
Hani sedang memeriksa laporan bulanan yang sudah diletakkan Mawar di atas meja kerjanya. Ia akan mengambil cuti selama 3 hari untuk pernikahannya besok. Padahal hari ini ia sudah janjian bersama Gigi untuk melakukan perawatan di salon guna menunjang penampilannya esok hari.
Ketukan di pintu menghentikan kegiatan Hani. Mawar masuk ke dalam ruangan. “Maaf mbak Hani, ada seorang pria ingin bertemu.”
Hani mengerutkan jidatnya, “Apa sudah termasuk dalam jadwal yang telah tersusun?”
Mawar menggelengkan kepala, “Tidak, mbak.”
“Maafkan aku, karena harus mengganggu waktumu sepagi ini.” Suara bariton itu kini sudah berada di dalam ruangan membuat keduanya terkejut.
“Tuan Aditama…” Hani tak menyangka Adi akan mengunjunginya sepagi ini. Ia tidak bisa menghindar. Kali ini ia harus lebih tegas. “Terima kasih mbak. Saya akan menanganinya.” Hani mengedipkan mata ke arah Mawar.
Mawar yang tidak mengenal Adi, akhirnya menganggukkan kepala dan membiarkan mereka berdua di dalam ruangan Hani.
“Silakan duduk, tuan…”
“Terima kasih.” Adi segera duduk di hadapan Hani yang masih merapikan laporan bulanan yang sudah selesai ia tandatangani.
“Apa yang bisa saya bantu?” Hani bertanya dengan sopan. Ia berusaha bersikap sewajarnya, walaupun ia tak mengetahui maksud kedatangan Aditama menemuinya pagi ini.
Adi memandang sekeliling ruangan. Matanya terhenti pada sebuah figura besar yang memajang foto Hani dan ketiga buah hatinya. Dadanya bergemuruh melihat foto tersebut. Harusnya ia berada di dalamnya. Adi bangkit dari kursi dan melangkah menuju figura besar tersebut.
Wajah Hani sangat cantik dengan pandangan yang meneduhkan, sementara si kembar dengan dasi kupu-kupunya terlihat sangat tampan. Matanya beralih pada si mungil. Mata Adi berkabut menahan kesedihan, bocah kecil yang sangat cantik dan menggemaskan yang membuatnya menjatuhkan talak pada Hani, hingga menjauhkan mereka dari sisinya, ternyata darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
“Aku akan menceraikan Helen.” Suara Adi mengejutkan Hani yang masih terpaku di meja kerjanya. “Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti yang pernah ku lakukan.”
Hani menatap Adi yang kini sudah kembali di hadapannya. Ia tak akan goyah dengan keputusan yang akan ia buat, “Maafkan saya, Tuan. Kita tidak akan bisa kembali seperti dulu. Anda sudah memilih untuk berpisah dari awal.”
“Han, kenapa kamu memperlakukan aku seperti orang asing?” Adi menatap mata sayu di depannya dengan lekat.
Hani membalas tatapan Adi, “Kita memang hanyalah orang asing sekarang. Tidak ada ikatan apapun antara kita.”
“Tapi mereka anak-anakku, darah dagingku.” Adi berusaha menggoyahkan kepercayaan diri Hani yang begitu tegar menghadapinya.
“Tuan Aditama Prayoga yang terhormat, Empat tahun kebersamaan yang pernah terjalin, pernahkah anda sekalipun memeluk darah daging anda? Bagaimana dengan sombongnya tuan mengatakan kalau hanya dari rahim nyonya Helenlah keturunan yang akan anda akui sebagai penerus. Lantas tanpa perikemanusiaan anda meminta saya menggugurkan janin yang anda tuduhkan sebagai hasil perselingkuhan saya…” Hani masih berkata dengan tenang, berusaha menahan emosi yang selama ini ia pendam di palung hati yang terdalam.
“Aku sangat menyesal Han. Tolong maafkan aku.” Adi berkata lirih. Ia melihat dengan jelas sorot tajam dari mata bening Hani yang menatapnya tanpa makna.
“Aku mencintaimu…” ucapan itu terdengar lirih keluar dari mulut Adi. Ia baru menyadari perasaannya sekarang. Perempuan yang telah ia sia-siakan telah menjelma menjadi perempuan tangguh. “Selama ini aku telah diperdaya keadaan, sehingga aku mengenyampingkan kalian. Tapi percayalah, aku membutuhkan kehadiranmu dan anak-anak. Aku menginginkan kalian dalam hidupku.”
Hani tertawa hambar, “Itu tak akan merubah keadaan Tuan Aditama. Empat tahun kita berumah tangga, saya seperti menggenggam bara di dalam pernikahan kita. Apa tuan tau, selama ini mama anda selalu menghina saya. Kemudian anda datang membawa perempuan masa lalu anda. Jangan salahkan saya, karena setitikpun rasa yang pernah saya miliki terhadap anda sudah hilang tak berbekas. Kita berdua tidak mungkin kembali bersama dan itu tak akan pernah berubah sampai kapanpun.”
