
Saat memasuki parkiran kafe milik Abbas yang kini telah beralih kepemilikan membuat Peter tersenyum cerah. Ia merasa puas dengan lokasi yang direkomendasikan Ivan padanya. Sebelum memasuki ruangan, ia mengamati panorama sekelilingnya. Setelah puas berkeliling dan menikmati keindahan dan keasrian lingkungan, akhirnya Peter diikuti Ivan, Robert dan Gisel memasuki ruangan, sedangkan Roni kembali ke kantor karena masih ada urusan.
Memasuki ruangan penciuman mereka sudah dimanjakan dengan aroma masakan kuliner khas Indonesia yang menggugah selera. Hidung Peter kembang kempis membaui aroma yang memanjakan penciumannya.
Langkah gemulai Gisel yang mencoba menarik perhatian ketiga lelaki tampan di depannya membuat tangannya menyenggol salah satu pelayan yang sedang membawa orange jus mengakibatkan minuman dingin tersebut terhempas dan tepat mengenai Ivan yang berjalan di sampingnya.
“Kerja yang becus dong!” Gisel langsung membentak Muti seorang pelayan yang masih belia tersebut dengar kasar.
Muti dengan spontan berusaha mengeringkan jas Ivan dengan menyambar tissue di atas meja terdekat. Ia merasa tidak enak hati, walaupun pada kenyataannya bukan dia yang menyebabkan tejadinya insiden tersebut.
“Biar saya bantu mengeringkannya tuan …. “ Muti berkata dengan raut tegang sambil menyapukan tisu ke jas Ivan.
“Jangan sentuh jasku dengan tangan kotormu!” suara Ivan dengan lantang menegurnya membuat Muti membatalkan niat baiknya dan terpaku karena shock mendengar nada keras suara Ivan yang terasa nyaring di kupingnya.
Ivan paling tidak suka orang lain menyentuh dan mendekati dirinya. Sudah tertanam di otaknya bahwa setiap perempuan yang mencoba menarik perhatiannya semua hanya memanfaatkan dirinya. Perselingkuhan Sandra membuatnya menutup diri akan segala yang berhubungan dengan perempuan. Ia tidak ingin terlibat lagi dengan perempuan manapun, cukup Sandra yang telah menjatuhkan harga dirinya.
Senyum sinis penuh kepuasan tergambar jelas di wajah Gisel karena berhasil mempermalukan pelayan itu. Terus terang ia juga tidak suka berada di kafe sederhana tersebut, karena bukan levelnya makan di tempat orang kebanyakan.
“Mohon maafkan atas kekurang sempurnaan pelayanan kami,” suara bening dan lembut sontak menghentikan keributan yang ada.
Khaira yang merasa rindu dengan aroma masakan khas di kafe milik Abbas, akhirnya setelah pekerjaannya di gerai permata kelar bertepatan dengan jam makan siang segera meminta pak Kusni supir keluarga mas Valdo mengantarnya ke kafe .
Saat memasuki ruangan, ia terkejut mendengar suara keributan yang terjadi, apalagi pengunjung lumayan ramai. Dengan bergegas Khaira menghampiri beberapa orang yang tampak memarahi Muti, pelayan paroh waktu yang bekerja di kafe untuk menambah biaya sekolahnya. Dengan cepat ia melerai keributan yang terjadi dengan memasang badan di depan Muti yang tertunduk ketakutan.
Ivan sontak memalingkan muka mencari sumber suara. Matanya terpaku melihat sosok perempuan sederhana dengan wajah teduh bermata bulat bening berdiri dengan tenang di hadapan mereka.
“Perempuan yang menarik. Siapa dia?” batin Ivan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah ayu Khaira yang tidak gentar menghadapi orang-orang yang telah membuat Muti ketakutan, “Tidak mungkin ia seorang pelayan, walaupun penampilannya sangat sederhana dibanding Gisel.”
Sementara Khaira melihat dengan mata kepala sendiri dari jarak 6 meter, saat Gisel melenggang hingga menyenggol Muti yang akan mengantarkan minuman pesanan pelanggan mengakibatkan insiden jus tumpah membasahi jas kepunyaan Ivan.
