Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 17


__ADS_3

Adi, Johan, Fery serta kliennya yang berasal dari Semarang baru selesai membahas pengembangan hotel dan resort yang akan dibangun di Semarang. Klien yang bernama Syamsul membatalkan makan siang bersama, karena harus segera kembali ke Semarang, ada urusan keluarga yang mendesak.


“Wah, untung belum pesan menunya.” Ujar Fery sambil mengusap keningnya. “Soalnya Gigi dan anak-anak udah janjian makan siang di sini juga.”


“Benarkah?” Adi mengerutkan keningnya, “Jadi kamu akan gabung dengan keluargamu?”


“Ayolah. Aku mengundang kalian berdua.” Fery merasa tidak enak melihat Adi yang mulai gerah, karena ditinggal berdua dengan Johan. “Kaliankan bukan hanya rekan kerja, tapi sudah seperti saudara bagiku. Mari kita makan siang bersama.”


Semenjak Helen mengalami 2 kali keguguran, ia melarang istrinya untuk bekerja. Sementara setiap jam makan siang ia selalu bertemu dengan kliennya. Untuk mengajak Helen makan siang bersama ia merasa khawatir. Kini ia harus benar-benar protektif demi menjaga kehamilan istrinya itu. Ia tak ingin kehilangan lagi. Tapi Adi merasa tidak enak hati jika harus bergabung dengan Fery dan keluarganya.


“Kebetulan si kembar pengen makan spaghetti. Udah lama janji sama mereka untuk makan di sini.” Fery menjelaskan kepada Johan tentang perjanjiannya dengan si kembar dan keluarganya.


“Wah, kebetulan. Aku juga pengen makan itu.” Adi merasa antusias mendengar ucapan Fery. “Kita gabung aja, Jo.” Ia termasuk penggemar makanan bercita rasa Italiano. Mungkin itu juga yang mempengaruhi si kembar yang menggemari spaghetti.


“Baik, Tuan.” Johan menganggukkan kepala menyetujui saran bossnya.


Mereka bertiga keluar dari private room menuju meja biasa. Adi menatap restoran bernuansa italiano tersebut. Johan mengikuti langkah keduanya, hingga panggilan terdengar di telinga ketiganya.


“Sayang, sini…” Gigi melambaikan tangan begitu melihat Fery berjalan bersama kedua rekannya.


“Mari Tama, Johan, silakan bergabung.” Fery mempersilahkan keduanya duduk di kursi yang telah di atur pelayan.


Mata Adi terpaku melihat pemandangan di depannya. Ia melihat sepasang anak kembar duduk dengan santai. Wajah mereka tidak mirip, tetapi salah satu mengingatkannya pada Hani. Hatinya merasa tersentuh melihat keduanya.


Si kembar Ariq dan Ali tidak mengacuhkan orang yang berada di depannya. Mereka cemberut karena makanan yang mereka inginkan belum datang juga. Sambil menunggu pesanan datang, keduanya hanya menonton film kartun dari tab yang diberikan Gigi.


“Papi lama amat sih, aku dan mas udah lapar banget.” Ali cemberut melihat Fery yang santai senyum ke arahnya.


“Maafkan papi, masih ada kerjaan dikit.” Ia mengacak rambut Ali.


“Ih, rambutku kan jadi jelek, papi.” Protes Ali kesal.


“Ya udah, ntar mami beliin es krim yang banyak.” Gigi berusaha membujuknya karena tidak enak hati dengan Adi yang mengamati interaksi mereka. “Pulang nanti, mami dan bunda akan bawa kalian main di atas…”


“Apakah mereka putramu?” Adi bertanya lirih pada Fery karena penasaran. Ia merasa mengenal wajah mereka. Tapi karena sudah dua tahun tidak bertemu ia jadi kurang yakin dengan perasaannya sendiri.


“Putra teman Gigi. Kakaknya si mungil yang biasa kubawa.” Ujar Fery santai. “Mereka tiga bersaudara, dan ini kedua kakaknya. Cakep kan?”


“Anakmu sendiri?” Adi semakin penasaran, matanya terus mengamati si kembar secara bergiliran. Ada rasa kerinduan menusuk hatinya melihat kedua bocah kembar itu.

