak nyaman semenjak keduanya kembali ke rumah mereka. Ia merasa sedih saat melihat Faiq menggendong Hesti dan mengantarnya hingga ke kamar tempat ia menginap.
Faiq menyadari kebisuan istrinya. Hal itu membuatnya semakin senang mengerjai Hani yang kini dalam mode off. Setelah melaksanakan salat Isya keduanya kini berbaring di peraduan. Hani memiringkan badan ke samping.
“Hesti cantik juga ya aslinya….” Faiq mulai memanas-manasi Hani yang acuh padanya. Tangannya mulai membelai punggung Hani yang membelakanginya. “Kulitnya juga halus…”
Mendengar ucapan Faiq membuat Hani semakin panas. Ia memukul tangan Faiq yang mulai menyusuri bagian depan tubuhnya.
Faiq tersenyum kecil melihat reaksi istrinya. Hidungnya mulai mengendus wangi lembut rambut Hani. Aroma tubuh istrinya benar-benar membuatnya mabuk kepayang. Tiada yang dapat menggantikan posisi Hani di hatinya.
Faiq menarik selimut yang menutupi tubuh Hani. Ia tersenyum puas melihat Hani yang memandangnya dengan tatapan kesal. Mata bening itu semakin menantangnya. Dengan gaun tidur tipis yang mengekspos bentuk tubuhnya sangat memanjakan mata Faiq.
“Aku nggak akan melepaskan kucing nakal ini…” bisik Faiq mesra.
“Katanya ada yang asli cantik, halus kulitnya…” sindir Hani kesal.
“Ha ha…” Faiq tertawa lebar, “Ada yang cemburu…” Ia senang memancing kekesalan Hani.
Hani bangkit dari pembaringan. Belum sempat ia melangkah, tangan Faiq menarik tubuhnya membuatnya jatuh di atas tubuh kekar Faiq.
Mata beningnya tajam memandang Faiq, “Pergi aja sana, sama yang cantik dan kulitnya halus.”
“Melihatmu seperti ini, membuatku lebih semangat…” tanpa menghiraukan kekesalan Hani, Faiq langsung melancarkan serangannya. “Tidak mungkin aku menyentuh perempuan lain. Hanya kucing nakal ini yang bisa membuatku tergila-gila…”
“Bagaimana kalau mas sampai tergoda dengannya?” mata sendu Hani menatap Faiq.
Faiq membelai wajah Hani yang berada di bawahnya. “Mas tak pernah menginginkan yang lain. Hanya kamu yang mas inginkan seumur hidup. Karena kamulah satu-satunya bidadari di dunia ini dan mas harapkan hingga ke Jannah kelak.”
Hani pasrah dalam kungkungan suaminya. Apapun yang diinginkan Faiq ia akan menuruti kemauannya, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat dan bisa membuat suaminya puas lahir dan batin.
__ADS_1