“Han, begitu mudahkah kau menghapus perasaanmu terhadapku?” Adi masih bertahan dengan egonya untuk membujuk Hani kembali bersamanya. Perasaan cintanya semakin dalam melihat sosok Hani yang begitu kuat dan tegar menghadapinya saat ini.
Hani tersenyum tipis memandang Adi, “Perlu anda ketahui tuan, apa yang membuat perasaan saya terhadap anda bisa terhapus? Bagaimana anda mengucapkan talak, dan mengharamkan diri anda untuk saya sentuh. Apa anda tidak tau, betapa terlukanya perasaan saya, saat anda membandingkan saya dengan nyonya Helen masalah di ruang pribadi kita?” Hani memandang Adi yang tak berkedip melihat padanya. “Cobalah anda tanyakan pada pengacara anda yang terhormat. Bagaimana ia telah menelanjangi saya di depan sidang pengadilan agama. Memfitnah saya dengan segala tuduhan keji.”
“Aku tidak memintanya melakukan itu.” Adi berusaha membela diri. Ia tidak menyangka Hani telah menyusun dengan rapi semua perlakuan yang membuatnya terluka sehingga mengikis perasaan yang sempat hinggap di hatinya. “Aku hanya ingin kita kembali. Aku menginginkanmu, perasaan ini tidak datang tiba-tiba Hani.”
__ADS_1
Hani menatap Adi dengan sorot datar, “Apa anda tidak paham dengan bahasa Indonesia, Tuan. Sekali saya melangkah. Pantang saya untuk menoleh ke belakang.”
“Allah saja Maha Pemaaf …”
“Anda tidak usah menggurui saya. Cobalah anda berkaca. Saya sudah memaafkan jauh sebelum anda datang. Saya tidak membenci anda, karena sejak awal, begitu saya melepas anda, saya sudah mengikhlaskan semua. Memang jodoh kita hanya sampai disini. Saya akan memulai lembaran baru dengan laki-laki yang bisa menghormati saya, menutupi segala aib dan kekurangan saya, dan saya akan menerima segala kekurangan maupun kelebihan yang ada pada calon suami saya. Dan saya akan belajar mencintainya seperti ia yang tulus mencintai saya dan anak-anak.”
“Bagaimana dengan anak-anakku. Mereka harus tau ayah kandungnya.” Adi tetap bersikeras untuk merubah keputusan Hani. Melihat ketiga buah hatinya yang ganteng dan cantik membuat keinginannya untuk bersama anak-anaknya semakin besar.
Hani menatap Adi dengan sorot datar, “Saat pengacara almarhum papa datang, ia memintaku untuk menerima wasiat warisan demi anak-anak. Pak Rusdi mengatakan dengan menerima itu, maka tidak ada lagi ikatan antara ayah dan anak, dan itu sudah jadi kesepakatan antara anda dan mama anda. Bagaimana perasaan anda tuan Aditama? Sejak saat itu aku meyakinkan diri bahwa ayah kandung mereka sudah mati.”
Adi terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Jantungnya terasa berdebar hebat mendengar ucapan Hani. Ia telah melupakan pembicaraannya dengan Rusdi, pengacara almarhum papanya. Ia merasa tidak ada muka di hadapan Hani.
“Baiklah, kalau itu sudah menjadi pilihanmu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semoga kamu berbahagia dengan pernikahanmu. Dan mulai saat ini, aku akan memperjuangkan hak asuh anak-anakku. Apapun yang terjadi, siapapun tidak berhak mencegahku.”
Hani tersenyum menanggapi perkataan Adi, “Silakan tuan. Berjuanglah selama anda yakin perjuangan anda akan berhasil. Dan saya siap mempertahankan milik saya, walaupun dunia berhenti mendukung saya.”
Adi tersenyum walaupun hatinya terluka melihat perlawanan yang tergambar di mata bening mantan istrinya itu. Pingin rasanya ia memeluk tubuh mungil yang pernah memberikan kehangatan, yang sampai saat ini masih ia ingat dan tetap ia rasakan. Karena Adi tau, bahwa ia adalah lelaki pertama yang telah menyentuh Hani. Dan sampai saat ini kenangan itu tidak akan mudah untuk ia lupakan seumur hidup.
Adi melangkah meninggalkan ruang kerja Hani dengan rasa kecewa. Harapan yang ia bangun untuk kembali bersama Hani dan anak-anak mereka menjadi hancur tak bersisa. Apalagi yang ia harapkan. Dengan lesu Adi memasuki mobil dan menyetirnya menuju perusahaan.
__ADS_1