__ADS_1


“Aku dan Gigi masih menikmati pernikahan kami. Masalah anak kami serahkan pada Yang Kuasa. Gigi juga masih muda. Masih banyak kesempatan untuk mempunyai anak.” Jawab Fery santai sambil memandang Adi.


Ia mengalihkan pandangannya, “Dedek mana?” dari tadi Fery melihat kiri kanan, karena Hasya belum kelihatan. “Apa mereka tidak ikut? Nggak lihat wajahnya sehari saja udah kangen.” Fery memandang Ariq yang masih asyik menonton bersama Ali.


“Bunda lagi bersihan tangan dan muka dedek, abis makan es krim coklat semua.” Ariq berkata dengan cepat.


“Papi…” suara cempreng si mungil mengejutkan mereka.


“Tuh, bunda sama dedek.” Ali memanyunkan bibirnya, melihat Hasya yang berlari-lari kecil menghampiri mereka.


Adi terhenyak melihat sosok yang kini muncul di hadapannya. Hasya langsung naik ke pangkuan Fery sementara Hani hanya tersenyum tipis ke arah mereka. Ia tak mempedulikan tatapan Adi dan Johan.


“Kenalkan ini sahabat istriku, Namanya Hanifah Az Zahra. Dia ibu ketiga anak-anak ini.” Fery langsung mengenalkan ketiganya.


Hani menangkupkan kedua tangannya tanpa memandang wajah Adi, kepada Johan ia masih sempat  tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.


Bibir Adi terkunci mendengar perkataan Fery. Lidahnya terasa kelu tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Ia merasakan hatinya teriris sembilu melihat si kembar yang tidak pernah ia sentuh. Tetapi bermanja pada orang yang tidak ada ikatan darah sedikitpun dengan mereka. Dan si mungil yang ia sangsikan sebagai darah dagingnya…


“Papi, atu mau ituh…” Hasya menunjuk spaghetti yang belum ditambah saos. Mata indahnya berbinar-binar melihat makanan yang tampak menarik di atas meja.


“Sini sama bunda aja, papi juga belum makan.” Hani merasa tidak enak dengan Fery dan Gigi. Ia tak mempedulikan tatapan Adi yang tak berkedip padanya dan ketiga anaknya khususnya pada si mungil Hasya yang terus merepotkan Fery.


Mata Adi berkabut menyadari betapa putranya si kembar telah tumbuh tanpa belaian kasih sayangnya. Dan si mungil yang telah mencuri hatinya adalah darah dagingnya sendiri yang telah ia sangsikan, hingga menyebabkan ia menjatuhkan talak pada Hani.


Sementara ia sendiri dibutakan perasaannya terhadap Helen, dan masih menunggu anak yang terlahir dari istri yang benar-benar ia cintai. Benarkah ia mencintai Helen? Ataukah hanya perasaan bersalah karena dialah yang pertama merenggut harta berharga Helen di saat mereka masih duduk di bangku SMA?


Perasaan Adi tak menentu setelah mengetahui fakta sebenarnya, bahwa si mungil bukanlah anak sahabatnya tetapi putri Hani yang tak lain adalah putrinya sendiri. Putri yang tanpa perasaan telah ia suruh gugurkan, jika Hani masih ingin bertahan menjadi istrinya. Ia yang telah menuduh Hani berselingkuh, tetapi ia sendiri yang telah menciptakan bara dalam rumah tangga mereka yang baru berusia 4 tahun.


Selama makan siang, tidak banyak terjadi percakapan. Tapi tatapan Adi terus mengarah pada Hani yang melayani si kembar, sedangkan Hasya masih bermanja pada Fery dan disuapi Gigi.


Kehangatan sekaligus kesedihan menggelayuti hatinya. Pemandangan yang pernah ia rasakan dua tahun yang lalu saat mereka masih satu atap. Tapi kini mereka hanya orang lain. Ingin rasanya ia memeluk si kembar, menyalurkan kehangatan kepada keduanya, juga si mungil yang imut yang telah mencuri hatinya. Ketiga darah dagingnya tumbuh tanpa pernah ia terlibat dalam pengasuhan mereka.


Johan merasa prihatin melihat kesedihan yang tergambar di wajah Adi. Ia melihat Adi hanya mengaduk-aduk spaghetti yang terhidang di depannya, tanpa ada keinginan untuk mencicipinya.