“Hanya kesalah pahaman biasa,” dengan cepat Peter berkata, karena tidak enak juga dengan pengunjung lain. Apalagi Peter melihat bahwa insiden itu akibat kelakuan Gisel yang caper dengan keberadaan dirinya.
“Apa yang bisa kami lakukan untuk membuat anda semua merasa nyaman menikmati suasana dan hidangan di kafe ini?” Khaira berusaha memberikan solusi terbaik agar konsumennya segera melupakan kejadian yang telah berlangsung.
__ADS_1
Ia yakin melihat penampilan ketiganya pasti bukan orang sembarangan. Dan Khaira tak ingin membuang peluang emas yang telah ada di depan mata dengan melayani ketiga tamunya plus perempuan kasar yang sombong itu dengan sebaik mungkin.
“Berikan kami hidangan terbaik di kafe ini dengan anda yang melayani.” Peter merasa senang atas sambutan Khaira yang begitu santun dalam melayani mereka.
“Mbak …. “ Muti memandang Khaira dengan raut tak nyaman.
Khaira tersenyum manis dengan lesung di pipinya menambah kesempurnaan senyumnya. Ia menatap Muti dengan lekat sambil berkata pelan, “Tidak apa-apa.”
Ivan tak percaya mendengar Khaira yang menyanggupi permintaan Peter. Ia hanya mengamati interaksi keduanya yang tampak langsung akrab dan dengan mudah terlibat pembicaraan santai.
Khaira segera berjalan berdampingan dengan Peter yang diikuti Ivan, Robert dan Gisel yang merasa kesal akan kehadirannya, membuat ia tak jadi satu-satunya perempuan cantik di antara ketiga kumbang jantan itu.
Khaira membawa keempat tamunya ke dalam ruangan khusus yang selama ini ia gunakan bersama Abbas dan teman-temannya menikmati makan siang bersama dalam penuh kekeluargaan. Sebenarnya ia merasa kesal atas perlakuan Ivan dan Gisel terhadap pekerjanya, mentang-mentang mereka orang kaya dan bersikap semaunya terhadap mereka yang kehidupannya di bawah level mereka, tapi Khaira berusaha menahan diri. Untuk meluapkan rasa emosinya akhirnya Khaira tidak menganggap ada kehadiran keduanya, ia lebih fokus pada Peter yang sangat antusias menyambutnya.
Ivan terpaku saat berada di dalam ruangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ruangan yang langsung berhadapan dengan taman samping kafe. Ada kolam ikan hias yang dipenuhi ikan koi membuat suasana terasa segar dan menyejukkan pemandangan.
Khaira dengan sabar menjawab semua pertanyaan Peter yang begitu antusias saat ia mulai menghidangkan berbagai menu unggulan, dari rica-rica, tongseng, cumi asam manis dengan berbagai jenis sambal dan lalapan segar hingga minuman kuliner Indonesia yang beraroma rempah yang langsung diantar Rani dan Bagus.
Tatapan mata Ivan tak teralihkan melihat Khaira dengan santai melayani Peter makan seperti seorang istri melayani suaminya dengan penuh cinta. Tak ia pedulikan pertanyaan Gisel yang memintanya memilih menu yang terhidang di hadapan mereka.
Ia merasa tatapan permusuhan telah dilayangkan perempuan di depannya saat ia menepiskan dengan kasar tangan pelayan yang ingin membantu mengeringkan jasnya yang tertumpah lemon ice.
Ivan menghela nafas kesal melihat Peter yang tampak makan dengan bersemangat dan Robert yang tetap dengan wajah datarnya menikmati hidangan yang tersedia. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat keduanya makan dengan lahap hingga menu yang tersisa hanya yang berada di hadapannya dan Gisel.
Akhirnya Ivan mulai menyibukkan diri bermain dengan ponselnya berusaha meredam emosinya yang sudah mulai naik level. Selama ini tidak pernah ada seorang pun yang mengacuhkannya, tetapi perempuan muda itu benar-benar tidak menatapnya bahkan menganggapnya tidak ada.
“Anda tidak ingin menikmati makanan di sini?” Peter yang telah selesai menikmati hidangan makan siang menatap Ivan dengan dahi berkerut, wajahnya saja sudah dipenuhi keringat. Dengan cepat Peter meraih tisu yang berada di samping kanannya dan mulai mengelap keringat yang memenuhi wajahnya.
