
Ivan merasakan perutnya melilit luar biasa saat pesawat yang membawanya kembali ke Indonesia mendarat dengan sempurna di bandara Halim Perdana Kusuma.
“Anda tidak apa-apa tuan Alexander?” tanya pramugari yang melayaninya selama perjalanan.
“Entahlah, perutku seperti bergelombang,” Ivan tidak tau apa yang terjadi dengan kondisi tubuhnya.
Satu jam ia merasakan siksaan pada perutnya. Wajahnya pucat dengan keringat dingin mengalir menganak sungai.
Pramugari mendekatinya untuk memberikan bantuan sekedarnya.
“Tolong jangan mendekat.” Ivan menahan pramugari yang berjalan ke arahnya sambil membawa tissu.
Pramugari itu menatapnya prihatin. Ia merasa cemas teman dekat bosnya menderita penyakit yang mengkhawatirkan.
Pilot yang bernama James akhirnya mendektai Ivan dan mengulurkan minuman hangat untuk menetralkan tubuh Ivan yang pucat dan dingin.
Sesaat kemudian Ivan merasakan tubuhnya normal kembali seperti sedia kala. Ia merasa heran dengan kejadian yang ia alami.
“Anda sudah merasa nyaman tuan?” pramugari itu kembali mendekatinya.
Ivan menganggukkan kepala dengan cepat, “Terima kasih atas pelayanan kalian,” Ivan menyalami James dan Pramugari yang bernama Linda sekilas sebelum turun dari pesawat.
Ia langsung menghubungi Hari agar segera menjemputnya. Ivan ingin secepatnya kembali ke rumah menemui sang istri. Ia yakin sikap Khaira tidak akan berubah terhadapnya dan akan memaafkan kekhilafan yang telah ia lakukan.
Bryan sanggup membuatnya melepas Khaira. Tapi selama di sana ia menyadari, bahwa ia memang tidak bisa jauh dari sang istri. Makanan luar yang selama ini selalu menjadi favoritnya tak mampu memuaskan lidahnya yang terbiasa menikmati menu rumahan yang selalu dihidangkan Khaira di rumah mereka.
“Bagaimana kabar anda bos?” Hari segera menjabat tangannya begitu turun dari mobil dan menghampiri Ivan yang sudah menunggunya.
“Kurang baik,” Ivan menjawab dengan tak bersemangat.
“Anda ingin diantar kemana bos?” Hari menatapnya sambil mengerutkan kening.
Semenjak keputusan Ivan menjual saham perusahaan dan menyerahkan tampuk pimpinan perusahaan pada Ardi Bimantara karena kepergiannya ke luar negeri hanya Hari yang masih bertahan mewakilinya di New Star Corp. Roni telah mengundurkan diri dan memulai usaha meubelnya di kampung halaman meneruskan usaha almarhum orangtuanya.
“Ke rumah lama di Bintaro .... “ Ivan membayangkan sambutan hangat Khaira yang tidak menyangka bahwa ia akan kembali ke rumah mereka.
Ia merasa bersyukur belum memproses perceraian antara dirinya dan Khaira serta pengalihan aset harta gono-gini. Terlalu fokus pada Bryan membuatnya lupa menghubungi Samuel untuk mengurus semua harta yang ia tinggalkan.
__ADS_1
Ivan hanya membawa aset sebanyak 50 % dari penjualan New Star Corp. Tetapi usahanya sebagai pialang di pasar modal yang dikelola Edward semakin berkembang. Keuntungan yang ia dapat kini sudah melebihi modal awal yang ia masukkan. Tenyata dari modal bermain saham membuat keuntungan Ivan berkali lipat membuat pundi-pundi kekayaannya semakin bertambah.
Ivan hanya tersenyum saat sebelum keberangkatan Edward menunjukkan keuntungan yang signifikan yang terus mengalir di rekeningnya. Walaupun ia tidak bekerja di kantor dan hanya duduk ongkang-ongkang kaki, tidak akan mengurangi jumlah kekayaan yang ia miliki, malahan dalam hitungan jam akan semakin bertambah.
Keinginannya saat bertemu Khaira nanti hanya ingin memeluknya erat untuk mencurahkan segala kerinduan yang terasa menyesakkan dada setelah selama 9 bulan berjauhan. Ivan tersenyum membayangkan akan melakukan perjalanan wisata bersama Khaira setelah puas mengistirahatkan diri dari kegaduhan dunia.
Kening Ivan berkerut saat mobil Hari berhenti tepat di depan rumahnya. Ia tidak turun dari mobil. Pandangannya nanar melihat pekarangan rumah yang dipenuhi rumput liar sudah meninggi. Tidak tampak ada kehidupan di rumah megah itu.
“Nggak jadi masuk bos?” pertanyaan Hari mengusik pikiran Ivan.
Ia terkejut melihat rumah yang ia tinggalkan 9 bulan yang lalu tampak tidak terurus. Tidak ada seorang pun yang tampak melakukan aktivitas di rumah itu. Pak Ilyas yang bertugas menjaga pos satpam juga tidak tampak batang hidungnya.
“Langsung ke rumah mama,” Ivan berkata sambil menghela nafas.
Perasaan tidak nyaman langsung menggelayut di kepalanya melihat kondisi rumah yang sangat jauh dari ekspektasinya. Harapannya yang sudah melambung tinggi akan mendapat sambungan penuh kehangatan dari Khaira langsung hancur berkeping-keping.
“Terima kasih Har,” Ivan menepuk pundak Hari sebelum keluar dari mobil.
“Sama-sama bos,” Hari mengangguk dengan perasaan prihatin melihat kondisi bosnya yang tampak terpuruk.