“Bunda ikut kita kan?” Ariq menyudahi makannya sambil menatap Hani yang membersihkan tangan menggunakan tissu.


“Bunda masih ada urusan sama oma. Nanti mas berdua ikut mami dan papi aja, ya. Katanya mau main dulu.” Suara Hani yang lembut serasa angin surga yang menyejukkan di telinga Adi.


“Jam berapa kamu janjian sama bu Marisa, Han?” Gigi juga menyudahi makannya dan Hasya. Ia langsung membersihkan mulut si mungil yang masih belepotan saos.

__ADS_1


“Aku langsung menuju butik rekomendasi ibu.” Hani mencium ketiga buah hatinya dengan lembut. “Bunda pergi sebentar ya. Jangan nyusahin papi dan mami.” Ia segera berpamitan pada semua yang masih berkumpul di meja makan panjang itu.


Fery mengernyitkan dahi saat melihat Adi tak mengalihkan pandangannya hingga bayangan Hani hilang di balik pintu restoran.


“Tama, kamu baik-baik saja?” Ia melihat wajah Adi yang tampak sedih, tidak seperti di saat mereka menemui klien dan membicarakan tender mereka, “Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


Adi gelagapan. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. Fery dan Gigi saling berpandangan. Matanya kini beralih menatap Hasya yang kini minum jus jeruk.


“Mami, atu udah tenyang. Egh…” Ia mengeluarkan suara sendawa, membuat semuanya tersenyum menatap padanya.


“Makin kesini, kulihat dede semakin mirip dengan tuan Tama.” Gigi tak bisa menahan rasa herannya. Ia menatap keduanya bergantian.


“Jangan heran, kita ini terlahir dengan wajah yang mirip dengan orang di seluruh dunia.” Ujar Fery cepat. Ia tak ingin membuat sahabatnya merasa sedih karena istrinya baru keguguran.


“Tuan, kita langsung ke kantor?” Johan memotong pembicaraan mereka. Ia merasa tak punya kepentingan untuk berlama-lama di sana. Dan ia merasa kasihan melihat Adi yang tampak merindukan putra-putrinya, namun apa daya mereka saling dekat tapi tak saling mengenal.


Saat  Fery bersama  Gigi membawa anak-anak bermain ke arena anak di lantai 2, entah kenapa langkah Adi ringan mengikuti mereka. Ia tak mempedulikan tatapan penuh keheranan dari Gigi yang mengerutkan kening dengan kehadirannya.


“Kamu nggak kembali ke kantor?” Fery menatapnya sambil mengernyitkan dahi.


“Sekali-sekali ambil cuti, pengen juga seperti kamu.” Jawabnya santai.  Ia ingin bercengkrama lebih lama bersama mereka.


“Saya sebaiknya langsung ke kantor saja, Tuan.” Johan pamit mengundurkan diri. Ia paham suasana hati bossnya yang merindukan buah hatinya.


Adi mengangguk. Ia dan Fery hanya memperhatikan dari jarak dekat melihat Gigi membawa ketiganya bermain di Circuz Playground. Hatinya merasakan kehangatan saat melihat ketiga buah hatinya tertawa gembira mencoba satu demi satu permainan yang ada.


“Melihat ketiganya tertawa, kadang aku merasa sedih, bagaimana perasaan ayahnya yang tidak mengakui mereka…” ucapan Fery terasa menusuk jantung Adi.


Adi terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Karena ia belum pernah menceritakan keadaan yang sebenarnya terhadap Fery. Matanya memerah menahan kesedihan yang kini melingkupi perasaannya. Dadanya berdetak lebih cepat. Pingin rasanya ia memeluk ketiga buah hati yang kini berada di depan mata. Tetapi mereka tidak mengenalnya, karena sejak awal Adi sudah membatasi diri untuk berdekatan dengan si kembar, apalagi si mungil yang memang tak pernah merasakan sentuhannya semenjak awal.


Telpon dari Johan menghentikan lamunan Adi. Ia mengangkatnya dan berbicara dengan serius. Taklama panggilan telpon ia tutup.


“Maaf, Fer. Aku harus kembali ke kantor. Johan sudah di bawah. Terima kasih atas kebersamaan yang menyenangkan ini.”


“Ok.” Fery mengangguk, “Kami sebentar lagi juga segera kembali. Sebentar lagi dede Sasya harus tidur siang.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2