Ivan menatap Khaira sekilas yang juga sedang menatapnya. Tatapan Ivan terkunci pada mata bening itu. Tapi Khaira dengan cepat memalingkan muka menghindari sorot tajam yang seperti meremehkan kehadiran mereka. Kekesalan Ivan semakin meningkat, dengan cepat ia meraih cumi asam manis dengan sepiring nasi yang masih tersisa.
Gisel melongo melihat kelakuan ‘future lover’-nya yang dengan santai menikmati hidangan, malah menghabiskan jatah nasi miliknya yang masih utuh tak tersentuh.
Khaira tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya. Ia masih bertukar cerita dengan Peter yang masih tertarik menanyakan menu-menu lain yang tersedia di kafe mereka dan mungkin akan selalu mampir setiap kunjungannya ke Jakarta.
__ADS_1
Tak terasa Ivan telah menghabiskan menu yang tersisa dengan perutnya yang kini merasa begah, karena ia tidak pernah makan sebanyak ini. Rasa kesal atas keacuhan perempuan di depannya membuat ***** makan Ivan meningkat.
“Alhamdulillah, menu kami bisa diterima tuan-tuan sekalian.” Khaira berkata dengan sopan sambil mengulas senyum, “Saya harap pelayanan kami tidak mengecewakan.”
Peter tertawa ringan mendengar ucapan Khaira. Ia menatap perempuan muda di depannya dengan pandangan lekat.
“Saya menyukai semua yang ada di sini. It’s perfect.” Peter mengacungkan jempolnya dengan tulus, “Jika ada waktu saya lebih memilih menikmati hidangan di sini ketimbang restoran lain.”
“Terima kasih atas pujian anda mr ….”
“Peter Edmond.” Peter mengulurkan tanyannya tapi Khaira hanya menangkup kedua tangan ke dadanya sambil membalas senyum tulus Peter.
Melihat interaksi keduanya yang tidak menganggap kehadiran mereka, membuat Ivan segera bangkit dari kursi dan mulai membuka dompetnya.
“Makanan ini tidak perlu dibayar. Anggap saja permohonan maaf kami karena membuat anda merasa tidak nyaman,” Khaira berkata pelan sambil menatap Ivan yang terkejut mendengar ucapannya.
Ivan tak mempedulikan ucapan Khaira. Ia tetap mengambil beberapa lembar uang kertas sambil berjalan meninggalkan Peter yang kembali berbincang serius dengan Robert.
Khaira dengan cepat berdiri menghadang langkah Ivan. Tingginya yang hanya 165 cm, tampak tenggelam dengan sosok Ivan yang hampir 190 cm menjulang di depannya.
Ivan tidak menyangka keberanian perempuan muda yang kini menghadangnya membuatnya berhenti melangkah.
“Saya tau, anda orang penting. Mohon hargailah usaha kami. Jadi semua yang anda dan klien anda nikmati hari ini sebagai jamuan dari kami. Anda tidak perlu membayarnya.”
Ivan menatap Khaira dengan penuh selidik, tapi Khaira tetap membalas tatapan Ivan tanpa merasa terintimidasi sedikit pun. Senyum terbit di wajah Ivan melihat usaha keras yang dilakukan perempuan muda di depannya. Sorot perlawanan tergambar jelas di mata bening indah tersebut.
“Indah?” Ivan merutuk dalam hatinya mengingat apa yang sempat terbersit di otaknya melihat perempuan muda yang masih menatapnya dengan sorot tajam.
“Baiklah. Terima kasih atas jamuan serta pelayanan yang kalian berikan. Aku sangat menghargai itu.”
“Saya permisi. Terima kasih atas kunjungan anda.” Tanpa menunggu jawaban Ivan, Khaira langsung beranjak pergi meninggalkan Ivan yang kini terpaku menatap kepergiannya yang dengan santai menuju ruang belakang.
Ivan menggelengkan kepala. Baru kali ini ia bertemu dengan perempuan aneh yang tidak kenal dan dengan terang-terangan mengacuhkan keberadaan dirinya yang merupakan Most Wanted di tahun ini.
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus karya aku ya ... vote, kritik dan saran serta like yang paling aku tunggu untuk kelangsungan dunia perhaluan. Sayang kalian semua, love love love, muachhhh ......