Ia sudah mengira hal ini akan terjadi. Keputusan yang diambil Ivan telah salah dan membuat masalah rumit dalam kehidupan rumah tangganya. Tapi Hari tak ingin mencampuri semua permasalahan yang melingkupi kehidupan bos.
“Aku akan selalu mengandalkanmu,” ujar Ivan seraya turun dari mobil. Ia merasa terharu karena Hari masih setia bekerja bersamanya.
Dengan langkah lunglai ia memasuki pekarangan rumah mamamya yang tampak asri dan terawat. Wajahnya yang sempat bersemangat saat turun dari pesawat kini redup tak bercahaya.
Pintu rumah langsung terbuka begitu Ivan ingin mengetuknya. Pak Jajang satpam yang selalu standby terkejut melihat putra majikannya sudah berada di depan rumah.
“Silakan masuk den,” dengan cepat pak Jajang membuka pintu.
“Tuan Ivan?” bi Risma terpaku melihat Ivan yang sudah lama tidak kembali ke rumah karena membawa Bryan berobat ke luar negeri.
Ivan terkejut menyadari art senior yang mengurus rumah tangganya berada di kediaman mamanya.
“Siapa bi?” suara lembut Laras yang baru keluar dari kamarnya mengelus daun telinga Ivan.
“Mama .... “ Ivan langsung menghampiri Laras dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Hei, apa yang terjadi denganmu? Mana cucuku?” pertanyaan Laras langsung menyentil pendengaran Ivan.
Bibirnya terasa kaku, tak sanggup untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Yang ia butuhkan sekarang adalah bahu untuk bersandar. Akhirnya di pelukan Laras Ivan mencurahkan segala gundah yang menyesakkan dadanya.
Melihat Ivan yang tampak lesu tak bersemangat membuat Laras tidak melanjutkan pertanyaan yang sudah menggantung di bibirnya. Ia tau, keadaan Ivan tidak sedang baik-baik saja. Akhirnya ia hanya menepuk pundak kokoh putra semata wayangnya yang kini tidak berdaya.
Kini keduanya duduk berhadapan di sofa ruang keluarga. Mata Ivan memerah menahan kesedihan di hatinya. Harapannya untuk bertemu Khaira telah luluh lantak begitu melihat rumah yang telah ia tinggalkan sepi tak berpenghuni, tinggal rumput ilalang yang tumbuh tinggi dengan keadaan halaman yang gersang yang menyambut kepulangannya.
“Bryan telah pergi mendahului kita .... “ ujar Ivan lirih.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un .... “ Laras menutup mulutnya tak percaya mendengar perkataan Ivan, “Kapan ia meninggal?”
“Kemarin,” jawab Ivan tak bersemangat, “Dokter telah berupaya mengobatinya, tapi Allah berkehendak lain.”
“Lantas bagaimana dengan Claudia? Bukankah kalian akan menikah?” Laras menatap Ivan dengan perasaan gundah.
“Terlalu banyak kebohongan yang diciptakan Claudia,” Ivan berkata dengan nanar, “Aku tidak mungkin menikahinya. Keinginanku hanya satu kembali bersama Rara.”
Laras tertegun mendengar ucapan Ivan. Ia tidak tau mesti berkata apa. Tapi melihat keseriusan yang tergambar di wajah putra semata wayangnya ia yakin, Ivan telah memikirnya secara mendalam.
“Apa maksudmu dengan kebohongan Claudia?” kini Laras menatap Ivan dengan raut penuh keingintahuan.
“Bukan Rara yang mendorong Bryan ke dalam kolam .... “ Ivan menghela nafas berat saat menghentikan perkataannya, “Claudialah pelakunya. Ia ingin aku membenci Rara .... “
Laras terhenyak mendengar perkataan Ivan. Ia ingin mendengar kisah sebenarnya, tapi melihat keadaan Ivan yang begitu menyedihkan membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
“Sebaiknya kamu beristirahat di kamar. Mama akan menyiapkan makan siang,” Laras menatap Ivan dengan prihatin.
“Ma, saat aku kembali ke rumah di Bintaro rumah tampak kosong tak berpenghuni,” Ivan berkata dengan pandangan nanar tak bersemangat.
Laras tercekat. Apa yang harus ia katakan pada Ivan. Bibirnya terasa kelu hanya sekedar mengatakan bahwa Khaira telah mengembalikan kunci rumah saat kedatangannya terakhir kali sembilan bulan yang lalu. Itu lah pertemuan terakhir kali ia dan Khaira yang kini ia anggap sebagai mantan menantunya.
“Ma .... “ Ivan menatap Laras dengan pandangan tak bersemangat, “Apakah menurut mama aku terlambat jika ingin kembali bersama Rara? Aku menyesal meninggalkannya.”
“Apa maksudmu?” Laras memandang Ivan dengan perasaan tidak nyaman.
“Bryan telah menceritakan semua sebelum kepergiannya .... “ Ivan akhirnya menceritakan semua pembicaraan yang terjadi antara ia dan Bryan dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Laras mendengarkan perkataan Ivan dengan perasaan sedih. Ia membayangkan kembali percakapan terakhir antara ia dan Khaira sebelum menantunya yang kini telah menjadi mantan turun dari rumahnya.
Sedikit pun ia tidak memberikan pembelaan atau pun penghiburan untuk Khaira yang datang mengunjunginya. Malah dengan perasaan bangga ia memuji Bryan serta Claudia yang telah memberikan kebahagiaan serta kebanggaan padanya. Cucu yang ia harapkan bakal menjadi penerus keturunan mereka serta satu-satunya pewaris bagi kekayaan serta properti yang tidak sedikit ia miliki dari almarhum suaminya.